
Usai makan malam, Tommy dan Ara bersantai di ruang tamu dengan Ara yang tiduran dipaha Tommy yang sedang menonton salah satu acara di televisi.
"Honey, kita sewa jasa pembantu rumah tangga ya! untuk mengurus rumah," seru Tommy tiba-tiba.
"Gak mau, gue masih bisa kerjakan semuanya." Tolak Ara.
"Kamu yakin?"
"Iya, gue gak suka bergantung pada orang lain."
"Nanti kamu capek," memberi pengertian kepada istrinya apalagi disaat mereka sama-sama sibuk nantinya sudah dipastikan kalau Ara akan mengeluh karen capek.
"Kalau capek, tinggal lo pijat, kak."
"Kepala batu." gumamamnya
"Gue dengar."
"Aku gak tega, lihat kamu ngerjain semua sendirian."
"Makanya bantuin gue." galak Ara.
"Seumpama kita sama-sama sibuk, gimana?"
"Kita kerja sama menjaga kebersihan, biar gak kotor-kotor bangat," kesal Ara.
Tommy terkekeh, ia menarik hidung mancung Ara. menurut nya Ara sangat lucu jika sedang kesal.
"Iya, kamu jangan marah-marah terus dong, gak baik buat janin yang kamu kandung," goda Tommy mengelus perut rata Ara.
"Sembarangan.... Lo kali yang lagi mengandung janin," kesal Ara langsung duduk.
"Hehehe... honey, boleh aku bicara." ujar Tommy hati-hati.
Tommy takut menyinggung sang istri, sebisa mungkin Tommy mengajak Ara berbicara dengan hati-hati, apalagu mengetahui sifat Ara yang labil membuat Tommy harus berhati-hati menjaga setiap perkataan yang ingin diungkapkan kepada Ara.
"Bukannya dari tadi udah bicara ya!"
"Bukan gitu maksud aku."
"Jadi.... maksud lo apa?" tanya Ara sedikit kesal.
"Begini..... kamu gak pengen gitu ganti nama panggilan ke aku."
__ADS_1
Ara hanya menatap Tommy dengan wajah bingung, memang dasar Ara yang tidak peka jadi hanya diam saja karena tidak mengerti maksud perkataan Tommy.
"Bisa gak! mulai sekarang kamu panggil aku, jangan pakai kata 'gue, loe' Tapi pakai 'aku, kamu," kata Tommy lembut.
"Sebelumnya gak pernah protes pakai panggilan 'gue, loe' selama ini."
"Iya, itu sebelum kita menikah. Sekarang kita sudah menikah. Bisa ya! ujar Tommy memelas.
"Gu - eh A-ku coba," ucapnya gugup tetapi lanhsung mengangguk kepala.
"Pelan-pelan saja, gak usah buru-buru. Oke." ujar Tommy mendaratkan kecupan dikening Ara.
"Terimakasih sudah sabar menghadapi tingkah konyol aku, selalu bimbing aku ya! Ara tulus mengatakan itu kepada Tommy yang sudah menjadi suaminya.
"Pasti, kita sama-sama belajar ya! saling tegur jika salah, kalau ada masalah sekecil apa pun, langsung cerita ya! kita kerja sama untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis, harus bisa menjadi pasangan berdampak bagi orang lain."
"Iya, honey." Ara mengangkat salah satu tangannya membentuk tanda 'Ok' ke arah Tommy.
"Aku suka panggilan kamu, awal nya, aku mengira orang diluaran sana lebay dengan memakai panggilan sayang seperti itu, setelah menemukan sosok wanita yang ingin kunikahi. Aku jadi suka dengan panggilan sayang seperti kamu panggil aku saat ini dengan kata honey.
Ara tercengang mendengarkan perkataan Tommy, Kemana pria adem sari yang pengen dilempar ke sungai amazon, pria sombong yang menolak Ara dulu.
"Kok kamu bisa hangat sih? dipanasin pakai apa?" ujar Ara nyeleneh.
"Suka bangat berantakin rambut aku."
Tommy hanya terkekeh melihat reaksi sang istri.
"Oh, iya, tadi aku udah kabarin ke semua orang ya! untuk acara kumpul-kumpul di rumah baru."
Tommy mengangguk kepala.
***
Semua sudah berkumpu,l di taman belakang dekat kolam renang, tuan rumah mengadakan pesta BBQ kecil-kecilan sekalian silaturahmi sesudah menjadi istri orang, Ara juga mengundang mantan Tommy, karena akhir-akhir ini Ara sangat akrab dengan Iren, hal itu membuat Tommy kesal dengan istrinya. Bagaimana bisa istrinya berteman dengan mantan pacarnya, Tommy tidak mengerti dengan jalan pikir sang istri.
Ara yang suka bernyanyi, lebih memilih memainkan alat musik kesayangan nya, dari pada ikut membantu memanggang. Setiap petikan gitar, yang dilakukan oleh tangan Ara, tidak luput dari pandang suami nya, saat itu Tommy sedang membantu Alex dan Rio memanggang daging yang sudah dibersihkan.
"Sejak kapan Ara pintar bermain musik?" tanya Tommy heran.
"Parah, suami durhaka masa hobby istri gak tahu." celetuk Alex.
"Acara keluarga malam pernikahan kakak, Ara memainkan alat musik kan! Kenapa sekarang baru bertanya kak?" seru Rio."
__ADS_1
"Kemarin mau bertanya langsung sama Ara cuma lupa terus," kata Tommy terkekeh.
"Sejak kelas empat SD Ara sudah les musik," tutur Alex.
"Keren.... pantas bini gue mahir bangat," kagum Tommy melihat istrinya yang sedang memainkan alat musik yang terbuat dari kayu itu.
"Ara juga pernah ikut lomba musik dari kampus, sudah banyak perlombaan yang diikuti Ara dalam bidang seni dan itu mengharumkan nama kampus." Rio bangga dengan talenta yang dimiliki oleh Ara.
Rio menceritakan setiap hobby Ara bahkan Ara yang sangat suka menonton pertandingan basket memberitahukan kepada Tommy, setiap Ara ada waktu pasti dirinya mengajak Rio menonton pertandingan ke kampus lain.
"Gue iri sama lo, masa lo lebih tahu istri gue ketimbang gue suaminya," kesal Tommy.
"Hello... kemarin kemana aja? yang cuek sama adek gue siapa? mengabaikan ketulusan adek gue siapa? jelas dong, kalau li gak tahu tentang adek gue," sindir Alex.
Tommy hanya diam tidak berani menjawab karena yang dikatakan Alex benar semua, Tommy jadi malu sendiri melihat Alex yang baru saja menyindir nya.
Akhirnya semua hidangan sudah matang, makanan lainnya sudah di tata diatas meja panjang, yang berada di taman. Mengetahui sang istri, suka berkumpul dengan teman-teman nya, Tommy membuat meja panjang, dengan kursi yang tersusun rapi, untuk tempat bersantai saat berkumpul dengan semua orang seperti saat ini.
Semua menikmati hidangan, dengan obrolan dan candaan ringan, tidak sengaja Ara melihat Ryan mengelus kepala Liz, Ara hanya bisa menganga, tidak percaya yang dilihatnya. seketika jiwa kepo Ara meronta-ronta.
"Honey, menurut kamu mereka aneh tidak ?" ujar Ara berbisik menunjuk ke arah Ryan dan Liz.
"Hm," singkat Tommy.
"Dasar pria adem sari, nyesal aku nanya kamu," kesal Ara melihat Tommy tiba-tiba kembali ke sifat awal.
Tommy hanya diam saja, tidak menanggapi perkataan Ara, Ara sangat mengetahui sifat Tommy, jika di depan banyak orang Tommy akan kembali ke mode awal memasang wajah datar. Tetapi jika bersama Ara, Tommy sangat hangat, dan menjadi penggombal. Memang sesekali Tommy hangat didepan keluarga dan sahabat nya.
"Liz, tumben amat lo duduk disamping Ryan," heran Ara melihat temannya.
"Iya benar, dari tadi gue perhatikan juga lengket bangat. Udah kaya perangko aja lo berdua," ucap Jel yang menyadari tingkah Ryan dan Liz, malu malu kucing meong meong.
"Maksudnya?" tanya Liz pura-pura tidak mengerti.
"Kalau udah jadian sama orang jangan lupa traktir nona-nona makan ya?" goda Ara.
"Gue request harus pacar lo yang bayarin kita-kita. Iya enggak?" ujar Jel langsung bertos ria dengan Ara.
"Gaya muka datar, setiap dielus kepalanya pasti langsung nunduk." ucap Ara.
Semua orang menatap mereka dengan bingung, tidak dengan kedua orang tua Ara dan Alex, mengetahui bagaimana pertemanan mereka menjahili satu sama lain, membuat tingkah mereka sudah diketahui. Ya, begitu lah mereka bertiga jika sudah dipertemukan, akan asik dengan dunia nya sendiri dan mengabaikan sekelilingnya.
"Dek, gak malu? didepan mertua, masih aja ribut kalem dikit dong, selow." celetuk Alex.
__ADS_1
Ryan hanya memasang muka santai, pura-pura diam tidak mengerti arah pembicaraan mereka, mertua Ara hanya menatap sembari tersenyum menggeleng kepala melihat tingkah absurd sang menantu, berbeda dengan Iren memperhatikan semua gerak gerik Ara dan merasa iri dengan kebahagiaan yang didapat Ara berbeda dengan dirinya, berkumpul saja dengan kedua orang tuanya bisa dihitung dengan jari. Rio yang memperhatikan Iren selalu melihat ke arah Ara sedikit curiga tetapi langsung di tepis perasaan buruk itu.