
"Oke, supaya permasalahan selesai. Gue putuskan bahwasanya hari ini pasangan yang belum menikah yaitu Alex beserta kekasihnya, dinyatakan telah berbaikan." Ryan mengangkat suara, layaknya seorang hakim dipengadilan, bahkan ia mengetuk meja sebanyak tiga kali menggunakan tangan kanannya.
"Yang punya masalah kita, kenapa jadi lo yang memutuskan masalah hubungan kita," protes Alex.
"Intinya kalian berbaikan, tidak ada penolakan," tegas Ryan.
"Yang dibilang Kak Ryan ada benarnya juga sih," seru Jel santai.
"Setuju, kalian ini sudah mau menikah, nggak bagus berantam lama-lama, nanti otaknya pada rusak semua," ucap Ara asal.
Tommy mengacak rambut Ara pelan, ia gemas melihat istrinya yang selalu berbicara tanpa disaring.
"Menikah? Lamaran aja ditolak berkali-kali, dari mana ceritanya mau menikah?" jawab Alex.
Jel melayangkan kekesalannya kepada Alex. "Ck, bukannya aku menolak, hanya saja aku belum siap. Kamu mengerti tidak, kata 'belum siap'.
Alex menggeleng kepala. "Tolong jelaskan! Dibagian mana aku yang belum mengerti kamu.
"Aku mau pulang. Bicara sama kamu yang ada aku keriput, kayak nenek-nenek di meja sana." tunjuk Jel ke meja yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Bungkus dulu makanan nya, baru lo pulang," goda Liz.
"Lo kira gue miskin, nggak sanggup beli makanan," ketus Jel, saat ini dirinya sedang tidak ingin bercanda.
"Jadi pulang nggak?" tanya Ara.
Jel mengangguk kepala.
"Ya sudah, pulang sana," usirnya tanpa melihat wajah Jel yang sudah kesal.
Melihat perdebatan sahabatnya, Rio menghela napas. "Jel, lo disini aja, kita saja yang pergi."
Yang punya pesta siapa, yang pergi siapa, tergeser nih otak teman gue.
"Masa lo yang pergi dari pesta lo sendiri! Apa kata orang-orang nanti," ucap Jel.
"Ya kali, gue keluar dari ruangan ini. Gue pergi itu, mau kesana, menyapa yang lain. Bosan gue lihat muka lo," ujar Rio, ia menunjuk ke arah tamu yang yang lain.
"Berarti gue nggak jadi pergi nih!" tanyanya tanpa dosa.
Alex terkikik geli melihat wajah sang kekasih.
__ADS_1
"Kalau mau pulang, ya pulang! Nggak usah kebanyakan mikir, gue yakin otak lo nggak sanggup mikir banyak-banyak," ledek Liz.
"Lo tadi makan cabe ya! Mulut lo pedas banget, kayak haters yang kurang belaian,"
"Sudah, sudah. Kalian ini sudah pada orang tua juga, hal sepele saja masih diributkan," kata Ryan.
"Iya deh yang orang tua." Alex terkekeh.
"Lo nggak jadi pergi?" tanya Jel kepada Rio, ia bingung melihat pasangan suami istri itu masih setia ditempatnya.
"Kita kesana dulu ya!" kata Rio dengan senyuman dibalas anggukan oleh sahabat-sahabatnya.
Rio dan juga istrinya akhirnya pamit, untuk menyapa tamu yang lain, kedua pengantin itu pun meninggalkan para sahabatnya, sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan semua sahabatnya, tetapi melihat reaksi Iren yang banyak diam membuat dirinya memutuskan pergi dari meja VIP tersebut.
"Kalian merasa nggak sih, kalau pernikahan mereka itu kayak terpaksa gitu," ucap Ara tiba-tiba.
Liz dan Jel mengangguk kepala, sedangkan para pria hanya diam saja, mereka tahu jika para wanitanya pasti mau bergosip.
"Gue perhatikan dari tadi wajah, mbak Iren murung terus, senyumannya juga nggak ikhlas," ujar Jel.
"Mereka menikah tanpa adanya cinta," sahut Liz.
"Lo tahu dari mana?" tanya Ara.
Dengan bangganya Jel menjawab, "Feeling,"
Sontak keduanya tertawa lepas sehingga membuat Jel tertawa juga, mereka tidak sadar jika saat ini sedang berada ditempat umum, ketawa mereka yang keras membuat semua mata memandang mereka, beruntung ketiganya mempunyai sikap acuh terhadap sekitarnya kalau sudah bersama, sehingga yang menanggung malu adalah para pria yang berada didekat mereka.
"Untung sayang," gumam para pria.
Disela-sela tawanya, Ara meledek Jel. "Nggak sia-sia selama ini kita berdua mendidik lo, otak sama batin lo kuat banget sama kata 'malam pertama'.
"Sembarangan, jangan lo cemari otak gue yang polos ini," protes Jel.
"Polos?" tanya Liz dan Ara dibalas anggukan kepala oleh Jel.
"Terserah lo deh," kata Liz mengalah.
"Oh,iya. Bagaimana kalau nanti malam kita hubungi rame-rame tuh si Rio, terus kita tanya deh hubungan keduanya," Ara mengusulkan ide berliannya.
"Sssttt, nggak baik mencampuri rumah tangga orang," celetuk Tommy.
__ADS_1
"Benar, kita sebagai teman hanya bisa mendukung saja, jadi buat para ibu-ibu diharap tenang ya!" sambung Ryan.
"Setuju," ucap Alex sembari mengangguk kepala.
"Kita nggak ikut campur, kita bertiga cuma penasaran sama hubungan mereka," kata Jel memberi pengertian kepada ketiga pria itu.
"Dari pada mencampuri urusan orang, lebih baik kita menyelesaikan masalah kita terlebih dahulu, bagaimana?" usul Alex yang ingin segera memperbaiki hubungannya.
"Nggak mau," tolak Jel.
Gemas dengan jawaban Jel, Ara pun mengeluarkan isi hatinya. "Kenapa? Lo nggak mau baikan atau lo nggak mau menikah sama abang gue. Wah, benar-benar lo jadi sahabat, mau sampai kapan lo tolak Abang gue, nggak kasihan lo lihat Abang gue jadi bujang lapuk terus, padahal kan wajahnya nggak jelek-jelek amat, masih cocok kok dibawa ke acara kondangan,"
"Makin hari lo makin cerewet, tahu nggak?" Jel tertawa kecil mendengar omelan Ara.
"Nggak tahu gue," sahut Liz membuat Jel kesal.
"Gue tanya, Ara, kalau lo lupa," kata Jel.
"Sebut nama dong, supaya gue nggak salah paham," ucap Liz.
"Sebut nama lo aja gue malas banget, apalagi sebut nama si bumil gendut," ledek Jel.
"Dasar teman durhaka," sahut Ara.
"Ini nih, yang buat gue mau balik lagi ke zaman kita pas kuliah dulu, gue rindu sama suasana kita yang bebas bicara dan ketemu tiap hari. Sekarang kita sudah punya kehidupan masing-masing, kehidupan kita yang sekarang, tidak memungkinkan bisa bertemu seperti dulu lagi," ucap Liz.
Mendengar ucapan Liz, air mata Ara lolos diwajahnya yang semakin berisi. "Kalau mau cerita sedih, bilang-bilang dong, gue kan belum ada persiapan untuk menumpahkan air mata gue yang berharga."
"Dasar teman durhaka lo, gue juga ikutan mengeluarkan air mata kan," kata Jel yang menjadi ikut bersedih.
Ara menarik-narik jas yang dikenakan oleh Tommy. "Honey, pinjam jas kamu dong."
Tommy mengernyitkan keningnya dalam-dalam. "Untuk apa?"
"Cairan dari hidung aku mengalir naik turun nih, kalau nggak dikeluarin nanti jadi menumpuk," jawabnya ambigu.
"Yang ada didepan kamu bukan tissue ya?" tanya Tommy lembut.
Ara menepuk jidatnya, kemudian ia menggeleng kepala. "Aku pakai jas kamu aja deh,"
Tommy mengangguk pasrah, siap untuk membuka jasnya tetapi langsung ditahan oleh istrinya. "Kenapa?" tanyanya.
__ADS_1