
Sepulang dari rumah sakit, Ara langsung menuju kamar untuk membaringkan tubuhnya, karena merasa mengantuk dan juga pusing. Terkadang ia bingung dengan akhir-akhir ini yang sering pusing ia juga malas untuk beraktifitas, tetapi dia harus profesional sehingga dipaksakan untuk bekerja, tetapi tidak dengan hari ini. Ia sudah tidak tahan akan pusing dikepalanya sehingga Ara ijin bekerja hanya setengah hari saja.
Sewaktu di rumah sakit, Rio bertanya-tanya mendengar Ara pulang terlebih dahulu dan mengalihkan pekerjaannya ke dokter lain, ketika berpapasan dengan Ara juga ia melihat wajah Ara yang sedikit pucat, membuat dirinya ingin bertanya ke orangnya langsung, tetapi karena ada urusan Rio mengurungkan niatnya.
Tidak terasa Ara sudah tidur sampai sore hari, sehingga tidak menyadari jikalau Tommy sudah masuk ke dalam kamar, Tommy melihat istrinya tertidur dengan pakaian lengkap masih menyandang tas nya hanya bisa menggeleng kepala, ia bingung melihat sosok istrinya yang jam segini sudah berada di rumah dan lebih tepatnya tertidur pulas.
Tommy menaruh barang-barangnya di atas sofa yang ada di kamar mereka, kemudian memungut sepatu yang terletak asal di lantai, ia mendekati sang istri yang sedang tertidur, mengambil pelan tas yang masih dipakai Ara dan memperbaiki posisi Ara supaya tidur lebih nyaman.
Melihat wajah terlelap Ara, ia mengurungkan niatnya untuk membersihkan tubuh, Tommy ikut berbaring di samping sang istri, ia mengangkat kepala Ara supaya berbantalkan lengannya, lalu merengkuh tubuh mungil Ara, merasa tidurnya terusik, Ara bergerak mengangkat tangannya memeluk orang yang ada disampingnya seperti bantal guling.
Ia membelai kepala Ara dengan lembut sesekali mengecup pucuk kepala istrinya, dipandanginya wajah sang istri tanpa berkedip sehingga mengingatkannya pada kejadian dimana dirinya membentak orang yang sangat dicintainya.
"Maaf," lirih Tommy masih memandangi wajah terlelap Ara.
Menunggu istrinya terbangun, Tommy mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, ia memeriksa beberapa email yang masuk dengan posisi masih memeluk Ara.
Setengah jam kemudian, Ara mengigau tidak jelas, sehingga membuat Tommy melihat ke arah istrinya, Ara yang sudah menangis dan berteriak membuat Tommy segera membangungkan sang istri, supaya sadar dari mimpi buruknya. "Hey... Honey... Bangun," ucap Tommy menepuk sebelah pipi Ara dengan lembut.
Ara membuka mata dan melihat ke arah Tommy. "Honey, hiks... hiks..." tangis Ara semakin mengeratkan pelukannya ke Tommy.
"Kamu kenapa?" tanya Tommy membelai rambut Ara.
Ara melonggarkan pelukannya mendongak ke arah Tommy, ia tatap sang suami dengan air mata. "Aku mohon jangan ceraikan aku," lirih Ara yang sudah senggugukan.
Tommy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung akan perkataan sang istri, saat ini Tommy benar-benar tidak mengetahui keanehan sang istri. Sudah beberapa tahun mereka menikah baru kali ini Ara memohon untuk tidak diceraikan padahal Tommy tidak pernah meminta cerai.
__ADS_1
"Aku gak mau pisah sama kamu," ujar Ara penuh harap masih menatap wajah Tomny.
Tommy yang gemas menyentil kening istrinya. "Ngaco kamu."
Mengusap keningnya dengan kesal, lalu tidak sengaja matanya melihat ke sekeliling. "Tadi kayaknya kita gak disini deh, pas kamu minta cerai. Kok bisa ya! kita ada dikamar."
Semakin gemas mendengar perkataan Ara, tanpa sadar Tommy menggigit salah satu pipi istrinya sehingga si empunya pipi mengaduh kesakitan.
"Sakit," rengek Ara memukul pelan dada suaminya, ia kesal akan suaminya yang tiba-tiba mengigit pipinya.
Mengusap pipi Ara yang barusan digigitnya, ia tatap sang istri penuh cinta. "Barusan kamu mimpi buruk, litte girl. Kamu jangan pikir macam-macam ya! aku gak bakal tinggalin kamu. Apalagi, menceraikan istri yang menyebalkan seperti mu."
Ara bernafas lega sekaligus kesal mendengar penuturan suaminya. memukul pelan dada Tommy, bisa-bisanya suaminya mengatakan dirinya istri yang menyebalkan.
"Oh, iya, semalam kita berantam kan?" tanya Ara mengingat kejadian itu.
"Kita lagi marahan, gak boleh berbicara seperti ini, apalagi peluk-peluk an," goda Tommy menahan tawa, ia ingin melihat wajah istrinya yang selalu membuatnya ingin tertawa seperti sekarang ini.
"Ih, sebal." Ara mencubit pinggan Tommy dengan gemas.
Melihat istrinya yang sedang kesal, membuat dirinya semakin mengerjai istrinya. "Kita belum baikan loh! kamu gak bisa cubit pinggang aku, karena cubitan kamu itu kayak emak-emak rempong di luar sana tahu." ledek Tommy.
Ara yang semakin kesal naik ke atas pangkuan sang suami, dicubitnya kedua pipi Tommy sehingga membuat Tommy terbahak-bahak melihat kelakuan istri kecilnya. "Jangan ketawa," kesal Ara mengerucutkan bibir, matanya sudah berkaca-kaca siap untuk menangis.
Melihat perubahan istrinya, ia langsung merengkuh tubuh istrinya. "Oh... sayang," Tommy memeluk Ara sembari membelai kepala istrinya yang sudah terisak di pelukannya. "Sudah ya! jangan nagis lagi."
__ADS_1
Ara mengangguk kepala melihat wajah suaminya sehingga pelukannya terlepas. "Maaf, kita baikan ya! jangan berantam lagi." mengangkat jari kelingkingnya.
Tommy tersenyum kemudian menyatukan jari kelingkingnya dengan jari istrinya. "Aku juga minta maaf udah bentak-bentak kamu, maaf ya!" ucapnya tulus mengecup kening istrinya sekilas. "Oh, iya. Akhir-akhir ini kamu jadi cengeng deh," ucap Tommy menatap wajah istrinya sembari menghapus sisa-sisa air mata yang ada dipipinya.
Ara juga bingung, karena memang benar akhir-akhir ini dia menjadi cengen tidak seperti biasanya, di rumah sakit juga ketika menangani pasien yang melahirkan Ara ikut menangis karena melihat pasiennya menangis histeris.
Tiba-tiba ponsel Tommy berbunyi, segera ia mengambil ponsel yang terletak di atas kasur. "Honey, turun dulu!" suruh Tommy kepada istrinya.
Ara menggeleng kepala, ia membenamkan wajahnya didada sang suami kemudian memainkan kancing kemeja Tommy. Ia merasa nyaman dengan posisi seperti itu, sehingga membuat dirinya tidak mau turun dari pangkuan suaminya.
Tommy membiarkan istrinya yang tidak mau turun dari pangkuannya, kemudian menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya.
📞 Ada apa?" tanya Tommy
📞 Hari sabtu loe sibuk? gue sama calon kakak ipar loe! mau jalan. Sekalian aja, gue ajak loe sama Ara, supaya bisa makan gratis," tutur Alex
📞 Nanti gue kabarin." balas Alex.
Panggilan singkat itu pun diakhiri, Ia menaruh ponselnya di atas nakas. "Bang Alex, ajak kita jalan!" ucap Tommy belum menyadari jika istrinya sudah terlelap kembali. "Honey," panggil Tommy melihat wajah istrinya, ia mengehela nafas melihat istrinya tidur lagi.
Melihat hari sudah mau malam, Tommy membangunkan istrinya kembali, untuk membersihkan tubuh terlebih dahulu kemudian makan malam. "Little girl, bangun dulu yuk! nanti dilanjut lagi tidurnya." ucap Tommy berulang-ulang.
"Aku gak mau mandi." rengek Ara sesudah terbangun.
"Tumben, biasanya kamu paling anti kalau tidak mandi," ujar Tommy mengingat istrinya yang pembersih.
__ADS_1
Ara yang masih setia dipangkuan Tommy tidak membuat dirinya berniat untuk turun, sehingga membuat Tommy menggendong Ara ke kamar mandi, ia menghiraukan teriakan istrinya yang tidak mau mandi, dengan keras kepala Ara menolak tubuhnya untuk tidak mandi, maka Tommy pun memandikan sang istri penuh kesabaran karena Ara selalu mengomel tidak mau mandi.