
"Nikah dong Jel, tinggal lo yang belum laku," celetuk Ryan, ia sengaja menggoda Jel. Ryan tahu sahabat istrinya itu sangat sensitif jika membahas tentang pernikahan.
Jel yang mendengar itu langsung menggoda balik. "Lo mau jadi suami gue kak!"
Liz tertawa melihat Jel yang selalu berbicara tanpa disaring terlebih dahulu. "Sejak kapan selera lo jadi bapak-bapak!"
"Sayang, aku gak setua itu lho untuk dikatakan sebagai bapak-bapak," kata Ryan yang tidak terima disebut sebagai bapak-bapak oleh istrinya.
"Anak lo kan udah ada kak! Gak masalah dong lo disebut sebagai bapak-bapak," seru Rio sembari tertawa. Ia merasa lucu dengan reaksi yang diperlihatkan oleh suami sahabatnya.
"Dari wajah kakak juga udah kelihatan kok, jiwa bapak-bapaknya" ledek Ara yang masih menikmati potongan buah yang ada didepannya.
Ryan yang tidak bisa lagi mengelak hanya bisa menghembus napas dengan pasrah, ia tahu ke empat bersahabat itu sedang kompak meledek dirinya, maka dari itu Ryan memilih untuk mengalah. "Iya, iya. Gue udah jadi bapak-bapak."
Tommy hanya terkekeh geli melihat wajah Ryan yang sedang menahan kesal.
"Kenapa lo?" tanya Ryan yang melihat Tommy yang sedang terkekeh.
Bukannya menjawab Tommy malah mengedikkan bahu, seolah tidak peduli dengan pertanyaan Ryan.
"Aneh," gerutu Ryan.
Ara kesal karena sang suami dikatakan 'aneh' oleh sahabatnya sendiri. "Kakak yang aneh."
"Gue bilangnya sama suami lo, Ara."
"Tetap aja kakak yang aneh." Ara yang tidak terima masih membela diri.
"Supaya adil, lo berdua yang aneh. Puas?" ujar Jel.
Ara menatap kesal ke arah Jel, ia memegang lengan sang suami yang duduk disampingnya. "Honey, Jel bilang aku ikutan aneh sama kayak, Kak Ryan." Ara mengadu kepada Tommy.
Tommy tersenyum kepada istrinya itu, ia membelai rambut sang istri yang sengaja terurai. "Kamu gak aneh dan gak ada yang aneh," tutur Tommy memberi pengertian kepada istri kecilnya, layaknya seperti seorang Ayah berbicara kepada putrinya.
__ADS_1
"Ta ..."
Ucapan Ara langsung terpotong ketika Tommy mengangkat jari telunjuk yang ditempelkan dibibir sang istri. "Sudah ... Kamu makan lagi ya! Biar makin sexy." Tommy sengaja menggoda Ara yang selalu melahap makanan yang ada didepannya.
Mereka yang melihat pasangan suami istri itu hanya tertawa kecil medengar perkataan Tommy, sedangkan Ara menatap kesal ke arah Tommy, Ara memukul lengan sang suami dengan pelan sehingga membuat Tommy langsung mengacak rambut Ara dengan perasaan gemas.
Iren merasa iri dengan pemandangan yang dilihatnya, ia berharap setelah menikah nanti, dirinya juga bisa diperlakukan seperti apa yang dilakukan Tommy kepada Ara. Ia ragu tentang rumah tangga yang akan dibangun bersama suaminya nanti, ia sudah bisa melihat jika hal itu tidak akan pernah terjadi.
Ia tidak pernah membayangkan jika lelaki yang tidak masuk kriterianya itu akan menjadi pendamping hidupnya. Sebelumnya juga, Iren menentang perjodohan yang telah dilakukan oleh kedua orang tua dan orang tuanya Rio, Iren yang terkesiap dengan lelaki yang akan menjadi calon suaminya tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya itu, sama halnya dengan Rio. Mereka tidak mempunyai pilihan sehingga tidak ada alasan untuk menolak perjodohan itu.
Jel memutar bola mata malas ketika melihat Ara yang selalu manja kepada Tommy, itu membuat dirinya seperti orang yang tidak mempunyai pasangan. "Jangan pamer kemesraan dong."
Ara tertawa melihat sahabatnya itu. "Yang belum nikah jangan sirik ya! Gak bagus bagi kesehatan lo," goda Ara.
Rio yang gemas, menghampiri Ara hanya untuk menyentil dahi sang sahabat yang selalu mengeluarkan perkataan nyeleneh, lalu kembali duduk dikursi yang semula ditempati, hal itu membuat Jel tertawa.
"Rio, lo yang terbaik," ucap Jel masih tertawa.
Dengan kesal Ara mengusap dahinya. "Rio... Gak sopan lo sama ibu hamil."
Liz hanya menggeleng kepala sembari menidurkan putra kecil yang ada dipangkuannya, kemudian Ryan mengajak semua tamu yang datang ke rumah nya itu ke ruang keluarga.
Mereka mengobrol sembari tertawa sehingga tidak terasa hari sudah berubah menjadi sore. Semua tamu pamit pulang ke tempat masing-masing.
***
Diperjalanan pulang menuju rumah Iren, Rio dan Iren sama-sama diam. Salah satu dari mereka tidak ada yang berniat untuk membuka suara.
Iren mengerutkan kening dalam-dalam, sesekali ekor matanya melirik ke arah Rio yang fokus mengemudi. Terkadang ia bingung melihat sifat Rio yang menjadi dingin jika dihadapannya tetapi tidak dengan para sahabatnya.
Iren pernah berpikir jika Rio tidak mengingkan dirinya sebagai istrinya, hal itu yang membuat dirinya khawatir terhadap rumah tangga yang akan dijalani bersama Rio. Iren selalu berusaha untuk mengungkapkan isi hatinya tetapi ia bingung untuk memulainya dari mana.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, ia meremas kedua tangan yang diletakkan diatas pahanya. Ia membuka suara tanpa melihat ke arah Rio. "Gue minta lo batalkan perjodohan ini."
__ADS_1
Rio yang mendengar permintaan wanita yang dijodohkan dengan dirinya merasa kesal, ia juga berharap perjodohan ini batal, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya karena tidak ingin membantah kedua orang tuanya.
Iren menghela napas, dilihatnya Rio yang sedang menahan amarah. "Gue gak cinta sama lo, begitu juga sebaliknya. Menurut gue pernikahan itu sekali seumur hidup dan gue gak mau rumah tangga kita berhenti ditengah jalan."
Rio yang menahan amarah segera menepikan mobil di pinggir jalan, dengan tatapan tajam ia mengepalkan kedua tangannya sedangkan rahangnya sudah mengeras, sebisa mungkin ia mengendalikan emosinya. "Maksud lo apa?" tanya Rio dengan suara yang santai.
"Lo bukan anak kecil yang tidak mengerti dengan perkataan gue." Iren masih menatap Rio yang menatapnya dengan tajam.
Rio semakin mengepalkan kedua tangannya, berusaha bersabar, ia tidak ingin membuat wanita yang ada dihadapannya ini menjadi takut. Sebenanya Rio sudah mulai menerima perjodohan itu, ia berusaha untuk membuka hati kepada calon yang telah disiapkan kedua orang tuanya. Ia juga sama seperti Iren yang hanya menikah sekali seumur hidup.
Rio sudah memikirikan cara untuk mendekatkan diri dengan Iren tetapi wanita yang ada dihadapannya ini benar-benar ingin membatalkan perjodohan mereka.
"Oke ... Lo sendiri yang bilang sama kedua orang tua lo, supaya mereka membatalkan perjodohan ini."
Iren mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, ia melipat kedua tanggannya didepan dada. "Gue gak mau." Iren yang takut berbicara kepada orang tuanya menolak permintaan Rio.
"Mau lo apa? Bukannya lo yang minta supaya perjodohan ini batal." Rio menaikkan satu oktaf suaranya.
"Iya. Tapi, gue mau lo yang batalkan perjodohan ini," ketus Iren.
Rio menggeleng kepala, tidak habis pikir dengan wanita yang sedang ditatapnya itu. "Turun lo." Rio yang sangat kesal tidak ingin melihat wajah Iren, membuat dirinya tega menurunkan Iren di tengah jalan.
Iren yang diturunkan tanpa persiapan hanya bisa melihat wajah Rio dengan perasaan marah. "Gue benci sama lo." Iren berteriak dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia membuka pintu mobil Rio, kemudian membanting pintu tersebut dengan kuat, bagaimana bisa Rio menurunkannya ditengah jalan yang sepi tanpa ada angkutan umum yang lewat.
Dengan perasaan campur aduk, Rio meninggalkan Iren di tengah jalan. Ia melajukan kendaraannya tanpa mempedulikan Iren yang sedang berdiri sembari menatap mobil yang dipakainya.
Belum jauh dari tempat Iren berdiri, Rio ingin memutar balik kendaraanya untuk menyuruh calon istrinya itu masuk kembali kedalam mobilnya, sebenarnya Rio tidak tega, tetapi karena egois yang ada dalam dirinya sangat tinggi membuat ia tetap melajukan kendaraannya.
Iren mengambil benda pipih yang sering digunakan dari dalam tasnya, ia menghubungi Ara untuk segera menjemputnya. Ia tidak mempunyai pilihan lain, apalagi dirinya tidak mempunyai teman dekat selain Ara, bisa saja dirinya meminta teman yang lain untuk menjemputnya tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Iren. Iren hanya percaya kepada Ara sebagi teman dekatnya.
Setengah jam menunggu, akhirnya Ara dan suaminya datang menjemput Iren. Ara yang melihat wajah Iren dengan mata sembab dan hidung merah, membuat dirinya merasa iba terhadap wanita yang sudah diajak masuk kedalam mobil suaminya.
Ketika melihat sang istri lebih memilih duduk di kursi penumpang, membuat Tommy menatap kesal ke arah istrinya. Ara yang tidak peka hanya menampilkan senyuman ketika menyadari jika sang suami sedang melihatnya.
__ADS_1
Ara memberi waktu kepada Iren untuk menceritakan secara langsung apa yang terjadi dengan dirinya, banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Iren. Ia tahu kalau Iren diantar oleh Rio tetapi kenapa saat ini Iren meminta dirinya untuk dijemput di tengah jalan.
Suasana didalam mobil terlihat canggung, sesekali Tommy melirik istri dan mantan kekasihnya itu dari kaca spion tengah yang duduk di kursi penumpang. Ia sudah seperti supir pribadi yang mengantarkan majikannya ke tempat tujuan.