Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Berkunjung


__ADS_3

Dilihatnya kotak kecil yang berada ditangannya, ia yakin bahwa isinya itu, tak lain yaitu hasil keisengan dari para suami sahabatnya, karena sedari tadi ketika mengobrol dengan para pria yang mengisi hati para wanita-wanita yang sudah dianggapnya adik sendiri, ucapan mereka tak jauh dari kata 'malam pertama' mereka juga asik meledek Rio yang akan memerawani seorang gadis.


Tanpa dibuka, Rio meletakkannya dilaci kecil yang ada disamping tempat tidur, ia pun kembali mengistirahatkan tubuhnya diatas ranjang, membuat Iren gugup setengah mati.


"Ka-kamu tidur disini?" tanya Iren takut-takut jika Rio menjadi marah.


"Hm,"


Iren menatap kesal ke arah Rio yang berhasil memejamkan matanya sedangkan ia masih setia membuka mata, dirinya benar-benar tidak nyaman dengan hal baru yang sedang dialami.


"Kalau nggak suka, tidur disofa," ucap Rio dingin tanpa membuka mata.


Mendengar hal itu, ingin sekali rasanya ia mencekik leher suaminya yang sedang tidur, dengan perasaan kesal Iren mengambil bantal dan juga selimut untuk menuju sofa yang ada didekat ranjang.


Menyadari gerak gerik Iren, membuat Rio membuka kembali matanya yang terpejam, awalnya ia hanya menggoda Iren saja tetapi malah ditanggapi dengan serius.


Ia mengambil posisi duduk supaya tidak susah untuk mentap Iren. "Kamu benaran tidur disitu!"


Tanpa menjawab apapun, Iren memainkan ponselnya sembari berbaring.


"Tidur disini saja! Tadi aku hanya bercanda," sambung Rio.


Iren masih setia dengan ponselnya tanpa menghiraukan Rio.


"Iren ..." teriak Rio.


"Apa? Nggak usah teriak, kamu pikir ini hutan," ketus Iren, matanya melotot ke arah Rio.


"Dimana sopan santun kamu, suami ngomong itu didengarkan bukannya diabaikan,"


"Oh,"


"Kembali ke sini, tidur disini, jangan disana," perintah Rio.


"Aku lebih nyaman disini," kesal Iren.


"Iren, aku nggak suka mengulang perkataanku,"


"Oh, ya," seru Iren tanpa peduli.


"Datang sendiri kesini atau aku akan menggendong mu, lalu ku lemparkan tubuhmu yang tidak menarik itu ke lantai dasar," ancam Rio.


Bukannya takut, Iren menantang balik. "Coba saja kalau berani."


Rio semakin kesal karena Iren tidak menuruti permintaanya. Ia menurunkan kakinya, kemudian berjalan ke arah sofa, tanpa aba-aba Rio mengangkat tubuh Iren.


"Turunkan aku, Tuan pemaksa," Iren berontak digendongan Rio.


Rio hanya diam saja.

__ADS_1


"Turunkan aku," teriak Iren.


"Diam," bentak Rio, membuat Iren tidak berani mengeluarkan suara.


Ia meletakkan tubuh Iren dengan pelan ke atas ranjang.


"Jangan banyak bicara, sekarang waktunya tidur, suka atau tidak suka, kamu harus menurut," tegas Rio.


Iren menggigit bibir bawahnya, ia tidak berani berkomentar.


Rio juga mengistirahatkan tubuhnya disebelah Iren, dan malam itu mereka berdua hanya tidur saja tanpa melakukan apa-apa.


***


Sore harinya, setelah menjemput Jel, sesuai permintaannya, mereka berdua berkunjung ke rumah sakit.


Ketika menuju ruangan Mama tirinya, Jel berpapasan dengan Ara yang kebetulan menjadi dokter kandungan Mama tirinya selama hamil, yang ia yakini baru selesai memeriksa keadaan Mama tirinya.


"Hai, kalian berdua," sapa Ara sembari tersenyum.


"Hai, Dek," menyodorkan tangannya untuk disalam, tentu hal itu disambut baik oleh Ara.


"Hai, Ra," sapa Jel kemudian memeluk Ara.


"Aku duluan ya! Mau pulang, Kak Tommy udah menunggu di depan," pamit Ara.


"Iya, semangat ya!" kata Ara lalu memeluk Jel sekali lagi, seperti tahu apa yang dirasakan Jel saat ini.


Jel dan Alex tersenyum.


"Duluan ya! Bye," Ara melambaikan tangan ke arah keduanya.


Didepan pintu kamar, jantung Jel berpacu cepat, sudah lama ia tidak melihat ibu tiri dan juga anak lelaki yang diperkirakan umur delapan tahun, yang bernama Jeremie.


"Kita masuk ya!" ujar Alex.


"Kakak duluan saja, nanti aku menyusul," jawab Jel yang belum siap bertemu.


"Tidak apa-apa, ayo," ajak Alex.


Tok ... tok ...


Pintu ruang VIP itu telah terbuka, dapat dilihat Mama tirinya sedang berbaring dan disampingnya terdapat seorang bayi. Papa nya duduk diatas sofa sedangkan Mama nya sedang bermain jigsaw puzzle. Hatinya sakit melihat pemandangan itu, seandainya waktu bisa diulang kembali, pastilah hanya Mama nya yang menjadi istri dari Papanya.


"Hai, Om, Tante," sapa Alex dengan ramah tetapi tidak dengan Jel.


Papa dan kedua Mama nya tersenyum melihat orang yang baru saja datang, "Hai, Nak," balas Papa begitu juga dengan kedua Mamanya.


Papa Jel langsung beranjak dari duduknya, ia pun memeluk Alex lalu ingin memeluk Jel, tetapi Jel langsung menghindar karena belum siap, ia masih diam tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Kakak ..." panggil bocah kecil yang sangat tampan.


Adiknya dari beda ibu itu berlari kecil kemudian bocah tampan tersebut memeluk kaki sang kakak, Jel tidak memberi respon apa-apa, membuat anak kecil itu melepaskan pelukannya dan mundur beberapa langkah.


Melihat itu, Papa Jel dapat mengerti. "Hei jagoan, sini Papa gendong,"


Anak kecil itu merentang kedua tangannya, siap untuk digendong.


Alex menyalami kedua Mama Jel, tidak dengan Jel. Ia masih setia beriri dengan wajah yang tidak dapat diartikan, akhirnya Mama Jel mendekati putrinya. "Nak, duduk dulu, yuk,"


Jel tersenyum, ia menuruti perkataan Mamanya.


Mama Jel dan dirinya duduk di atas sofa diikuti oleh Alex, Papanya duduk di kursi dekat brankar istri mudanya dengan memangku putranya.


Sebelumnya Alex telah menaruh buah-buah tangan diatas nakas dekat brankar, yang ia beli sebelum menjemput sang kekasih.


"Bagaimana kabar tante dan adik bayinya!" tanya Alex ramah.


Mama tiri Jel tersenyum. "Kami baik-baik saja,"


"Syukurlah, boleh Alex melihat adik bayinya!" tanya Alex, ingin sekali melihat sosok bayi kecil yang tertidur pulas disebelah ibunya.


"Dengan senang hati," balas Mama tiri Jel ramah.


Papa Jel langsung menurunkan bocah kecil yang sedang dipangkunya, ia mengambil bayi kecil itu untuk diperlihatkan kepada Alex.


"Om tahu saja, kalau Alex nggak berani menggendong seorang bayi," kata Alex terkekeh.


Alex menggeser tempat duduknya, Papa Jel mendaratkan tubuhnya disebelah Alex. "Hai, calon kakak ipar," sapa Papa Jel berbicara seperti anak kecil.


"Halo, adik ipar," balas Alex, ia mentowel-towel pipi tembem itu, ia terkekeh melihat bibir mungilnya yang bergerak-gerak, matanya yang terpejam sesekali bergerak.


"Namanya siapa, Om?" tanya Alex.


"Juanlita Murniati, yang artinya, putri cantik lambang keagungan Tuhan," sahut Papa Jel melirik Jel.


"Julianka? Nama yang bagus sama seperti nama kakak nya, Jelita Murniati," kata Alex membuat Jel semakin jengah.


"Iya, cantiknya juga sama," seru Mama tiri Jel.


Mendengar itu Jel hanya diam tanpa berbicara apapun.


Mama Jel yang berada disampingnya hanya mengusap lembut punggung tangan putrinya, ia tahu bahwa Jel ingin protes atau berbicata tetapi ditahan karena ia semakin kecewa terhadap Papanya.


"Lihatlah, adikmu sangat lucu," ucap Alex kepada Jel.


"Jam berapa kita pulang?" kata yang keluar dari mulut Jel, ia benar-benar muak.


Dengan lembut, Alex menjawab pertanyaan Jel. "Nanti ya! Kita bermain dengan adik kecil dulu."

__ADS_1


__ADS_2