
Selama mengobrol bersama teman-temannya, Jel dapat melihat kecanggungan antara Rio dan juga Iren. "Ri ... bentar lagi lo nggak perjaka lagi dong," ucapnya frontal membuat wajah Iren berwarna merah seperti kepiting rebus.
"Sok tahu lo," sahut Rio.
"Tahu dong, gue kan pakarnya." Jel menaik turunkan kedua alisnya secara berulang-ulang.
Tawa Ara pun pecah mendengar ucapan nyeleneh sahabatnya. "Pakar, pakar. Kayak udah pernah aja lo."
"Gue memang nggak pernah, tapi, gue paham masalah begituan," jawab Jel.
"Bisa dong kita diajari, gue lagi butuh privat nih," goda Ryan.
Liz reflek mencubit perut suaminya dengan kuat, Ryan yang disebelah istrinya itu langsung meringis, ia mengusap-usap bekas cubitan sang istri.
"Nikmat kan? Rasakan," ketus Liz.
Ryan mengangguk kepala. "Nikmatnya pakai banget, Yang. Aku minta tambah, boleh?"
"Dengan senang hati." Liz sudah siap untuk menambah cubitan diperut suaminya, tetapi tangannya langsung ditangkap, Ryan yang tidak canggung mengumbar kemesraan didepan sahabatnya, segera mengecup tangan sang istri.
"Mual banget perut gue lihat kalian berdua," seru Jel.
"Bilang aja lo iri, padahal lo juga pengen kan digituin sama, Abang gue," Ara sengaja menggoda Jel.
"Banyak bicara, ih. Kayak pelawak di Tv, Tv," kesal Jel.
"Nggak sadar nih bocah kalau dia tukang bicara," ujar Liz.
"Banyak bicara? Coba, gue mau lihat sahabat kita yang satu ini bicara sama, Abang gue. Sedari tadi nggak ada tuh gue lihat dia bicara sama, Abang kesayangan gue." Ara semakin menggoda Jel.
"Apaan sih!" kesal Jel.
Liz dan Ara hanya bisa tertawa melihat Jel yang sudah kesal.
"Ri, istrinya diajak bicara dong. Masa ratu sehari dianggurin." ternyata Jel belum selesai untuk menggoda Rio.
"Isi otak lho, apaan sih! Heran gue, heboh banget lho sama rumah tangga orang," ujar Rio.
"Lo mau tahu, isi otak nih anak curut?" tanya Ara.
Ucapan Ara yang tidak difilter membuat suaminya berdehem, hal itu membuat semua teman-temannya mengangkat suara untuk menggoda Ara. "Honey ..." panggil mereka serempak yang sudah mengetahui kebiasaan Tommy jika Ara menggunakan bahasa yang tidak baik.
__ADS_1
Ketika mendengar panggilan dari sahabatnya, ia hanya bisa terkekeh. Ia merasa geli dengan panggilan yang sering dipanggil oleh suaminya sendiri.
Dengan wajah dingin Tommy berucap. "Kenapa kalian memanggil istriku dengan sebutan seperti itu!"
"Eh, bucin. Kita semua bercanda, santai aja tuh muka," ucap Alex yang sudah kembali dari toilet, sejak perdebatan Ara dengan kedua sahabatnya.
"Gue nggak suka," singkat Tommy dengan sikap kekanakan.
Ucapannya yang singkat membuat mereka semua melongo, faktanya baru kali ini Tommy memperlihatkan sifat yang tidak pernah ditunjukkan dihadapan mereka semua. Mereka memang mengetahui kalau Tommy itu orangnya tukang cemburu, hanya saja selama ini ia pandai menutupi rasa cemburunya kepada Ara.
"Astaga, cuma gara-gara panggilan saja kalian jadi serius begini." Ara menggeleng-gelengkan kepala.
"Ra, isi otak Jel apaan! Gue penasaran sama ucapan lo tadi," kata Rio membuka topik baru.
"Nggak jadi kan aku kasih tahu, Rio. gara-gara kamu sih. Perkara panggilan aja dipermasalahkan," Ara mencebikkan bibirnya.
"Kok, jadi aku yang kamu salahkan." Tommy tidak terima jika istrinya itu menyalahkan dirinya.
"Ya memang kamu, nggak mungkin kan aku salahkan, Mbak Iren," kesal Ara.
"Iya, iya. Aku salah, maaf ya!" Tommy mengelus-elus rambut Ara.
"Mbak Iren diam aja lho dari tadi, masa namanya dibawa juga," Jel terkekeh, ia merasa kasian kepada Iren yang tiba-tiba saja namanya disebut.
Kamu beruntung banget Ara mendapatkan Tommy sebagai suami kamu. Apa aku bisa, merasakan apa yang kamu rasakan selama berumah tangga dengan suami kamu. Apa aku bisa bermanja-manja dengan suami aku nanti! Hidup ini kayak nggak adil buat aku. Aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai, sedangkan kamu menikah dengan orang yang sangat mencintai kamu.
"Kenapa?" tanya Rio menyenggol lengan Iren.
Iren tersadar dari lamunannya, ia menggeleng kepala untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Tanggung jawab lo, Ra. Dari tadi gue menunggu jawaban yang nggak pasti dari lo, isi otak jel apa!" lagi-lagi Rio mengingat ucapan Ara.
"Nafsu banget lo sama isi otak gue," sahut Jel.
"Yang penting dia nggak nafsu sama lo." Liz meledek temannya.
Ryan tertawa kecil. "Kalau sampai nafsu, yang ada sekarang pernikahan Jel sama Rio dong."
"Kasihan Rio kalau sampai nikah sama nih anak, otaknya nggak pernah beres, selalu melantur," ucap Ara.
"Kalau sampai mereka nikah, sampai mati gue gentayangin sampai kencing celana tuh, si Rio," kata Alex.
__ADS_1
"Yang benar?" tanya Jel.
"Babe kamu harus janji sama aku, hanya aku yang bisa dampingi kamu sampai rambut ini tidak lagi berwarna hitam, dan juga tubuh ini semakin menua. Kita akan hidup bersama sampai Tuhan mengatakan 'Nak, kembalilah tugas mu dibumi telah selesai'.
"Kamu yakin? Kita bisa menua bersama!" tanya Jel dengan ragu-ragu.
"Kamu bisa lihat keseriusan aku selama ini! Berkali-kali kamu menolak aku, hal itu tidak akan pernah membuat aku menyerah, hanya kamu satu-satunya yang bisa mengisi hati aku, dan hanya kamu yang layak aku perjuangkan."
tiba-tiba Ara menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Hoek ... Hoek ... "
Wajah Tommy menjadi pucat, ia khawatir mendengar Ara yang mual. "Honey, kamu kenapa?"
"Perut aku mual dengar, Bang Alex menggombal," ujar Ara.
"Masih mual? Kita ke rumah sakit ya!" tanya Tommy yang belum mengerti.
"Ih, aku nggak mual beneran, katanya kamu pemimpin perusahaan, tapi, istri lagi drama aja dikira serius, ih ... jadi kesal kan aku."
"Aku kan khawatir sama kamu,"
Ara menghela napas berat, ia pun melanjutkan aksinya untuk menggoda kedua pasangan yang baru saja melupakan sesaat masalah yang dialami mereka. "Jadi, kalian berdua sudah baikan?"
Alex gelagapan mendengar godaan adiknya, ia juga tidak tahu, kenapa bisa berbicara seperti melupakan masalah yang menimpa hubungan mereka.
"Kita belum baikan kok," jawab Jel mewakilkan Alex.
"Ck, tadi aja kalian berasa punya dunia ini berdua aja, tiba sekarang bilangnya belum baikan, gimana sih, kalian berdua! Nggak konsisten banget marahannya! Kalau marahan kan harus saling diam, nggak boleh ada yang bicara duluan sampai ada yang mengalah," Ara mengomel panjang lebar membuat dirinya kehausaan.
"Minum dulu." Tommy menyerahan air mineral kepada istrinya.
"Jadi kalian masih marahan atau sudah baikan?" tanya Ara setelah selesai menegak air mineral pemberian Tommy.
"Aku yakin anak kamu pasti cewek, Ra," celetuk Iren.
Ara mengernyitkan kening. "Maksud, Mbak!"
"Kamu banyak bicara kayak perempuan," balas Iren dengan terkekeh.
"Memang perempuan," sahut Rio tanpa melihat ke arah kesamping tempat istrinya berada.
Tanpa menjawab Iren hanya tersenyum kikuk.
__ADS_1
"Oke, supaya permasalahan selesai. Gue putuskan bahwasanya hari ini pasangan yang belum menikah yaitu Alex beserta kekasihnya, dinyatakan telah berbaikan." Ryan mengangkat suara, layaknya seorang hakim dipengadilan, bahkan ia mengetuk meja sebanyak tiga kali menggunakan tangan kanannya.