
Tanpa dosa Ara menaiki ranjang lalu membaringkan tubuhnya, dibalutkan tubuhnya dengan selimut sampai menutupi kepala.
"Honey ... Kamu nggak rindu sama aku? Aku rindu berkarat lho sama kamu, buka dong selimutnya," rengek Tommy menyusul sang istri diranjang.
Tidak tega mendengar suara suaminya, ia menyingkap selimut, ditatapnya wajah lelaki yang sangat dirindukan beberapa hari belakangan ini.
"Jangan tidur dulu ya!" kata Tommy.
Ara mengangguk kepala.
Melihat respon Ara, Tommy tersenyum kemudian ia ikut berbaring disamping istrinya. Diangkatnya kepala sang istri ke atas lengannya untuk menggantikan bantal istrinya. Satu tangannya yang lain ia gunakan untuk mengusap lembut perut Ara.
"Hai, anak Daddy, kamu sedang apa? Bermain sepak bola kah?" pertanyaannya yang konyol membuat istrinya tertawa.
"Bayi saja tidak bisa bermain sepak bola apalagi anak yang belum lahir," balas Ara.
"Kemarin saja aku melihatnya sedang berenang, masa sekarang tidak bisa bermain sepak bola sih," ucap Tommy asal.
Ara menghela napas dengan ucapan sang suami yang melantur.
"Nak, kamu laki-laki atau perempuan sih?" pertanyaan yang sering ditanyakannya ketika sedang mengobrol.
Ya, Ara dan Tommy memang sepakat untuk tidak mengetahui jenis kelamin calon anaknya, mereka ingin mendapatkan kejutan dari anaknya nanti, jika ada yang bertanya tentang jenis kelamin calon anaknya maka kedua pasangan itu selalu mengatakan 'apapun jenis kelaminnya, yang penting sehat'.
"Ketika dedeknya sudah lahir, kita pasti mengetahui jenis kelaminnya," jawab Ara.
Ia tersenyum lalu mengecup perut buncit istrinya.
"Aduh," ia meringis karena mendapat respon gerakan dari dalam perut istrinya.
Ara terkekeh melihat suaminya, bayinya itu seperti tidak ikhlas kalau Daddy nya mencium perut Mommy nya.
__ADS_1
"Honey, kamu percaya kan? Apa yang aku bilang, anak kita ini sedang bermain sepak bola, terbukti dari tendangan nya yang kuat," canda Tommy.
"Ada-ada saja," ucap Ara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya, mau bukti lagi?" tanyanya seraya mengelus lembut perut Ara.
Lagi-lagi dedek bayinya memberikan respon, sehingga membuat Ara mengadu kesakitan. Ara memejamkan mata, salah satu tangannya menghentikan tangan sang suami yang masih setia meraba-raba perutnya.
"Hentikan, setiap kamu mengajaknya berbicara sambil memegang perutku, si dedek selalu merespon bahkan tendangan nya kuat banget,"
"Dedek bayinya menyukai ku,"
"Tentu saja, kamu kan Daddy nya," kesal Ara.
Tommy terkekeh geli, ia gemas dengan wajah istrinya. Tanpa aba-aba kedua tangannya menangkup pipi Ara yang berisi itu, kemudian menghujani seluruh wajahnya dengan kecupan.
Plak
"Kamu lucu,"
"Terserah deh terserah, aku malas berdebat dengan mu,"
Kembali lagi Tommy mengelus lembut perut Ara. Sesekali ia mengecupnya sehingga membuatnya tertawa karena anaknya selalu merespon perbuatannya.
Ara hanya tersenyum melihat tingkah suaminya dan tiba-tiba Ara teringat sesuatu. "Kemarin Bang Alex datang ke rumah,"
"Ngapain?" tanyanya tanpa melihat wajah istrinya.
"Memberi kabar kalau pernikahannya akan diadakan minggu depan?"
"Oh,"
__ADS_1
"Bang Alex sudah bilang sama kamu belum?"
"Sudah,"
"Kapan?"
"Sebelum melamar Jel kembali,"
"Hah?" kaget Ara.
Faktanya, Ara tidak mengetahui soal lamaran itu dan pernikahan yang dilakukan secara mendadak oleh abangnya pun membuat ia bingung.
"Jadi kamu sudah tahu semuanya?" tanya Ara seraya duduk, didorongnya kepala sang suami yang sedang asik berbisik di atas perutnya.
Tommy menatap wajah sang istri, sudah dipastikan kalau saat ini istrinya pasti marah-marah.
"Jelaskan," tegas Ara.
"Apa?"
"Nggak usah pura-pura bodoh deh, tega banget sih kamu merahasiakan informasi penting seperti ini, kamu selalu bilang diantara kita tidak akan pernah ada rahasia, tetapi kamu merahasiakan lamaran bahkan pernikahan abang aku," kesal Ara.
"Iya aku salah, jangan marah lagi ya! Aku akan menjelaskan semuanya tanpa ada satu pun yang terlewat, oke!"
Ara mengangguk kepala, ia siap mendengar penjelasan sang suami.
Tommy memberitahu semuanya, kalau Alex ingin memberikan kejutan kepada seluruh keluarganya, dan soal tanggal pernikahan yang mendadak itu memang benar-benar direncanakan oleh Alex karena tidak ingin membuat Jel berubah pikiran. Sebelum melamar Jel, Alex meminta pendapat dari kedua sahabatnya dan Alex meminta Ryan dan Tommy merahasiakan lamarannya.
"Oh begitu, aku doakan mereka memang benar-benar pasangan yang telah diatur oleh Tuhan," kata Ara.
Tommy hanya tersenyum dan mengangguk kepala, lalu kembali mengelus perut buncit Ara.
__ADS_1