
"Ara......." panggil Jel ia beranjak berdiri kemudian memegang kedua pipinya.
"Uhukkk...... uhukk......." Ara menatap tajam ke arah Jel karena membuat dirinya tersedak makanan.
Tommy yang melihat itu segera mengambil minuman yang ada didepan istrinya lalu membantu istrinya untuk minum.
"Untung adek gue gak mati tersedak," celetuk Alex sembari tertawa.
"Mau bunuh gue lo." menoyor kepala Jel dengan keras sampai membuat Jel mengadu kesakitan.
Masih memegang kepalanya. "Gue cuma mau bilang, kalau lo itu positif."
Semakin bingung akan perkataan temannya. "Positif?"
Jel mengangguk kepala, ia menatap wajah sahabatnya dengan lekat. "Positif gila," ledek Jel.
"Dasar wanita aneh," kesal Ara.
"Kalau gue aneh, berarti lo lebih aneh dong," ujar Jel.
Kedua pria yang ada didekat mereka hanya menggeleng kepala setiap melihat tingkah konyol wanita yang sangat dicintainya, tidak heran lagi bagi mereka ketika melihat keanehan pasangan masing-masing karena wanitanya sama-sama pecicilan.
"Honey, itu makanan kamu, gak dimakan lagi?" berusaha mengalihkan pembicaraan, ia tahu istrinya tidak akan pernah kehabisan kata-kata untuk membalas sahabatnya karena istrinya orang yang suka berdebat.
"Gak nafsu," ketus Ara.
Tommy yang tidak suka jika makanan terbuang begitu saja segera mengambil makanan istrinya untuk dihabiskan, karena dia tahu diluar sana masih banyak yang belum bisa makan, itu sebab nya Tommy selalu menghabiskan makanan yang ada didepannya, baik itu sisa makanan istrinya. Ketika bersama teman-temannya juga Tommy selalu menegur temannya tersebut untuk mengabiskan makanan yang dimakannya sehingga tidak ada yang tersisa.
"Ra, gue yakin kalau lo itu lagi hamil," kata Jel dengan serius.
"Yang benar?" tanya Ara ragu.
Jel mengangguk kepala berusaha meyakinkan temannya. "Lo ada test pack kan dirumah! nanti sepulang dari sini. Lo coba terus hasilnya nanti kabari gue," tutur Jel.
Ara yang tidak yakin kalau dirinya sedang mengandung langsung mengalihkan pandangan nya kepada sang suami, Tommy mengangguk kepala meyakinkan istrinya supaya tidak ragu. Beberapa tahun ini memang Ara selalu menyimpan test pack didalam kamar mereka karena beberapa tahun ini juga Ara selalu memakai test pack tersebut, sehingga membuat dirinya sering kecewa tetapi suaminya selalu memberi semangat kepada istrinya untuk tidak pernah menyerah.
__ADS_1
"Semoga hasilnya positif," gumam Alex berharap perkataan kekasih nya yang menebak adik tercintanya sedang mengandung itu memang benar.
"Nanti kalau lo udah punya anak, gue dan bang Alex pasti jaga anak lo kok, Ra. Terus lo sama kak Tommy bisa kerja dengan tenang," ungkap Jel bahagia membayangkan jika suatu hari nanti menjaga keponakannya.
"Belum tentu gue hamil," lirih Ara pelan menundukkan kepala membuat air matanya keluar mengingat dirinya sampai sekarang belum dikarunia seorang anak.
Tommy yang melihat istrinya sedang bersedih langsung memeluk istrinya dari samping sembari mengecup kening istrinya. "Jangan sedih ya! kita serahkan semuanya sama, Tuhan. Semua indah pada waktunya," lirih Tommy membelai rambut Ara.
Ara mengangguk kepala, ia melepaskan pelukan suaminya. Dihapusnya sisa-sisa air mata yang ada diwajah mulusnya. "Lama bangat sih sore, aku kan pengen main air." Ara menatap ke arah pantai dan ingin sekali memegang air yang ada dipantai tersebut.
Alex terkekeh melihat adiknya, baru juga sedih tetapi sekarang sudah ceria hanya karena melihat air pantai saja. "Sebentar lagi dek, kamu main gitar aja dulu supaya gak bosan menunggu sore hari."
Tommy mengambil gitar yang ada disamping istrinya lalu memainkan alat musik yang terbuat dari kayu tersebut, ia menyanyikan lagu kesukaan istrinya sehingga membuat Ara ikut bernyanyi sedangkan pasangan yang ada didepannya hanya menatap orang yang ada didepannya sembari senyum-senyum.
Seusai bernyanyi dan mengobrol tidak terasa sudah sore hari, Ara yang sudah tidak sabar bermain air langsung menarik tangan Tommy ke pinggiran pantai. Melihat suaminya hanya berdiri dipinggiran pantai saja tanpa berniat untuk bermain air membuat ara menciprat air pantai ketubuh suaminya. Tommy yang terkena cipratan air menghampiri istrinya untuk membalas dengan cara menggelitiki perut istrinya.
Tawa Ara yang menggelegar membuat Alex dan Jel yang sedang duduk dikursi pantai menghampiri pasangan tersebut serta ikut bermain bersama.
Sudah berjam-jam mereka habiskan waktu di pantai membuat Ara menghela nafas lelah karena kecapekan berlari, mereka bertiga sekongkol megerjai Ara, membuat Ara berlari kesana kemari, tubuhnya juga sudah penuh pasir karena mereka berempat saling melempar pasir sewaktu bermain.
Alex menatap lekat wanita yang ada disampingnya dimana sekarang sudah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun. "Will you marry me?" tanya Alex membuat Jel menoleh kepadanya.
Jel hanya terdiam.
Ara yang mendengar lamaran abangnya langsung mengambil posisi duduk, tawa Ara membuat Alex menatap kesal adiknya, dirinya serius mengajak kekasihnya untuk menikah tetapi adiknya seperti membuat bahwa dirinya hanya sebuah lelucon saja, Tommy yang sangat tahu perasaan sahabatnya saat ini hanya diam saja tidak berani untuk meledek seperti istrinya.
"Dek...." panggil Alex dengan wajah kesal.
"Honey...." tegur Tommy supaya istrinya menghentikan tawanya.
"Aduh perut aku sampai sakit, hahahah." tawa Ara semakin membuat Alex kesal tangannya saat ini sedang memegang perut karena lelah tertawa.
Mereka bertiga mengambil posisi duduk sama seperti Ara, mereka menunggu Ara sampai menghentikan tawanya.
"Iya,iya," ucap Ara melihat tatapan mereka bertiga. "Abang gak romantis," sambung Ara.
__ADS_1
"Abang udah capek buat momen romantis, mana tahu hari ini disaat gak romantis seperti ini abang langsung diterima," lirih Alex.
Memang benar sudah berulang kali Alex menyiapkan momen romantis untuk melamar kekasihnya, bukannya kata terima yanh didengar malahan kata penolakan, pernah suatu hari dirinya membuat lamaran yany tak terlupakan oleh seorang wanita sampai mengundang kedua orang tua Jel, tetapi hal itu membuat Jel marah besar karena dia telah mengundang ayah dari perempuan yang dicintainya, mulai dari kejadian itu Alex tidak berani lagi membuat lamaran romantis untuk kekasihnya.
Jel yang mendengar perkataan Alex hanya diam saja, ia tidak berani untuk membuka suara. Ara yang mengerti tentang keadaan Jel saat ini merasa kasihan terhadap sahabatnya itu, dia tidak ingin menunjukkan rasa kasihannya karena Jel sangat tidak suka dikasihani orang.
Mulai mereka menjadi sahabat Ara sangat mengerti tentang Jel walaupun terkadang mereka berdebat tetapi itu hanya sebatas lelucon saja tidak lebih. Bahkan Ara sangat mengetahui tentang keluarga sahabatnya.
"Kalian belum makan kan! makan yuk." ujar Ara sengaja mengganti topik dan mengingat kalau hanya dirinya saja tadi yang makan dengan suaminya.
Mereka bertiga mengangguk kepala dan beranjak berdiri menuju hotel untuk membersihkan diri masing-masing.
Setelah membersihkan tubuh mereka keluar dari kamar hotel, kebetulan perut mereka masing-masing sudah lapar ingin menyantap makanan yang telah disiapkan oleh pihak hotel keluarga William Group.
Ketika makan mereka semua menikmati makanan yang telah disediakan dalam diam tidak ada yang berani membuka suara semenjak kejadian dipantai itu, semua orang merasa canggung tidak berani untuk memulai pembicaraan.
Ara yang tidak tahan dalam keadaan diam akhirnya membuka suara. "Makanan nya enak-enak ya!" mencomot makanan yang ada dipiring suaminya, tatapan mereka bertiga tidak dihiraukan Ara ia menikmati makanan dengan wajah bahagia.
"Dasar aneh," seru Alex terkekeh tidak habis pikir dengan adiknya yang satu ini.
"Bang, bagi makanan," ujar Ara memelas menatap makanan yang sedang dinikmati abangnya.
"Astaga," Alex menggeleng kepala mendengar permintaan adeknya sembari memberi makanannya.
Ara hanya cengengesan. "Lo gak mau kasih makanan juga sama gue," kata Ara melihat Jel yang hanya diam saja menikmati makanannya. Sebenarnya Ara sengaja meminta makanan mereka karena ingin memecah kehening yang sedang terjadi.
Jel hanya menatap Ara sekilas tanpa menghiraukan permintaan temannya.
"Honey..." Ara mengadu kepada Tommy berharap membantunya untuk meminta makanan sahabatnya, ia pasang wajah sesedih mungkin membuat matanya berkaca-kaca.
Tommy yang tidak tega melihat istrinya berusaha membujuk sahabatnya. "Jel, kakak minta tolong sama kamu, makanannya dibagi ya untuk, Ara." Tommy berbicata hati-hati.
Jel yang geli mendengar suami temannya sampai minta tolong hanya tertawa kecil. "Dasar tukang ngadu," celetuk Jel memberikan makannya.
"Biarin, wlek." Ara menjulurkan lidahnya kepada sahabatnya membuat Alex yang ada disamping Jel terkekeh geli melihat kelakuan adiknya.
__ADS_1
Akhirnya semua kembali ke semula sehingga tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Akhirnya mereka terpisah dilobby hotel sehingga mereka pulang dengan keadaan tubuh yang sudah lelah.