
Bulan berganti bulan, kini kehamilan Ara semakin membesar, usia kehamilan yang memasuki delapan bulan, membuat nya menjadi lebih mudah lelah dan sering merasakan sakit punggung.
Sejak usia kehamilan Ara memasuki lima bulan, Tommy membujuk istrinya habis-habisan supaya sang istri mengambil cuti dan fokus terhadap kehamilannya.
Awalnya Ara membantah, ia ingin cuti ketika usia kehamilannya memasuki tujuh bulan, dirinya sangat mencintai profesi yang membuat ia selalu berjuang keras untuk membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongannya, orang tua dan mertuanya juga turut andil untuk berbicara kepada Ara, melihat wajah suami dan keluarganya yang memelas membuat ia menuruti permintaan keluarganya.
Rumah sakit tempatnya bekerja adalah milik keluarga suaminya, itu sebabnya Ara mudah mengambil cuti, bahkan yang mengurus pemberhentiannya sementara adalah asisten dari suaminya. Namanya orang kaya apapun bisa dilakukan.
Sejak saat itu juga, Tommy meminta kepada istrinya supaya tinggal di rumah orang tuanya sampai Ara melahirkan, akhir-akhir ini Tommy sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan dan juga pergi ke luar kota beberapa hari, membuat suaminya tidak tenang meninggalkan sang istri di rumah sendirian, apalagi tidak ada pembantu rumah tangga di rumah yang menemaninya.
Di dalam kamar, Tommy yang baru saja pulang dari perusahaan langsung menyusul sang istri yang sedang memijat-mija kakinya. "Daddy, pulang," teriaknya.
Ara tersenyum melihat suami yang baru saja datang. Ara melihat jam dinding. Padahal hari masih sore. "Tumben pulang cepat,"
"Kangen istri dan adek,"
Ia mendekati Ara, dengan lembut, Tommy mengecup kening dan perut sang istri.
Perhatian kecil seperti ini saja mampu membuatnya terharu , apalagi perhatian sang suami yang sangat membuatnya senang, sampai-sampai Ara terkadang menitikkan air mata bahagia, merasa beruntung memiliki suami yang selalu ada untuknya.
"Sudah mandi?" tanya Tommy.
Ara mengangguk kepala.
"Ya sudah, aku mandi dulu, setelah itu kaki kamu aku pijat ya, kamu pasti capek," kata Tommy sembari membelai rambut istrinya.
"Nggak usah, capeknya sudah hilang pas lihat kamu,"
"Bisa saja kamu." Tommy menyentil hidung Ara.
Ara hanya tersenyum seraya memperhatikan langkah Tommy yang memasuki kamar mandi, walaupun ia sedang hamil besar, dirinya tidak pernah melupakan kewajibannya untuk melayani sang suami, seperti saat ini, ia sedang menyiapkan pakaian suaminya, dengan gerakan pelan sambil memegang pinggangnya, Ara mengambil beberapa pakaian yang ada didalam walk in closet.
Tidak butuh waktu yang lama baginya membersihkan tubuh, ketika ia menuju walk in closet, istrinya itu sedang duduk, matanya melotot saat melihat sang istri telah memegang pakaian santainya.
"Sudah berulang kali aku katakan, kamu tidak usah menyiapkan pakaianku," lirih Tommy mendekati istrinya.
__ADS_1
"Itu sudah kewajiban seorang istri," seru Ara tersenyum.
"Keras kepala," gumamnya.
"Aku dengar loh," kesal Ara.
"Sini bajunya," ia cengengesan, diambilnya pakaian tersebut dari tangan Ara.
Seusai berpakaian, kedua pasangan suami istri itu keluar dari kamar tamu. Ya, Tommy memilih di kamar tamu ketimbang kamarnya yang berada di lantai dua, ia tidak ingin istrinya harus bolak balik naik tangga.
Dengan langkah yang hati-hati, Tommy menuntun istrinya berjalan pelan.
"Putri, Mama," ucap Mama mertuanya saat melihat anak dan menantunya menghampiri mereka di ruang tengah.
"Ma, Pa," kata Ara menyapa mertuanya.
"Sini cantik," seru Papa mertuanya.
Ara tersenyum lalu menoleh ke suaminya. "Aku duduk disitu saja," tunjuk Ara ke karpet bulu dekat sofa.
Ara duduk dengan berselonjoran, punggungnya disandarkan disofa diikuti oleh Tommy dan juga mertuanya, jadilah mereka bercengkrama di karpet bulu tersebut.
"Terima kasih," ucapnya tulus, ia memberikan senyuman terbaiknya untuk sang suami.
Kedua mertuanya tidak lagi heran dengan tingkah calon orang tua tersebut, mereka sudah terbiasa melihat perhatian anaknya kepada menantunya itu.
Tangannya masih setia memijat kaki sang istri, tiba-tiba Papanya mengucapkan sesuatu. "Tom, bagaimana dengan masalah kantor cabang? Kapan kamu akan berangkat?
Tommy menelan salivanya, ia belum memberitahu kepada sang istri keberangkatannya besok pagi ke luar kota.
Ara mengernyit keningnya dalam-dalam. "Kamu mau pergi lagi?" tanyanya.
Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung untuk menjelaskan kepada istrinya, pekerjaannya yang banyak membuat dirinya lupa mengatakan kepada sang istri, ditambah keberangkatannya juga sangat mendadak karena permasalahan yang dialami oleh salah satu perusahaannya di luar kota datang secara tiba-tiba.
"Honey, maaf, aku lupa memberitahumu ... Besok pagi aku harus berangkat bersama Ryan, ada masalah yang harus aku selesaikan diperusahaan kita," kata Tommy hati-hati, ia takut membuat mood istrinya menjadi jelek.
__ADS_1
"Kenapa baru bilang? Aku nggak marah kok," lirih Ara, ia tidak boleh egois, bagaimana pun juga, suamianya itu banting tulang untuk dirinya dan juga anaknya kelak.
"Kamu tidak apa-apa?" seru Tommy menatap wajah sendu sang istri.
Ara tersenyum, ia menggelengkan kepalanya seperti mengatakan bahwa dirinya dan calon anaknya baik-baik saja, padahal Tommy tahu jika istrinya tersebut sedang menyembunyikan rasa sedihnya.
"Kamu tidak usah khawatir, ada Papa dan Mama, yang menjaga istri dan calon anakmu," celetuk Mamanya.
"Terima kasih, Ma," ucap Tommy tulus.
"Itu sudah kewajiban kami, menjaga menantu yang cantik ini kalau suaminya sedang bekerja, santai saja, Tom seperti di pantai," canda Papa Tommy untuk mengubah suasana.
"Hanya Mama yang setia menjaga putri dan calon cucu kita," protes Mamanya, suami dan anaknya lebih banyak waktu diperusahaan dari pada di rumah.
"Papa juga dong, sekarang tugas perusahaan sudah diambil alih oleh Tommy, ya, walaupun terkadang Papa harus turun tangan," tawa Papanya.
"Kalian para pria sama saja," gerutu Mamanya.
"Tidak dong ratuku yang paling cantik, kamu nggak ingat waktu kamu hamil! Aku selalu ada buat kamu," kata Papa Tommy mengingat masa lalu.
"Sudah tua juga masih saja menggombal," kesal Mamanya.
Ara hanya tertawa kecil melihat kedua mertuanya yang sangat lucu.
"Papa dan Mama tidak ingat umur, sudah mau punya cucu juga masih saja bermesraan didepan kami," goda Tommy.
"Hei, anak muda, umur tidak lah menjadi persoalan didalam hubungan kami," ujar Papanya.
"Terserah yang tua sajalah," kata Tommy mengalah. "Kamu mau makan apa?" tanya Tommy melihat istrinya yang sedari tadi diam.
"Aku belum lapar ..." jawabnya.
"Yakin?" tanya Tommy penuh selidik.
"Tapi ... Aku mau makan salad buah, sepertinya enak," seru Ara, membuat kedua mertua dan suaminya terkekeh.
__ADS_1
Ara memang selalu seperti itu mengatakan tidak lapar, tetapi jawaban yang keluar dari mulut dan perutnya selalu berbeda pendapat, sebanyak-banyaknya ia makan, beberapa jam lagi akan lapar, terbukti dari tubuhnya yang sudah melebar bahkan wajahnya sudah membulat seperti balon yang siap dipecahkan.
Akhirnya Mama Tommy menyuruh pelayan yang berada di rumahnya membuatkan permintaan menantu kesayangannya. Dengan lahap ia menghabiskan salad buah yang baru saja diantarkan kepada menantunya.