
"Aku gak suka semua pasien aku dipegang sama dokter lain! aku masih sanggup menangani semua pasien aku, begitu juga dengan pasien urgent." tegas Ara.
Tommy menggeleng kepala, ia merasa sangat kecewa. Ternyata sebuah keluarga telah dinomor duakan oleh istrinya. "Ini yang kamu bilang sebagai seorang istri? bukan cuma pasien kamu yang butuh perhatian, Ra. Aku juga butuh. Selama ini aku diam atas kesibukan kamu! bukan berarti aku tidak membutuhkan perhatian kamu, aku selalu bersabar menunggu suatu saat kamu prioritaskan keluarga kecil kita, tapi ternyata....." tersenyum miris kearah istrinya mengantung kalimatnya Tommy seolah-olah tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perkaataannya.
"Bukannya dari awal kamu setuju aku jadi dokter obgyn?kenapa sekarang jadi protes." Ara naik ke ranjang, ia duduk melipat kedua kakinya diatas ranjang karena tidak tahan lama berdiri.
Saat ini wajah Tommy sudah merah padam menahan amarah. "Aku ingatkan sekali lagi kalau kamu lupa! kamu punya keluarga, Ra. KELUARGA." bentak Tommy menekan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya dengan keras.
Ara yang terkejut menggigit bibir bawahnya, matanya sudah berkaca-kaca. Ia pandangi wajah Tommy yang sedang marah, seperti tidak mengenali sosok yang ada didepannya saat ini. "Kemana suami yang selalu mengalah, berbicara lembut, selalu tersenyum menghadapi keras kepalaku," batinnya. Ara meremas kedua tangannya, ia sudah keringat dingin melihat wajah suaminya yang tidak bersahabat.
Dengan mengumpulkan keberanian Ara berani membuka suara. "Apa aku harus berhenti bekerja?" tanya Ara menahan suaranya yang gemetar.
Lagi-lagi Tommy menggeleng kepala, ia belum berpindah dari posisinya. "Aku gak pernah minta kamu berhenti! aku cuma minta minta kamu jangan terlalu sibuk," ketus Tommy.
walaupun lelah Ara tidak pernah mengeluh jika menangani pasien yang ditanganinya itu sebabnya ia selalu lupa jika sudah bersama pasiennya. "Aku gak bisa janji." Ara menundukkan kepala tidak sanggup melihat wajah suaminya yang sedang marah.
Tommy menghela nafas panjang. "Oke. Terserah kamu, mulai sekarang lakukan apa yang menurutmu benar." berjalan menuju pintu kamar ia menutup pintu sedikit keras.
Ara hanya bisa melihat kepergian Tommy, air matanya reflek mengalir dipipi mulusnya. Ara terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, Tommy yang dibalik pintu masih bisa mendengar suara tangis Ara, berkali-kali Tommy memejamkan mata sembari memegang dadanya, tidak tahan mendengar suara istrinya yang sedang menangis seperti itu.
__ADS_1
Tommy memegang knop pintu hendak membuka pintu tersebut ingin merengkuh tubuh mungil sang istri yang sangat dicintainya, tetapi ia ragu karena rasa kecewa masih terbesit didalam dirinya, akhirnya Tommy memilih masuk kedalam ruang kerja yang ada disamping kamar mereka. Ia membaringkan tubuhnya di sofa yang ada diruang kerjanya, sembari memijit kepalanya yang terasa pusing, kemudian Tommy tertidur disofa ruang kerjanya.
Ketika bangun tidur, Ara melihat sekelilingnya mencari sosok yang dicarinya mulai dari tadi malam, tetapi tidak menemukan sosok tersebut, akhirnya Ara membersihkan tubuh dan membuat sarapan terlebih dahulu, pikirnya suaminya itu sedang berolahraga, karena kebiasaan setiap pagi yang dilakukan sebelum kerja.
Seusai membersihkan tubuh dan membuatkan sarapan, Ara melangkahkan kakinya mencari sang suami di ruang olahraga dan ruang kerjanya, tetapi tidak menemukan sosok yang dicari, akhirnya ia masuk kedalam kamar untuk melihat ponsel dan kunci mobil yang ditaruh suaminya diatas nakas dekat tempat tidur seperti biasa. "Tumben pergi gak pamit dulu," gumamnya karena Tommy selalu pamit terlebih dahulu jika berpergian kemana pun.
Ara mengambil ponselnya mencari nomor Tommy, kemudian menghubungi nomor suaminya tetapi hanya terdengar suara operator saja, pusing memikirkan keberadaan sosok yang dicari, akhirnya Ara turun kebawah untuk menikmati sarapannya.
Ara menikmati sarapannya sembari melihat kursi yang biasa ditempati suaminya jika berdua dimeja makan, tidak terasa air matanya mengalir memandangi kursi tersebut, selesai menikmati sarapannya Ara berangkat kerumah sakit.
Di pekarangan rumah sakit Ara menampilkan wajah murung, biasanya Ara akan menyapa atau memberikan senyuman terhadap orang yang dilihatnya, tetapi kali ini Ara tidak melakukannya, ia berjalan mengabaikan orang yang menyapanya. Rio yang melihat itu mengernyitkan kening, tumben seorang Ara mengabaikan orang yang tersenyum ramah kepadanya.
"Selamat malam," ucapnya asal.
Rio menahan senyum mendengar perkataan Ara seperti biasa jika sedang kesal. "Masih pagi." koreksi Rio memperbaiki ucapan Ara. "Kenapa? lagi berantam?" tebak Rio.
Ara mengangguk kepala, ia tatap Rio dengan mata berkaca-kaca. "Rio." rengek Ara.
Ia tahu kalau sekarang Ara ingin menangis, Rio menggaruk kepala nya yang tidak gatal karena baru kali ini ia melihat Ara yang manja. "Aduh, lo mau nangis? tahan dulu, jangan disini." melihat sekeliling takut-takut jika Ara menangis.
__ADS_1
Ara mengeructkan bibir bawahnya. "Rio aku kesal sama kamu," ketus Ara pergi meninggalkan Rio dipekarangan rumah sakit. Sedangkan Rio hanya melongo melihat tingkah aneh yang tidak seperti biasanya.
***
Perusahaan Dirgantara
Tommy sedang menghadiri rapat pemegang saham, sedari tadi ia tidak fokus sehingga berkali-kali asisten pribadinya yang tidak lain sahabat sendirinya yaitu Ryan selalu memberi kode kepada Tommy.
Pikirannya selalu ke istrinya, ia hanya melihat sekilas pesan yang dikirim istrinya dan mengabaikan panggilan Ara, sebisa mungkin dia bersikap profesional jika sedang rapat walaupun terkadang menatap kosong kearah depan.
Selesai rapat, Tommy masuk keruangannya diikuti oleh Ryan dari belakang, biasanya Tommy selalu minta pendapat Ryan setelah menghadiri rapat, tetapi tidak dengan kali ini. "Bos kenapa?" tanya Ryan hati-hati.
Tommy menggeleng kepala karena tidak ingin membahas rumah tangganya dikantor atau lebih tepatnya tidak ingin orang lain tahu kalau Tommy dan Ara sedang berselisih paham tadi malam. "Yan, keluar dulu deh! gue pengen lagi sendiri."
Ryan yang mengerti jika bos nya sedang ada masalah tidak ingin bertanya lebih dalam lagi apalagi sekarang jam kerja. "Baik pak, saya permisi," pamit Ryan sopan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.
Tommy duduk dikursi kebanggaan nya, ia mengambil figura kecil yang sengaja dibuat diatas meja kerjanya lalu melihat foto Ara jika sewaktu-waktu merindukan sosok sang istri ia bisa melihat langsung foto istrinya seperti sekarang ini diusapnya foto Ara berulang-ulang. "Maaf ya sayang, aku pergi kerja tanpa pamit dulu sama kamu, aku pengen kasih hukuman sama kamu! supaya lebih menghargai aku sebagai suami kamu," lirih Tommy seolah-olah dia berbicara langsung kepada Ara.
Ia teringat akan perkataannya yang kelewat batas terhadap istrinya sampai membentak Ara dan tidak memperdulikan tangis Ara yang terisak. ia tidak menyangka akan semarah itu kepada Ara. ia menghela nafas frustasi karena mengingat kejadian itu, sungguh saat ini Tommy merasa bersalah, tidak seharusnya dia membentak sang istri, harusnya ia menasehati Ara dengan bicara baik-baik kemudian mencari solusi supaya istrinya tidak lagi sibuk.
__ADS_1
Dengan kepala yang pusing, Tommy menyampingkan urusan pribadinya, ia membuka email untuk memeriksa email yang baru masuk dan melihat satu persatu.