
Sepulang dari rumah orang tuanya kemarin, Ara sudah memutuskan untuk membicarakan jadwal kerja yang ingin diubah mulai minggu depan di rumah sakit. Bagaimanapun rencana yang sudah dibuat itu harus diketahui oleh sang suami.
Flashback On
Di dalam kamar, Ara duduk sembari selonjoran diatas ranjang bersama suaminya. Ara masuk ke dalam pelukan Tommy, salah satu tangannya membelai rambut Ara dan satu tangannya lagi mengelus lembut perut datar istrinya.
"Aku akan mengatur ulang jadwal ku mulai minggu depan," kata Ara sembari menikmati sentuhan tangan sang suami yang mengelus perut datarnya dengan penuh kasih sayang.
Tommy tersenyum dalam diam karena istrinya itu mengurangi jadwal kerjanya. Sebenarnya, Tommy ingin jika istri keras kepalanya ini tidak usah bekerja selama kehamilannya. Tetapi dirinya tidak ingin egois karena selama ini ia sudah melihat perjuangan sang istri untuk mendapatakan cita-cita yang diinginkan.
"Terserah kamu saja, yang penting selalu jaga kesehatan, jangan sampai kelelahan ya! supaya kamu dan calon anak kita selalu baik-baik saja."
Ara yang sudah memejamkan mata hanya mengangguk kepala, ia merasa sangat mengantuk, apalagi sentuhan tangan suaminya yang lembut itu membuat dirinya sangat nyaman.
"Honey, kamu mengantuk? Jangan tidur seperti ini," lirih Tommy yang melihat istrinya yang telah memejamkan mata.
Ara membuka kedua matanya sembari menggeleng kepala. "Akhir pekan kita ke rumah Liz ya! Aku tiba-tiba rindu sama, Baby El," seru Ara yang merindukan anak dari sahabatnya.
"Iya, kita tidur ya!" Tommy mengajak istrinya untuk tidur.
Flashback Off
Akhir pekan, sebelum ke rumah sahabatnya. Ara dan Tommy sarapan terlebih dahulu di ruang makan. Tommy menatap istrinya yang sedang melahap sarapan buatannya sendiri. Saat itu Ara sedang sarapan dengan roti gandum dengan isi telur dan alpukat karena menurut Tommy itu sangat bagus untuk ibu hamil.
Semenjak Ara memberi tahu jika dirinya hamil, Tommy menjadi suami siaga, bahkan seorang Tommy yang terkenal berwajah dingin mencari tahu tentang kehamilan lewat internet. Tommy juga sering bertanya tentang mood yang dialami oleh ibu hamil kepada Mama atau istrinya.
Terkadang Ara menahan tawa akan pertanyaan sang suami yang menurutnya sangat lucu. Bagaimana bisa suaminya itu selalu menyamakan dirinya dengan ibu hamil yang lain. Ara sangat mengetahui jika semua ibu hamil selalu berbeda-beda untuk melewati masa kehamilannya.
Menurutnya, Tommy sangat menggemaskan. Dengan sabar Ara selalu menjelaskan kepada suaminya itu, sehingga Tommy benar-benar paham. Ia terharu melihat sang suami yang sangat antusias atas kehamilannya.
"Aku masih ingat waktu itu, Ryan sering cerita kalau istrinya sering muntah-muntah saat pagi hari." heran Tommy sembari menikmati sarapannya.
__ADS_1
Ara menatap gemas suaminya, jika tidak sarapan mungkin Ara akan mencubit kedua pipi sang suami, sudah berulang kali ia menjelaskan tentang dirinya yang tidak seperti sahabatnya. "itu namanya morning sickness, wajar bila trimester pertama Liz mengalami seperti itu. Bukan hanya dipagi hari saja. Siang, sore, atau malam hari juga bisa mengalami morning sickness. "
"Aku bersyukur kamu tidak seperti itu. Aku gak tega lihat kamu sampai lemas karena muntah-muntah terus," lirih Tommy yang sudah selesai dengan sarapannya.
Ara hanya tersenyum melihat kekhawatiran sang suami.
Beberapa menit kemudian mereka beranjak dari duduknya. Pasangan suami istri yang telah berpakaian santai itu akan menuju rumah sahabatnya.
***
Sesampainya di rumah sahabatnya, Ara turun dengan terburu-buru, ia sudah tidak sabar untuk melihat anak dari sahabat yang sangat dirindukannya. Ara berlari masuk ke dalam rumah sahabatnya itu, sehingga membuat Tommy ikut berlari untuk mengejar sang istri. "Ara.... jangan lari," teriak Tommy yang keluar dari mobil, ia berusaha mendekati sang istri.
Tommy yang sudah didekat sang istri hanya menghembuskan nafas kasar melihat kelakuan istri yang sangat sering membuat dirinya khawatir seperti sekarang ini.
Setelah diantar oleh pengurus rumah tangga sahabatnya itu ke taman belakang. Ara terkesiap, ketika melihat orang yang dilihatnya sedang bermain dengan anak dari sahabatnya. "Rio dan Jel juga disini?" gumam Ara menghampiri semua orang yang ada di taman belakang.
Saat itu Rio bersama Jel sedang bermain dengan anak dari sahabatnya sedangkan yang lain hanya memperhatikan mereka dari kursi santai yang telah dibuat khusus untuk ditempatkan di taman belakang rumah itu.
Kedua mata Ara tertuju kepada wanita cantik yang duduk dengan anggun disamping sahabatnya. "Mbak Iren..." teriak Ara langsung memeluk orang yang telah dianggap sebagai kakak kandungnya.
Ara yang melihat sahabatnya yang kesal langsung memeluknya dengan sayang bahkan dengan iseng ia mencubit kedua pipi Jel dengan pelan. "Gue rindu bangat sama lo."
"Kakak gak dikasih pelukan juga, Ra." Ryan langsung mendapat tatapan tajam dari Tommy. "Bercanda," sambungnya.
"Hai kak," sapa Ara dengan ramah dibalas senyuman oleh Ryan. "Gue kesana ya!" pamit Ara kepada semua orang untuk menghampiri orang yang sedang tertawa yang tidak jauh dari kursi santai yang telah disediakan.
"Baby El...." teriak Ara mengalihkan perhatian anak kecil yang sedang bermain dengan kedua sahabatnya.
"Berisik lo," ucap mereka serempak setelah Ara sudah mendekat.
"Kok lo berdua gak bilang-bilang mau kesini?" tanya Ara sembari mengambil, Baby El yang sedang duduk di atas rumput hijau yang ada di taman belakang.
__ADS_1
"Kita udah kabari suami lo, masa lo gak tahu!" ujar Rio yang sudah memberi kabar untuk berkunjung ke rumah Ryan dan Jel.
Ara yang sangat rindu dengan anak dari sahabatnya itu tidak menghiraukan perkataan Rio, dia lebih memilih memberi kecupan diseluruh wajah anak kecil yang ada dalam gendongannya.
Tommy duduk di dekat Ryan di kursi yang telah disediakan ditaman belakang itu, ia mendekatkan mulutnya ke telinga Ryan untuk berbisik. "Kenapa ada Iren disini?" Tommy yang belum mengetahui jika mantan kekasihnya itu adalah calon istri dari Rio, ia menatap heran kepada sahabatnya, Tommy sangat tahu jika kedua sahabatnya itu tidak terlalu menyukai Iren. Terbukti ketika Tommy menjalin hubungan dengan Iren, jika sudah berkumpul bersama, mereka akan acuh terhadap mantan kekasihnya itu.
"Diajak calon suaminya," singkat Liz yang mendengar pertanyaan suami dari sahabatnya.
Tommy yang peka langsung mengetahui jika Rio adalah calon suami Iren. Ia hanya bersikap biasa saja kemudian mengangguk kepala mengerti.
Saat masih bermain, tiba-tiba anak dari sahabatnya itu menangis karena Jel yang iseng memeluk Rio yang mengatakan jika Rio itu adalah pamannya, bukan paman dari anak sahabatnya itu. Ya, anak dari sahabatnya itu sangat dekat dengan Rio, jika sedang tidak sibuk maka Rio akan berkunjung ke rumah Jel untuk bermain dengan anak dari sahabatnya itu, sehingga membuat anak sahabatnya tersebut sangat nyaman ketika dekat dengan dirinya.
Rio langsung menggendong, Baby El untuk menenangkan bocah yang mempunya pipi bulat itu. Bukannya diam, anak dari sahabatnya itu semakin menangis, sehingga ia memberikan anak yang masih menangis didalam gendongannya itu kepada Ibunya.
Ara yang kesal menarik telinga Jel dengan kuat sehingga sahabatnya itu mengadu kesakitan. "Aaa..... Sa-sakit." Jel melepaskan tangan Ara dengan paksa.
"Kesal gue sama lo." Ara meninggalkan Jel yang masih duduk diatas rumput hijau itu dengan mainan, Baby El yang berserakan dimana-mana. Ia menghampiri semua orang dengan wajah ditekuk.
Tommy yang mengetahui jika mood istrinya yang sedang tidak baik langsung memberikan jus mangga yang telah disediakan dimeja kecil dekat kursi santai itu. Ara meneguk minuman yang telah diberikan suaminya itu dengan sekali teguk, Tommy yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala.
Ia memberikan gelas kosong itu kepada suaminya kemudian ia mendekati Liz yang sedang menenangkan anaknya. "Keponakan aunty yang ganteng jangan nangis lagi ya!" Ara mengusap kepala anak dari sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang.
"Aunty jujur dong supaya aku gak nangis lagi." Jel menirukan gaya bicara anak kecil untuk menjawab perkataan dari sahabatnya itu.
"Jujur apaan?" tanya Ara mengernyitkan kening.
"Lo hamil gak bilang-bilang, mau jadi sahabat durhaka lo? Lo mau, anak lo bakalan mirip sama gue karena ketidakjujuran lo?" tanya Jel yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Enak aja lo, gue bikinnya sama suami gue bukan sama lo. Lagian mana ikhlas gue, anak gue mirip sama lo." Ara menggerutu tidak suka dengan perkataan sahabatnya yang tidak masuk akal itu.
"Sudah jangan berteman." Ryan membuka suara untuk menengahi.
__ADS_1
"Berantam," sahut Ara dan Jel serempak.
Iren yang selalu melihat tingkah lucu mereka merasa bersyukur karena telah dipertemukan dengan istri dari mantan kekasihnya. Ia hanya merasa nyaman jika bersama Ara sedangkan dengan teman Ara yang lain ia merasa canggung. Tetapi sebisa mungkin jika berkumpul bersama Iren membuat dirinya senyaman mungkin walaupun dirinya tidak terlalu sering berkumpul dengan mereka semua.