Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Memeluk pengantin


__ADS_3

Para sahabatnya hanya tertawa melihat tingkah Ara yang terkadang lucu dan juga bodoh, jika didepan suaminya.


"Sebelum kesini! Kamu sudah makan. Diperjalanan juga, kamu minta berhenti untuk dibelikan cookies, kamu yakin masih lapar?" tanya Tommy hati-hati.


"Bukan aku yang lapar. Tapi, anak kamu yang ada dalam perut aku," kata Ara.


Tanpa menjawab, Tommy memanggil salah satu pelayan yang ada didekat mereka. Permintaan Ara tidak dituruti oleh Tommy, sehingga ia menyuruh pelayan tersebut dibawakan makanan sehat untuk ibu hamil, tentu itu membuat Ara cemberut, tetapi tidak berlangsung lama setelah melihat makanan yang sudah dibawakan oleh pelayan itu.


"Ra, bagi dong," goda Jel.


"Beli dong biar tahu harga."


"Beli, beli, makanan yang lo nikmati itu gratis bumil gendut."


"Sembarangan lo ngatai anak orang."


"Ssstttt, acaranya dari tadi sudah dimulai, suara lo berdua berisik, mengalahkan acara yang ada didepan." Liz menegur kedua sahabatnya karena kesal.


Seketika nyali mereka berdua menjadi ciut mendengar omelan emak beranak satu itu.


Semua mata melihat ke acara yang ada dipelaminan, sedangkan Ara tidak peduli dengan sekitarnya, saat ini dirinya tertarik dengan makanan yang selalu dimasukkan kedalam mulutnya. Beberapa menit kemudian, Ara benar-benar tidak sanggup lagi untuk menghabiskan makanan yang ada didepannya, ia yang tidak mau membuang makanan, karena nasihat Tommy jika makanannya tak habis, akhirnya menyuruh sang suami yang selalu disampingnya untuk menghabiskan makanan tersebut tanpa sisa.


Tommy yang tidak bisa menolak hanya bisa menurut, sebenarnya, perutnya masih kenyang, ditambah belum waktunya untuk makan siang. Tommy yang tidak sanggup menghabiskan seorang diri, meminta bantuan Abang ipar sekaligus sahabatnya.


"Kalau bukan karena hamil dan juga adek yang gue sayang, gue ogah makan sisa orang." Alex menggerutu sembari memasukkan makanan kedalam mulutnya.


Tommy mengangguk kepala, ia membenarkan perkataan sahabatnya. "Iya, padahal gue lagi nggak lapar, bisa meledak nih perut kotak-kotak gue."


Ara kesal dengan Abang dan suaminya. "Kalian berdua mau jadi emak-emak tukang gosip? Durhaka kalian berdua beraninya gosipin aku."


"Siapa yang gosipin kamu sih? Kita hanya membicarakan kamu kok," seru Tommy.


Ara yang sudah berdiri dan berkacak pinggang membuat semua mata memandang kearahnya.


"Apa bedanya?" tanya Ara yang belum menyadari tingkahnya.


Mereka yang berada disalah satu meja VIP melihat ke orang-orang yang memandangi Ara.

__ADS_1


"Lo, kalau mau buat malu, jangan pas ada gue dong." Liz menarik tangan Ara, yang kebetulan kursinya bersebelahan dengan Ara.


Tommy yang melihat kelakuan Ara hanya bisa menahan tawa, sebenarnya ia malu, tetapi, karena tingkah Ara yang selalu lucu, hal itu menutupi rasa malu yang ada.


"Gue nggak heran lagi sih, punya sahabat yang tak kalah absurdnya dari gue." Jel tertawa kecil.


"Pusing gue punya sahabat konyol kayak kalian berdua, bisa mati berdiri gue lama-lama." Liz tidak habis pikir dengan kedua sahabatnya, padahal mereka sudah sama-sama dewasa dan juga sudah mempunyai lelaki yang diidamkan, tetapi sifat yang dimiliki kedua sahabatnya tidak pernah berubah.


Dengan polosnya Ara menyahut ucapan Liz. "Mati berdiri? Harusnya mati pas duduk dong Liz! Kan, posisi lo sekarang lagi duduk."


Jel menepuk jidatnya, ia terbahak dengan ucapan Ara. Ketika dirinya sedang tertawa tiba-tiba matanya dan mata Alex bertemu sehingga membuat Jel menghentikan tawanya. Alex yang menyadari itu langsung memalingkan wajahnya, ia pura-pura melihat ke tempat acara yang sedang berlangsung.


Para sahabatnya yang menyadari itu menjadi diam, mereka semua memperhatikan pasangan yang sedang tidak terlihat akur. Jel masih memandangi wajah Alex yang sudah beberapa minggu ini dirindukan, ia tatap terus menerus Alex dengan tatapan sendu. Alex yang duduk dihadapan Jel masih setia memalingkan wajahnya.


"Ehm." Ryan berdehem untuk memecahkan keheningan yang tiba-tiba saja muncul.


"Makanannya dihabiskan, Lex," ucap Tommy.


Alex hanya berdehem tanpa melihat wanita yang masih menatapnya, ia melanjutkan acara makannya yang tertunda.


Tommy menatap kesal ke arah istrinya, yang ditatap tidak menyadari tatapan sang suami. Ia tidak suka jika istrinya membuat dirinya cemburu seperti sekarang.


"Nggak usah heboh deh," ujar Liz.


"Kalau nggak heboh. Nggak, Ara dong nama gue." Ara merasa bangga dengan dirjnya.


Jel melupakan masalahnya sebelum membuka suara. "Oh,iya. Bisa-bisa berubah nama lo, jadi ..."


Ara melotot ke arah Jel. "Apa?"


Jel yang takut dengan pelototan Ara hanya bisa terkekeh.


"Perhatikan kedepan, sibuk berteman aja lo berdua. Acara udah sampai mau tukaran cincin, lo berdua masih aja akur kayak Tom and Jerry." kali ini bukan suara Liz, melainkan suara dari Ryan, ia yang jarang diam merasa terganggu dengan suara berisik yang didengarnya.


Ara tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh suami dari sahabatnya, berfikir keras, sampai ia memberikan pertanyaan." Aku sama Jel lagi berdebat lho, bukan berteman dan sejak kapan Aku sama Jel jadi Tom and Jerry?"


"Gue saranin, lo nggak usah banyak tanya! Yang ada, anak lo dalam perut minta salto selama sepuluh hari," ucap Liz asal.

__ADS_1


"Kok gue merasa lo nggak nyambung ya!" balas Ara.


"Memang nggak nyambung, bumil gendut." Jel geleng-geleng kepala.


"Oh, iya," tawa Ara.


Lagi-lagi Tommy gemas dengan Ara, ia mengacak rambut Ara. "Perhatikan kedepan, kamu nggak mau lihat acaranya?"


Ara hanya mengangguk kepala.


***


Setelah acara selesai, Para sahabatnya tidak lupa untuk naik kepelaminan. Mereka dengan antusiasnya memberikan kata 'selamat' dan juga doa, supaya pengantin baru tersebut selalu menjadi keluarga yang bahagia dan juga takut akan Tuhan.


Ara yang masih heboh meminta ijin kepada suaminya untuk memeluk sahabat yang sudah dianggap sebagai Abang angkatnya. "Honey, boleh aku peluk, Rio!"


Tommy tersenyum, ia mengangguk kepala."Tapi, jangan lama-lama."


"Satu harian, boleh?" tanya Ara untuk menggoda suaminya.


Tommy menghembus napas dengan perasaan kesal. "Sekalian aja setahun, supaya sahabat kamu itu bisa temenin kamu pas lahiran."


Bukannya takut melihat wajah suaminya yang kesal, Ara semakin menggoda sang suami. Ia juga sengaja mengedipkan sebelah mata ke arah suaminya. "Aku turutin kemauan kamu."


Tommy menatap dingin ke arah wajah sang istri yang selalu tersenyum kepadanya.


"Air panas, air panas." Ryan yang ikut menyalami pengantin baru itu, dibuat kesal oleh kedua pasangan yang sudah tidak baru lagi.


Faktanya, Tommy dan Ara masih setia berdiri didepan sang pengantin, sehingga antrian yang ada dibelakang mereka sudah panjang.


"Mana air panasnya?" tanya Tommy menoleh kebelakang.


"Lo, air panasnya," kesal Ryan.


Tommy tertawa kecil, ia melihat antrian yang ada dibelakangnya. Ia pun segera menyalami sang mantan kekasih, ketika ia ingin menjabat tangan Rio, ia mematung melihat adegan Teletubbies . Sang istri berpelukan mesra dengan sahabatnya sendiri, hal itu membuat Tommy segera melepaskan pelukan mereka.


"Pelukannya dilanjutnya kemasa yang akan datang," ketus Tommy menarik sang istri dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2