Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Pulang


__ADS_3

Tommy mengangguk pasrah, siap untuk membuka jas nya tetapi langsung ditahan oleh istrinya. "Kenapa?" tanyanya.


"Nggak jadi, aku cuma bercanda," ucap Ara menampilkan deretan giginya yang putih dan rapi, sehingga menampilkan lesung pipi yang ada diwajah istrinya.


Pasang mata yang memperhatikan mereka bernapas lega, mereka bergedik ngeri mendengar permintaan Ara kepada suaminya.


Tommy mengambil beberapa tissue yang sengaja diletakkan diatas meja sejak awal mereka menempati meja tersebut, ia menyeka air mata yang mengalir di kedua pipi mulus istrinya, tanpa jijik, dilap nya cairan yang hampir keluar dari dalam hidung sang istri.


"Kak, gue mau pesan dong, suami kayak kakak satu," seru Jel yang memperhatikan kelembutan Tommy.


"Lo kira suami gue pecel lele, bisa dipesan seperti di pinggir jalan," ketus Ara.


Ternyata niatnya yang menggoda sahabatnya membuat dirinya tertawa sampai memukul meja dengan pelan secara berulang-ulang.


Ryan menggeleng-geleng kepala melihat perempuan yang masih saja tertawa. "Ketawa lo nggak ada etikanya, perlu di didik dengan baik tuh, supaya nggak remedial pas nilai ujian keluar."


"Ketawa istri lo yang lebih parah, Kak. Kuntilanak aja lewat kalau dengar dia tertawa lepas." Jel tidak terima diledek oleh suami dari sahabatnya.


"Terkadang gue ngeri dengar lo ketawa tanpa alasan," kata Liz.


"Eh, nggak sadar nih bocah," kata Jel.


"Bocah yang lo sebut ini, sudah bisa memproduksi seorang bayi ganteng, nah lo? Apa kabar?" tanya Liz seraya meledek temannya.


Jel memicingkan matanya, ia mengakui bahwa dirinya sudah kalah telak. "Tunggu tanggal mainnya."


Ucapannya ditanggapi dengan suara tawa yang renyah. Ketika dirinya masih tertawa tiba-tiba teringat dengan buah hati yang selalu mewarnai hidupnya. "Nggak terasa udah lama gue disini, pengen pulang, mau lihat si gembul," ujarnya.


Ya, bayi gembul yang dimaksud adalah buah hati dari pasangan Ryan dan Liz, ketika sedang asik mengobrol, orang tua Liz yang ikut serta menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, menghampiri mereka untuk mengajak cucunya itu pulang ke kediamannya terlebih dahulu.


Tentu Liz tidak menolak permintaan orang tuanya, bagaimana pun juga putranya tersebut adalah cucu pertama didalam keluarganya, wajar saja jika kedua orang tuanya tidak mau jauh-jauh dari cucunya walaupun hanya sebentar.


"Kamu mau pulang?" tanya Ryan.


Liz mengangguk kepala. Kerinduannya terhadap sang putra tidak dapat lagi ditahan.


"Kita pulang duluan ya! Anak gue udah berjam-jam pisah dari emaknya," pamit Ryan kepada sahabatnya.


"Bareng aja, kita juga mau pulang kok," sahut Tommy.


"Aku nggak mau pulang," bantah Ara.

__ADS_1


Tommy bertanya kepada Ara, "Kamu mau tidur disini?"


Ara menggeleng kepala. "Aku pulang sama Abang aja,"


"Suami kamu kan aku, bukan Alex. Jadi, pulangnya sama aku," protes Tommy.


"Aku mau ke rumah Papa , kamu pulang sendiri saja ya!" Ara memasang wajahnya semanis mungkin untuk meminta persetujuan suaminya tersebut.


"Besok kamu harus kerja, dari rumah Papa ke tempat kerja tidak memakan waktu yang sedikit, aku janji, pekan nanti kita berkunjung ke rumah Papa," Tommy memberi pengertian kepada istrinya.


Ara menecebikkan bibirnya, ia kesal dengan suaminya yang tidak memberinya ijin ke rumah orang tuanya.


Tommy mengusap lembut punggung tangan Ara. "Sekarang kita pulang ya."


"Aku mau ke rumah Papa, boleh ya!" pintanya memelas.


"Nggak boleh," tegas Tommy.


"Kamu jahat, masa kamu larang-larang aku main ke rumah Papa," kekesalan Ara bertambah dua kali lipat dari sebelumnya.


"Ya sudah, kamu tinggal pilih, ikut ke rumah Papa sekarang tapi besok nggak kerja atau pulang bersamaku tapi kamu kerja," Tommy sengaja memberi pilihan kepada istrinya. Ia tahu istrinya itu sangat mencintai profesinya.


"Pilihan macam apa itu? Aku nggak mau tahu, pokoknya aku pulang sama Abang, titik," ucap Ara.


"Wow, keren tuh, coba aja, Ra. Uang nya lumayan buat persalinan lo nanti," sambung Liz sembari tertawa kecil.


"Suami gue nggak semiskin yang lo kira," kata Ara.


"Iya deh iya, suami lo kan kaya," ujar Liz.


"Kayak mony**," canda Ryan.


Tommy menatap tajam ke arah Rio, membuat nyalinya ciut.


"Dek, kamu pulang sama suami kamu aja, kakak ada urusan sama kakak iparmu," seru Alex.


"Aku rindu Papa sama Mama," gumam Ara.


"Akhir pekan kita ke rumah Papa ya! Sekarang kita pulang," lirih Tommy.


Ara hanya diam saja, padahal ia sudah membayangkan masakan sang Mama, ia mengira akan bertemu dengan kedua orang tuanya karena Rio juga mengundang kedua orang tuanya, urusan yang mendadak membuat kedua orang tuanya tidak bisa menghadiri acara pernikahan sahabatnya.

__ADS_1


"Ayo kita pamit ke tuan rumah," ajak Ryan


Ketiga pasangan itu menghampiri Rio yang sedang bercengkrama dengan rekan kerjanya, awalnya Rio menahan mereka supaya pulang besok pagi saja, karena kamar hotel sudah dipesan khusus untuk para sahabatnya.


Entah rayuan apa yang dikatakan Ara kepada Rio sehingga dengan berat hati Rio mengijinkan semua sahabatnya pulang, ia juga tak lupa berterima kasih kepada semua sahabatnya yang telah menyempatkan waktu untuk dapat menghadiri acara pernikahannya.


***


Alex yang sudah berjanji untuk memperbaiki hubungannya akhirnya menyampingkan keegoisannya, ia dengan sabar membujuk Jel untuk membicarakan soal hubungan mereka.


Jel yang tidak tega dengan permohonan Alex akhirnya menyetujui permintaanya, saat ini mereka beruda berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari tempat pernikahan sahabatnya.


"Bagaimana?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya setelah selesai menerima pesanan mereka dari seorang pelayan yang bekerja di cafe tersebut.


Jel mengerutkan keningnya dalam-dalam, ia tidak tahu apa maksud dari pria yang ada dihadapannya ini. "Apa nya yang bagaimana!"


"Hubungan kita," singkat Alex.


Bukannya menjawab, Jel bertanya balik. "Menurutmu bagaimana?"


"Entahlah," ucapnya seraya membuang napas.


"Kamu gimana sih, Kak," Jel kesal dengan jawaban Alex yang menurutnya tidak memuaskan.


"Kita serahkan semua sama yang diatas, jika kita berjodoh pasti dipersatukan," kata Alex bijak.


"Kalau kamu sudah tahu jawabannya, untuk apa bertanya," ketus Jel.


"Aku hanya bertanya saja, mana tahu kamu memberikan jawaban yang membuat aku semakin meleleh sama kamu," gombal Alex.


"Aku bukan es batu yang bisa membuat meleleh,"


"Kamu bukan es batu tapi kepala batu," ledek Alex.


Jel melolotkan matanya. "Apa?"


"Kamu tuh sebelas dua belas sama, Ara. Sama-sama kepala batu," tawa Alex.


Bukannya marah, Jel senyum-senyum sendiri melihat tawa Alex yang seperti biasa jika meledek dirinya.


Sudah lama aku tidak melihatmu seperti ini.

__ADS_1


Ia sadar dengan kesalahannya, jika hari itu dirinya tidak menolak lamaran Alex maka hubungan keduanya akan baik-baik saja.


__ADS_2