
Setelah ulang tahun Tommy beberapa hari yang lalu, semua orang sudah mengetahui tentang kedekatan Alex dan Jel, beberapa bulan ini Alex selalu berjuang untuk Jel, Jel yang mengetahui tentang sifat dingin Alex tidak menyangka seorang Alex ternyata sangat hangat terhadap orang yang disayangi nya.
Hubungan keduanya belum bisa dikatakan masuk ke tahap serius, karena setiap Alex menyatakan perasaannya pasti selalu ditolak dengan alasan lebih baik berteman saja, sebenarnya Alex sudah menyukai Jel sejak lama, hanya saja tidak terlihat sehingga setiap bertemu Alex selalu menampilkan wajah yang dingin.
Alex mulai berani mendekati sahabat adiknya mulai dari acara pernikahan sang adik, lambat laun Alex berani menyatakan perasaannya, walaupun ditolak berkali-kali dia tidak patah semangat, Alex selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi ataupun menemui Jel sehingga Jel kesal sendiri melihat perjuangan Alex.
Hari ini Jel pulang lebih awal tidak seperti biasanya, dia meminta Alex untuk menjemputnya karena tidak membawa kendaraan, dengan senang hati Alex langsung meluncur ke rumah sakit tempat Jel koas.
Sesampainya di parkiran Jel melihat ke kanan ke kiri tidak menemukan mobil Alex, lalu dia merogoh tasnya dan menelfon Alex tetapi tidak di angkat sama sekali. "Pesan mobil online aja deh." gumamnya hampir saja memesan mobil online ternyata mobil Alex sudah ada di depan Jel.
Alex turun dari mobilnya menghampiri Jel yang berdiri di parkiran. "Babe, maaf telat jemput." dirinya tersenyum ke arah Jel.
Ara tersenyum menggeleng kepala. "Kalau sibuk, tidak usah dipaksakan buat jemput, aku bisa pesan mobil online kok." mengangkat ponselnya ke udara.
Alex membuka pintu samping untuk Ara. "Silahkan, tuan putri." mempersilahkan Jel masuk layaknya seorang putri.
Jel sudah terbiasa dengan panggillan sayang dan juga gombalan Alex, dirinya tidak mempermasalahkan sikap manis Alex kepadanya, Jel hanya tersenyum mendengar ucapan Alex.
Alex menyusul Jel masuk kedalam mobil, tersenyum ke arah orang yang disampinya. "Aku tadi udah beli makanan." mengambil paperbag yang berisi kue kering di kursi penumpang, memberikannya kepada Jel.
"Tahu bangat aku lapar," membuka isi paperbag menyantapnya dengan lahap.
Alex tersenyum gemas melihat Jel seperti orang yang tidak pernah makan, dirinya hampir sama dengan Ara selalu melupakan makan siang karena sibuk dan ketika makan maka seperti orang yang kelaparan.
Jel sudah menghabiskan semua kue kering yang di beli Alex, tetapi dirinya masih kelaparan. "Kak, kita berhenti di depan situ ya!" menunjuk pinggir jalan yang ada di depan.
"Oke."
Mereka berhenti di tempat gerobak bakso dengan beberapa meja yang ada di dibelakang gerobaknya, Alex yang sudah mengetahui semua tentang Jel langsung memesan bakso yang diingkan Ara.
Keduanya sudah duduk di meja paling tengah, Jel memainkan ponselnya untuk melihat pesan yang baru saja masuk, Alex memperhatikan wajah Jel yang serius menatap layar ponselnya. "Babe," panggilnya.
"Hm."
__ADS_1
"Lain kali, gak boleh gak makan siang," tegas Alex.
"Hm."
"Sesibuk apa pun harus ingat makan siang."
melihat ke arah Alex. "Iya bawel."
Pesanan mereka sudah datang, bakso satu porsi dan dua teh manis hangat dan dingin. Sebelum makan Jel selalu minum terlebih dahulu, ketika tangannya ingin mengambil teh manis dingin, Alex langsung menegurnya sehingga dia kesal sendiri. "Punya kamu teh manis hangat." menyodorkan teh manis hangat ke arah Jel.
"Aku mau minum yang dingin," rengek Jel.
Alex menggeleng kepala. "Minum yang hangat saja."
Wajahnya sudah di tekut, sembari meminuman teh manis hangat yang ada di depannya, memilih menikmati makanannya dalam diam.
"Babe, makannya pelan-pelan." mengambil tisu untuk mengelap sudut bibirnya yang belepotan, jika sedang berduaan Alex selalu memperhatikan wajah Jel.
Hal kecil seperti ini saja bisa membuat seorang Alex tersenyum, Jel selalu mencicipi makanan atau meminum Alex, hal itu tidak membuatnya risih melainkan bahagia. "Ya, sudah minum saja," lirih Alex masih melihat wajah wanita yang selalu menolaknya.
"Setiap makan di pinggir jalan, kamu selalu pesan minum!beda bangat sama Ara." setiap mereka makan Jel selalu mengajak Alex makan di pinggir jalan, tetapi hanya Jel yang selalu makan sedangkan Alex hanya minum saja.
"Aku gak terbiasa." sedari kecil Alex memang sudah mandiri sama hal nya dengan Ara tetapi Ara tidak seperti Alex yang pemilih tentang tempat makanan.
"Kamu kan udah sama aku, jadi harus terbiasa mulai sekarang." mengambil beberapa tisu mengelap bibirnya dan meminum teh manis dingin Alex, dirinya belum sadar akan perkataan yang di ucapkan.
Alex yang mendengar itu hanya tersenyum menahan tawa melihat kepolosan wanita yang ada di depannya. "Kamu terima aku?" masih tidak percaya maksud perkataan Jel.
Tiba-tiba ia menjadi gugup. "Mak-maksud aku anu..."
"Babe, aku serius sama kamu, kasih aku kesempatan ya!" lirih Alex.
"Aku takut," gumamnya.
__ADS_1
Flashback on
Ketika remaja dia mempunyai trauma akan keluarganya yang broken home, Papanya yang menikah lagi tiba-tiba membawa seorang wanita dengan perut yang besar masuk ke dalam rumah, awalnya keluarganya baik-baik saja, tetapi setelah 5 bulan papanya bekerja di luar kota, membuat hubungannya dengan sang Papa mulai renggang, Papa yang jarang memberi kabar tiba-tiba sudah menikah lagi tanpa sepengetahuan mereka.
Saat itu hatinya sangat hancur melihat sang Papa yang tega menikah secara diam-diam, ia sedih melihat Mamanya yang terpukul setelah Papanya membawa seorang wanita. Istri mana yang tidak sakit melihat suaminya membawa istri yang hamil besar ke rumah keluarganya, berkali-kali ayahnya meminta maaf supaya mempertahankankan keluarganya. Mamanya menerima maaf sang suami demi putrinya.
Walaupun tidak bercerai tetapi sang Mama memilih pisah rumah dengan sang suami dan tentu saja tidak diperbolehkan sang Papa tetapi karena Mamanya mengancam akan bercerai maka segera disetujui oleh Papanya.
Sejak kejadian itu dirinya yang sangat dekat dengan sang Papa membuat dirinya menjaga jarak, berkali-kali Papanya meminta Jel untuk mengobrol tetapi selalu ditolak dengan alasan sibuk, sekali seminggu Papa Jel akan berkunjung ketempat tinggal mereka, Jel selalu bersikap biasa pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi, waktu kecil ketika melihat sang Papa pulang bekerja maka dia akan berlari dan menghambur kepelukan sang Papa tetapi berbeda sejak mengetahui kebohangan sang Papa.
Flashback off
Alex yang mengetahui ketakutan Jel selalu berusaha meyankinkan jika dirinya tidak akan melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh Papa Jel. "Aku akan berusaha menjadi pria yang terbaik buat kamu! kasih aku kesempatan ya!" ucapnya penuh harap.
Jel menatap lekat-lekat mata Alex seperti mencari keseriusan pria yang ada didepannya. "Kak..."
Dipegangnya kedua tangan Jel. "Babe, will you be my girlfriend?" tanyanya penuh harap.
"Aku mau tapi..."
"Kenapa?" Alex bingung dengan perkataan Jel yang menggantung.
Jel menunduk kepala dirinya malu terhadap Alex. "Aku pengen kayak Ara pacaran setelah menikah," ucapnya pelan masih bisa didengar oleh Alex.
Alex tertawa bahagia. "Kamu pengen dilamar?" goda Alex.
"Kakak... ." rengek Jel.
Alex ternsenyum. "Terimakasih sudah memberi kakak kesempatan, kakak senang, babe akhirnya cinta kakak terbalas." tulus Alex.
"Kakak aku malu tahu," manja Jel.
"Bisa bangat sih kamu, Sudah selesai kan makannya? kita pulang ya!" berdiri dari tempat duduknya mengambil salah tangan Jel menggemgam tangannya sampai mobil Alex.
__ADS_1