Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Marah


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Tommy dan Ara. Ara membawa Iren masuk ke dalam rumah. Mereka menuju ruang tamu sedangkan Tommy masuk kedalam kamar yang berada di lantai dua. Ia meninggalkan kedua perempuan itu karena malas untuk ikut mengobrol.


"Mbak, minum dulu." Ara yang baru datang dari dapur memberikan segelas air putih kepada Iren.


Iren yang menerima segelas air putih itu langsung meneguk dengan sekali tegukan. Ara hanya bisa menahan tawa memperhatikan Iren yang masih senggugukan itu. Ia merasa lucu dengan Iren yang meneguk air putih itu dengan sekali tegukan.


"Ra, lo bisa peluk gue." Setelah meletakkan gelas kosong ke atas meja. Iren meminta dipeluk berharap Ara menyetujui permintaannya.


Tanpa mengeluarkan suara, Ara mengangguk kepala. Ia membiarkan Iren menangis sejadi-jadinya dipelukannya. Ara mengusap punggung Iren naik turun untuk memberikan ketenangan pada wanita yang sedang dipeluknya.


Masih memeluk Iren, Ara tidak tahan mendengar suara tangis Iren, ia merasa iba terhadap Iren. Hal itu membuat dirinya menjadi ikutan menangis bahkan suara tangisnya tak kalah histeris dari Iren.


Iren yang kebingungan mendengar suara tangis Ara segera melepaskan pelukan Ara. Ia lihat wajah Ara yang sudah berlinang air mata. Ia tidak tahu kenapa Ara menjadi ikutan terisak seperti dirinya, ia mengangkat kedua tangannya untuk mengusap wajah Ara yang selalu mengeluarkan air mata.


"Mbak...." panggil Ara dengan suara tangis.


Iren yang masih senggugukan tanpa mengeluarkan air mata berusaha menenangkan Ara. "Aduh ... Adiknya, mbak. Ara manis si tukang makan. Sudah ya!" Iren masih menghapus air mata yang selalu mengalir diwajah mulus Ara.


"Mbak, yang buat gue jadi begini," kata Ara yang menyalahkan Iren.


Iren yang disalahkan hanya bisa melongo mendengar perkataan Ara.


Lebih baik mengalah deh, dari pada panjang urusannya.


"Iya, mbak yang salah. Acara tangisnya jangan dilanjut lagi ya!" goda Iren.


Ara mengangguk kepala, ia memeluk Iren kembali. "Mbak, jangan sedih ya! Kalau ada masalah, lo bisa cerita sama gue."


"Iya, gue cerita sama lo tapi lepas dulu pelukan lo, gak bisa napas gue." Iren pura-pura cemberut untuk dilepaskan dari pelukannya padahal itu hanya akal-akalan Iren saja untuk membuat Ara tersenyum.


"Gue siap dengar cerita lo, mbak." Ara memberikan senyuman kepada Iren.

__ADS_1


Iren bingung untuk menceritakan masalah yang sedang dialami. "Gue mulai dari mana ya!"


"Terserah lo, mbak. Yang penting sampai ke inti," balas Ara yang sudah siap mendengar cerita Iren.


Iren yang sudah sangat nyaman dengan Ara. Pun menceritakan semua tanpa ada yang terlewatkan.


Ara yang mendengar cerita Iren menjadi kesal sendiri, tanpa pamit kepada Iren, Ara beranjak berdiri untuk menuju kamar tempat sang suami istrahat. Ara ingin menyuruh Tommy supaya menghubungi Rio untuk datang ke rumah nya.


Iren yang tidak mengerti dengan Ara yang langsung berdiri, segera menahan tangan Ara karena ingin meninggalkan dirinya. "Lo mau kemana?" tanya Iren yang masih menahan Ara.


Masih dengan wajah yang kesal, Ara memberitahu kepada Iren untuk menyuruh Tommy supaya Rio disuruh datang ke rumah nya. Iren yang mengerti maksud dari Ara menjadi kalang kabut, ia tidak ingin masalah yang sedang dialami menjadi panjang urusannya, berulang kali ia membujuk Ara supaya Rio tidak jadi disuruh datang tetapi tidak dihiraukan oleh Ara.


Ara menaiki anak tangga menuju kamar mereka, sesampainya didepan kamar ia membuka pintu dengan kasar sampai menghasilkan bunyi yang keras. Tommy yang masih tertidur langsung terbangun karena terkejut. "Honey..." panggil Tommy melihat ke arah pintu.


"Hubungi Rio sekarang juga." Ara yang sudah emosi tidak lagi peduli dengan suaminya yang kaget.


Tommy turun dari ranjang, ia berjalan untuk mendekati sang istri yang tidak jauh dari tempat dia beristirahat. Tommy memegang lengan Ara tetapi langsung ditepis oleh Ara.


"Jangan tanya aku kenapa! Pokoknya aku gak mau tahu, dalam setengah jam Rio belum ada di rumah ini. Kamu malam ini gak bisa tidur di dalam kamar," ketus Ara lalu meninggalkan Tommy.


Tommy yang mendengar perkataan sang istri hanya bisa berdiri mematung, ia benar-benar tidak mengerti dengan mood ibu hamil. Tommy mengacak rambutnya frustasi, ia sudah bisa menebak jika istri kecilnya itu pasti sudah ikut campur dengan permasalahan yang dialami oleh mantan kekasihnya itu.


Tommy yang tidak mau tidur terpisah dengan istri kecilnya itu, segera menghubungi orang yang dimaksud istrinya. Ia juga menyuruh Rio supaya datang lebih cepat karena waktu yang diberikan oleh sang istri hanya setengah jam.


Seusai berbicara kepada sahabat Ara, Tommy turun kebawah untuk menghampiri kedua wanita yang berada di ruang tamu, ketika melihat Iren ia menatap tajam ke arah wanita itu. Ia benar-benar tidak menyukai Iren yang sudah menceritakan masalahnya kepada Ara.


Iren yang menyadari jika Tommy tidak menyukai dirinya langsung menundukkan kepala, saat ini ia tidak berani melihat wajah Tommy.


"Mbak, jangan takut sama pria adem sari itu, anggap aja cuma kita berdua yang ada disini," ujar Ara yang menyadari tatapan sang suami.


Tommy yang sudah ikut duduk disofa yang ada di ruang tamu, menatap kesal ke arah wanita yang disamping istrinya. "Kalau lo punya masalah harus diselesaikan, bukannya cerita sama istri gue."

__ADS_1


Ara melotot ke arah Tommy sehingga membuat dirinya menjadi gemas terhadap wanita yang sedang hamil calon anaknya, kalau Iren tidak ada di rumah mereka sudah dipastikan Tommy akan menggigit kedua pipi yang sudah berisi itu. Menurut Tommy ekspresi yang ditunjukkan oleh istrinya itu sangat lucu.


Beberapa menit kemudian Rio sudah sampai dikediaman Tommy dan Ara. Tommy yang sudah membuka pintu mempersilahkan tamunya itu untuk masuk dan mereka menghampiri kedua perempuan yang berada di ruang tamu.


Rio yang sudah mengetahui jika Iren juga ada di rumah mereka hanya menampilkan sikap biasa, ia pura-pura tidak mengerti akan apa yang terjadi. "Ra, parah bangat ngidam lo. Udah malam juga masih aja gue disuruh datang."


Ara tidak menanggapi gurauan Rio yang sudah mendaratkan tubuhnya diatas sofa yang ada didepannya. Ia menatap tajam ke arah tamu yang baru saja bergabung itu. "Kekanakan bangat lo, Ri. Apa maksud lo turunin, Mbak Iren di tengah jalan, hah?" Ara berteriak kepada Rio.


Rio menghela nafas pelan, ia sudah tahu kalau sahabatnya ini pasti marah besar seperti sekarang ini. Dengan wajah dingin ia menatap Ara. "Gue harap lo gak ikut campur."


Ara terkesiap dengan wajah dingin yang diperlihatkan Rio, selama ini Rio tidak pernah dingin kepadanya tetapi dengan perasaan kesal ia beranjak dari duduknya kemudian berkacak pinggang. "Kalau gue mau ikut campur, kenapa? gak suka lo."


Iren memegang tangan Ara untuk menyuruhnya duduk kembali. Ia berusaha menenangkan Ara yang sudah marah kepada calon suaminya itu. Ia menjadi merasa bersalah karena menempatkan Ara disituasi seperti sekarang ini. "Ra, sudah ya! Jangan diteruskan."


"Gak bisa, Mbak. Gue kesal sama dia." Ara yang sudah kembali duduk menunjuk Rio yang masih menatapnya.


Iren mengangguk kepala, ia mengusap tangan Ara dengan lembut. "Iya... Mbak tahu. Mbak mohon jangan dilanjut lagi ya!" Iren tidak ingin hubungan kedua bersahabat itu menjadi hancur karena kecerobohannya yang telah menceritakan masalah percintaan yang sedang dialami.


"Mbak, gue gak mau lo disakiti sama pria kayak dia. Kalau Rio gak bisa membatalkan perjodohan itu. Ya, dia jangan tinggalin lo di tengah jalan, harusnya dia antar lo sampai rumah dengan selamat." Ara mengusap kedua punggung tangan Iren dengan mata berkaca-kaca.


Iren mengangguk kepala, ia setuju dengan perkataan Ara.


Tommy yang hanya diam saja melihat kemarahan sang istri, akhirnya membuka suara berusaha untuk menengahi. "Aku gak tahu masalah yang kalian hadapi, tapi... Saran ku lebih baik dibicarakan secara baik-baik karena masalah itu tidak bagus diandalkan lewat emosi, yang ada lawan bicara kita menjadi ikutan emosi." Ia menjeda kalimatnya, ia menatap wajah Ara yang sedang kesal. "Honey... Ini masalah mereka, biarkan mereka menyelesaikan dengan cara mereka sendiri, kita sebagai teman hanya bisa berdoa supaya mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.


"Tau ah, Rio gue gak mau lihat muka lo sekarang, mungkin besok baru mau gue lihat. Sekarang lo pulang." Ara mengusir Rio secara terang-terangan.


Rio yang terkekeh hanya acuh dengan Ara yang sedang mengusir dirinya. Ia mencomot camilan yang ada diatas meja dekat sofa. "Gue baru datang, lagian ini belum habis." Ia menyandarkan punggungnya ke sofa kemudian Rio mengangkat stoples yang berisi kue kering itu.


"Ri, ini udah malam. Kalian berdua sudah bisa pulang, besok datang lagi main kesini." Tommy memberi pengertian kepada sahabat istrinya itu supaya tidak kemalamam pulang dari rumah mereka.


"Iya,iya. Ini kita mau pulang." Rio yang sedikit takut dengan Tommy hanya bisa mengalah.

__ADS_1


Rio dan Iren berpamitan untuk pulang kepada tuan rumah, seperti biasa Rio mengantarkan Iren kembali ke rumah nya tanpa mengeluarkan suara, di dalam mobil hanya hening tanpa ada yang mengeluarkan suara, Iren juga membuka suara ketika mengucapkan kata 'Terima Kasih' sesudah sampai di halaman rumah.


__ADS_2