Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Bisakah aku berdamai dengan masa lalu?


__ADS_3

Bocah kecil yang bernama Jeremia mendekati Jel, tetapi tidak berani untuk menyentuh sang kakak, Mama tirinya selalu berbicara kalau putranya mempunyai kakak yang cantik dan juga baik, itu sebabnya anak kecil itu selalu lengket jika bertemu Jel.


"Kakak cantik ..." panggil anak kecil itu, ia takut melihat mata Jel yang tanpa ekspresi.


"Kakak, Jere punya adik cantik sama kayak kakak," sambung bocah kecil itu.


Tidak menjawab, bahkan ekspresi yang ditunjukkan masih sama, Alex menyenggol lengan Jel dengan pelan, membuat dirinya menoleh ke arah Alex.


"Sedari tadi adikmu berbicara, tetapi kamu tidak merespon, ajaklah dia berbicara supaya Jere tidak takut denganmu," bisik Alex.


Jel menggeleng kepala, ia tidak bisa melakukan permintaan Alex.


"Jagoan, adikmu sangat cantik," Alex menjawab pertanyaan Jere.


"Benarkah? Kakak, adikku cantik tidak?" tanya Jere kepada Jel. Ia belum tahu dan juga mengerti, bahwa Jel adalah kakak yang beda ibu.


Tidak mendapat jawaban apapun, membuat Jere menundukkan kepalanya. "Kata Mama Jere, kakak baik, padahal tidak,"


"Jere ..." panggil Mamanya dari arah brankar. "Kemari, Sayang,"


Jere mendekati Mamanya, ia duduk diatas kursi. Tangan Mama tiri Jel membelai lembut kepala anaknya.


"Mama bohong, kakak Jel tidak baik," ucapnya bergetar.


"Kakak Jel baik sayang, Kakak, sedang sakit gigi makanya tidak bisa berbicara," ujarnya memberi pengertian kepada putranya walaupun berbohong.


Jere hanya diam saja.


"Kamu boleh membenciku tetapi tidak dengan putraku, apa salahnya kamu mejawab pertanyaannya," ucap Papa Jel yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Jel, ia semakin sakit melihat putranya diperlakukan seperti itu.


"Tidak ada jawaban, menjawab pertanyaannya," seru Jel dingin, ia menatap mata Papanya dengan kekecewaan.

__ADS_1


"Cukup Papa yang kamu sakiti, jangan membawa putraku didalam masalah kita," tegas Papa Jel.


Tes ...


Air matanya mengalir tanpa diundang, ia sakit mendengar ucapan Papanya. Jel tersenyum getir. "Iya, anda yang tersakiti disini, tidak dengan aku yang hidup belasan tahun tanpa seorang Ayah,"


"Dirimu sendiri yang membuat semuanya menjadi kacau, andai saja kamu memaafkan Papa dimasa lalu, hari ini tidak akan pernah terjadi,"


"Jangan sebut dirimu sebagai Papa yang tidak pernah berperan dalam hidupku beberapa tahun ini, Papa ku hanya seorang pria yang selalu ada untuk anak dan keluarganya, setiap pulang bekerja ia tidak lupa untuk mengajakku bermain dan juga memelukku ketika sedang menangis, Asal anda tahu, Papa ku selalu mengajariku untuk berbicara sopan santun, tetapi beberapa tahun ini aku sudah lupa dengan tata krama, karena Papa ku tiba-tiba menghilang."


Dadanya yang sesak membuat air mata Jel semakin mengalir.


Tidak ingin membuat Jere takut dan juga salah paham, Alex pamit keluar dari ruangan itu dengan membawa Jeremia, ia tidak ingin ikut campur terhadap keluarga yang sedang berselisih paham.


"Apa salah Papa sangat menyakiti kamu, Nak," lirih Papa Jel.


"Tidak, anda tidak salah, aku yang salah disini, bahkan aku hanya sebuah kesalahan ketika terlahir ke dunia ini," Jel memegang dadanya yang sangat sakit.


Kedua Mamanya terbawa suasana, mendengar ucapan Jel yang sangat menyayat hati membuat dua wanita itu ikut meneteskan air mata.


"Jel, berkat dan keberuntungan? Jika memang benar, pasti aku tidak mempunyai dua Mama," seru Jel, baju yang dikenakan sudah sangat kusut karena diremas dengan kuat dibagian dada.


Papa Jel menaruh kembali bayi kecilnya disamping sang istri. Ia berjalan ke arah Jel, Papanya berlutut dihadapan putri kecil yang sering ditimang sewaktu kecil.


"Papa minta maaf, tolong maafkan Papa, Nak. Papa bisa Jelaskan semuanya," tangis Papa Jel.


Jel beranjak dari duduknya, ia berjalan ke arah pintu, kemudian ia berjongkok karena tidak sanggup berdiri. Dirinya tidak bisa melihat pria hebatnya berlutut dihadapannya.


"Aku nggak mau mendengarkan apapun, semuanya sudah cukup, bahkan kepedihan ini akan aku hapus supaya tidak ada lagi kesakitan yang ada didalam diriku,"


Papa jel yang masih berlutut, melihat ke arah anaknya yang menangis pilu, Ayah mana yang tidak sakit melihat putrinya mengeluarkan air mata, apalagi kesalahan itu disebabkan oleh dirinya sendiri.

__ADS_1


Mama Jel mendekati putrinya. "Nak, berdamailah dengan masa lalu, lupakan semua yang telah terjadi walaupun sulit, ketika Papa mu mengecewakanmu, Bapa di sorga tidak pernah mengecawakanmu. Belajarlah memaafkan, Mama yakin kamu akan bahagia setelah dapat memaafkan dan meminta maaf terhadap orang yang melukaimu," lirih Mama Jel.


"Hiks ... hiks ..." suara tangisnya semakin terdengar, ia sudah tidak tahan dengan sakit yang dirasakan didalam hatinya, dipeluknya erat sang Mama, tangisannya ditumpahkan semua, ia berharap setelah ini semua dapat menjadi baik.


Semua terdiam tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun, hanya suara tangis yang terdengar didalam ruangan itu, beruntung bayi mungil itu tertidur pulas sehingga tidurnya tidak terusik.


"Mama sama seperti kamu, Nak, tidak bisa melupakan apa yang telah Papa mu perbuat, tetapi Mama sudah meminta maaf dan memaafkan sehingga Mama dapat melupakan semua kesalahan yang telah terjadi," ucap Mama Jel lembut.


Jel menarik napas dalam-dalam, dihapusnya air mata yang masih mengalir diwajah teduh sang Mama. "Jel akan coba berdamai, Ma. Jel juga tidak mau hidup didalam situasi seperti ini,"


"Terima kasih, Sayang," kata Mama Jel menyeka air mata Jel.


Jel mengangguk kepala. "Beri Jel waktu, Ma, Pa. Jel akan coba berdamai, maaf kalau Jel kurang ajar ataupun tidak menghormati Pa-Pa," seru Jel tanpa melihat wajah Papanya.


"Jel maafkan tante yang telah merebut Papa kamu," lirih Mama tiri Jel, ia belum berani menyebut dirinyi sebagai 'Mama'.


Jel tersenyum kecut. "Tante nggak salah, maaf kalau selama ini Jel menyakiti hati tante,"


"Jel, tante ingin memelukmu, bolehkah?" pinta Mama tirinya.


"Boleh tante, tetapi tidak sekarang, Jel belum siap," kata Jel.


"Baiklah, tidak apa-apa. Terima kasih, Nak," ujar Mama tirinya lembut.


"Maafkan Papa, Nak, kalau sudah siap untuk Papa peluk, beritahu Papa ya, Sayang, Papa rindu dengan putri kecil Papa," sambung Papanya.


Jel tersenyum sembari mengangguk kepala.


Alex dan Jere yang sudah lama di luar memilih masuk kembali, ia tesentuh dengan wajah sembab semua orang yang ada didalam ruangan itu, ia yakin kalau semuanya sudah baik-baik saja.


"Kakak Jel dan Mama kenapa duduk disitu?" tanya Jere polos, ia juga memanggil Mama Jel dengan sebutan 'Mama' sesuai permintaan Mamanya.

__ADS_1


"Kita lagi bermain petak umpet dengan Papa, ternyata masih kelihatan juga," jawab Jel asal.


Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar jawaban Jel yang sama polosnya dengan Jere si bocah tampan.


__ADS_2