
Di Kediaman William
Mama Ara menyuruh putri dan menantunya untuk membersihkan tubuh mereka terlebih dahulu sembari menunggu Papa dan abangnya pulang dari perusahaan tempat mereka bekerja. Ara berencana memberitahu perihal kehamilannya ketika keluarganya semua sudah berkumpul. Jadi... Dia menahan diri untuk tidak memberitahu kepada mamanya.
Di ruang tamu mereka bertiga mengobrol sesekali tertawa. Ketika masih asik mengobrol tiba-tiba orang yang sedang ditunggu sudah datang.
"Putri dan menantu Papa ada disini?" tanya Papa Ara, sebelumnya mereka sudah dikabari oleh istrinya.
Bukannya menjawab Ara beranjak dari duduknya, ia berlari kecil untuk memeluk orang yang sangat dirindukannya. Tommy yang melihat itu sedikit khawatir karena istrinya yang sedang mengandung sehingga ia hanya mampu menggeleng kepala saja.
"Sudah menikah juga masih aja manja," celetuk Alex yang datang dari belakang Papanya, ia menghampiri Mama dan sahabatnya yang sedang duduk disofa.
Ara melepaskan pelukannya dari sang Papa, mereka berjalan dengan Ara yang melingkarkan tangannya dilengan sang Papa menuju sofa. "Pa, adek ada kabar bahagia," kata Ara sesudah mendaratkan tubuhnya diatas sofa.
"Kabar bahagia?" tanya Papa heran, dapat dilihat sekarang wajah anaknya ini seperti mendapat hadiah besar.
Ara mengangguk kepala untuk mengatakan dengan pasti kepada Papa dan yang lainnya. "Sebentar lagi adek akan menjadi seorang, Ibu." merasa sangat senang sekali Ara bertepuk tangan layaknya seperti anak kecil yang sedang diberikan kado ulang tahun.
"Adek hamil?" tanya mereka serempak dengan wajah terkejut.
Ara tertawa melihat reaksi mereka semua, ia mengangguk kepala dengan yakin, membuat mereka semua segera memeluk Ara dengan perasaan bahagia, Ara terkekeh dipelukan keluarganya. Tommy yang melihat keharmonisan keluarga istrinya sangat bahagia. Ia hanya tersenyum melihat ke arah mereka yang sedang berpelukan.
"Papa jangan nangis dong, adek jadi ikut sedih," celoteh Ara yang mendengar isakan tangis Papanya yang pelan.
Papa Ara terkekeh kemudian mendaratkan bibirnya dikepala putri kecilnya itu sekilas. Sedangkan Mama Ara mendaratkan telapak tangannya ke perut rata putri kecilnya itu. "Putri kecil Mama," ucapnya dengan suara yang bergetar ia sudah tidak sabar lagi untuk menggendong cucu dari putrinya ini karena dirinya sudah mengingingkan cucu untuk meramaikan rumah nya yang terasa sepi semenjak putri kecilnya ini sudah menikah.
"Putri kecil Mama ini sudah bisa membuat anak kecil, jadi... Mulai sekarang panggilan adek berubah menjadi putri besar," tawa Ara untuk menggoda keluarganya yang sedang menangis bahagia.
__ADS_1
"Walaupun sudah punya anak! adek tetap putri kecil kami." Papa Ara membelai kepala putrinya itu dengan lembut.
"Sebentar lagi abang punya keponakan dari adek," Alex mengacak rambut depan Ara.
"Udah dong pelukannya, anak Ara kelaparan nih!" ujar Ara beralasan sembari mengelus perut datarnya.
Semua orang tertawa, akhirnya mereka yang baru saja datang segera membersihkan tubuhnya masing-masing. Ara dan yang lainnya menunggu Papa dan abangnya di meja makan.
Menunggu suami dan anaknya, Mama Ara bertanya tentang kehamilan putrinya. "Jadi... Adek gak pernah mual?" tanya Mama Ara.
Ara menggeleng kepala, faktanya Ara tidak pernah merasakan perutnya diaduk-aduk, malahan nafsu untuk makan sekarang bertambah menjadi dua kali lipat. "Adek gak pernah mual, Ma."
Mama Ara mengangguk kepala mengerti, ia beranggapan jika tubuh putrinya ini bisa beradaptasi dengan cepat akan kenaikan hormon kehamilannya. Putri kecilnya termasuk memiliki tubuh yang kuat dalam menghadapi perubahan pada kehamilannya. Ara juga beranggapan sama dengan Mamanya sehingga dirinya tidak pernah khawatir setelah mengetahui dirinya telah mengandung.
Selesai mandi mereka ikut bergabung di meja makan. Ara masih belum menyadari jika tatapan semua orang tertuju kepadanya, keluarganya heran melihat nafsu makan Ara yang kuat, sedangkan Tommy tidak heran lagi melihat istrinya makan dengan lahap sampai meminta untuk tambah.
"Mau kemana?" tanya Tommy heran, dia pun mengikuti Ara masuk ke dalam dapur.
Ara mengambil sebungkus mie instan untuk dimasak, hal itu membuat suaminya menghela nafas pelan. "Honey, kamu masih lapar?" tanya Tommy yang sudah didekat istrinya itu.
Ara hanya mengangguk kepala tanpa melihat ke arah suami.
"Biar aku saja yang masak!" lirih Tommy mengambil sebungkus mie yang sedang dipegang istrinya.
"Kamu gak marah aku makan ini?" tanya Ara, suaminya selalu melarang Ara memakan makanan yang tidak sehat tetapi terkadang diijinkan ketika suaminya ini kalah berdebat dengan dirinya.
"Kamu lagi ngidam kan? Kali ini aku ijinkan tapi tidak dengan lain kali." tegas Tommy membuat Ara tidak bisa menjawab perkataan suaminya.
__ADS_1
Ara mempersilahkan suaminya untuk memasak, Ara hanya menemani Tommy, dirinya yang iseng sesekali menyenggol lengan suaminya yang sedang memegang spatula kemudian ia mendaratkan bibirnya dilengan suami. Ara memang selalu menganggu suaminya yang sedang terlihat serius seperti sekarang ini.
"Kamu iseng bangat sih," Tommy gemas melihat istrinya yang sedang mengganggu dirinya. Jika tidak sedang memasak sudah dipastikan Tommy akan menggelitik perut istri kecilnya sampai meminta ampun.
Ara hanya tertawa kecil.
Sesudah memasak Tommy membawa hasil masakan itu menuju meja makan. Dengan mata yang berbinar-binar Ara melahap masakan suaminya itu sampai habis. Alex yang melihat nafsu makan adiknya bergedik ngeri, faktanya adik tercintanya itu baru saja makan bersama dengan mereka, tetapi baru beberapa menit saja sudah kelaparan lagi.
Ketika melihat putrinya selesai memakan masakan suaminya, Papa Ara membuka suara untuk berbicara serius kepada putri kecilnya, apalagi putrinya itu sekarang sedang hamil muda. "Dek... Sebentar lagi kamu sudah menjadi orang tua. Mulai sekarang kamu harus mengatur waktu untuk keluarga ya! jangan sibuk lagi di rumah sakit. Papa tahu kalau menantu Papa tidak pernah melarang kamu untuk berhenti bekerja! tetapi kamu harus menghargai suami kamu dengan cara mengurangi jadwal kamu di rumah sakit."
Ara yang mendengar penuturan sang Papa mengangguk pertanda mengerti, dirinya sekarang sedang mengandung jadi dia tidak boleh egois, ia juga harus memikirkan bayi yang sedang dikandungnya. Ara sudah memikirkan hal itu jauh-jauh hari untuk mengatur ulang jadwalnya supaya tidak kelelahan ketika di rumah sakit, tetapi dia belum memberi tahu rencananya ini kepada sang suami.
"Kamu jangan marah sama suami kamu ya, Nak! Menantu Papa tidak pernah memberi tahu tentang keras kepala kamu yang selalu ingin bekerja di rumah sakit, Papa hanya melihat jika beberapa tahun ini kamu sangat sibuk," sambung Papa Ara, untuk mencegah putrinya itu agar tidak timbul pemikiran negatif terhadap suaminya.
Ara tersenyum ke arah Papanya sebelum membuka suara. "Iya, Pa. Adek gak marah! Terimasih karena mengingatkan adek, jauh-jauh hari adek sudah memikirkan perkataan Papa. Selanjutnya akan adek bicarakan dengan suami adek di rumah," lirih Ara, ia mengusap tangan suaminya dengan lembut sembari tersenyum ke arah sang suami yang sedang duduk disampingnya.
Tommy terkesiap mendengar perkataan istrinya, ia bahagia melihat istrinya yang sudah mempunyai rencana kedepan, kehadiran calon anaknya ini seperti membawa kebahagian berkali-kali lipat kedalam keluarganya.
"Adek aku sudah dewasa ternyata," celetuk Alex
"Dasar.... Jangan lama-lama nikahi anak orang gak takut apa jadi bujangan lapuk?" ledek Ara menahan tawa.
"Sembarangan," kesal Alex menyentil dahi adiknya pelan.
"Yang sopan dong sama Ibu, Ibu." Ara mengusap keningngnya.
Mama Ara hanya menggeleng kepala, kedua anaknya ini sudah mempunyai pasangan masing-masing tetapi masih bertingkah seperti anak kecil. Dirinya bersyukur kepada Tuhan yang telah menitipkan dua anak yang selalu memberikan hiburan, sehingga keluarga yang harmonis itu tidak pernah terlihat canggung, mereka selalu terbuka satu sama lain.
__ADS_1
Tidak lama kemudian mereka semua masuk kedalam kamar masing-masing, jika sudah menginap Ara dan sang suami akan tidur di kamar Ara sebelum menikah.