
"Kak ..." panggil Jel.
"Kenapa?" tanya Alex, ia dapat melihat ada keraguan diwajah sang kekasih.
"Aku mau ngomong,"
"Kalau bilang mau ngomong aku nggak kaget, tapi, kalau kamu bilang aku 'mogok ngomong', baru tuh, aku kaget,"
Jel menggeleng kepala, ia serius untuk berbicara kepada sang kekasih, tetapi ditanggapi dengan candaan.
"Mau ngomong apa?" tanyanya.
"Kamu jangan marah ya!"
"Marah? Kamu mau selingkuh dari aku!"
"Nggak nyambung, siapa yang mau selingkuh coba, punya satu pacar aja sudah membuat diriku pusing, apalagi bertambah, aduh ... Nggak kebayang aku," omel Jel.
"Makanya jangan dibayangin, cukup aku saja yang ada dipikiran kamu," santai Alex.
"Ih, nggak jadi-jadi kan aku ngomong, kamu selalu bercanda, ini serius lho," gerutu Jel.
"Serius? Coba kasih lihat aku wajah serius kamu, sedari tadi aku hanya melihat muka manis kamu, tuh," canda Alex semakin membuat Jel kesal.
"Aku mau pulang, malas aku ngomong sama kamu, padahal kan aku jarang banget serius, tiba serius diajak bercanda gitu, siapa nggak kesal coba,"
"Iya, iya. Begitu saja marah,"
"Udah ah, bete aku,"
"Maaf ya! Maaf, kali ini kita serius, oke!"
Jel hanya diam saja.
"Kamu mau bilang apa?" tanyanya serius.
"Kali ini nggak ada acara bercanda lagi kan?"
Alex mengangguk kepala.
__ADS_1
"Kalau seandainya kita tidak ditakdirkan berjodoh, bagaimana?" lirih Jel dengan tatapan sendu.
Alex tidak tahu harus menjawab apa, ia juga bingung dengan hubungan yang sedang dijalani dengan kekasihnya, melihat hubungan yang hanya berjalan ditempat saja membuat dirinya sering bertanya, apa bisa hubungan mereka dilanjut, atau hubungan kedua nya berhenti sampai disini saja.
Ia akui dirinya sangat mencintai gadis ceroboh yang hampir serupa dengan adiknya, belasan tahun dirinya diwarnai dengan tingkah konyol dan tawa bahagia dari sang kekasih.
Memang benar semua diserahkan sama yang diatas, tetapi, apakah dirinya sanggup jika tidak berjodoh dengan kekasihnya, dan Tuhan lebih memilih jodoh yang lain untuk dirinya.
"Kak ..." panggilnya lagi.
"Iya," sahut Alex yang sadar dari lamunannya.
"Kamu lagi mikirin apa sih?" tanyanya penuh selidik.
"Aku memikirkan hubungan kita, aku bingung untuk menjawab pertanyaanmu."
Mendengar ucapan Alex, Jel tertunduk, ia juga tidak tahu harus melakukan apa demi kelanjutan hubungannya.
"Sudahlah, kita jalani saja dulu, selebihnya kita serahkan sama yang diatas," sambungnya lagi.
Jel mengangguk kepala.
"Hey, lihat apa sih dibawah sana, ada koin jatuh ya?" goda Alex.
Alex tertawa kecil, ia selalu gemas karena telah berhasil menggoda sang kekasih. Disela tawanya, Alex teringat dengan sesuatu.
"Ehm, bagaimana kabar Papa?" tanyanya hati-hati. Sudah berapa hari ini ia tidak menghubungi Papa Jel karena banyaknya pekerjaan, dan tanpa sepengetahuan Jel juga, Alex sering menghubungi Papa Jel.
Hening ...
Hening ...
Jel menatap Alex dengan tatapan kosong, ia selalu malas membahas tentang Papa nya, sering sekali Alex bertanya atau mengajak dirinya untuk berkunjung ke rumah Papa nya tetapi selalu ditolak. Jel belum siap berbicara kepada Papa nya, apalagi sekarang Papa nya selalu bersama istri muda dan juga anaknya.
Alex yang ingin membuat Jel berdamai dengan masa lalunya tidak pernah menyerah, berbagai cara selalu dilakukan, supaya Anak dan Ayah itu bisa mengobrol dan membahas masalah yang terjadi selama beberapa tahun ini.
Belum mendapat jawaban apapun, Alex menyentil kening Jel supaya gadis itu tidak hanya diam saja. "Kebiasaan, kalau ditanya pasti diam."
Jel mengusap-usap kening nya, ia selalu kesal dengan sentilan Alex.
__ADS_1
"Papa apa kabar?" tanyanya sekali lagi.
Jel mengedikkan bahunya, ia pura-pura tidak peduli. Jauh dilubuk hati nya yang paling dalam, ia merindukan sosok Ayah yang selalu ada buat keluarga, ketika Papanya belum menikahi istri mudanya. Didepan orang lain ia bisa berbohong, tetapi tidak didepan Alex karena sang kekasih sangat mengetahui sifat Jel.
"Kamu nggak cocok jadi pembohong hebat," seru Alex dengan wajah datar.
Jel tersenyum getir. "Ketahuan banget ya!"
"Kamu nggak rindu sama, Papa? Kapan kamu bisa berdamai dengan masa lalumu?" tanyanya, masih memasang wajah datar.
"Aku rindu," gumamnya, tetapi masih bisa didengar Alex.
"Kalau rindu? Kenapa nggak pernah bicara langsung,"
"Aku nggak yakin sama diriku sendiri, Kak,"
"Babe, masalah itu dihadapi bukannya dihindari, sudah berapa tahun kamu menghukum, Papa. Apa kamu pikir mendiamkannya sampai bertahun-tahun bisa membuat Papa bahagia dengan sikap yang kamu tunjukan ke Papa selama ini," Alex selalu memberi pengertian kepada Jel, ia berharap kali ini kekasihnya tidak mengandalkan keegoisannya.
"Iya aku tahu, aku salah, aku egois, nggak sepantasnya anak durhaka kaya aku dapat diperhadapkan dengan masalah seperti ini," kata Jel menyalahkan diri sendiri. Ia juga bingung dengan hati dan logikanya yang tidak sejalan.
"Kamu bukan maling kundang yang bisa dikatakan sebagai anak durhaka, kamu hanya seorang anak yang belum bisa berdamai dengan masa lalu kamu saja, coba pelan-pelan berbicara dengan, Papa. Aku yakin kamu pasti bisa."
Jel menghela napas, ia masih belum bisa menerima usulan sang kekasih. "Kata 'memaafkan' itu, tidak seperti ketika kita mudah mengucapkannya,"
"Iya, tapi hal itu bukanlah alasanmu untuk sulit memaafkan kesalahan orang lain. Terkadang kita harus memahami bahwa semua orang pasti pernah berbuat salah, termasuk dirimu," tegas Alex.
"Sekalipun dia berbuat hal yang sangat fatal!" Jel mengatakannya dengan suara bergetar, bahkan menyebut kata 'Papa' saja ia tidak sanggup.
Alex dapat merasakan kesakitan yang dialami Jel, ia tidak tega melihat kekasihnya yang menahan air matanya untuk tidak keluar, dirinya selalu berusaha tegar didepan orang sekitarnya.
"Aku saja sampai lupa punya Papa atau enggak," ia mengalihkan pandangannya ke sembarangan arah supaya Alex tidak dapat melihat bahwa dirinya telah menghapus air mata yang tiba-tiba keluar. "Menyebut panggilan itu saja, aku benar-benar nggak tahu lagi," sambungnya.
Alex diam saja, ia semakin sesak mendengar penuturan Jel, dirinya tidak sanggup melihat penderitaan sang kekasih.
Melihat Alex tidak ada respon sama sekali, membuat dirinya kesal. "Kenapa diam? Kasihan sama aku? Aku nggak butuh rasa kasihan kamu, aku masih punya Tuhan yang mampu menguatkan aku,"
"Kalau kamu punya Tuhan, kenapa tidak mau merendahkan hati, untuk memafkan orang yang telah melukai hatimu," seru Alex dengan lembut.
Skak matt, Jel tidak bisa menjawab. Ia seperti tersesat diladang ranjau, tetapi tidak bisa bergerak sama sekali, perkataan yang dikeluarkannya seolah-olah senjata yang mematikan bagi dirinya.
__ADS_1
Jel menelan salivanya berulang-ulang, sesekali ia berdehem.
"Babe, apa sesulit itu untuk memaafkan, apa nggak ada kesempatan kedua untuk, Papa kamu," katanya serius.