Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Sampai Kapan Ditolak?


__ADS_3

Setelah makan siang, semua kembali ke aktivitas masing-masing. Alex yang tidak bersemangat beberapa hari ini, kembali ke perusahaannya, untung saja pekerjaannya tidak banyak, jadi, ia masih bisa beristirahat sebentar untuk menenangkan pikirannya.


Beberapa kali ponselnya berdering, ia abaikan begitu saja setelah melihat nama si penelepon dilayar benda pipih itu. Pesan yang dikirim orang dari seberang sana juga sudah memenuhi ponselnya, tetapi tidak ada balasan sama sekali dari Alex.


Malas dengan orang yang selalu menelepon tiada hentinya, akhirnya ia mematikan ponselnya untuk sementara waktu, ia merasa kepalanya tambah berdenyut memikirkan wanita yang selalu membuat dirinya tersenyum. Ya, wanita yang membuat dirinya seperti sekarang ini adalah kekasihnya sendiri.


Jel yang melukai perasaannya beberapa hari yang lalu, membuat Alex tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri, kantong mata Alex juga sedikit hitam karena saat malam hari dirinya susah tidur sehingga membuat Alex begadang.


Ia selalu memikirkan wanita yang selalu mempermainkan perasaannya, Alex juga menahan diri untuk tidak menemui Jel, ia berpikir jika mereka berdua perlu intropeksi diri untuk mempererat hubungan yang mereka jalani.


Sesampainya di perusahaan, ia masuk kedalam ruangannya. Alex mendaratkan tubuhnya di kursi kebanggaannya. Alex kembali mengaktifkan ponselnya. Seketika ia membayangkan saat dirinya ditolak lagi oleh Jel.


Flashback On


Ketika malam hari, Alex sudah bersiap-siap untuk menjemput wanita yang selalu ada dipikirannya. Jika dirinya sedang tidak sibuk maka Alex akan mengajak Jel keluar seperti malam ini.


Di rumah Jel, Alex duduk di ruang tamu setelah di persilahkan Jel masuk ke dalam. Jel yang kembali ke dalam kamarnya segera bersiap-siap, ia tampil seperti apa yang diinginkan oleh Alex, awalnya Jel menolak untuk tampil lebih feminim, ia merasa kalau itu bukanlah gayanya, melihat wajah Alex yang memelas membuat dirinya menyetujui permintaan Alex.


Saat Jel menuruni anak tangga, Alex terpana akan penampilan sang kekasih, ia tatap Jel tanpa berkedip, bahkan mulutnya sedikit terbuka. Ia benar-benar takjub dengan penampilan Jel. Dilihatnya sang kekasih sudah didepannya ia pun membuka suara. "Babe, tumben cantik."


Jel kesal sendiri mendengar pujian Alex, walaupun tampil feminim, bukan berarti ia harus berbicara seperti penampilannya. "Jadi, maksud kamu! Aku gak pernah cantik."


"Baru juga dipuji udah kembali lagi galaknya."


"Kamu bilang apa?" kesal Jel.


Alex hanya cengar cengir tidak berani menjawab. "Mama dimana! Aku mau pamit." Alex menatap sekeliling untuk mencari keberadaan calon mertua yang sudah dianggap seperti Mama yang melahirkannya.


"Lagi istirahat. Tidak usah pamit, tadi aku udah bilang kok, mau keluar sama kamu," tutur Jel.


Jel mengerutkan kening dalam-dalam melihat penampilan Alex yang sangat rapi, ia berpikir kalau Alex baru pulang kerja. Mengingat hari ini Alex pulang cepat dari perusahaan, membuat dirinya bertanya tentang pakaian yang tidak seperti biasanya digunakan kalau sedang jalan keluar.


"Sebelum kesini! Kamu dari mana?" tanya Jel penuh selidik.


"Dari rumah."


"Tumben rapi?"


"Berangkat, yuk."


Alex mengalihkan pembicaraan supaya rencana yang telah dibuat malam ini tidak ketahuan. Alex sudah mempersiapkan sebuah kejutan kepada wanita yang berjalan disampingnya itu, mereka berjalan menuju mobil yang biasa digunakan oleh Alex.


***


Sesampainya di tempat tujuan mereka, Alex meminta ijin untuk menutup mata Jel, Jel yang keberatan, tidak mempunyai penolakan untuk berkata 'iya' setelah Alex membujuknya.


Di sebuah taman, Alex menuntun Jel untuk berjalan, dengan pelan-pelan Alex memperhatikan langkah Jel supaya tidak salah melangkah, Jel yang menggunakan high heels sedikit kesusahan berjalan sehingga membuat dirinya mengomel.


"Kita mau kemana? Aku bisa jalan sendiri, tidak harus tutup mata kayak gini."


"Belum juga jadi istri, cerewet kamu udah buat aku gemas sendiri." Alex sengaja menggoda Jel.

__ADS_1


"Kamu buat aku jadi susah jalan, pake acara suruh aku gunakan high heels lagi."


"Bawel bangat pacar aku."


Tiba-tiba Alex menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?"


"Kamu mau tutup mata terus?"


"Kamu pikir mata aku ditutup pakai tangan besar kamu itu seru? Tangan kamu yang besar itu tidak hanya menutup mata ku saja, tetapi wajah ku juga ditutup." Jel benar-benar kesal kepada kekasihnya itu.


Alex terkikik geli, ia sangat senang menggoda Jel. "Iya, maaf." Alex melihat keadaan taman yang sudah dihias seromantis mungkin. "Kamu jangan buka mata sebelum aku panggil nama kamu ya!" sambung Alex.


"Kamu mau apain aku sih?" tanyanya kebingungan.


"Babe, jangan banyak tanya. Kamu ikuti saja apa yang aku bilang," lirih Alex.


"Ak--"


"Ssstttt... Tidak ada penolakan."


Jel menghela napas, ia mengangguk kepala.


Alex melepaskan tangannya dari wajah Jel, ia mengambil posisi berlutut dihadapan Jel sembari merogoh cincin dibalik jas yang dikenakan, ia mengarahkan cincin itu ke depan sang kekasih.


"Jelita Murniaty."



Perempuan lain mungkin bahagia disuguhkan pemandangan seperti yang dilihat seperti sekarang ini, tetapi tidak dengan dirinya, ia tahu kalau Alex sedang melamar dirinya, tetapi hal itu tidak membuat Jel menerima sang kekasih.


"No," tegas Jel sebelum Alex melanjutkan kalimatnya.


Alex berdiri dari posisi berlututnya, ia genggam erat cincin yang akan diberikan kepada Jel. "Babe ..." Alex memanggil wanita yang menampilkan wajah datar itu.


Jel membuang wajahnya ke samping, ia tidak sanggup menatap wajah Alex. Perasaannya juga saat ini kacau, ia bingung dengan keadaan yang dialami. Trauma yang ada dalam dirinya masih membekas.


"Aku belum bicara, tapi sudah ditolak duluan." Alex tersenyum getir.


"Berapa kali aku bilang sama kamu, kalau aku belum siap," ketus Jel tanpa melihat wajah Alex.


"Mau sampai kapan memberi alasan 'belum siap' kita bukan lagi remaja yang mengerti tentang cinta monyet, aku sama kamu itu udah sama-sama dewasa Jel, aku membutuhkan kamu sebagai pasangan hidup. Sampai kapan aku menunggu? Sampai kapan? hah?" Alex yang kecewa menaikkan satu oktaf suaranya.


"Kalau kamu tidak bisa menunggu. Ya, sudah. Jangan dilanjutkan."


Alex menggeleng kepala, ia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Jel. "Jangan kekanakan Jel, kita sebagai pasangan tidak seminggu dua minggu lalu mengakhiri begitu saja, kita sudah bertahun-tahun menjalani hubungan ini, dengan mudahnya kamu mengatakan seperti itu," kesal Alex.


"Ck, maksud aku lamaran malam ini jangan dilanjut." Jel yang tak kalah kesal membenarkan ucapannya.


"Terserah ... Aku antar kamu pulang." Alex berjalan duluan menuju tempat parkir yang ada di taman tersebut.

__ADS_1


"Belum juga makan udah diajak pulang, mana gue lapar lagi," gumam Jel sembari mengikuti Alex.


Flashback Off


Alex menghentikan lamunannya setelah dikagetkan oleh ponsel yang berdering kembali, Ia melihat nama si penelepon, ternyata masih orang yang sama.


Alex memijat kepalanya, ia benar-benar merindukan sosok wanita yang selalu membuatnya gemas sendiri. Ia baca setiap pesan yang dikirim oleh Jel sehingga tanpa sadar ia mengukir sebuah senyuman dibibir tipisnya.


***


Di perusahaan Dirgantara, lagi-lagi Tommy menghembus napas, supaya stok kesabaran yang ada dalam dirinya tidak akan pernah habis.


Ara meminta kepada Tommy untuk pulang ke rumah nya, dengan alasan sudah bosan di kantor suaminya, padahal pekerjaan Tommy belum juga selesai karena Ara selalu mengganggu kosentrasinya.


"Iya... Sebentar lagi kita pulang." Alex masih sibuk dengan berkas yang sedang dibacanya sedangkan Ara duduk dipangkuan Tommy.


Ada saja ide bagi Ara untuk mengganggu suaminya. Ia mengambil kertas yang sedang dipegang oleh Tommy. "Kamu mau menduakan aku dengan kertas ini? Dari tadi kamu lihatin kertasnya terus. Padahal aku istri kamu sedangkan kertas ini bukan siapa-siapa kamu."


Tommy menahan kesal, ia berusaha berkonsentrasi untuk membaca berkas itu, tiba-tiba Ara merampasnya. "Honey, berkasnya kasih ke aku ya! Kalau kerjaan aku cepat selesai, kita bisa cepat pulang." Tommy membujuk istri kecilnya dengan membelai rambut Ara yang sudah dikuncir kuda.


Dengan mata berkaca-kaca, ia tatap suami yang sedang memangku dirinya. "Kamu mau menduakan aku? Kamu mau selingkuh dari aku?"


"Ini namanya kertas, honey." Tommy mengambil berkas itu dari tangan istrinya. "Kertas," sambungnya lagi. "Masa aku selingkuh sama kertas! Kamu ada-ada saja." Tommy yang kesal selalu berusaha melembutkan nada bicaranya.


Dengan kasar, Ara turun dari pangkuan Tommy. Membuat Tommy menjadi kaget. "Kalau mau turun pelan-pelan, Ara." istrinya itu terkadang lupa dengan dirinya yang sedang hamil muda, sehingga Tommy tidak sadar memanggil nama istrinya.


"Kamu panggil nama aku? Kamu marah sama aku?" tanya Ara dengan suara bergetar.


Sesaat Tommy meninggalkan pekerjaannya, lebih penting baginya untuk membujuk istri yang sedang marah, dari pada mengerjakan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.


"Iya... Maaf. Aku gak sengaja, sekarang kita pulang ya!" lirih Tommy yang sudah berdiri dihadapan istrinya.


Ara mengerucutkan bibir bawahnya, ia menggeleng kelala. "Aku berubah pikiran, kita pulang nanti saja." Ara menuju sofa, ia mendaratkan tubuhnya disandaran sofa.


"Dari tadi kamu merengek untuk pulang, kenapa tiba-tiba berubah pikiran." Tommy menghampiri Ara.


"Entahlah," jawab Ara santai.


Tommy bersyukur istrinya itu berubah pikiran, akhirnya ia bisa mengerjakan pekerjaannya kembali. Melihat Ara yang menikmati waktunya di sofa yang ada dalam ruangannya, membuat Tommy langsung buru-buru menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, ia takut jika mood istrinya berubah lagi.


***


Menunggu up bab berikutnya, yuk, pantengin novel dari author terkeren.


Gadis yang sudah lama mencintai temannya sendiri, terjebak di kamar hotel, dengan kakak kandung dari pria yang dia sukai. By: Kak Tya Gunawan.



Syafira, yang berasal dari desa, bisa dibilang sangat jauh dari kota metropolitan, memilih untuk pergi merantau dan akhirnya bertemu dengan seorang pria kaya yang telah menjadi suaminya sampai sekarang. Ceritanya selalu bikin penasaran. By: Uni Putri Tanjung.


__ADS_1


#Selamat membaca, Ty. 🤗


__ADS_2