
Mengikuti istrinya menuju kamar mandi belum juga dirinya sampai di kamar mandi Ara sudah menutup pintu dengan rapat sebelum suaminya datang untuk menghampirinya. "Honey.... kita mandi bareng," teriak Tommy mengetuk pintu kamar mandi.
"Gak mau," teriak Ara yang sudah tertawa lepas didalam kamar mandi.
Tommy yang selesai mandi segera menyusul sang istri di dapur yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka karena tadi ia menyuruh istrinya memasakkan sesuatu. Di dapur ia melipat kedua tangannya didepan dada, berdiri tidak jauh dari istrinya, ia memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh istrinya, Ara tidak menyadari jika di dekatnya sudah ada Tommy masih melakukan aktivitasnya.
Walaupun mereka belum mempunyai momongan tidak membuat keduanya berselisih paham sampai saat ini, Tommy tidak pernah menuntut istrinya untuk segera hamil, begitu juga dengan kesibukan sang istri terkadang membuat dirinya kesal, tetapi sebisa mungkin ia memaklumi profesi Ara.
Berjalan mendekati istrinya lalu memeluk istrinya yang sedang memasak. "Honey....." mencium tengkuk istrinya berulang-ulang sehingga membuat Ara kegelian.
Tidak menghiraukan suaminya, ia masih tetap melanjutkan acara memasaknya karena hal itu sering dilakukan suaminya jika ia sedang memasak atau mengambil pakaian dilemari. "Kenapa?" tanyanya masih fokus dengan acara memasaknya.
"Besok pulang jam berapa?" tanyanya masih memeluk istrinya dan mencium tengkuk Ara.
"Seperti biasa," jawabnya singkat.
"Besok Mama ulang tahun, kamu bisa bantu aku buat kejutan untuk Mama?" tanyanya penuh harap, Tommy tahu jika istrinya ini sangatlah sibuk tetapi dirinya tidak ingin membuat kalau istrinya ini tidak mengikuti acara ulang tahun Mamanya.
Ara mematikan kompor yang ada didepannya kemudian berbalik untuk menjangkau wajah suaminya itu sehingga pelukan Tommy terlepas, ia lupa bahwa besok ulang tahun mertuanya. Ingin sekali Ara bertanya untuk memastikan pertanyaan suaminya, tetapi ditahannya karena takut membuat Tomny tersinggung, akhir-akhir ini memang Ara menjadi pelupa karena kesibukannya di rumah sakit.
Tommy yang peka dengan reaksi Ara, langsung mengetahui jika istrinya melupakan tanggal lahir mamanya. "Jangan bilang kamu lupa sama ulang tahun Mama," ucapnya penuh selidik menaikkan salah satu alisnya.
Ara menggaruk dagunya yang tidak gatal bingung mau jawab apa. ia hanya cengengesan sembari mengangguk kepala, lalu ia berbalik untuk mengangkat sayur asem yang sudah di masak nya.
Tommy menghela nafas pelan, meninggalkan istrinya di dapur. Ia memilih menunggu istrinya di meja makan karena takut berdebat lagi dengan istrinya karena masalah kecil.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Ara menyusul Tommy di meja makan, membawa hasil masakannya lalu menaruhnya di atas meja. "Aduh, aku lapar bangat." mengambil nasi dan lauk untuk dirinya dan suaminya.
Tommy melihat istrinya yang kelaparan menjadi merasa bersalah akan kejadian beberapa jam yang lalu, jika bukan karena ulahnya, sudah dipastikan sekarang mereka sudah merebahkan tubuh nya yang lelah di ranjang empuk yang ada di kamar. "Maaf ya! gara-gara aku kamu jadi kelaparan," lirih Tommy.
Ara yang ingin tersenyum menahan senyumnya, ia mengetahui keterdiaman Tommy karena apa, untuk itu dirinya mengeluarkan jurus jitu jika suami nya kembali bersikap cuek. "Jangan merasa bersalah dong! aku jadi gak enak tahu."
Tommy hanya mengangguk kepala, lalu mengajak istrinya berdoa sebelum makan. Mereka menikmati makanannya dalam diam, tidak ada perbincangan seperti biasa yang di lakukan jika berdua baik itu sedang makan atau bersantai.
Usai makan malam, mereka kembali ke kamar melakukan aktivitas seperti biasa sebelum tidur, Ara mengambil ponselnya di atas nakas membuka aplikasi barang online.
"Honey, kado Mama aku beli online saja ya!" Ara takut besok tidak sempat membeli kado untuk mertuanya.
Tommy yang memangku labtopnya dengan kedua paha hanya melirik sekilas ke arah istirnya. "Kenapa tidak beli langsung?" menatap fokus ke arah labtop yang sedang dipangku. Tidak habis pikir dengan istri kecilnya, kado itu diperlukan untuk besok, jika pesan online maka akan membutuhkan waktu beberapa hari terlebih dahulu.
Ara kembali duduk melipat kedua kakinya, mengahap ke arah suaminya karena saat itu Tommy sedang duduk di samping istrinya. "Kamu kan tahu aku pulang jam berapa! kalau beli kado Mama terlebih dahulu! takutnya aku kena macet di jalanan menuju rumah Mama." memberi pengertian kepada suaminya.
Ara yang melihat sikap suami yang tidak seperti biasanya mendengus sebal, matanya sudah berkaca-kaca melihat suaminya yang sudah memejamkan mata tanpa memeluk dirinya ketika tidur. "Honey... kamu gak peluk aku?" ucapnya pelan menggoyang lengan suaminya.
Tommy yang mendengar perubahan suara istrinya langsung membuka matanya, menatap istrinya yang sedang mengerucutkan bibir langsung tersenyum. "Sini...." merentangkan kedua tangannya.
Ara masuk kedalam pelukan suaminya, membalas pelukan suami tercinta, berbantalkan lengan suaminya membenamkan wajah kecilnya didada bidang Tommy, menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang suami yang sudah menjadi candu baginya, tidak lama kemudian pasangan suami istri itu sudah terlelap dalam posisi saling berpelukan.
Pagi hari setelah mereka bersiap-siap Tommy kembali mengingatkan Ara. "Honey, jangan sampai lupa ya!" menuju mobil yang biasa di pakai ke kantor di ikuti Ara dari belakang karena mobil mereka bersebelahan.
Memutar bola matanya. "Iya sayangku, cintaku, belahan jiwa ku." merogoh tas yang sering dipakai untuk mengambil kunci mobil tanpa memperhatikan langkah kakinya.
__ADS_1
Tommy yang tiba-tiba berhenti tepat di depan Ara membuat orang yang ada dibelakang tubuhnya menabrak punggung Tommy. "Aduh." mengusap keningnya. "itu tubuh kamu terbuat dari beton ya? keras bangat."
Tommy berbalik menatap istrinya bukannya marah akan perkataan istrinya ia malah tersenyum gemas. "Lucu bangat sih kamu." mencubit kedua pipi istrinya.
Ara memajukan bibir bawahnya menatap kesal suaminya. "Sakit tahu." menepis pelan tangan Tommy "Ya sudah, aku berangkat ya." mencium punggung tangan suaminya dibalas mencium kening istrinya.
Ara masuk kedalam mobilnya, melajukan kendaraan yang sering dipakai itu ketempat tujuannya. Ia tersenyum melihat mobil suaminya yang selalu setia mengikuti nya dari belakang jika sudah berangkat bersama. Sesudah di pastikan istrinya sampai dengan selamat di rumah sakit barulah Tommy melajukan kendaraan nya ke perusahaan.
Jam Istirahat
Tommy menuju rumah sakit untuk bertemu Ara karena sedari tadi telfon maupun pesannya tidak di balas oleh Ara, ia berniat mengajak istrinya makan di luar sekalian membeli kado untuk ulang tahun Mamanya nanti malam. Karena kesibukan keduanya jadi Tommy menyempatkan membeli kado saat jam istirahat.
Diparkiran rumah sakit Tommy mercoba menelfon Ara, hasilnya tetap sama, hanya suara operator yang dia dengar. Tidak sabar menunggu akhirnya Tommy masuk kedalam menuju bagian informasi untuk bertanya ruangan istrinya, sebelumnya ia tidak bisa ketemu dengan Ara karena belum membuat janji. Tommy menjelaskan jika ada hal penting yang dibicarakan dengan istrinya akhirnya Tommy dipersilahkan menuju ruangan Ara.
Masih di depan pintu ruangan Ara, tangannya sudah terangkat ke udara untuk mengetuk pintu yang bertuliskan nama Ara beserta gelarnya, tiba-tiba pintu tersebut terbuka dari dalam memperlihatkan sosok wanita yang sangat cantik tanpa polesan make up lengkap dengan seragam dokternya.
"Honey." gumamnya.
Mengernyitkan kening melihat kedatangan Tommy. "Kamu kok bisa disini?" seingat Ara suaminya berada diperusahaan, tetapi sekarang sudah ada didepan ruangannya.
Tommy tersenyum kecut mendengar pertanyaan istrinya. "Aku mau jemput kamu untuk makan siang sekalian cari kado untuk Mama." lirih Tommy.
Ara menepuk jidatnya jika mereka belum membeli kado untuk Mama mertuanya. "Ya ampun..... Aku lupa." lalu melihat orang yang baru saja datang.
"Maaf dok, pasiennya sudah menunggu," ucap salah satu perawat yang selalu menemani Ara jika melakukan operasi.
__ADS_1
Ara tersenyum lalu mengangguk mengerti.
"Permisi dok, Pak." pamit perawat dengan ramah dibalas senyuman oleh pasangan suami istri itu.