Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Jujur


__ADS_3

Ara yang menyadari Iren sedang senyum-senyum sendiri mengerutkan keningnya. "Mbak Iren, kenapa senyum-senyum sendiri."


"Kalian lucu," seru Iren yang tidak lupa memperlihatkan senyuman manisnya kepada Ara.


"Dari dulu kita memang lucu. Tapi.... masih lebih lucu gue," Jel yang bergurau mendapat tatapan tajam dari Ara.


"Kalian sama-sama lucu," ucap Iren dengan jujur.


"Dasar jomblo," ujar Ara asal.


"Gue kan ada Abang lo," balas Jel yang tidak terima atas tuduhan temannya itu.


Ara tertawa kecil sebelum melanjutkan perkataannya. "Cuma, Bang Alex yang mau sama lo," ledek Ara.


Berbicara tentang Abangnya, Ara langsung menyadari jika saat ini Alex tidak ikut berkumpul bersama mereka. Ara mengerutkan kening dalam-dalam melihat ke arah Jel yang sudah ikut duduk disampingnya. "Bang Alex, dimana?"


"Itu Abang siapa?" goda Jel pura-pura bertanya serius. Ia tidak mungkin memberitahu kepada sahabatnya ini jika mereka sedang ada masalah, itu sebabnya Alex tidak dapat berkumpul bersama mereka.


"Abang gue," jawab Ara polos karena belum menyadari jika sahabatnya itu sedang menggoda dirinya.


"Masa tanya gue, harusnya lo tahu dong Abang lo ada dimana!" Jel semakin menggoda Ara.


Ara yang kesal bertanya kepada Jel. "Itu pacar siapa?"


Dengan santainya Jel menjawab. "Pacar gue dong."


"Wajar kan gue tanya lo," kata Ara dengan wajah yang tidak bersahabat.


"Ta..."


Perkataan Jel terpotong karena dihentikan oleh Rio, ia heran melihat kedua sahabat yang tidak akan berhenti jika sudah berdebat. "Lo berdua bisa gak sekali aja gak ribut."


"Enggak," ucap mereka serempak lalu Ara dan Jel saling bertatapan dan itu membuat mereka tertawa dengan tingkah kekonyolan yang selalu muncul dalam diri mereka masing-masing.


Liz hanya menggeleng kepala sembari mengusap kening putra kecilnya yang sudah tertidur karena kelelahan menangis. "Jangan ketawa, Ra. lo masih utang penjelasan sama kita. Jujur sekarang atau gue marah sama lo." tiba-tiba Liz bertanya kepada Ara yang tidak memberitahu soal kehamilannya.


"Maksudnya?" tanya Ara dengan wajah bingung.


"Gue ada pertanyaan sama lo," sambung Liz.


Ryan terkekeh mendengar perkataan istrinya. "Kamu udah kayak dosen penguji aja, yank. Ara udah jadi dokter. Jadi, gak cocok lagi dikasih pertanyaan."


Liz melototkan mata ke arah, Ryan. Ia tidak suka dengan sang suami yang meledek dirinya. Kemudian ia melihat Ara yang sedang memperhatikan wajah seriusnya. "Jujur sama kita, Ra."


Ara semakin mengerutkan keningnya dalam-dalam, ia tidak mengerti maksud dari perkataan sahabatnya itu. "Jujur?" tanya Ara.


Melihat wajah Liz yang sedang serius, Jel mengangkat suara untuk mewakilkan Liz untuk bertanya kepada Ara. "Oke... Biar gue aja yang tanya, Ara. Lo diam aja, Liz. Gue tahu maksud pertanyaan lo."

__ADS_1


Semua mata tertuju kepada Jel, mereka semua menunggu pertanyaan yang akan ditanyakan kepada Ara.


"Jadi... Begini, Ra." sebelum melanjutkan perkataannya, ia melihat Liz yang sedang mentapnya dengan wajah serius. "Liz, lo sambung deh gue bingung mau kasih pertanyaan apa sama, Ara."


Ara yang kesal reflek menoyor kepala Jel dengan perasaan gemas. "Dasar... Gue udah bisa tebak dari awal kalau lo itu pasti bercanda."


"Lo berdua tuh sama, gak pernah serius," seru Rio.


"Apa lo bilang?" tanya Ara dengan suara meninggi.


"Honey..." panggil Tommy karena tidak suka jika istrinya berteriak kepada orang lain.


"Apa?" ketus Ara.


Tommy menelan ludahnya dengan kasar tidak berani untuk melanjutkan perkataannya.


"Dasar bumil, galak bangat semenjak hamil," goda Rio.


"Lo hamil gak kasih kabar ke kita, Ra. Sahabat durhaka lo," kesal Liz.


"Waktu di pantai kan udah gue bilang kasih kabar ke gue kalau lo udah pakai test packnya," kata Jel.


"Lo hamil anak siapa, Ra?" tanya Ryan tanpa dosa.


Tommy yang tidak terima dengan perkataan Ryan, menatap tajam sahabatnya itu. "Gue suami, Ara."


"Berisik lo semua, jadi lapar kan gue," ketus Ara sembari mengusap perutnya yang sudah minta diisi.


"Lo belum jawab pertanyaan gue, Ra." Liz masih menunggu jawaban dari sahabatnya yang sampai sekarang belum memberi tahu soal kehamilannya.


"Lo tanya sama suami gue aja, gue ke dapur lo ya! lapar gue." Ara beranjak dari duduknya tetapi tangannya langsung ditarik oleh sahabatnya.


"Lo jawab dulu baru bisa masuk ke dapur orang," ujar Jel menahan sang sahabat.


"Gue lapar..." rengek Ara dengan wajah memelas.


"Tinggal jawab aja susah bangat sih lo," seru Rio.


Tommy yang tidak tega melihat wajah Ara sedang menahan lapar, langsung mengangkat suara. "Iya, Ara sedang hamil, mau masuk minggu ke empat, mohon doanya ya! supaya sehat sampai lahiran."


"Amin....." jawab mereka serempak.


"Maaf ya! Gue gak ada maksud untuk tidak mengabari kalian semua, gue selalu kelupaan," tutur Ara dengan wajah polos.


"Ya sudah, kita makan siang bareng aja. Masa cuma Ara aja yang makan," ucap Liz sebenarnya ia masih kesal terhadap temannya ini karena kehamilannya ia dengar dari mulut sahabat dan suaminya, ia berharap Ara sendiri yang memberitahu mereka langsung tetapi ia tidak ingin memaksa sang sahabat.


Mereka semua menuju ruang makan, seperti biasa jika sudah berkumpul seperti ini, mereka akan makan sembari mengobrol. Selalu ada pembahasan menjadi topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mereka sudah selesai dengan acara makan siangnya, tetapi mereka semua masih setia duduk di ruang makan. Rio melihat wajah para sahabatnya yang sedang bercanda dengan, Baby El. Ya, putra kecil Liz tiba-tiba terbangun sewaktu ingin dibawa ke dalam kamar. Liz tidak tega membawa sang putra yang tertidur pulas ke ruang makan. Alhasil putra kecilnya itu dibawa ke ruang makan makan.


Sebelum membuka suara Rio berdehem membuat semua mata tertuju kepadanya. "Dua bulan lagi gue nikah," singkat Rio.


"Sama siapa?" tanya Jel yang tidak percaya, karena setahu Jel sahabatnya yang satu ini tidak pernah mengenalkan wanita yang dicintai kepada mereka.


Dengan malas Rio menjawab pertanyaan Jel. "Sama wanita yang gue bawa." Ia melirik sekilas ke arah Iren yang ada disampingnya.


Jel dan Ara langsung melihat ke arah Iren yang sedang menunduk. "Mbak Iren?" tanya mereka.


Rio hanya mengangguk kepala untuk menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu.


"Mbak..." panggil Ara.


Iren yang mengerti maksud dari panggilan Ara langsung mendongak. "Iya, Ra. Dua bulan lagi kita akan menikah."


"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Jel.


Liz, Ryan dan Tommy hanya diam saja untuk mendengarkan percakapan mereka. Sebelumnya juga Rio sudah memberi tahu kepada Liz dan Ryan jika wanita yang dijodohkan dengannya adalah Iren jadi mereka tidak terkejut seperti Ara dan Jel. Sedangkan Tommy yang tidak suka ikut campur dengan urusan orang lain tidak berniat untuk bertanya, sesuai degan sifatnya ia lebih suka menjadi pendengar yang baik.


"Kita dijodohkan," singkat Iren menjawab pertanyaan Jel.


"Lo gak kaget, Liz," tanya Ara yang melihat Liz biasa saja.


Liz menggeleng kepala. "Semenjak dijodohkan, Rio udah cerita."


"Rio...." Teriak Ara dan Jel.


Rio hanya cengengesan melihat wanita yang sedang berteriak kepadanya, Ia tahu jika kedua wanita yang sudah dianggap sebagai adiknya itu tidak bisa menyimpan rahasia, itu sebabnya Rio hanya bercerita kepada Liz saja. "Nanti gue cerita sama kalian."


"Selalu bahagia ya! Calon pengantin," ujar Jel memberi doa kepada sahabatnya.


Iren hanya tersenyum tipis sembari melirik ke arah Rio dengan ekor matanya.


"Akhirnya lo laku juga, Ri." Ara tertawa kecil, ia bahagia melihat sang sahabat menikah dengan orang yang sudah dianggap menjadi kakaknya sendiri. Awalnya ia ingin menjodohkan Rio dan Iren tetapi dilarang keras oleh sang suami dengan alasan Tommy yang membuat Ara kesal sendiri. Tommy mengatakan tidak boleh terlalu ikut campur dengan masalah percintaan orang itu membuat Ara menjadi diam dan tidak melanjutkan niatnya.


"Kasih gue undangan pernikahan lo dong, Ri." Ara menyodorkan tangannya untuk meminta undangan pernikahan sahabatnya itu.


"Nanti ya! undangannya ada di tas Iren," seru Rio, sebelum ke rumah Liz semua undangan untuk sahabatnya sengaja diberikan kepada Iren, saat itu tas Iren diletakkan di ruang tamu ketika baru sampai di rumah sahabatnya itu.


Ara mengangguk kepala kemudian melirik Jel sekilas. "Habis ini siapa lagi ya! yang kasih gue undangan pernikahan," sindir Ara.


Jel yang menyadari jika Ara sedang menyindir dirinya tidak terima. "Jangan gitu dong, Ra."


Tawa Ara pecah melihat wajah Jel yang sedang memelas kepada dirinya. "Makin lapar gue." Ara mengambil beberapa potongan buah yang sudah disediakan didepannya.


Jel yang melihat Ara yang selalu mengunyah makanan menggeleng kepala, faktanya sedari tadi Ara selalu melahap makanan yang ada didepannya. "Gak takut gemuk lo,Ra."

__ADS_1


"Enggak dong, gak masalah gue gemuk yang penting udah punya suami," kata Ara dengan santai sembari memasukkan potongan buah kedalam mulutnya.


__ADS_2