Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Tugas Istri


__ADS_3

Sebulan kemudian


Tommy dan Ara kembali ke rutinitas masing-masing. Sebelum bekerja, Ara akan melakukan tugasnya sebagai seorang istri, ia memasak dan menyiapkan pakaian suaminya lalu membangunkan sang suami.


Ara kesal sendiri karena Tommy tidur seperti mayat, ditariknya tangan suaminya tetapi tidak ada reaksi sama sekali lalu Ara mengeluarkan jurus jitu. "Bangun sekarang atau tidur diluar nanti malam," teriak Ara membuat Tommy kalang kabut.


Tommy langsung bangun dan mengambil posisi duduk sembari meregangkan otot-ototnya.


"Mandi sekarang atau tidak sama sekali!" kesal Ara.


Tommy langsung menuju kamar mandi, Ara mengeleng kepala melihat tingkah Tommy setiap pagi.


Sebelum menikah, Tommy selalu bangun cepat supaya bisa olahraga terlebih dahulu, berbeda dengan sekarang Tommy akan melakukan olahraga pada malam hari tetapi jika sudah terlalu larut pulang ke rumah maka dirinya melakukan olahraga pada pagi hari, Tommy sangat menjaga tubuhnya itu sebabnya dalam sehari harus berolahraga.


Selesai membersihkan diri Tommy menyusul Ara ke meja makan, ia memperhatikan wajah sang istri yang pucat karena kelelahan, bagaimana tidak kelelahan istrinya sangat keras kepala, berulang kali ditawarkan untuk mempekerjakan asisten rumah tangga, selalu ditolak oleh Ara sehingga berakhir dengan perdebatan.


"Kamu sakit?" memegang dahi istrinya.


"Enggak." malas Ara masih menata makanan.


"Wajah kamu pucat bangat!" khawatir Tommy melihat istrinya yang lemas.


"Aku lapar, makanya pucat. Sarapan yuk!" ajak Ara mengalihkan topik


"Honey, kita sewa asisten rumah tangga ya! aku gak tega lihat kamu, karena kamu juga pasti capek dari rumah sakit." masih memperhatikan Ara yang menyendokkan nasi goreng ke piring Tommy.


"Aku kan udah bilang sama kamu! kalau aku sanggup mengerjakan semua." memberikan sarapan kepada Tommy.


"Aku gak mau kamu capek."


"Lebay kamu, semua ini sudah menjadi tugas aku sebagai istri kamu." Ara menggerutu terhadap sikap suaminya yang berlebihan.


"Ta....." ucapannya terpotong.


"Udah deh, jangan mulai. Aku lagi malas debat sama kamu."


Jika Ara sudah berbicara seperti itu Tommy hanya bisa diam, lalu mereka berdua makan dengan hening.


"Ehmm, Gak usah naik motor ya! kamu aku antar aja." Tommy sengaja berdehem untuk memulai pembicaraan yang terasa canggung, menurutnya.


"Bukannya kamu ada meeting ya?"


"Bisa aku undur." ucapanya santai.


"Selalu gitu deh, berapa kali lagi aku bilang. Kamu itu seorang pemimpin, kasih contoh yang baik buat karyawan kamu," kesal Ara.


"Aku gak mau kamu naik motor! aku takut terjadi apa-apa sama kamu, aku antar ya, sayang!" bujuk Tommy.


Ketika koas di dekat rumah, Ara lebih memilih naik motor ke rumah sakit karena jaraknya yang dekat dan juga menghindari kemacetan.


"Gak usah berlebihan deh," kesal Ara.


"Yaudah, kita jangan berdebat lagi, kita ambil jalan tengahnya saja, kamu berangkat naik mobil kamu yang di garasi! tidak usah pakai motor."

__ADS_1


"Naik motor itu menghemat waktu," ketus Ara menatap tajam ke arah Tommy.


"Kamu bisa gak! turutin perkataan aku?" tanya Tommy lembut tetapi wajahnya sudah tidak bersahabat untuk mengatakan itu.


Ara yang mengetahui jika suaminya dengan wajah datar pasti karena marah, Tommy memang memarahi Ara selalu dengan nada lembut tetapi wajahnya datar-datar saja seperti aspal.


"Aku naik motor saja ya, ya," bujuk Ara memasang wajah imut.


Tommy hanya mengangguk kepala karena melihat reaksi sang istri. Ia tidak mempunya alasan untuk menolak permintaan Ara.


Sesudah sarapan, mereka berangkat ketempat tujuan masing-masing, Ara berpamitan dengan memeluk Tommy terlebih dahulu lalu mencium punggung tangan suaminya, dibalas Tommy dengan kecupan dikening istrinya.


Tempat Ara koas searah dengan perusahaan Tommy, seperti biasa Tommy mengikuti kendaraan istrinya dari belakang, setelah melihat istrinya sampai dengan selamat, barulah Tommy melajukan kendaraannya menuju perusahaan tempat dirinya mengais rezeki.


Dimasa koas Ara melakukan beberapa stase, dibawah arahan dokter senior Ara memperhatikan setiap apa yang dilakukan oleh pembimbing atau konsulennya, ketika memeriksa setiap pasien Ara juga selalu mengikuti konsulen.


Ketika koas Ara akan melihat bagaimana proses menerima keluhan pasien, melakukan analisa diagnosa penyakit, membuatkan resep untuk pasien hingga pelaksanaan


proses pemeriksaan fisik terhadap pasien, hal itu akan dilakukan selama satu setengah tahun atau dua tahun untuk menjalani setiap stase yang ada.


Saat ini Ara koas sendiri tanpa kehadiran sahabat-sahabatnya, mereka memilih rumah sakit yang berbeda karena jarak rumah sakit dekat dengan rumah masing-masing sehingga membuat mereka terpisah dan jarang bertemu semenjak koas.


***


Sekarang Ara sudah di rumah, jam sudah menunjukkan 8 PM, Ara tahu jika suaminya sudah pulang terlebih dahulu karena melihat mobil suaminya sudah ada di garasi, Ara memilih masuk kekamar mandi terlebih dahahulu sebelum menyusul sang suami di ruang olahraga.


Di ruangan olahraga yang ada didekat ruangan kerja suaminya Ara memperhatikan suaminya sembari membawa botol mineral dingin untuk suaminya, Tommy yang belum menyadari kehadiran sang istri masih melakukan treadmill, Ara memilih duduk dikursi dekat tempat suaminya berolahraga.


"Kamu kayak maling, datang diam-diam." ia menghampiri Ara kemudian mengecup kening istrinya.


"Aku kan maling," Ara memberikan botol minuman yang sudah dibawa dari dapur.


"Hah?" menerima minuman yang dibawa istri lalu meneguknya dengan sekali tegukan.


"Maling hati kamu," sambung Ara.


"Receh, honey," ledeknya terkekeh.


"Hahaha, kamu pasti belum makan?" tebak Ara sangat mengetahui suaminya jika Ara pulang sebelum pukul 10 PM maka Tommy akan memilih menunggu Ara supaya bisa makan bersama.


"Iya." jawab Tommy cengengesan.


Tommy mandi terlebih dahulu lalu Ara menunggu Tommy seraya memanaskan makanan yang ada didalam kulkas, bisa saja Ara memesan makanan online, tetapi selagi dirinya ada stok masakan yang ditaruh dalam kulkas maka Ara lebih memilih memakan masakannya sendiri ketimbang pesan online.


"Mulai besok kita delivery aja ya, honey!" celetuk Tommy setelah didekat Ara.


"Kenapa? Kamu gak suka masakan aku ya!" tuduh Ara dengan wajah sedih.


"Masakan kamu selalu buat aku untuk tambah terus, honey."


"Jadi?"


"Kamu butuh istrahat! kamu bukan robot melakukan semua hampir dua puluh empat jam."

__ADS_1


"Apa gunanya aku sebagai istri kalau kita delivery?"


"Aku gak mau kamu sampai sakit."


"Aku bakal jaga kesehatan, makan dulu, nanti aja kita lanjut debatnya."


Hening.....


Sesudah makan mereka akan memilih bersantai di ruang tamu sebelum melanjutkan aktivitas malam hari, disaat malam hari mereka mempunyai waktu untuk berbicara seperti ini, tetapi jikalau matahari sudah terbit waktu mereka hanya ada dipagi hari saja sebelum berangkat, karena Ara masih melakukakan koas jadi tidak mau ditelfon sebelum jam istirahat takut menggangu kefokusan mereka dalam bekerja.


"Gimana selama koas? Ada dokter ganteng gak?" goda Tommy.


Bukannya menjawab, Ara bertanya kembali.


"Gimana sama kerjaan kamu, ada wanita cantik yang melamar diperusahaan kamu gak?


"Kebiasaan deh, ditanya malah tanya balik," gemas Tommy menarik hidung Ara yang mancung dengan pelan.


Saat mereka sedang bercanda tiba-tiba ponsel Ara berdering, Ara mengambil lalu memperhatikan si penelfon, ternyata panggilan video dari ketiga sahabatnya.


Kring..... kring.....


Kring..... kring.....


📱"Ara....." heboh sahabatnya.


📱"Kalian mau minta sembako?" celetuk Ara.


📱"Gue tau jamannya corona, tapi gue masih banyak stok beras dirumah," ucap Jel.


📱"Gue mau minta no rekening loe dong Ra," ucap Rio.


📱"Untuk apa pak?" tanya Liz.


📱"Gue bingung mau disumbangin kemana duit gue yang banyak." jawab Rio.


📱"SOMBONG," Teriak mereka serempak.


Tommy bersandar di pundak sang istri, hanya mendengar kan percakapan mereka, terkadang Tommy senyum sendiri akan perkataan nyeleneh para sahabatnya, sehingga dia menahan tawa akan kekonyolan sahabat Ara.


📱"Astaga, ada penampakan nih!" seru Jel.


📱"Setan mana yang berani dirumah lo?" tanya Ara.


📱"Bukan, bukan setan tetapi oppa," jelas Jel.


📱"Setan dirumah lo kakek-kakek?" tanya Rio dengan wajah serius.


📱"Lo kali setannya," tawa Liz menjawab pertanyaan Rio.


📱"Suami Ara," ucap Jel keceplosan.


Semua orang melihat ke arah suami Ara yang menyenderkan kepalanya kepundak sang istri sembari memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2