
*** **Hai, readers yang baik hati dan budiman. Maaf ya! baru bisa up. Ada sesuatu hal yang harus dilakukan dikehidupan nyata, itu sebab nya, beberapa hari ini diriku tidak bisa up.
#Terima kasih. 🤗
*Happy Reading***
***
Tommy sudah selesai dengan semua berkas-berkas yang telah dikerjakannya. ia merentangkan kedua tangannya ke udara sembari menggerakkan tubuh atletisnya ke kanan dan ke kiri. Dipijatnya bagian leher yang terasa sakit karena kelelahan.
Tidak sengaja mata elangnya, menangkap sosok istri yang dirindukan setiap saat, Tommy menggeleng kepala seraya tersenyum, memperhatikan sang istri yang tertidur dengan posisi tidur yang sering dilakukan.
"Pantas saja tidak bersuara."
Ara yang tertidur, meletakkan ponsel diatas perutnya dan salah satu kakinya sudah turun menyentuh lantai, kedua tangannya diangkat ke atas kepala, Ara memang tidak feminim saat tidur, bahkan ketika berbicara saja sudah bisa dipastikan, kalau dia adalah wanita pecicilan.
Tommy menghembus napas pelan, istrinya ini selalu saja membuat dirinya khawatir, Tommy bergedik ngeri, saat membayangkan posisi tidur Ara yang sedang hamil besar, ia merasa harus selalu waspada terhadap istrinya yang sedang hamil.
Diambilnya ponsel tersebut, lalu diletakkan diatas meja dekat sofa kemudian ia membenarkan posisi tidur Ara dengan hati-hati. Ara yang tertidur merasa terusik, ia langsung membuka mata seraya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kenapa membangunkan ku?" kata Ara dengan suara khas baru bangun tidur.
"Maaf, aku hanya membenarkan posisi tidur mu," lirih Tommy, ia berjongkok didekat istrinya.
"Kamu menyebalkan, aku mengantuk," rengek Ara.
"Tidur lagi ya!" Tommy menepuk-nepuk paha Ara dengan pelan, ia berharap Ara segera tidur.
Ara menggeleng kepala, ia mengambil posisi duduk. Beberapa kali Ara mengucek matanya untuk membenarkan panglihatannya. Dilihatnya ke sembarang arah untuk memastikan tempat yang ia duduki saat ini. "Kita masih di perusahaan kamu?"
Tommy tersenyum, ia juga mengikuti Ara yang duduk diatas sofa. Ia merapikan rambut Ara yang tampak berantakan.
"Ayo, kita pulang."
Tanpa dosa, Tommy bertanya. "Pulang kemana?"
Ara hanya diam saja.
"Ke rumah kita?" tanya Tommy lagi.
"Aku rindu, Mama," lirih Ara tiba-tiba.
Tommy yang peka dengan sang istri langsung mengetahui, kalau istrinya itu pasti ingin ke rumah kedua orang tuanya. Dengan sengaja Tommy menggoda Ara. "Telepone saja."
__ADS_1
Ara menggeleng-geleng kepala. "Aku mau ketemu langsung sama, Mama."
Melihat wajah Ara yang penuh harap, membuatnya semakin menggoda Ara. "Mama, lagi di luar negeri."
Ara mengernyitkan keningnya dalam-dalam, setahunya, kedua mertuanya itu baru pulang beberapa hari yang lalu. Bagaiman bisa! Suaminya itu mengatakan kalau mertuanya tidak berada di rumah. Ya, setiap Papa Tommy mengadakan perjalanan bisnis ke luar kota ataupun ke luar negeri, sang Papa selalu mengajak Mamanya untuk ikut menemaninya.
"Kita pulang ke rumah kita saja ya! Lain kali kita main ke rumah Mama," sambung Tommy.
"Tapi, aku rindu banget sama, Mama," kata Ara dengan suara bergetar.
Tommy yang melihat istrinya yang hampir menangis hanya bisa menghembus napas pelan. "Iya,iya. Ayo kita ke rumah, Mama."
Setiap Ara hendak menangis, Tommy menjadi kalang kabut. Ia tidak tega melihat air mata Ara meluncur di wajah mulus sang istri.
Ara tersenyum penuh kemenangan, ia tahu kalau suaminya sedang menggoda dirinya, ia pun mengeluarkan jurus andalannya yaitu mengeluarkan air mata palsu.
"Kita nanti mampir sebentar ke tempat penjual nasi goreng ya! Aku pengen makan nasi goreng." Ara beranjak dari duduknya seraya menyandang tas kecilnya.
Tommy mengangguk kepala, ia berjalan ke arah meja kerjanya untuk merapikan berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja. Dipakainya Jas yang diletakkan di sandaran kursi kebanggaannya dan mengambil tas kerjanya.
Tommy berjalan ke arah istrinya, ia mengaitkan jemarinya ke jemari sang istri. "Ayo."
Ara melirik sekilas ke arah suaminya. "Oh,iya. Nanti ingatkan aku untuk mampir ke toko cake yang di dekat rumah, Mama ya!"
"Terus, nanti kita ..."
"Iya, semua permintaan kamu! Aku turutin." Tommy mengacak rambut Ara dengan salah satu tangannnya.
"Ih, aku kan belum selesai bicara." Ara mencubit bagian perut Tommy dari samping.
"Dari tadi kamu sudah banyak bicara."
"Ck, kamu menyebalkan." Ara hendak melepaskan genggaman Tommy, tetapi langsung ditahan oleh suaminya,
"Kamu lebih menyebalkan," balas Tommy.
Mereka yang sedang berdebat menuju tempat parkiran, tidak luput dari pandangan karyawan yang telah melewati mereka, siapapun yang melihat akan mengira kalau kedua pasangan itu adalah pasangan teromantis yang pernah ada, padahal tidak. Mereka lebih banyak berdebat dari pada kisah romantisnya.
"Kenapa kamu selalu menjawabku!" ketus Ara.
"Karena kamu selalu berbicara kepadaku."
Ara yang gemas sendiri merasa kehabisan kata-kata, gemas dengan jawaban Tommy yang selalu ada, membuat Ara melepaskan tangan yang sedang digenggam oleh Tommy, Ara menggelitiki perut Tommy, sehingga membuat Tommy tertawa karena kegelian.
__ADS_1
"Menyebalkan, kamu menyebalkan," kata Ara masih menggelitiki perut Tommy.
Mereka yang berhenti di dekat tempat parkiran masih dilihat oleh beberapa karyawan.
"Aduh, geli, sudah dong," permintaan Tommy tak dihiraukan Ara. "Ampun ... Iya,ya. Aku janji tidak akan menjadi suami yang menyebalkan."
"Janji ya!" Ara menghentikan tangannya.
"Hari ini aku akan janji."
"Seterusnya," ketus Ara tidak terima.
"Istri cantik ku, kamu sangat menggemaskan." Tommy mencubit pipi Ara dengan perasaan gemas.
"Dasar gembel."
"Gombal, Honey."
Ara hanya cengengesan, ia merasa tidak bersalah.
Pasangan suami istri tersebut sudah sampai di parkiran, mereka masuk ke dalam mobil. Didalam mobil Ara tidak berhenti berbicara, ia selalu bercerita. Hal itu membuat Tommy mengangguk kepala dan sesekali menanggapi cerita sang istri.
Istrinya itu memang selalu ada saja topik untuk mengobrol, sehingga dalam perjalanan jauh sekalipun, terasa cepat jika bersama dengan Ara. Segala tingkah konyol yang diceritakannya mampu membuat seorang Tommy selalu tertawa, tidak heran jika ia menjadi banyak bicara.
Ara sudah terbiasa dengan suaminya yang menjadi pendengar setia, tetapi entah kenapa! Ia merasa jengkel dengan respon Tommy. "Dari tadi kamu senyum, mengangguk kepala, berbicara seperlunya saja. Kamu dengar cerita ku kan!"
"Kapan sih aku tidak mendengarkan mu?" tanya Tommy yang fokus melihat arah jalanan.
"Kamu cerita dong! Masa aku saja yang cerita terus menerus." Ara protes, sedari tadi memang hanya dirinya saja yang berbicara sehingga membuat dirinya kehausan.
Diambilnya botol minuman, yang diletakkan di drink holder yang terdapat di mobil suaminya.
"Tidak ada topik yang ingin aku ceritakan," singkat Tommy.
"Kenapa tidak ada?" Setelah melepas dahaga, Ara meletakkan kembali botol minuman itu ke tempat nya.
Tommy menoleh ke arah istrinya sebentar kemudian fokus dengan kemudinya. "Semenjak hamil kamu semakin menggemaskan."
Dengan santainya Ara bertanya. "Menggemaskan atau menyebalkan?"
"Aku jawab salah satunya atau bagaimana?"
"Satu dong. Memilih pasangan saja tidak boleh lebih dari satu, masa iya, kamu pilih keduanya."
__ADS_1