
Semua orang melihat ke arah suami Ara yang menyenderkan kepalanya kepundak sang istri sembari memejamkan mata.
"Jangan bilang lo mau rebut suami Ara?" tanya Liz.
"Lo kira gue perebut suami orang?" kesal Jel menjawab pertanyaan nyeleneh temannya itu.
"Wah...... Maksud lo apa?" Ara pura-pura menatap Jel dengan tajam.
"Santai dong dendam bangat lo semua sama gue!" ujar Jel melihat serangan mendadak dari para sahabatnya.
"Hahahaha hajar, Ra." Rio yang sudah tertawa sengaja menggoda Ara.
"Ayo... Semangat. Gue dukung lo Ra," sambung Liz mendukung Ara.
"Oke, maksud gue suami lo lucu..." ucapnya terpotong.
"Lo mau rebut suami gue secara terang-terangan didepan gue?" tanya Ara.
"Bentar dulu! deman amat lo potong perkataan gue," ujar Jel dengan nada kesal.
Rio dan yang lainnya hanya terkekeh melihat tingkah konyol Ara dan Jel, jika masalah berdebat memang, salah satunya tidak akan pernah ada yang mau mengalah duluan.
"Lo jelaskan sama gue! apa maksud lo?" tanya Ara.
"Jadi gini! gue belum pernah lihat suami lo bersandar sama perempuan, itu makanya gue bilang suami lo lucu. Bukan berarti gue suka sama suami lo! Mengerti, Ny. Dirgantara?" tutur Jel, ia gemas dengan sahabatnya yang sudah salah paham kepadanya.
"Maksud kamu aku badut, sampai kamu mengatakan kalau aku itu lucu?" celetuk Tommy tidak terima akan penjelasan sahabat istrinya.
"Iya kak, eh bukan kak," Jel yang sudah kalang kabut menjadi salag tingkah gugup menjawab pertanyaan suami sahabatnya.
"Hahahaha," tawa mereka serempak.
Tidak terasa mereka semua sudah lama mengobrol, sedangkan Tommy sudah tidur dengan posisi bersandar dipundak sang istri, Ara tidak tega melihat suaminya akhirnya Ara mengakhiri obrolan mereka.
"Ya sudah, besok kita sambung lagi ya! gak tega gue lihat kak Tommy ketiduran dipundak gue," jelas Ara pamit kepada sahabatnya dan mengakhiri obrolan mereka.
"Honey, pindah yuk! tidur dikamar," Ara membangunkan Tommy dengan membelai rambut suaminya dengan lembut.
"Iya," gumamnya mengucek mata lalu mengerjapkannya beberapa detik.
__ADS_1
***
Hari ini Tommy mengantar Ara ke rumah sakit. Tommy tidak tega melihat kondisi istrinya dengan keadaan lemas. Berulang kali Tommy menahan istri supaya tetap dirumah dan meminta ijin supaya tidak masuk hari ini, Ara dengan keras kepalanya membantah permintaan suami! sehingga perdebatan diantara pasutri (pasangan suami istri) itu pun terjadi, mulai dari rumah sampai di perjalanan menuju rumah sakit.
"Aku gak tega lihat wajah kamu yang pucat begini, kita putar balik ya!" bujuk Tommy berharap istrinya berubah pikiran lalu menurut akan permintaan suaminya.
"Aku tadi kan udah bilang! kalau aku baik baik saja," kesal Ara.
"Tapi kan..." ucapnya terpotong.
"Kamu suka bangat debat sama aku!" suara Ara semakin pelan menahan kepalanya yang pusing.
Setelah mendengar suara Ara semakin pelan membuat Tommy menjadi khawatir dengan keadaan istrinya, apalagi semenjak kemarin Ara merasakan pusing dan wajahnya selalu pucat tetapi Ara selalu berusaha baik-baik saja didepan suaminya.
"Aku mohon kita putar balik ya! kamu itu keras kepala bangat sih, Ra! lagian ijin sehari kan gak masalah, Ra?" lirih Tommy yang sudah menahan kesal akan keras kepala istrinya.
Ara tersenyum ketika mendengar suaminya yang selalu berbicara lembut, bagaimana pun rasa kesalnya akan tingkah Ara Tommy selalu berbicara lembut, baik itu menasehati ataupun menegur dirinya, hal itu yang membuat Ara semakin mencintai suaminya yang sangat dewasa dari pada dirinya.
"Aku gak mau ijin, please... Sekali ini saja ya!" bujuk Ara menyentuh lengan suami berusaha kuat didepan suaminya walaupun kepalanya semakin pusing.
Tommy menghela nafas lalu mengusap kepala Ara dengan tangan kirinya.
"Iya, honey iya, nanti jangan terlambat makan siang ya! kalau capek. Kamu minta ijin untuk istirahat atau pulang saja ya!" ucapnya lembut masih membelai rambut istrinya.
Sesampai nya dirumah sakit, Tommy hanya memperhatikan Ara masuk kedalam lalu melajukan kendaraan nya menuju perusahaan.
Ruangan Tommy
Saat ini Tommy mengerjakan beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya, sesekali dirinya melihat sekilas jam tangannya. Saat istirahat Tommy berencana menemui Ara di rumah sakit sekalian mengajak untuk makan siang.
Ditengah keseriusannya yang sedang melihat beberapa laporan keuangan perusahaan tiba-tiba ponselnya berdering, diambilnya ponsel yang ada di atas meja kerja lalu melihat orang yang menelfon, ternyata dari mantan kekasihnya. Dengan malas Tommy mengangkatnya. "Apa?" ketus Tommy.
"Santai dong!" kesal Iren.
"Ada apa? kalau gak penting gue matikan," ancam Tommy.
"Eh... tunggu, belum juga bilang apa-apa."
"Cepat."
__ADS_1
"Sabar.... Jam makan siang! kamu ada waktu gak?" tanyanya dengan hati-hati takut ditolak oleh Tommy.
"Gue sibuk," singkat Tommy.
"Jam makan siang kamu gak mungkin sibuk. Secara kamu butuh makan juga kan!"
"Langsung ke inti!"
"Iya, iya, jadi gini, aku mau minta tolong! bisa gak, kamu temani aku beli kado ulang tahun untuk papa! aku gak ada teman dijakarta! cuma kamu yang aku kenal," tutur Iren.
"Gak bisa," tolak Tommy singkat lalu mengakhiri sambungan telfonnya dengan lawan bicaranya.
Dengan wajah kesal tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan nya lalu masuk, Tommy melihat ke arah pintu ternyata Ryan.
"Kenapa?" tanya Tommy.
"Bos, sebelum jam makan siang kita ada survei ke lapangan melihat proyek yang baru dibangun!" jelas Ryan.
Tommy mengangguk kepala, ia merapikan berkas-berkas yang ada di meja lalu keluar dari ruangannya diikuti Ryan dari belakang.
Selama diperjalanan Tommy dan Ryan saling diam mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, melihat wajah Tommy yang tidak bersahabat membuat Ryan penasaran. "Kalau sudah diam tidak menentu begini, gue jadi takut bicara." batinnya.
"Ehm, Bos kenapa? dari tadi gue perhatikan wajah lo gak bersahabat gitu!" tanyanya hati-hati.
"Gue dari tadi kepikirian, Ara terus dari kemarin wajahnya pucat bangat," jawab Tommy membayangkan wajah cantik istrinya.
Jika berada di luar kantor Tommy dan Ryan tidak menggunakan bahasa formal. Sehingga di luar seperti ini Ryan menggunakan obrolan seperti biasa.
"Ara sakit Tom?" tanyanya khawatir, Ryan sudah meganggap Ara sebagai adik kandungnya sendiri.
"Iya, dia bandel bangat dibilangin! dari kemarin udah gue tahan supaya gak ke rumah sakit tetap aja dia keras kepala," kesal Tommy.
"Mungkin Ara kelelahan, secara ini pengalaman pertamanya koas di rumah sakit!" Ryan memberi pengertian kepada sahabatnya itu.
Tommy menghela nafas dengan kasar. "Tapi gue gak tenang kerja begini! pikiran gue ke Ara terus, lo tahu kan gue sayang bangat sama istri gue! gue gak mau terjadi apa-apa sama istri gue," lirih Tommy.
Ingin sekali rasanya Ryan tertawa lepas, baru kali ini dia melihat temannya bucin (budak cinta) tetapi situasi sekarang tidak mendukung untuk menggoda Tommy.
"Ara memang begitu susah bangat ditaklukkan keras kepalanya," ucapnya terkekeh.
__ADS_1
Ketika mereka mengobrol tiba-tiba ponsel Tommy berdering dari balik jas nya, ketika melihat si penlfon ternyata sang istri.
"Apa?" kaget Tommy belum sempat menyapa orang yang menelfon tetapi dirinya sudah dibuat terkejut. "Kerumah sakit sekarang!" ujar Tommy tiba-tiba. Ryan bingung memilih ke rumah sakit atau ke lapangan. "Cepat." bentak Tommy melihat Ryan yang masih melajukan kendaraannya menuju tempat proyek. Dengan perasan takut Ryan melaju kendaraan menuju rumah sakit, Ryan ingin bertanya tetapi ditahan karena melihat wajah Tommy takut bercampur khawatir.