Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Es Krim


__ADS_3

Tommy tertawa kecil, ia melihat antrian yang ada dibelakangnya. Ia pun segera menyalami sang mantan kekasih, ketika ia ingin menjabat tangan Rio, ia mematung melihat adegan Teletubbies . Sang istri berpelukan mesra dengan sahabatnya sendiri, hal itu membuat Tommy segera melepaskan pelukan mereka.


"Pelukannya dilanjut kemasa yang akan datang," ketus Tommy menarik sang istri dengan lembut.


Tommy segera menjabat tangan Rio dengan perasaan jengkel, kemudian ia membawa Ara turun dari pelaminan.


"Kamu kenapa sih?" tanya Ara melihat keanehan sang suami.


"Kamu tanya aku kenapa? Suami mu ini lagi cemburu, Nyonya Dirgantara.


Tanpa peduli, Ara menjawab. "Oh, cemburu."


"Dasar bumil."


"Makan, yuk. Anak kamu lapar nih." Ara mengusap perut yang tidak lagi rata saat hamil.


Seketika Tommy melupakan rasa kesalnya, ia lebih mengutamakan istri dan juga calon anaknya. Dengan lembut, Tommy mengusap perut Ara. Ia berjongkok untuk berbicara kepada janin yang ada didalam perut istrinya. "Nak, Mommy kamu lapar, kita makan ya!"


"Yang lapar, Adek, Daddy. Bukan Mommy," Ara berbicara layaknya anak kecil.


Ia mendongak untuk melihat wajah istrinya, ia terkekeh melihat kelakuan istrinya. Ketika lapar, Ara selalu membawa anak yang ada didalam perutnya untuk menghindari ucapan yang mengatakan bahwa dirinya si tukang makan.


Tommy berdiri, ia merangkul istrinya dengan mesra untuk kembali ke tempat semula, Sesudah mereka mendaratkan tubuhnya dikursi VIP, Tommy hendak memanggil salah satu pelayan. Ia berniat menyuruh pelayan tersebut membawakan beberapa makanan yang diinginkan oleh istrinya.


Ara menghentikan gerakaan suaminya yang hendak memanggil pelayan itu. "Aku mau ambil makanan sendiri."


"Pelayan saja ya! Nanti kamu capek."


Ara menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, aku temani." Tommy beranjak dari duduknya. Ia mengulurkan salah satu tangannya kepada Ara. "Ayo."


Ara menerima uluran tangan Tommy dengan senyuman manis.


Ketika memilih makanan, tiba-tiba Ara melihat makanan yang sangat membuatnya berselera, sehingga kedua mata nya berbinar-binar. "Aku mau makan itu."

__ADS_1


Tommy melihat ke arah yang ditunjuk oleh istrinya, ia menghembus napas pasrah. Kehamilan istrinya ini memang membuat ia selalu suka dengan makanan manis, di rumah juga banyak persedian es krim dari berbagai rasa, itu semua adalah permintaan Ara.


Ini yang ditakutkan oleh Tommy, ketika istrinya meminta mengambilkan makanan sendiri, Ara yang suka memakan makanan sembarangan selalu membuat dirinya pusing sendiri, ketika ia menyuruh pelayan yang mengambilkan makanan, itu dilakukan untuk menghindarkan sang istri dari makanan kesukaannya beberapa bulan ini.


Perpaduan dua rasa es krim atau lebih disertai dengan variasi topping yang kemudian dicampur menjadi satu, tentunya lebih seru dari pada es krim biasa, membuat seoarang Ara menelan salivanya berkali-kali. Ia yang berada disamping Tommy sudah tidak sabar untuk mencicipi es krim yang diberi nama 'teppanyaki' asal Thailand.


"Kamu lagi ambil es krim atau menggali emas batangan sih! Lama banget." Ara sudah tidak sabar untuk mencicipi es krim tersebut. Tetapi, suaminya itu seperti sengaja untuk memperlama ketika mengambilkan es krim nya.


"Nih ... Kalau sisa kasih ke aku." Tommy memberikan es krim kepada istrinya.


"Sisa apaan? Ini aja masih kurang." Ara menggertu, es krim yang sedang dinikmatinya sangat sedikit porsinya.


"Kamu nggak boleh makan banyak, bahaya," tutur Tommy.


Istrinya hanya mencebikkan bibir, ia memang mengetahui tidak boleh terlalu banyak memakan es krim, walaupun di rumahnya tersedia banyak es krim, Tommy selalu membatasi Ara supaya tidak keseringan dan juga makan terlalu banyak.


Ketika hamil, sistem kekebalan tubuh akan menurun. Mengonsumsi terlalu banyak es krim bisa meningkatkan risiko masalah pernapasan dan sinusitis. Dan Ara sangat mengetahui itu, sehingga ia terkadang mengalah untuk porsi yang selalu diberikan oleh sang suami.


"Sini aku habisin," pinta Tommy untuk menghabiskan eskrim istrinya.


"Lagi-lagi kamu menyebalkan, aku bete sama kamu." ia meninggalkan Tommy seorang diri. Ia berlari kemeja tempat yang ia datangi pertama kali.


Melihat istrinya yang berlari sembari memegang es krim yang diberikannya, ia menjadi kalang kabut.


"Lain kali, jangan lari." Tommy mengatur napasnya yang ngos-ngosan sesudah sampai di dekat sang istri. Ia mencoba menahan emosinya.


Ara mengabaikan suara suaminya yang dingin, ia merangkul lengan sang Abang yang tak lain adalah Alex. "Bang, Adek dilarang makan sama, Kak Tommy."


"Maksud lo apa?" tanya Alex kepada adik iparnya.


Takut Alex menjadi salah paham, Tommy menjelaskan semuanya ketika mengambil makananan yang diinginkan oleh sang istri. Alex hanya mengangguk kepala mengerti.


"Dek, suami kamu benar," lirih Alex.


"Terkadang Kak Tommy berlebihan, Bang. Aku makannya hanya segini." Ara menunjukkan tempat es krim yang sudah kosong.

__ADS_1


Semua mata saling pandang, mereka sangat mengetahui kalau Ara sangat keras kepala.


Dengan lembut, Jel yang ada disamping Liz, mengangkat suara untuk memberi pengertian kepada sahabatnya itu. "Lo kan tahu, Ra. Es krim mengandung banyak gula, yang dapat meningkatkan peluang bumil mengalami gangguan toleransi glukosa."


"Iya, benar. Lo harus mengurangi makan es krim, gue aja waktu hamil anak gue, bisa dihitung berapa kali makan es krim," sambung Liz.


"Seolah-olah aku yang salah." Ara menundukkan kepalanya, ia remas kedua tangannya, sedangkan kedua matanya sudah berkaca-kaca.


Tommy yang duduk disebelah istrinya langsung menggenggam kedua tangan sang istri. "Kita nggak menyalahkan kamu, kami semua sayang sama kamu. Kami nggak mau sesuatu terjadi sama kamu dan juga calon anak kita."


"Benar?" tanya Ara ketika sudah mengangkat kepalanya.


Semua yang ada di meja itu mengangguk kepala.


Rio menghamipiri para sahabatnya. "Ada acara apa?"


"Ini acara pernikahan lo, kalau lo lupa," celetuk Ryan.


"Duduk dulu pengantin." Ara mempersilahkan duduk kedua pengantin yang baru saja bergabung.


"Kursinya nggak cukup, miskin amat lo pesan kursi pas-pas an," goda Jel. Padahal meja yang mereka tempati itu masih tersedia beberapa kursi kosong karena meja itu cukup besar bagi mereka.


Tanpa sadar, Alex berjalan ke arah Jel untuk menyentil kening kekasih yang telah berhari-hari didiamkan, Jel yang belum mengerti dengan situasi sekarang hanya bisa mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali.


"Toilet dimana?" Alex yang salah tingkah pura-pura menanyakan toilet kepada Rio.


Belum mendapatkan jawaban dari orang yang ditanyakan, Alex berjalan ke sembarang arah.


Kedua pengantin yang sudah mendaratkan tubuhnya itu, hanya bisa menahan tawa melihat wajah gugup Alex. Begitu juga yang lainnya mereka juga menahan tawa dengan tingkah Alex.


"Untung Abang gue," seru Ara.


"Abang sama Adek nggak kalah jauh, ada-ada saja tingkahnya," kata Ryan.


"Namanya juga satu pabrik," ledek Liz.

__ADS_1


"Kalau beda pabrik, bukan Abang gue," tawa Ara.


__ADS_2