Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Menghadiri Undangan


__ADS_3

Ditengah kecemasannya, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dengan pelan. Secara perlahan wanita yang berbalut gaun pengantin tersebut menoleh ke belakang.


"Mbak," panggil salah satu pelayan. Sebenarnya pelayan yang memanggilnya itu, tidak berani menepuk bahu dari mempelai wanita, tetapi sudah berulang kali dirinya memanggil sang mempelai, tidak juga mendapat balasan dari mempelai, sehingga ia memberanikan diri untuk menepuk bahu Iren.


"Iya," sahut Iren kepada wanita yang memakai seragam putih, yang ia yakini bahwa wanita tersebut, salah satu pelayan yang mengurus makanan di acara pernikahan nya.


"Saya mendapat pesan, sedari tadi, Mbak belum memakan apapun," ucap pelayan.


"Maksudnya?" tanya Iren yang belum paham.


"Kata Bapak yang disebelah sana! Mbak nya belum sarapan, jadi ... Saya disuruh untuk mengantarkan makanan ini." pelayan itu menunjuk ke arah Rio yang sedang mengobrol bersama temannya, sembari memberi makanan yang telah dibawa.


Iren yang tidak bernafsu untuk memakan sesuatu, membuat dirinya mengabaikan sarapan paginya, orang tua Iren sempat membujuk untuk sarapan, tetapi tidak dihiraukannya, sehingga Mama Iren menyuruh Rio untuk membujuknya. Rio yang tidak pandai membujuk wanita, akhirnya menyuruh salah satu pelayan membawakan makanan untuk Iren.


Tanpa ekspresi, Iren menerima makanan tersebut setelah mengucapkan kata 'terima kasih' yang dibalas senyuman oleh lawan bicaranya. Dilihatnya ada kursi kosong yang tidak jauh dari tempatnya, Iren mendaratkan tubuhnya di kursi tersebut, ia menyantap sarapan yang telah dibawakan oleh pelayan itu.


Beberapa menit setelah menghabiskan sarapannya, Iren dan Rio melaksanakan pernikahan, Iren memperlihatkan senyum keterpaksaan yang dapat dilihat oleh Rio, hatinya begitu miris melihat perempuan yang bersanding dengannya dipelaminan, impiannya yang menikah dengan perempuan yang dicintainya tidak dapat terwujud, tetapi ia berharap pernikahan yang sedang digelar disalah satu hotel mewah itu menjadi awal kebahagian bagi keluarga barunya.


Ara yang baru saja tiba di tempat acara, langsung berlari ketika melihat sosok yang ingin ditemui, ia merasa bahagia, akhirnya apa yang diinginkan ternyata dapat tercapai, bagaimana tidak! Dulu ia ingin menjodohkan keduanya, tetapi dilarang oleh suaminya.


Tanpa malu, Ara berteriak memanggil nama kedua mempelai yang berada dipelaminan, membuat Tommy segera membekap istrinya, Dari rumah Ara memang tidak sabaran untuk sampai ditempat acara pernikahan sahabatnya, ketika sampai ditempat acara, Tommy dibuat melangkah lebar untuk mengimbangi Ara yang sedang berlari.


Semua mata memandang ke arah Ara dan Tommy, dengan senyuman ramah dan menundukkan kepala, Tommy meminta maaf kesekitarnya karena ulah sang istri yang telah membuat para tamu yang hadir terganggu.


"Mmmhhhh ..." Ara meronta untuk dilepaskan.


"Honey, jangan bertingkah dulu, semua mata memandang kita," bisik Tommy.


Kesal dengan Tommy yang tidak melepaskan tangannya dari mulutnya, Ara menggigit tangan Tommy dan menginjak kaki suaminya, hal itu membuat Tommy reflek melepaskan tangannya, ia meringis kesakitan dibagian tangan dan kakinya.


Lucu dengan tingkah pasangan suami istri itu, para tamu yang hadir tertawa melihat mereka berdua.


"Apa?" tanya Ara menantang ketika Tommy menatapnya dengan tajam.


"Kamu lucu," ucap Tommy dengan senyum terpaksa. Ia selalu kalah jika istrinya menantang balik.


Ara mundur beberapa langkah, ia kesal dengan suami nya.


Didekatinya sang istri, untuk membelai rambut wanita yang sengaja tergerai, Tommy mengacak rambut Ara dengan gemas. "Jangan berlari ya! Kamu kebiasaan deh. Kita duduk dulu, selesai acara baru kita temui mereka," tutur Tommy memberi pengertian.


"Tapi ..."


"Kamu nggak mau ketemu, Baby El dulu?" tanya Tommy mengalihkan pembicaraan, ia tahu istrinya ini tidak tahan jika menyebut nama anak dari sahabatnya.


Mata Ara berbinar-binar seperti mendapat jackpot. "Mau, mau."

__ADS_1


Tommy merangkul pinggang Ara, membawa sang istri kemeja VIP yang sudah disediakan pengantin untuk para sahabatnya, Ara yang sudah melihat anak dari sahabatnya itu ingin berlari, tetapi tidak bisa karena Tommy merangkul pinggangnya dengan erat.


"Tangan kamu, lepasin dulu," kesal Ara sembari menoleh kepada suaminya.


"Enggak, nanti kamu melakukan kebiasaan burukmu," ucapnya datar.


Ara menghembus napas pasrah, ia berjalan sesuai langkah Tommy.


"Anak gue ..." teriak Ara yang sudah didekat temannya.


"Anak gue, bukan anak lo," ujar Liz.


"Suka-suka bumil dong," ketus Ara.


"Nggak ada pelukan buat Abang, Dek!" goda Alex yang sudah bergabung sedari tadi.


"Nggak," ketus Ara tanpa melihat Abangnya.


"Istri lo makin galak, Tom. Nggak kebayang gue istri lo di rumah," ledek Ryan menggoda Ara.


"Sialan lo," umpat Tommy, ia tidak terima temannya meledek sang istri.


Ara yang ingin menggendong anak dari sahabatnya langsung dilarang oleh Tommy, perdebatan kecil diantara mereka pun terjadi.


"Iya, tapi kamu nggak bisa menggendongnya, kamu lagi hamil, nggak boleh capek."


"Aku nggak capek."


Tommy mengambil Baby El dari pangkuan Liz. "Kamu duduk disamping ku, biar aku saja yang menggendongnya."


"Kamu selalu menyebalkan," Ara mencebikkan bibirnya.


"Baby El menggemaskan aunty, bukan menyebalkan." Tommy mengangkat salah satu tangan Baby El untuk menjangkau wajah Ara, ia pura-pura meniru gaya bicara Baby El untuk membuat istrinya luluh.


"Bayi gembulku." Ara yang tidak tahan dengan Baby El, ia memberikan beberapa kecupan di wajah bayi itu, ia gemas sendiri dengan anak sahabatnya.


"Kamu gemukan ya, Ra?" tanya Jel lagi-lagi untuk menggoda Ara. Ia tahu ibu hamil yang satu ini sangat sensitif menyangkut bentuk tubuhnya.


"Kayak nya nggak deh, soalnya aku rajin olahraga," kata Ara mengelak.


"Untuk apa olahraga kalau mulutnya nggak berhenti makan," goda Alex yang beberapa minggu ini direpotkan untuk dibawa makanan ke tempat kerja maupun ke rumah sang adik.


"Adek, paling nggak bisa lho dengar kata 'makanan' aku jadi lapar gitu,"


"Pasti lo mau makan?" tebak Liz yang mengetahui maksud dari sahabatnya.

__ADS_1


Ara hanya cengar cengir memperlihatkan deretan gigi putih yang tersusun rapi.


"Sudah kutebak," sahut Tommy yang menggeleng-geleng kepala.


Tommy memberikan Baby El ke pangkuan sahabatnya yang tak lain adalah ayah dari anak yang digendongnya. "Kamu mau makan apa?"


Bukannya menjawab, Ara bertanya balik. "Mie instan ada nggak sih?"


Sontak semua sahabatnya tertawa, calon ibu itu memang benar-benar polos bagi orang yang mendengarkan ucapannya. Sedangkan Tommy menahan tawa karena permintaan sang istri.


"Kalian kenapa?" tanya Ara tanpa dosa.


"Kalau bukan sahabat gue, udah gue cincang lima lo," ujar Jel disela-sela tawanya.


"Coba saja kalau berani," kata Ara melirik ke arah suaminya.


Jel yang mengerti lirikan dari sahabatnya, seketika membuat nyalinya menjadi ciut. Ia tahu bahwa suami dari sahabatnya itu sangat tidak suka jika ada orang yang meledek istrinya apalagi mengatainya. "Bercanda gue."


"Lo mau makan mie instan kemasan cup atau mie instan tanpa cup, Ra?" tanya Ryan untuk mengerjai Tommy, supaya sahabatnya itu semakin pusing dengan permintaan istrinya sendiri.


"Mie instannya pakai tahu balik atau pakai onde-onde, Dek?" Alex juga menjadi ikutan untuk mengerjai sahabatnya.


Tommy sudah memasang wajah yang ingin memakan kedua sahabatnya, mata elangnya sudah menatap tajam ke arah mereka, ia sangat tahu sifat istrinya, selalu meminta yang aneh-aneh, apalagi jika sudah dikompori oleh mahluk tak berwujud seperti sahabatnya, akan membuat Tommy semakin keteteran dengan permintaan Ara.


"Honey, acaranya sudah dimulai, lihat deh! Mereka terlihat serasi ya!" kata Tommy lagi-lagi mengalihkan pembicaraan, tetapi tidak membuat Ara mengurungkan niatnya untuk makan.


"Aku mau makan," lirih Ara.


Tommy menghembus napas kasar, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, usia kehamilan Ara yang mau memasuki dua belas minggu ini memang membuat dirinya pusing sendiri dengan permintaan Ara.


Pernah suatu hari, Ara meminta seblak rasa brownies, hal itu membuat Tommy ingin menjambak rambut orang yang ada disekitarnya, ia kesal dengan permintaan Ara yang tidak bisa ditemukan, bukan hanya itu saja, masih banyak permintaan yang membuat dirinya dan juga orang terdekatnya bingung dengan permintaan aneh dari sang istri.


Dengan hati-hati Tommy bertanya kembali. "Kamu beneran mau makan mie instan?"


Ara hanya mengangguk kepala, ia takut suaminya itu marah.


"Sudah berapa kali aku ingatkan untuk tidak memakan mie instan?" tanya Tommy dengan suara lembut.


Ara mengangkat kedua tangan layaknya anak kecil yang menghitung menggunakan jari-jari tanganya. "Segini ada nggak?" tanya Ara memperlihatkan jari yang dihitung menjadi angka delapan.


Tommy menggeleng kepala."Aku mengingatkan mu lebih dari delapan kali."


"Oh."


Para sahabatnya hanya tertawa melihat tingkah Ara yang terkadang lucu dan juga bodoh jika didepan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2