Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Bertengkar 1


__ADS_3

Akhirnya semua orang makan bersama di meja makan, sebelumnya semua makanan sudah disiapkan pelayan yang ada di rumah Dirgantara, sedari tadi Tommy hanya diam saja, ia kembali ke sifat awal nya, padahal semua keluarga sedang berbincang sesekali mereka tertawa karena tingkah baby El.


Usai makan semua keluarga kembali ke ruang tamu melanjutkan obrolan mereka. Tommy melirik ponsel yang sedang di pegang nya berharap ada balasan dari pesan yang dikirim terhadap istrinya sebelum kerumah orang tua nya.


"Nak, coba telfon putri Mama, sedari tadi kenapa belum datang juga ya!" ia merasa khawatir akan menantunya.


Tommy mengangguk kepala, menekan nomor sang istri tetap juga tidak diangkat "Mama jangan khawatir ya! bentar lagi juga datang kok." sebenarnya Tommy juga cemas karena istrinya tidak memberi kabar sampai sekarang.


Dirumah sakit Ara terburu-buru menuju kendaraannya, karena ada pasien yang harus ditangani begitu mendadak mulai dari jam istirahat, Ara sampai melupakan ulang tahun mertuanya, ia melaju kendaraannya dengan cepat beruntung jalanan tidak terlalu ramai sehingga dirinya sampai dengan selamat di rumah mertuanya itu.


Keadaan Ara saat ini agak berantakan lengkap dengan seragam dokternya, selesai memeriksa pasien ia langsung masuk ke ruangannya mengambil tas yang sering dipakai tanpa membuka seragamnya terlebih dahulu, sehingga tidak sadar jika saat ini masih memakai seragam dokternya. Ia menekan bel rumah mertuanya, pelayan membuka pintu dan mempersilahkan Ara masuk. Ia sedikit berlari ke arah ruang tamu dimana semua orang berkumpul.


Ara mengatur nafas nya supaya kembali normal. "Maaf." kata pertama yang keluar dari mulut Ara melihat ke arah semua orang.


Mereka semua melihat Ara yang baru saja datang.


Seperti biasa Ara langsung mencium tangan orang-orang yang disayangi nya dan menyapa teman-temannya, Ara melihat Tommy sekilas ketika mencium tangannya, Tommy membuang muka tidak menatap wajah Ara, bahkan tidak memberi kecupan di kening sesudah Ara mencium tangan suaminya.


Berjalan mendekati Mama mertuanya sedang memangku, baby El. "Selamat ulang tahun Ma. Maaf ya Ma, Ara telat." memegang tangan mertuanya.


Mama Tommy tersenyum mengusap puncak kepala istri anaknya yang sudah dianggap sebagai putrinya. "Terimakasih sayang. Sudah tidak apa-apa, Mama tidak marah kok." mengecup kening Ara sekilas.


"Kamu sudah makan?" tanya Papa Tommy perhatian terhadap Ara.

__ADS_1


Ara menatap wajah mertuanya, mengangguk kepala. "Sudah, Pa. Tadi di rumah sakit."


Mata Ara tertuju kepada, baby El yang sedang dipangku Mama mertuanya, anak sahabatnya merentangkan kedua tangan seperti meminta untuk digendong oleh Ara. "Mau digendong sama aunty ya?" tanyanya langsung mengambil baby El untuk digendong. Ara menghujani banyak ciuman dikedua pipi gembul itu, bukannya menangis malahan dia tertawa sembari menepuk-nepuk wajah Ara dengan tangan mungilnya.


"Udah cocok bangat, Ra." celetuk Liz melihat keakraban anaknya dengan sahabatnya.


"Bisa aja lo." tawa Ara. "Honey, nanti kita buat yang begini ya!" goda Ara melihat wajah suaminya yang menampilkan wajah datar.


Tommy tidak menjawab pertanyaan Ara, ia masih fokus dengan ponselnya. Semenjak Ara datang Tommy memainkan ponsel nya menghindari tatapan muka dengan sang istri.


"Gue juga pengen kali." ucap Jel tiba-tiba mendapat sentilan dari Alex kebetulan posisi mereka saat ini sedang berdekatan.


"Babe, terima lamaran aku dulu. Biar kita langsung buat kayak, baby El." ungkap Alex.


Semua orang tertawa melihat nasib Alex yang lagi-lagi di tolak mentah-mentah oleh Jel. Alex mendengus sebal terhadap kekasihnya sudah berapa kali di tolak tetapi dirinya tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkan cintanya.


Lama mengobrol tidak terasa sudah berjam-jam mereka semua mengobrol. Mereka pamit pulang kerumah masing-masing begitu juga dengan Tommy dan Ara karena besoknya mereka harus bekerja jadi tidak bisa menginap dirumah orang tuanya. Tommy menyuruh Ara untuk satu mobil bersamanya, melihat sudah malam ia tidak tega melihat istrinya menyetir sendiri. Mobil Ara akan diantar besok pagi oleh supir keluarganya.


Didalam perjalanan Ara melirik Tommy yang hanya diam saja, ia berusaha memecah keheningan. "Kamu kenapa?" tanya Ara melihat wajah suaminya dari samping.


Tommy yang masih fokus melihat ke arah depan. ia mengabaikan pertanyaan sang istri. Sekuat tenaga ia berusaha menahan amarahnya, saat ini Tommy benar-benar kecewa melihat kesibukan sang istri bahkan sering sekali ia merasa khawatir karena tidak ada kabar dari istrinya.


"Kamu kenapa sih?" menaikkan satu oktaf suaranya.

__ADS_1


Tommy tetap diam tidak menjawab pertanyaan Ara.


Setelah sampai di halaman rumahnya, Tommy turun dari mobil tanpa mengeluarkan suara. Ia membanting pintu sedikit keras sehingga Ara mengernyitkan keningnya menatap punggung suami menuju rumah. Ara turun dari mobil lalu menyusul suaminya.


Didalam kamar Ara menunggu Tommy yang sedang membersihkan tubuhnya, setelah suaminya selesai mandi Ara juga masuk kedalam kamar mandi. beberapa menit kemudian, Ara selesai dengan ritual mandinya. ia berjalan ke arah lemari memakai piyama tidur yang biasa dia gunakan. tidak tahan melihat suaminya terus diam Ara menghampiri Tommy yang sedang memainkan ponselnya di sofa yang ada didalam kamar mereka. ia merampas ponsel Tommy lalu menyembunyikan nya di belakang tubuhnya. suaminya yang kaget menatap tajam ke arah istrinya yang mengambil ponsel nya secara tiba-tiba.


Ara menatap garang ke arah Tommy. "Apa?" tanyanya menantang.


Tommy menghembuskan nafas kasar. "Kembalikan ponselku," ucapnya dingin.


Ara menelan ludahnya dengan kasar, sudah lama dirinya tidak melihat wajah dingin Tommy. "Kamu kenapa? kenapa diam aja dari tadi." masih memegang ponsel suaminya dibalik tubuhnya Ara tidak berniat untuk memberikan ponsel suaminya itu.


Tommy turun dari ranjang menatap istrinya. "Kamu tanya aku kenapa? kamu gak sadar sama kesalahan kamu." bentak Tommy.


Ara yang terkejut mendengar bentakan sang suami langsung mundur beberapa langkah, dengan mengumpulkan keberanian Ara melihat wajah Tommy yang sudah menatapnya dengan tajam. "Kenapa kamu bentak aku?" meninggikan suaranya karena mendengar bentakan sang suami.


"Aku gak akan bentak kamu, kalau kamu gak melakukan kesalahan. Aku kecewa, Ra sama kamu. Aku bosan yang terus mengalah sama kamu, kamu egois, Ra. Kamu gak pernah mikirin perasaan aku." lirih Tommy dengan wajah datar.


Ara mengernyitkan kening. "Ngomong apa sih?" gerutu Ara.


"Mau sampai kapan, Ra! kamu sibuk terus. Aku cuma minta kamu bantuin aku buat kejutan untuk Mama tapi itu pun kamu lupa. Mama sayang bangat sama kamu tapi bisa-bisanya kamu telat di hari ulang tahun Mama, Aku ini apa, Ra? suami kamu? kalau aku suami kamu tolong hargai aku! selama ini kamu sadar gak? selalu ingkar janji, jarang memberi kabar kalau sudah menangani pasien kamu, aku gak pernah nuntut soal kesibukan kamu tapi tolong sesekali jangan mengabaikan keluarga walaupun kamu sedang sibuk." Tommy mengeluarkan semua yang ditahannya sedari tadi.


Ara berkacak pinggang. "Kamu kan tahu soal pekerjaan aku lagian aku suka sama profesi aku, karena ini udah cita-cita aku mulai dari kecil." kesal Ara meletakkan kasar ponsel suaminya di atas meja yang ada di samping ranjang mereka.

__ADS_1


"Rumah sakit tempat kamu bekerja bukan cuma mempekerjakan hanya seorang dokter saja, masih banyak dokter lain. Dasar kamu saja yang sok kerajinan." tidak tahan dengan sikap keras kepala istrinya yang tidak mau mengalah.


__ADS_2