Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Primadona Kampus


__ADS_3

"Satu dong. Memilih pasangan saja tidak boleh lebih dari satu, masa iya, kamu pilih keduanya."


Mendengar istrinya yang berbicara seperti itu sontak membuat dirinya tertawa kecil, istrinya ini memang sangat pandai untuk menggombal, tidak heran kalau dirinya menjadi ikutan penggombal sama dengan istrinya.


"Gombalan kamu receh," ledek Tommy.


"Siapa yang menggombal? Aku hanya berbicara sesuai dengan fakta," ketus Ara.


"Dosa lho berbicara ketus sama suami sendiri."


"Kamu yang buat aku kayak gitu."


"Honey, sesekali kita tidak usah berdebat dong, kan malu, kalau anak kita dengar orang tuanya berdebat terus."


"Ih, nggak nyambung. Lagian tuh ya! Kata orang-orang perdebatan dalam sebuah hubungan itu bagus dan benar, karena dapat mempererat hubungan yang dijalani."


Tommy tersenyum, entah dari mana istri mendapatkan teori seperti itu. Dengan lembut Tommy berbicara kepada istrinya. "Hubungan yang baik dan benar haruslah bisa membuat kita semakin dekat kepada Tuhan, bertumbuh bersama dalam iman dan menuntun kita ke jalan benar yang penuh berkat dan kebahagiaan."


"Iya, kita kan berdebatnya hanya untuk menghibur saja supaya tidak bosan."


Tommy mengangguk mengerti atas apa yang dibicarakan oleh istrinya, dengan senyuman khas seorang Tommy, ia berbicara dengan hati-hati. "Kita sudah menjadi calon orang tua, mulai sekarang kita harus membatasi perdebatan yang sering kita lakukan, supaya terbiasa ketika anak kita lahir."


Ara bersyukur memiliki suami seperti Tommy, suami yang selalu mengingatkan dirinya ketika salah. Kesabaran dan kasih sayang yang selau diberikan Tommy membuat air matanya mengalir. "Maaf, kalau selama ini aku tidak menjadi istri yang baik buat kamu."


Tommy memberikan senyuman kepada Ara. Dihapusnya air mata Ara yang mengalir. "Kamu istri terbaik dan juga tercantik yang telah Tuhan berikan untuk ku."


Dilihatnya suami yang selalu tersenyum dan juga tidak marah kalau bukan karena ulahnya yang kelewatan. "Aduh, senyuaman mu mengalihkan duniaku."


"Harus nya aku yang menjadi penggombal di dalam hubungan kita, bukannya kamu." Tommy terkekeh geli dan juga senang mendengar setiap gombalan Ara.


"Biar beda, jarang-jarang wanita menjadi penggombal."


Tommy menepikan mobilnya di parkiran yang telah disediakan. "Iya deh, turun, yuk." ia turun di ikuti oleh Ara, pasangan suami istri tersebut masuk ke dalam warung penjual nasi goreng yang biasa dibawakan ketika pulang kerja.


Semenjak Tommy membawakan nasi goreng, yang tidak jauh dari kantor kepada istri kecilnya, membuat Ara semakin ketagihan untuk menikmatinya. Pernah suatu ketika, saat Tommy sedang sibuk denyan pekerjaannya, Ara meminta untuk di antarkan ke penjual tempat nasi goreng yang dibawakan oleh Tommy, mau tidak mau Tommy mengantar dan menemani sang istri, untuk melahap nasi goreng yang membuat dirinya ketagihan.


Kedua pasangan itu memesan pesanannya dan menunggu beberapa menit sampai makanannya datang, Ara yang sudah terbiasa makan banyak selama kehamilan tidak membuat dirinya untuk makan dengan pelan.

__ADS_1


"Pelan-pelan, tidak usah terburu-buru begitu." Tommy mengingatkan Ara yang selalu cepat melahap makanannya.


Ara hanya menampilkan deretan giginya yang rapi. "Dedek bayi nya tidak suka makan dengan lambat, Daddy." Ara mengusap perutnya sedangkan mulutnya mengunyah makanan.


Diambilnya minuman sang istri lalu diberikan kepada istri yang duduk didepannya. "Minum dulu, baru berbicara."


"Nggak ada rasanya," ucapnya setelah minum.


"Namanya air putih, kalau ada rasa, Namanya orange jus."


"Tuh kan, apa aku bilang! Kamu itu suami yang sangat sangat menyebalkan, tapi, kamu selalu buat aku kangen," seru Ara sembari terkekeh.


"Dilanjut lagi makannya," kata Tommy yang tidak menanggapi perkataan istrinya.


Ara kembali menyantap makanannya, kali ini, ia menikmati makanan tanpa suara.


"Tumben diam?" tanya Tommy yang sudah selesai dengan makanannya, begitu juga denga Ara.


"Ngidam," jawabnya asal.


Tommy melongo tidak percaya, bagaimana bisa istri yang selalu membuatnya bersabar, tiba-tiba mengidam untuk tidak berbicara.


***


"Mama, Ara rindu." Ara langsung memeluk mertuanya setelah dibukakan pintu oleh mertuanya.


Mama Tommy membalas pelukan Ara dan mengecup kepala Ara beberapa kali. "Mama, juga rindu." Mama Tommy mengusap perut Ara dengan lembut. "Halo, calon cucu, Oma. Apa kabar kamu di sana?"


"Kabar baik, Oma." Ara menirukan gaya bicara anak-anak.


"Sama Tommy nggak rindu, Ma?" celetuk Tommy.


"Enggak," singkat Mama Tommy. "Sayang, kita masuk ya! Biarkan saja suamimu menyusul," sambungnya lgi.


Merasa kesal, diikuti langkah kaki kedua wanita yang selalu membuat dirinya membawa nama mereka di setiap doa nya. "Papa ada dimana?" tanya Tommy.


"Di kamar," jawab Mamanya.

__ADS_1


Ia mendengus sebal, ia tidak tahu alasan Mama nya berbicara sedikit kepadanya.


"Mama kenapa sih?" Tommy mendaratkan tubuhnya disebelah Mamanya.


"Mama, kesal sama kamu. Masa istri hamil, kamu nggak ada kasih kabar," kesal Mama Tommy,


Faktanya Mama Tommy, hanya mendapat kabar dari Ara saja. Padahal sang Mama sangat berharap, anak semata wayang yang telah menjadi seorang suami dan juga calon Ayah itu, dapat memberi kabar kepada kedua orang tuanya.


"Astaga, jadi ... Mama bersikap seperti itu, hanya karena Tommy tidak memberi kabar?" tanyanya tidak percaya.


"Kamu tahu nggak sih, Tom. Mama dan Papa sangat bahagia mendapat kabar ketika Ara mengatakan dirinya hamil, tapi, kamu seperti ingin bahagia sendiri, tanpa membagi kebahagian itu kepada orang tua mu."


"Ma, bukannya, Kak Tommy tidak mau memberi kabar. Ara yang meminta kepada suami Ara, supaya Ara yang memberitahu kalian," tutur Ara yang berusaha menengahi kesalah pahaman tersebut.


Mengetahui istri nya sudah memberi kabar soal kehamilannya membuat Tommy biasa saja tanpa memberi tahu lagi. Ia merasa bersalah tidak seharusnya ia mengabaiakan hal kecil seperti ini. "Tommy minta maaf, Ma. Sekali lagi Tommy akan memberitahu kalian."


Mama Tommy yang salah tangkap langsung melotot ke arah putranya. "Setelah Ara melahirkan, kamu berencana untuk membuat Ara hamil lagi? Oh, tidak bisa, Ara harus melewati masa nifasnya terlebih dahulu, dan juga anak pertama kalian harus bisa jalan dulu, baru deh Ara bisa hamil lagi."


Nb: masa nifas adalah masa pengembalian seluruh fungsi tubuh dan struktur tubuh menjadi seperti sebelum hamil, termasuk pengecilan ukuran rahim seperti menjadi sebelum hamil. Pada masa nifas sering keluar cairan dari jalan lahir. Masa nifas biasanya dilakukan selama empat puluh hari atau enam minggu.


"Ma, dengarkan Tommy terlebih dahulu, baru deh bisa mengomel tanpa jelas, seperti yang dilakukan oleh istrinya Tommy," lirih Tommy yang sudah terbiasa berbicara lembut kepada wanita yang melahirkannya. Tommy juga mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Ara.


"Mama sudah tahu maksud kamu! Tidak usah menggunakan alasan lama deh, Tom."


"Astaga, Tommy sampai kehabisan kata-kata lho." Tommy memasang wajah pura-pura sedih.


"Tidak usah drama, Mama aja yang kebanyakan nonton drama korea, tidak mendaftarkan diri menjadi anak teater sewaktu kuliah dulu."


Perkataan mertuanya membuat Ara tertawa. "Harusnya, Mama daftar jadi anak teater."


Mama Tommy menggeleng kepala. "Mama takut ditolak, Nak," jawabnya jujur.


"Kenapa ditolak? Kata Mama, sewaktu kuliah Mama menjadi primadona kampus," ujar Tommy mengingat cerita yang sering diceritakan oleh Mamanya.


***


Menunggu up bab berikutnya, hayuk, di lihat novel author yang tidak kalah kerennya. By: Kak Desi Manik.

__ADS_1



#Terima kasih.


__ADS_2