
"Kenapa ditolak? Kata Mama, sewaktu kuliah Mama menjadi primadona kampus," ujar Tommy mengingat cerita yang sering diceritakan oleh Mamanya
"Nah, itu dia, Tom. Hal itu yang membuat, Mama ditolak, alasan, tidak mau Mama semakin terkenal sewaktu kuliah dulu."
Ara yang mendengar itu hanya terkikik geli, ternyata mertuanya itu mampu mengalahkan tingkat percaya dirinya.
"Beneran, Ma?" tanya Tommy dengan ragu-ragu.
Mama Tommy mengangguk kepala untuk menyakinkan putra semata wayangnya.
Papa yang baru saja keluar dari kamar segera bergabung dengan mereka yang berada di ruang tamu. "Siapa primadona kampus?"
Tommy menunjuk menggunakan dagu. "Tuh, Mama."
"Iya, benar. Kata teman-temannya dulu, Mama ini menjadi wanita yang paling cantik di universitas nya, sehingga ia dijuluki dengan kata 'primadona kampus' dan kamu tahu Tom ..."
Ketiga pasang mata itu menatap serius ke arah Papa Tommy yang menggantung kalimatnya.
"Dari banyaknya pria yang menyukai, Mama-mu. Papa lah pemenangnya." Papa Tommy merasa bangga dengan apa yang dikatakan.
Mama Tommy tertunduk dengan persaaan malu.
"Mama, udah kayak anak remaja yang baru saja dinyatakan perasaan cinta oleh seorang pria," ledek Tommy yang melihat wanita yang melahirkannya merona karena malu.
"Ini semua karena, Papa. Mama kan jadi malu." Mama Tommy menyalahkan suaminya.
"Fakta dan bukan mitos, Ma," ucap Papa Tommy.
Reflek Ara menepuk jidatnya, keasikan mengbrol membuat dirnya melupakan buah-buah tangan yang telah dibeli. "Ma, ini ada cake, Ara sampai lupa memberikannya."
"Terima kasih, Nak," kata Mama Tommy tulus sembari menerima buah-buah tangan dari menantunya. "Oh, iya. Mama juga ternyata lupa membuatkan minuman."
"Ya sudah, biar Ara saja yang membuatkannya." Ara hendak berdiri tetapi langsung ditahan.
"Mama saja, Nak. Kamu disini saja ya!"
"Ara saja, Ma," ujar Ara yang tidak enak hati dengan mertuanya.
__ADS_1
Melihat wanita yang ada dihadapannya tidak ada yang mau mengalah, membuat sang Papa menengahi. "Biar, Tommy saja yang buat."
Tommy membenarkan perkataan Papanya. "Iya, Tommy saja yang membuatkan minuman untuk kita semua."
Jika berada di rumah nya atau sedang berdua Ara akan menerima dengan senang hati kalau suaminya yang mengambil ahli tugas seorang wanita, tetapi jika berada di luar rumah seperti sekarang ini, Ara akan menjaga wibawa sang suami, ia tidak ingin kalau suaminya dianggap rendah oleh orang lain.
"Honey, aku saja yang membuatkan. Kamu disini saja!" lirih Ara.
Tommy yang mengetahui maksud dari istrinya mengangguk kepala untuk mengijinkan istri kecilnya itu pergi ke dapur. Sebenarnya, Tommy tidak lagi mengijinkan Ara melakukan kewajibannya seperti seorang istri untuk mengurus rumah ataupun memasak.
Melihat kehamilan Ara yang masih muda, rentan keguguran membuat dirinya menjaga Ara supaya tidak kelelahan, terdengar berlebihan memang, tetapi mereka yang sudah lama tidak mendapat momongan membuat seorang Tommy semakin parno.
Ia merasa bersyukur, Tidak lama baginya untuk membujuk Ara supaya tidak melakukan perkerjaannya lagi didalam rumah.
Minuman dan camilan yang sudah siap dibuat, dibawa ke ruang tamu untuk diletakkan diatas meja. "Silahkan," ucap Ara menawarkan bawaan yang baru saja diletak.
"Kopi buatan menantu, Papa memang enak tiada duanya," puji Papa Tommy setelah menyeruput kopi buatanya.
"Sama seperti wajahnya, manis, enak dipandang," sambung Mama Tommy.
"Tidak heran lagi, Pa, Ma. kalau tubuh Tommy semakin berisi. Setiap hari selalu disuguhkan dengan makanan-makanan yang enak sama istri sendiri."
"Kalian ini selalu membuat aku malu." Ara menundukkan kepalanya.
"Kenapa harus malu? Kita berbicara secara fakta kok," seru Tommy.
Berbicara tentang masakan, membuat Ara segera pamit untuk menyiapkan makan malam mereka. "Ma, Ara masak untuk makan malam kita ya!"
"Kamu tidak boleh kelelahan, Nak. Mama, tidak keberatan harus menyiapkak makan malam kita," tutur Mama Tommy kepada menanantunya.
"Ma, Ara hanya memasak, bukan mengepel seluruh ruangan ini. Aku janji tidak akan sampai kelelahan."
"Tetap tidak boleh sayang!" tolak Mama Tommy.
Tommy yang melihat itu, sedikit kesal. Istri keras kepalanya ini selalu mepertahankan apa yang diingingkan.
"Bagaimana? Kalau kami saja yang memasak. Jadi, Mama tidak perlu memasak sendiri." Ara berharap penawarannya disetujui oleh mertuanya.
__ADS_1
Tomm mengangguk kepala ke arah Mama yang melihat dirinya, ia seperti meminta persetujuan anaknya.
"Iya, boleh," ucap Mama mertuanya.
Tommy dan Ara menuju tempat mereka menyiapkan makan malam. "Kamu duduk disitu ya! Aku saja yang memasak, kamu cukup menemaniku," tegas Tommy yang tidak ingin dibantah.
Ara mengerucutkan bibirnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain patuh, Ara mendaratkan tubuhnya diatas kursi yang ada di dapur tersebut. Ia melihat suaminya yang memegang spatula untuk membalikkan perkedel yang sedang digoreng.
Lama-kelamaan, Ara merasa bosan. Ia menghampir Tommy yang menggunakan celemek berwarana biru. "Masih lama ya?"
"Sebentar lagi! Kamu, kembalilah duduk."
Ara mengikuti perintah Tommy sehingga beberapa menit kemudian, Tommy telah siap dengan masakannya. Ara memanggil kedua mertuanya sedangkan Tommy menata makanan yang baru saja dimasak.
Makanan sederhana tetapi menarik perhatian. Urap, sayur bayam bening, perkedel dan ayam yang di goreng, tidak lupa sambal luar yang telah dibuat.
Semua orang yang berada di meja makan merasa beryukur karena masih diberi kesempatan untuk dapat berkumpul. Acara makan malam yang dilakukan oleh keluarganya itu dilakukan dengan obrolan ringan.
Seusai makan malam, mereka kembali mengistirahatkan tubuhnya ke dalam kamar.
***
Setelah membagikan undangan pernikahan beberapa bulan yang lalu, kedua pasangan itu akhirnya melangsungkan acara pernikahan sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya.
Waktu yang tidak terasa, menjadi hari pernikahan yang tidak pernah dibayangkan oleh kedua mempelai. Biasanya, kedua pasangan yang akan menikah merasakan kebahagian yang tidak bisa terucap dengan kata-kata. Tidak dengan mereka, Pernikahan sakral yang akan dimulai beberapa menit lagi membuat keduanya tidak bisa berbuat apa-apa.
Wanita yang berdiri yang tidak jauh dari jangkauan sang mepelai pria, merasa cemas dengan masa depan yang tidak pernah terpikir olehnya. Apalagi, ia masih mengingat betul perlakuan calon suami yang tidak lah benar menurutnya, 'bagaimana bisa seorang pria tega menurunkan seorang wanita yang akan menjadi istrinya menurunkan di tengah jalan' begitulah pikirannya saat ini.
Semenjak kejadian itu, kedua mempelai tidak pernah lagi saling berbicara, ketika bertemu pun mereka berdua sama-sama bungkam. Mereka berdua selalu menghindar supaya tidak terlihat canggung.
Ditengah kecemasannya, tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dengan pelan. Secara perlahan wanita yang berbalut gaun pengantin terseut menoleh kebelakang.
***
Hayuk, dipantengin novel terkeren dari Kak Andriani Keumala.
__ADS_1
# Happy Reading.