Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Masih mengidam


__ADS_3

Selesai melahap makanan yang diberikan oleh sekretaris Tommy, Ara melanjutkan untuk menonton film kartun kesukaannya.


Sudah satu jam lebih Ara menunggu, Tommy belum juga datang untuk menemui dirinya. Ia sudah bosan di dalam ruangan pribadi suaminya itu, ia seperti seorang tahanan yang tidak dikasih keluar.


Dengan perasaan kesal, Ara melangkahkan kakinya keluar dari ruang pribadi Tommy, ia dapat melihat kalau Tommy sedang memeriksa kertas-kertas yang ada diatas mejanya.


Tommy yang tidak mengingat jika ada istrinya di dalam ruangan pribadinya, kembali bekerja seperti biasa setelah berbicara dengan rekan bisnisnya.


"Kamu jahat..." tangis Ara pecah sesudah didekat meja kerja Tommy.


Tommy melihat Ara yang sedang menangis. Ia menyesal atas kebodohannya karena melupakan sang istri yang berada di ruang pribadinya. Pekerjaan yang banyak membuat dirinya benar-benar lupa akan kehadiran Ara.


Ia beranjak dari duduknya, dengan merentangkan kedua tangan, ia berniat untuk memeluk istri kecilnya itu. Ara yang sedang kesal menepis tangan suaminya dengan kasar, ia mundur beberapa langkah. "Jangan sentuh aku."


Tidak menyerah, Tommy berjalan ke arah Ara untuk merengkuh sang istri, ia benar-benar bodoh telah mengabaikan Ara. "Maaf, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan, itu sebabnya aku tidak mengingat kalau kamu juga ada disini." Tommy memberi pengertian kepada Ara.


"Bodo amat, aku mau pulang." Ara berjalan ke pintu keluar, saat ia membuka pintu bersamaan dengan Alex yang baru saja datang, membuat dirinya langsung memeluk tubuh Alex yang masih mematung didepan pintu.


"Abang..." tangis Ara pecah setelah berhasil memeluk Alex.


Alex yang masih kebingungan menatap heran kepada sahabatnya itu, ia merasa sesuatu telah terjadi dengan rumah tangga mereka. Ia membelai rambut panjang Ara yang tebal. "Kenapa menangis?"


"Suami adek jahat, hiks... hiks..." jawab Ara disela-sela tangisnya.


"Tom..." panggil Alex.


"Masuk dulu, Lex. Kita bicara di dalam."


Alex masuk dengan menuntun sang adik ke sofa dekat meja kerja Tommy. Begitu pula dengan Tommy yang mengikuti mereka dari belakang.


Masih memeluk Alex dari samping, Ara mengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Alex. "Bang, tahu nggak?"


Dengan polosnya Alex menjawab. "Enggak."


Ara yang kesal melepaskan pelukannya. "Jangan dipotong dulu."


Alex memeluk Ara. "Iya, iya. Adek mau bilang apa?"


"Jadi... Begini, adek kan ikut ke sini. Suami adek bicara dengan rekan bisnisnya, terus adek disuruh untuk menunggu di ruangan pribadi sampai satu jam lebih, adek yang sudah bosan memilih keluar, untuk melihat rekan bisnisnya sudah pulang atau belum. Ternyata, rekan bisnis suami adek sudah pulang dan suami adek sedang memeriksa berkas-berkas yang ada diatas mejanya. Siapa yang tidak kesal, coba." Ara memberitahu rasa kesalnya kepada Alex.


Alex yang mengerti dengan perasaan sang adik hanya menatap Tommy dengan tatapan dingin. "Ini pertama dan terakhir kali gue lihat, Ara seperti ini." Alex yang tidak serius dengan ucapannya hanya menggertak Tommy saja, ia dapat melihat wajah sahabatnya itu sedang bersedih karena istrinya kecilnya menangis.


"Iya. Gue minta maaf," kata Tommy dengan tulus.


"Minta maaf sama istri lo, Tom. Gue bukan istri lo." Alex bergurau kepada Tommy sambil menghapus air mata Ara dengan ibu jarinya.


Tommy menganggukkan kepala, ia tatap wajah sembab Ara. "Honey, aku minta maaf, aku janji hal ini tidak akan pernah terulang."


"Iya." singkat Ara, ia melepaskan pelukan Alex sembari menghapus air matanya. "Bang, adek lapar."

__ADS_1


Alex melihat jam tangannya, jarum jam itu sudah menunjukkan pukul 12:00 siang, pantas saja adiknya ini kelaparan, apalagi ia mendengar dari cerita Tommy kalau adiknya selalu merasa lapar.


Ia baru mengingat tujuannya ke kantor Tommy yaitu untuk mengajak makan siang bersama, awalnya ia kaget melihat Ara yang berada diruangan suaminya. Tetapi melihat ada yang tidak beres ia menenangkan sang adik terlebih dahulu.


"Ayo, kita makan di cafe dekat kantor suami kamu, di sana makanannya enak," ajak Alex, ia beranjak dari duduknya.


"Bang, suami adek jangan ikut ya! Aku lagi kesal sama dia." Ara menunjuk Tommy menggunakan dagunya.


Alex mengerjapkan mata beberapa kali, ia bingung untuk menjawab.


"Honey, aku harus ikut. Kamu dan calon anak kita tidak boleh pergi tanpa aku," tegas Tommy.


Mata Ara berkaca-kaca, ia tatap lelaki yang membuat dirinya seperti sekarang ini. "Jangan ikut."


"Honey, kamu lagi hamil. Tidak boleh jauh-jauh dari aku."


"Siapa bilang tidak boleh! Sekarang saja aku ingin pergi tanpa kamu."


Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Alex melihat kedua pasangan suami istri itu mempertahankan setiap ucapan yang dikeluarkan. "Hentikan, kalian bisa tidak! Sekali saja tidak berdebat."


Pasangan suami istri itu mejawab dengan serempak. "Bisa."


Alex tertawa kecil, ia seperti dihadapkan dengan bocah yang sedang dimarahi oleh orang tuanya. "Ya sudah, kita makan dulu! Setelah itu dilanjutkan perdebatan yang tertunda."


Ara mengerucutkan bibirnya, ia menarik lengan Alex dan berjalan cepat. "Ayo kita pergi."


Tommy menghembus napas berat, ia benar-benar sulit untuk mengerti tentang perasaan ibu hamil. Ia mengikuti dari belakang serta mengabari Ryan.


Di dalam cafe, semua mata memandang iri kepada Ara, mereka ingin berada diposisi Ara yang dikelilingi oleh ketiga pria tampan berjalan ke arah meja yang didekat jendela.


"Aduh, kayak ratu sehari deh." Ara merasa dirinya paling cantik diantara ketiga lelaki yang ada didekatnya. Penampilannya yang terlihat sederhana tetapi enak dipandang membuat dirinya tersenyum ramah kepada orang-orang yang melihatnya.


Ara yang merangkul lengan Alex dengan mesra, membuat siapapun yang melihat akan mengira kalau mereka adalah pasangan kekasih, hal itu juga membuat Tommy menatap sebal ke arah istrinya, dirinya berjalan tanpa ada yang menggandeng. Sedangkan sang istri merangkul abang tercintanya dengan perasaan bahagia.


"Honey, aku suami kamu kalau kamu lupa," ucap Tommy setelah sampai ditujuan mereka.


Dengan acuh Ara berkata." Yang bilang kamu abang aku siapa?"


Alex memberikan buku menu yang diberikan oleh pelayan cafe. "Pesan dulu, nanti lanjut dikamar." Alex sengaja menggoda sahabat dan adiknya.


"Gaya lo bilang kamar, nikah aja belum." Tommy membalas ucapan Alex. Hal itu membuat seorang Alex tersenyum kecut.


Menu yang diberikan, dipilih sesuai dengan selera mereka, menunggu hidangan datang, Tommy berusaha untuk membujuk sang istri, ia juga meminta kepada Alex supaya duduk disamping sang istri, tentu saja Alex menyetujui karena tidak tega dengan raut wajah sedih Tommy.


"Ih... Kamu jangan dekat-dekat aku," seru Ara.


"Siapa yang mau dekat kamu, aku mau dekat sama anak aku kok." Tommy mengarahkan tangannya ke atas perut Ara yang masih terlihat rata.


"Benar ya! Kamu hanya bisa dekat sama dedek bayi saja. Jangan dekat aku."

__ADS_1


Ryan terkikik geli mendengar ucapan Ara. "Benar-benar polos."


"Kepolosannya yang buat gue selalu merindukannya setiap hari," ujar Tommy.


"Adik gue itu udah kayak magnet, siapapun orang yang ada didekatnya pasti tertarik," sambung Alex.


"Dan gue pemenangnya." Tommy merasa bangga karena menjadi pendamping hidup dari istri kecilnya.


Ara yang tidak mengetahui tentang obrolan para pria hanya bisa menyimak, melihat pesanan mereka sudah datang membuat matanya berbinar-binar. Ia dapat melihat pesanan yang sudah ditaruh diatas meja, ia sangat tergiur dan menjadi tidak sabaran. Ara mengucapkan 'Terima kasih' kepada pelayan cafe.


Tanpa aba-aba atau mengajak ketiga pria itu untuk makan, Ara langsung melahap makanan itu dengan perasaan bahagia.


"Dek, kamu baru lihat makanan enak ya! Selama ini suami kamu kasih makan apa?" tanya Alex dengan santainya.


"Irit bangat lo, Tom," sambung Ryan untuk meledek Tommy.


"Gue, Tommy Dirgantara. Pemilik Dirgantara group, kalau lo berdua lupa."


"Tidak meyakinkan," balas Alex.


Dengan mulut yang penuh makanan, Ara dapat melihat jika mata ketiga pria itu sedang menatap heran kepadanya. Ia mengedikkan bahu memilih menikmati makanan yang ada didepannya.


Masih mengunyah makanannya, Ara membuka suara. "Kalian tidak makan?"


"Lihat lo makan, kita kenyang, Ra." Ryan merasa geli melihat cara makan Ara yang tidak sabaran.


"Kita? Gue aja lapar." Tommy memakan pesanannya.


Ryan bermaksud menggoda Ara tapi tidak berhasil karena Tommy membuatnya kesal. "Sialan lo."


Tommy dan yang lain hanya terkekeh.


Ketika menikmati makanan yang dipesan, tiba-tiba Ara menarik ujung kemeja kerja Tommy. "Ada apa?" tanya Tommy, ia tersenyum ramah kepada istrinya itu.


"Aku masih lapar," kata Ara yang sudah menghabiskan makanannya.


"Kamu mau makan apa lagi? Biar aku pesankan."


Ara menggeleng kepala, kini matanya sudah melirik ke makanan sang suami yang tersisa setengah lagi. "Aku mau makanan kamu."


"Tapi ini udah bekas aku."


Mendengar penolakan Tommy membuat matanya langsung berkaca-kaca, saat ini ia mengingingkan bekas makanan suaminya.


"Mungkin istri lo lagi ngidam, kasih aja." Ryan yang sudah pernah menghadapi istri yang mengidam langsung mengerti kemauan Ara.


Tommy yang tidak ada pilihan, memasukkan makan itu ke dalam mulut Ara dan juga mulutnya, dengan telaten Tommy menyuapi Ara sampai makanan itu habis.


"Lihat begini jadi pengen cepat-cepat menikah." Sedari tadi Alex memperhatikan keromantisan pasangan yang ada didepannya.

__ADS_1


Mereka saling tatap tidak tahu mengatakan apa kepada Alex. Ya, ini bukan kali pertama mereka mendengar kalau Alex ingin menikah. Setiap Alex mengucapkan itu membuat mereka menjadi turut prihatin.


__ADS_2