Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Berkunjung


__ADS_3

Akhirnya kedua pasangan suami istri itu memutuskan pergi ke rumah orang tua Ara.


"Papa, Mama ... Anak gadis kalian sudah pulang," teriak Ara menghampiri keluarganya yang sedang bersantai di ruang tamu.


Orang tuanya yang asik mengobrol menoleh ke sumber suara, sebelumnya pintu rumah sudah dibukakan oleh Alex. Abang dan suaminya mengikuti langkah Ara dari belakang.


"Mana ada anak gadis perut nya buncit," goda Alex.


Ara tidak menghiraukan Alex, ia memilih mendekati kedua orang tuanya, dipeluknya wanita dan lelaki paruh baya yang tidak muda lagi dengan erat.


"Bumil, Papa rindu,"


"Mama juga,"


"Abang nggak rindu?" tanya Ara kepada Alex.


"Untuk apa?" tanyanya balik.


Ara kecewa dengan jawaban sang Abang, walaupun sering bertemu, Ara selalu merindukan sosok lelaki yang selalu menjaganya sebelum menikah.


Alex terkekeh kecil melihat ekspresi adiknya. "Abang selalu rindu," jawabnya membuat Ara tersenyum.


"Pa, Ma," seru Tommy dari belakang istrinya, ia memeluk kedua mertua nya.


"Duduk dulu, Nak," kata Mama Ara.


Semua mendaratkan tubuhnya di sofa ruang tamu selain Ara, ia menuju dapur untuk mengambil sesuatu yang bisa mengisi perutnya, melihat kepergian Ara membuat semua orang mengerti, jika wanita pecicilan yang sedang hamil itu pasti mengambil makanan.


Di dapur Ara membuka kulkas, tentu saja isinya membuat dirinya menelan salivanya berulang-ulang, ia melihat ada camilan kesukaannya yaitu otmeal cookies. Ia mengambil beberapa bungkus cookies kemudian buah yang sehat untuk dirinya dan janin yang sedang dikandung, tak lupa Ara mengambil minuman untuk dirinya dan juga keluarga yang sedang berbincang di ruang tamu.


Ya begitulah Ara, jika sudah di rumah orang tua dan mertuanya ia tak pernah segan, bahkan di rumah sahabatnya, Ara selalu masuk ke dapur dengan seenaknya setelah permisi kepada sahabatnya.


"Silahkan diminum," ucap Ara seusai dari dapur kemudian kembali lagi ke dapur, tangannya tak cukup membawa minuman serta makanan sekaligus.


"Astaga Dek, kamu lapar apa doyan?" tanya Alex melihat makanan yang dibawakan oleh Ara dari arah dapur.


Ara hanya cengengesan, ia mengambil posisi untuk duduk di dekat Papanya, lebih tepatnya ditengah-tengah kedua orang tuanya.


"Anak Papa belum makan ya?" goda Papa Ara kepada putrinya.


"Sudah, Pa, Adek lapar lagi,"


Papa Ara mengangguk lalu menggodanya lagi. "Makan yang banyak ya, biar gendut,"

__ADS_1


"Ih, Papa," gerutu Ara.


Papanya dan yang lain hanya tertawa karena berhasil menggoda Ara.


"Sehat-sehat cucu Nenek," ujar Mama Ara yang disebelah kirinya, ia mengusap lembut perut putrinya yang tidak lagi rata.


"Iya, Nenek," balas Ara tersenyum.


Ara memakan camilannya sembari mengobrol dengan keluarganya, sesekali mereka tertawa ketika membahas permintaan-permintaan Ara kalau sudah mengidam.


"Aku nggak kayak gitu ya," Ara mencebikkan bibirnya.


Ara kesal dengan Alex yang menggoda dirinya, ia dikatakan seperti monster jika sudah marah, akan mengancam tidak mau berbicara selama dua hari, membuat Abang dan juga suaminya selalu menuruti permintaannya dengan batas wajar.


"Memang benar, Dek, permintaan kamu harus dituruti, nggak boleh enggak,"


"Abang nggak ikhlas ya! Yang minta kan keponakan kamu,"


"Nggak usah bawa-bawa keponakan Abang, Abang dan suami kamu sudah tahu banget sifat kamu, Dek,"


"Honey ..." adu Ara kepada suaminya.


"Bang Alex hanya bercanda, kamu nggak seperti itu," balas Tommy menenangkan sang istri.


"Papa tidak pernah kamu repotkan, Nak! Papa kan pengen juga berperan ketika kamu hamil," seru Papa Ara.


Alex tidak terima dengan jawaban Ara. "Wah, Pilih kasih ini namanya,"


Papa Ara tertawa kecil. "Papa tidak pernah merasa direpotkan, waktu Mama kamu mengidam Papa selalu sabar menuruti permintaannya,"


"Benarkah?" tanya Ara melepaskan pelukannya lalu ia melihat ke arah Mamanya untuk meminta penjelasan.


Mama Ara mengangguk. "Iya, bahkan pernah Papa diteriaki maling waktu Mama lagi hamil kamu, saat itu Mama ngidam mangga muda tetangga, tetapi orang yang ada disebelah rumah kita sedang keluar kota, Mama yang memaksa Papa mengambil mangga tersebut, membuat Papa tidak ada pilihan untuk mengambil tanpa ijin si tuan rumah, kebetulan hari itu pas malam hari, ketika Papa sudah memanjat pohon mangga itu, tiba-tiba ada warga yang lewat terus berteriak mengatakan Papa maling,"


Gelak tawa terdengar membayangkan sang Papa diteriaki warga.


"Pantas saja Adek jadi wanita pecicilan, ternyata waktu di dalam perut Mama, Adek sudah membuat masalah," kata Alex disela-sela tawanya.


"Ngeselin, jahat banget sih sama Adek sendiri," seru Ara cemberut.


"Fakta, Honey," sambung Tommy.


Ara melototkan matanya dengan wajah yang galak Ara berucap. "Kamu ngapain ikut-ikutan ngatain istri,"

__ADS_1


Tommy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bercanda,"


Alex semakin tertawa melihat sahabatnya terdiam tanpa berani membalas balik ucapan sang adik. "Suami takut istri,"


Tommy mendengus sebal. "Diam lo,"


"Papa romantis banget ya, Ma. Bela-belain manjat pohon mangga demi menuruti permintaan Mama, ini namanya suami idaman banget," puji Ara kepada Papanya membuat Tommy mengerucutkan bibir bawahnya.


"Jadi, aku nggak romantis?" tanya Tommy cemburu karena Ara memuji pria lain selain dirinya, padahal yang dipuji Papanya sendiri.


Ara menggeleng kepala. "Lebih romantis Papa aku, gantengnya juga lebih ganteng Papa aku,"


"Jelas dong, Putra kesayangannya saja ganteng begini, masa Papanya biasa-biasa saja," ucap Alex.


"Hoek, ganteng dari Hongkong," kata Ara.


"Cantik dan ganteng anak-anak Mama menular dari orang tuanya," celetuk Mama Ara.


"Sayang kalian," kata Ara memeluk keduanya dengan penuh kasih sayang.


"Abang ikutan dong,"


"Nggak boleh," ucap mereka serempak.


Mendengar itu membuat dirinya terdiam, tidak habis akal Alex akhirnya memeluk Tommy membuat ketiga pasang mata yang sedang berpelukan itu tertawa.


"Gue bukan homo." kata Tommy bergedik ngeri.


Obrolan diantara keluarga yang hangat itu berlanjut sampai jam makan siang.


"Kita makan di rumah atau di luar?" tanya Papa Ara.


"Di rumah saja, Pa, biar Ara nggak terlalu capek," seru Tommy.


Papa Tommy mengangguk mengerti, ia mengajak semua orang untuk makan siang di ruang makan.


"Jangan makan yang pedas-pedas," Tommy sengaja memperingati sang istri, mengingat istrinya sangat suka dengan makanan pedas.


"Aku ambil satu sendok, boleh ya!" kata Ara meminta ijin mengambil sambal terasi yang dibuatkan Mamanya.


"Nggak usah pakai sambal, makan ini saja," kata Tommy mengambilkan lauk untuk istrinya.


"Pengertian banget sih lo jadi suami, biasanya istri yang melayani suami," protes Alex yang ada didepannya.

__ADS_1


"Kalau Ara sendiri yang ngambil makanannya, pasti tidak lupa menaruh sambal yang banyak," jawab Tommy.


Mereka mengangguk mengerti, sedangkan Ara hanya bisa pasrah menikmati makanan yang diambil oleh suaminya. Ia memang paling tidak bisa melihat sambal, tangannya langsung gatal untuk menyentuh sambal favoritnya itu.


__ADS_2