Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Melahirkan


__ADS_3

Seminggu telah berlalu pernikahan Alex dan Jel, sudah berapa hari Tommy tidak bekerja karena melihat istrinya mendapat kontraksi palsu. Beberapa hari ini suaminya mengambil cuti supaya bisa menjadi suami siaga ketika istrinya melahirkan, Ara memaksa Tommy bekerja tetapi ditolak. Ia tahu bahwa istrinya akan melahirkan sesuai HPL tetapi rasanya ia tidak tega jika meninggalkan istrinya dengan kedua orang tuanya di rumah.


Jam sudah menunjukkan dini hari, tetapi dirinya tidak juga bisa memejamkan mata karena dirinya belum mendapatkan posisi yang nyaman saat tidur.


"Aduh ..." ringis Ara kesakitan di area perutnya.


"Honey," panggil Tommy langsung beranjak duduk dengan wajah panik. Ia langsung terbangun setelah mendengar suara kesakitan Ara.


Ara hanya menggeleng kepala seperti memberi tahu bahwa dirinya baik-baik saja. Ia mengganti posisi dirinya yang berbaring di atas ranjang menjadi menyamping kesebelah kiri.


Melihat ketidaknyaman sang istri, mau tidak mau Tommy ingin membawa istrinya ke rumah sakit.


"Kita ke rumah sakit saja ya!"


Ara menggeleng kepala, "Ini hanya kontraksi palsu,"


Tommy menghela napas, ia kembali berbaring disamping sang istri kemudian tangannya mengelus perut buncit Ara. Lama kelamaan Tommy menjadi mengantuk dan akhirnya ia malah tertidur.


Ara menatap kesal wajah Tommy yang telah kembali tertidur. "Suami siaga apaan coba, baru segini saja sudah kembali molor."


Dengan gerakan pelan, Ara melangkahkan kakinya ke kamar mandi karena frekuensi buang air kecilnya meningkat, tidak berselang lama ketika dirinya selesai buang air kecil, tiba-tiba perutnya mengalami kontraksi.


"Awh ..." ringis Ara, bahkan kontraksinya berirama yang muncul berkali-kali.


"Honey ..." panggil Ara yang sudah mendekati ranjang. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Tommy.


"Ada apa?" tanyanya yang belum sepenuhnya sadar.


"Sepertinya aku mau melahirkan," lirih Ara menahan rasa sakit dibagian perutnya.


"Apa?" kaget Tommy langsung sadar, tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera beranjak dari tempat tidur dan langsung berlari ke arah pintu tetapi tiba-tiba gerakannya terhenti saat dipanggil.


"Honey ..." panggil Ara menahan kesal.


Seketika Tommy menepuk jidatnya, bagaimana bisa dia pergi, sedangkan sang istri tertinggal dibelakangnya.

__ADS_1


"Ayo ... Aku nggak mau kamu disini melahirkan," katanya gugup seraya memapah tubuh sang istri menuju keluar.


"Siapa juga yang mau melahirkan disini," kesal Ara.


"Ya sudah ayo, bisa-bisa kamu melahirkan lagi, aku mana tau membantu ibu hamil melahirkan, aku kan nggak dokter," ucapnya polos.


"Bawa dulu perlengkapan yang sudah aku siapkan tempo hari, baru kita berangkat," ucap Ara memukul pundak sang suami. Ia sangat kesal melihat tingkah Tommy disaat seperti ini suaminya masih banyak bicara.


"Perlengkapan ... Perlengkapan," kata Tommy berulang kali seperti orang bodoh seraya menuju walk in closet, kali ini dirinya sangat gugup sehingga ia tidak fokus. Diambilnya perlengkapan dengan cepat lalu membawa sang istri tanpa membangungkan kedua orang tua nya, lebih tepatnya Tommy lupa. Sudah dipastikan bahwa Tommy akan mendapat serangan yang mematikan dari mama nya.


Saat menuju garasi, ia lupa mengambil kunci mobil sehingga Ara mencakar tangan Tommy karena kesal dan juga kesakitan, tanpa aba-aba apa pun Tommy segera mengambil kunci mobilnya, secepat kilat dilajukannya kendaraan menuju rumah sakit tanpa menghiraukan teriakan Ara.


Seketika matanya membulat ketika melihat cairan yang mengalir di daster mini sang istri. "Honey, kamu kenapa ngompol,"


Pertanyaan nya yang bodoh tidak dihiraukan Ara karena dirinya sudah sangat kesakitan.


Di rumah sakit, Ara berjuang bertaruh nyawa untuk dirinya dan juga calon anaknya, Tommy yang berada di sampingnya selalu berdoa dan memberi kata semangat kepada sang istri supaya tetap kuat untuk melahirkan. Untung saja Ara langsung cepat ditangani karena Ara sudah pecah ketuban ketika mendekati rumah sakit.


Tanpa terasa Tommy menangis tersedu-sedu sambil mengelus kepala sang istri dan juga mengecup kepala Ara.


"Iya, kamu juga jangan pecicilan dong, sudah melahirkan juga, masih aja cerewet," kata Tommy dengan polosnya, sehingga membuat orang yang didekatnya menahan tawa dan berusaha fokus.


Kedua pasangan suami istri ini sangat ajaib, bahkan disaat denting seperti ini saja masih disempatkan untuk berdebat.


Tidak berselang lama, air mata Ara semakin deras karena dirinya telah berhasil mengeluarkan bayinya dari perut, tubuh mungil yang sudah ada diatas tubuhnya dikecupnya berkali-kali begitu juga dengan Tommy. Diucapkan syukur dan juga doa didekat telinga sang bayi.



"Selamat datang putraku dan selamat ulang tahun juga buat Daddy," seru Ara tersnyum.


"Terima kasih Mommy, telah melahirkan putra yang tampan untuk ku, Daddy sayang kalian, ini adalah kado terindah yang belum pernah aku dapatkan sebelumnnya, terima kasih sekali lagi untuk kado istimewanya, aku cinta kamu," lirih Tommy yang sudah mengeluarkan air mata. Lagi-lagi dikecupnya kepala sang istri dan juga bayinya berulang kali.


Di hari ulang tahun nya, ia telah diberikan kado spesial, bahkan ia tidak menyangka akan mendapatkan kado yang tidak terbilang harganya diberikan pas hari ulang tahunnya.


Beberapa jam kemudian, Ara sudah berada diruangan berbeda setelah dipindahkan bersama bayinya, tubuh mungil dan juga wajah yang berisi itu dikecup Tommy berkali-kali sehingga bayinya itu sesekali menggeliat.

__ADS_1


"Terima kasih wanita hebat ku, kamu keren Mom, bahkan kekerenan mu mengalahkan idolaku yang berada di luar negeri sana," kata Tommy seraya mengecup kening sang istri.


Mendengar ucapan sang suami yang melantur hanya bisa membuat nya tertawa geli, tiba-tiba dirinya mengingat sesuatu. "Mama sama Papa sudah diberitahu belum, kalau aku sudah melahirkan,"


Lagi-lagi Tommy menepuk jidatnya, ia menggaruk pangkkal hidungnya yang tidak gatal, ia tidak berani menjawab.


Ara yang mengetahui reaksi sang suami langsung kesal. "Ya, ampun, cepat hubungi sekarang,"


"Iya, iya. Sebentar," katanya langsung menghubungi kedua orang tua dan juga mertuanya.


Tidak menunggu lama, semua keluarga sudah berkumpul di ruangan Ara, sebelumnya Tomny mendapat siraman rohani dari orang tua karena lupa memberitahu Ara sudah melahirkan.


"Jadi, namanya siapa?" tanya Papa Ara.


" Alvaro Gavriel Dirgantara yang artinya anak pertama yang menjadi pelindung buat keluarganya dengan kekuatan Tuhan."


Semua keluarga hanya mengangguk kepala mengerti.


"Nama yang indah, semoga kelak cucuku menjadi lelaki yang mempunyai sifat seperti namanya,"


"Iya Pa, semoga saja," balas Tommy.


"Hai, Al, mulai sekarang panggilan mu Al ya! Supaya sama dengan nama panggilannya teman Mommy," ujar Ara mengajak anaknya berbicara.


Semua tersenyum dan merasa bahagia, bayi yang hanya diwarisi lesung pipi dari sang Ibu membuat Ara sedikit iri, faktanya putra kecil yang berbaring disampingnya itu sangat mirip dengan wajah suaminya, ia bersyukur telah dikarunia putra yang lahir dengan sehat dan juga sangat beruntung dikelilingi orang-orang yang selalu ada didekatnya.


Kebahagiaan itu juga dirasakan oleh Ryan karena istrinya diberi kepercayaan untuk mengandung lagi, ya, minggu lalu Liz dinyatakan positif hamil. Sedangkan Rio dan Iren sudah sepakat untuk membuka hati dan membangun rumah tangga yang harmonis supaya segera diberi kepercayaan untuk mempunyai anak sama seperti sahabat-sahabatnya.


.


.


.


END

__ADS_1


*** Terimakasih buat orang-orang yang baca atau mampir ke ceritaku, akhirnya tamat juga, yeay ... 🌹


__ADS_2