Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Lupa


__ADS_3

Akhir-akhir ini Ara semakin sibuk, ditambah sering pulang malam bahkan tidak pulang karena jaga malam di rumah sakit, tetapi sesibuk apa pun Ara, hal itu tidak membuat dirinya lepas tanggung jawab sebagai seorang istri.


Selesai melakukan tugasnya di rumah sakit, Ara segera pulang ke rumah nya, menggunakan kendaraan pribadinya. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 08.30 PM. Dengan perut yang lapar, menahan rasa kantuk, Ara mengendarai mobilnya dengan hati-hati supaya tidak terjadi hal yang tidak diingkan selama mengendarai kendaraanya.


Sesampainya di rumah, Ara bingung melihat beberapa kendaraan yang sangat dikenal nya terpakir di halaman rumahnya, ketika masuk kedalam rumah, Ara mendengar suara tawa dari arah ruang tamu, di langkahkan kakinya menuju ruang tamu, dugaannya benar, ternyata yang datang ke rumahnya adalah orang-orang yang sangat di sayangi. Ara menjadi kesal, lagi-lagi dirinya tidak mengetahui tujuan semua orang berkumpul di rumah nya.


"Ada acara apa?" tanyanya sehingga menghentikan suara tawa tersebut semua orang memandang Ara yang baru saja datang.


Ara mendekati suaminya lalu berbisik. "Kenapa semua orang berkumpul?" Tommy hanya tersenyum membalas pertanyaan sang istri. "Ih, aku nanya malah senyum lagi." Ara menghentakkan kaki nya.


"Salam dulu kek," ketus Alex melihat tingkah adeknya yang tidak menyadari situasi saat ini.


Ara mengabaikan perkataan sang abang, memilih mengucapkan salam, lalu menyalami suami, kedua orang tua dan mertuanya.


"Kenapa lama pulang?" tanya Alex.


"Hah?" Ara bingung dengan pertanyaan sang abang, tumben-tumbenan abangnya bertanya seperti itu.


"Adek, silahkan duduk!" ucap Papa Ara seperti mempersilahkan tamunya yang sedang berkunjung ke rumah nya.


Ara duduk disamping sahabatnya, lalu menyenggol lengan Jel seperti meminta penjelasan, Jel yang gemas sendiri dengan kebingungan Ara memilih mengabaikannya.


"Kamu mandi dulu, Nak! lalu turun kebawah untuk makan! Mama dan Mama kamu tadi sudah masak untuk kita semua, tinggal kamu yang belum makan, nanti ditemani sama suami kamu ya!" tutur Mama Tommy.


"Nanti saja Ma,"


Melihat wajah menantunya seperti kelelahan, membuat Papa Tommy tidak tega dengan Ara. "Menantu Papa pasti capek ya?"


"Enggak kok, Pa!" jawab Ara lembut.


Ara merasa canggung melihat semua orang yang memandanginya, tidak mengerti akan situasi saat ini. "Oh, iya, ada acara apa? makanya semua berkumpul!" mencomot makanan yang ada di atas meja, Ara sempat mengernyitkan keningnya melihat kue ulang tahun yang ada di depannya tetapi karena lapar Ara mengabaikannya.

__ADS_1


Jel menyenggol lengan Ara, tidak habis pikir melihat temannya yang santai di hari ulang tahun sang suami, Jel membisikkin sesuatu kepada Ara sehingga membuat dirinya terkejut. "Ini acara ulang tahun suami lo."


"Astaga," gumamnya lalu melihat ke arah Tommy yang memperhatikan dirinya sedari tadi. "Suami Ara ulang tahun ya?" tanyanya tanpa dosa.


"Ponsel kamu gak berguna ya, Ra?" Alex yang sudah kesal dengan adiknya tidak lagi bisa menahan rasa kesalnya, mulai dari sore Alex dan yang lainnya sudah menelfon Ara berkali-kali, untuk merencanakan kejutan ulang tahun Tommy, tetapi Ara sama sekali tidak mengangkat atau membalas pesan dari mereka.


"Ponsel adek mode diam," ucapnya santai sembari mengambil beberapa makanan lagi yang ada di meja lalu menyantap makananya, dengan pandangan semua orang yang tertuju kepadanya.


Papa Ara hanya bisa menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan putri nya yang sudah menikah masih bersikap semaunya, bagaimana bisa putrinya santai dengan keadaan saat ini apalagi didepan mertuanya, papa Ara sempat malu akan tingkah Ara yang sedari tadi bersikap acuh, malah memilih makananan dari pada mengucapkan sesuatu kepada sang suami.


"Ara," panggil papa Ara.


Ara hanya berdehem, masih memakan makanan yang tersedia di atas meja.


"Ara, kamu tahu kue ulang tahun yang ada didepan kamu itu! punya siapa?" sindir papa Ara.


"Wah, kuenya besar, boleh di coba nih," ujar Ara mengambil beberapa potongan kue kedalam piring kecil yang sudah tersedia dimeja itu.


Mama Ara yang mengetahui kalau suaminya sedang marah, menyentuh lengan sang suami lalu mengusapnya naik turun.


"Ih, Papa," kesal Ara


"Nih anak masih bisa makan!" celetuk Liz pelan tetapi masih didengar orang yang di dekatnya.


"Keterlaluan kamu, Ara." suara Papa Ara yang meninggi membuat semua orang terkejut, mendengar bentakan dari Papa Ara, mereka yang mengetahui Papa Ara yang humoris dan juga lembut dalam berbicara. Semua terkejut begitupun dengan Ara, diletakkan nya makanan yang ada di tangan nya di atas meja.


"Kenapa bentak adek?" tanya Ara pelan dengan perasaan takut.


"Kamu tahu apa kesalahan kamu? Hah?" kesal papa Ara.


"Sudah! tidak usah ditegur seperti itu, Ara masih lapar jadi biarkan dia makan dulu!" tutur papa Tommy melihat menantunya yang gugup.

__ADS_1


Papa Ara hanya membalas perkataan besannya dengan senyuman.


"Honey....." Ara mengadu kepada Tommy seperti meminta penjelasan tetapi Tommy hanya menampilkan senyum kecut.


"Manja," ketus Alex.


"Papa tidak habis pikir dengan kamu Ara! bisa-bisanya kamu masuk ke dalam rumah dengan santainya, lalu mencomot makanan yang ada di meja, apa kamu buta! sehingga tidak melihat kue ulang tahun yang ada didepan kamu, jelas-jelas di atas kue itu ada nama suami kamu," omel papa Ara.


Ara terkesiap tidak habis pikir dengan dirinya, memakan kue ulang tahun yang ada di atas meja, padahal dirinya tidak menyadari kue ulang tahun itu untuk suaminya sendiri. dengan perasaan rasa bersalah dan juga malu, Ara memilih menundukkan kepalanya dengan meremas kedua tangannya.


Tommy yang tidak tega melihat sang istri yang ketakutan seperti itu langsung mendekati sang istri dan berjongkok didepannya. "Kenapa menunduk? Hm?" mengangkat kepala sang istri, Ara mengggit bibir bawahnya memandang bola mata Tommy yang bulat. "Kenapa?" tanya Tommy sekali lagi.


Ara menggeleng kepala, matanya sudah berkaca-kaca, air matanya sudah siap untuk meluncur dipipi mulusnya.


"Are you oke, hm?" lirih Tommy mengusap kedua punggung tangan sang istri, mengecupnya secara bergantian.


Ara mengangguk kepala, sesekali dirinya melirik sang Papa yang sudah marah akibat kebodahan yang telah dilakukan didepan keluarganya.


"Kamu pasti lapar! kita makan ya?" ajak Tommy.


Lagi-lagi Ara menggeleng kepala, Papa Ara yang tidak tega melihat putri kecil nya diam saja setelah dibentak menjadi merasa bersalah.


"Adek....." panggil papa Ara melihat putri kecilnya kembali menunduk. "Maaf, Papa sudah bentak adek!" lirih Papanya yang tidak tega melihat wajah ketakutan sang putri.


Tommy memilih duduk disamping Ara lalu memeluk sang istri dari samping, sesekali mengecup rambut sang istri.


"Adek, sini sayang." Papa Ara merentangkan kedua tangan nya, Ara yang menyadari itu berjalan ke arah papanya memeluknya dengan erat, ditumpahkan semua air mata yang di tahannya sejak tadi dipelukan sang Papa.


Papa Ara membelai rambut putri kecilnya lalu mendaratkan kecupan di kepala putri tercintanya.


"Maafkan, Papa yah!" ucap nya lembut dibalas anggukan kepala oleh Ara.

__ADS_1


"Adek...."


__ADS_2