
Beberapa hari kemudian
Setelah mendapatkan hasil tes darah yang telah dilakukan kepada sahabatnya, Rio segera memberitahukan kepada Ara untuk datang segera menemuinya.
Ara masuk ke ruangan sahabatnya itu dengan terburu-buru sehingga membuat Rio beranjak dari duduknya untuk menuntun Ara duduk disofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Lepas.... Gue gak sakit." Ara menepis tangan Rio yang telah memperlakukan dirinya layaknya orang sakit.
"Lo itu sedang mengandung, gak boleh jalan cepat-cepat. Mengerti?" tegas Rio yang khawatir.
"Udah kayak suami gue aja lo." Ara menggerutu kesal melihat tingkah sahabatnya itu.
"Gue gak mau terjadi apa-apa sama keponakan gue," lirih Rio yang sudah duduk disamping Ara.
"Berisik lo. Mana hasilnya? Gue mau lihat," ujar Ara yang tidak sabaran.
Rio berjalan ke arah meja untuk menganmbil hasil tes yang dia letak di atas meja itu kemudian memberikannya kepada Ara. Setelah melihat hasilnya tanpa bicara apa pun Ara meninggalkan Rio begitu saja, membuat orang yang ada di dalam ruangan itu menggeleng-geleng kepala.
Ada mengendarai kendaraannya menuju perusahaan Tommy padahal Ara belum memberitahu suaminya itu untuk akan datang berkunjung. Beberapa karyawan menatap heran ke arah Ara karena menggunankan lift khusus yang sering digunakan atasannya atau tamu penting. dan beberapa yang mengenal Ara membungkukkan tubuhnya untuk menyapa istri atasannya itu dibalas senyuman oleh Ara.
Sebelum masuk ke ruangan suaminya, Ara menghampiri wanita yang ada di luar ruangan suaminya itu sedang memberikan senyuman hangat kepadanya. Wanita yang menyapa dirinya itu adalah sekretaris Tommy selain Ryan sehingga Ara membalas senyuman wanita itu.
Mengetahui jika istri atasannya sedang berkunjung membuat sekretaris Tommy bergerak untuk mengantarakan masuk ke dalam ruangan atasannya tetapi di tolak oleh Ara. Sebenarnya Tommy sedang ada tamu di dalam dan atasannya itu sudah berpesan untuk tidak boleh di ganggu karena ada urusan penting dengan tamunya tetapi dia tidak berani mengatakan itu kepada istri atasannya. Sehingga sekretaris Tommy membiarkan istrinya untuk masuk kedalam.
Ara yang belum mengetahui jika suaminya sedang di dalam kamar mandi langsung menyelonong ke dalam ruangan suaminya. Setelah pintu terbuka dengan langkah hati-hati Ara dapat melihat seorang lelaki yang memiliki tubuh tinggi dan tegap sedang berbicara lewat sambungan telfon, tidak mendengar suara pria yang sedang berdiri di sudut ruangan itu dengan jelas Ara langsung memeluknya dari belakang membuat pria itu terkejut, sama halnya dengan Tommy yang baru saja keluar dari kamar mandi, ia melihat seorang wanita sedang memeluk seorang pria yang diyakini bahwa itu adalah istri dan temannya.
__ADS_1
Pria itu berbalik untuk melihat wajah yang sudah berani memeluknya tanpa permisi. Ketika Ara dan pria itu saling bertatapan keduanya terkejut karena tidak mengenal satu sama lain.
Tommy menghampiri mereka yang masih berdiri disudut ruangan. "Honey..." panggil Tommy membuat Ara menoleh kemudian menutup mulutnya karena salah peluk.
Dengan perasaan bersalah bercampur malu, Ara mengatupkan kedua tangannya didepan dada. "Ma-maaf." Ara menjadi gugup karena sudah berani memeluk orang yang disangka itu adalah suaminya sendiri.
Tommy menahan tawa melihat wajah istri dan rekan kerjanya atau bisa disebut teman lama Tommy sewaktu putih abu-abu. Ara mendekat ke suaminya ia menggunakan tubuh suaminya itu untuk menutupi wajahnya yang sudah merona karena malu.
Tommy menarik tangan Ara dari balik punggungnya. "Istri gue," ucap Tommy melihat wajah bingung teman sekaligus rekan kerjanya itu.
Teman Tommy yang bernama Kaisar mengangguk kepala mengerti, ia hanya tahu bahwa Tommy menikah dengan adik kelasnya yang selalu mengejar cinta temannya itu. Dia tidak hadir diacara pernikahan Tommy sehingga tidak terlalu kenal dengan wajah istri temannya itu. "Kaisar." menyodorkan tangannya ke arah Ara.
Ara yang masih menundukkan kepala dengan memegang lengan suaminya menjabat tangan teman suaminya. "Ara."
"Honey... Kamu masih ingat kan dengan Kaisar satu kelas aku dulu," ujar Tommy.
"Jadi ini kak Kaisar?" tanya Ara pelan yang masih bisa didengar oleh kedua pria itu.
"Iya, lelaki yang kamu peluk itu kakak kelas kamu," goda Kaisar mendapat tatapan tajam dari Tommy.
"Aku malu..." rengek Ara menyembunyikan wajahnya didada bidang sang suami.
Kaisar terbahak-bahak, ia tidak habis pikir ternyata wanita yang jauh dari selera Tommy malah mendapat istri seperti Ara. Padahal dulu juga dirinya menyukai Ara secara diam-diam. Mengingat dirinya harus segera pergi Kaisar pamit kepada pasangan suami istri yang ada didepannya karena ada urusan yang harus diselesaikan.
Setelah mengantarkan temannya sampai ke pintu keluar Tommy kembali menutup pintu ruangannya. Tommy tertawa lepas mengingat istrinya yang salah peluk. "Masa kamu gak kenal sama suami kamu sendiri!"
__ADS_1
Ara menghentakkan kakinya ia menuju sofa dengan mengerucutkan bibir. "Jangan dibahas... Aku malu," rengek Ara.
Tommy mendaratkan tubuhnya disamping sang istri. "Iya, ya, maaf." ia membelai rambut istrinya dengan lembut. "Oh, iya, kamu kenapa gak bilang mau kesini? Aku kan bisa jemput kamu.
Ara tersenyum lebar ia langsung memeluk Tommy dengan perasaan bahagia. "Aku positif hamil."
"Benar?" tanya Tommy menarik tubuh Ara dari pelukannya untuk melihat wajah istrinya itu.
"Iya calon, Daddy." Ara mengambil salah satu tangan suaminya kemudian dia menuntun tangan suaminya itu untuk mengusap perut datarnya yang masih berbalut kain.
Tommy dapat merasakan jika diperut rata istrinya itu sedang ada anaknya, ia merasa bersyukur ternyata penantian mereka diberikan oleh Tuhan. Ia menunduk untuk mendaratkan bibirnya ke perut datar istrinya itu dengan lembut. "Anak Daddy," bisik Tommy dengan mata berkaca-kaca.
Ara mengambil hasil tes yang dilakukannya beberapa hari yang lalu kemudian memberitahu kepada suaminya jika dirinya telah dinyatakan positif hamil. Dengan perasaan bahagia Tommy memeluk hasil tes yang diberikan istrinya itu dengan erat tiada henti-hentinya Tommy mengucap syukur telah diberikan kepercayaan, walaupun mereka sudah menunggu selama bertahun-tahun.
Ara hanya tersenyum memperhatikan suaminya yang sedang bahagia itu karena kehadiran calon anaknya. "Nanti kita ke rumah Papa ya! aku kangen Papa." Ara mengusap tangan suaminya yang sedang memegang hasil tes kehamilannya.
Tommy mengangguk kepala kemudian mengecup dahi istrinya. "Terimakasih," ucapnya tersenyum. "Kamu gak ke rumah sakit lagi?" tanya Tommy.
"Aku tadi udah ijin," jawab Ara.
Tommy mengernyit kening dalam-dalam karena tidak biasanya Ara meminta ijin, lain hal kalau sudah mendesak baru istrinya ini akan meminta ijin bahkan ketika sakit istrinya yang keras kepala ini tetap memaksa untuk bekerja. "Tumben? Biasanya ka.... "
"Apa?" tanya Ara memotong perkataan Tommy dengan wajah galaknya, membuat suaminya itu langsung menggeleng kepala. Kemudian Ara tertawa melihat tingkah lucu Tommy yang menjadi ketakutan seperti itu.
"Dasar bumil." Tommy mengacak rambut istrinya baru juga pasang wajah galak tetapi sekarang sudah tertawa.
__ADS_1
Sebelum menuju rumah mertuanya Tommy mengerjakan beberapa laporan yang tertunda sedangkan Ara memberi kabar kepada mama mertuanya tentang kehamilannya. Ara terharu mendengar respon mertuanya yang sangat antusias dirinya merasa bersyukur diberikan mertua yang sangat baik kepada dirinya.