
Pagi hari disaat bangun tidur, Ara beranjak dari tempat tidur dengan pelan supaya tidak membangunkan suaminya yang sedang tertidur. Ara membuka laci yang berada disamping ranjang mereka, ia mengambil test pack yang telah disimpan kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Ara menampung urinenya ia memasukkan test pack kedalam wadah tempat penampungan urine tersebut, beberapa detik kemudian Ara mengangkat test pack itu. Ditunggunya beberapa menit sehingga hasilnya menunjukkan dua garis berwarna merah.
Dengan perasaan bahagia bercampur haru serta cemas ia berdoa mengucap syukur telah diberikan kepercayaan, Ara sangat yakin jikalau dirinya saat ini sedang mengandung walaupun hanya menggunakan test pack, apalagi mengingat dirinya sudah telat datang bulan. Karena jadwal menstruasinya sangat teratur setiap bulannya.
"Untuk lebih memastikannya aku akan melakukan tes darah besok." Ara berbicara pada diri sendiri sedangkan matanya masih terfokus kepada benda yang memperlihatkan dua garis bewarna merah itu.
Keluar dari kamar mandi Ara menatap suaminya yang sedang tertidur, dengan perasaan ragu Ara membangunkan Tommy untuk memberitahukan kehamilannya. Ara berjalan ketempat tidur untuk menghampiri suaminya. "Selamat pagi, Daddy." salah satu tangannya mengelus wajah Tommy dengan lembut.
Tommy yang masih tertidur membuat Ara tidak kehabisan akal untuk membangungkan suaminya, ditariknya selimut Tommy sampai tidak menutupi tubuhnya lagi. "Daddy...." teriak Ara membuat Tommy terbangun.
Tommy yang masih setengah sadar menatap wajah istrinya dengan samar-samar. Beberapa kali ia mengerjapkan mata sembari menguap lebar, dengan reflek Ara menutup hidungnya karena mencium bau menyengat dari mulut sang suami. "Kamu menguap atau kentut? bau bangat." salah satu tangannya mengibaskan ke udara berulang-ulang.
Bukannya sakit hati atau pun marah Tommy terkekeh mendengar pertanyaan istrinya, ia mengambil posisi duduk ditatapnya istrinya yang masih menutup hidung. "Kamu mau lagi?" tanya Tommy menggoda istrinya.
"Daddy jahat....." manja Ara langsung memeluk Tommy dengan mata berkaca-kaca.
Tommy mengernyitkan keningnya dalam-dalam mendengar panggilan baru istrinya. "Daddy?" tanya Tommy.
Ara mengangguk kepala semakin dibenamkan wajahnya didada bidang Tommy untuk menghirup aroma tubuh suaminya yang sudah menjadi candu baginya. "Wangi...." ucap Ara.
Tommy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "wangi atau bau?" digodanya sang istri yang tidak konsisten dalam berbicara.
Ara mendongak untuk melihat wajah suaminya. "Sekarang udah wangi kok," ujarnya cengengesan.
Ara melepaskan pelukannya ia menepuk jidatnya karena lupa dengan tujuan awalnya yang ingin memberitahukan hasil test pack yang digunakan tadi di kamar mandi. "Oh, iya, aku ada kejutan buat kamu."
"Kejutan?" tanyan Tommy dengan wajah bingung ia mengingat jika sekarang bukan lah ulang tahun pernikahan atau ulang tahunnya apalagi ulang tahun istrinya jadi untuk apa dia diberikan kejutan.
"Honey, tutup mata dulu ya!" suruh Ara.
Walaupun masih bingung tetapi Tommy menuruti kemauan istrinya, Ara mengangkat benda yang digenggam sejak tadi dihadapkan ke arah Tommy. "Setelah hitungan satu sampai tiga kamu buka mata ya!" ujar Ara dibalas anggukan kepala oleh Tommy. "Satu.... Dua..... Tiga.... Kejutan....." Mengoyangkan benda yang ada ditangannya ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Tommy yang membuka mata langsung melihat test pack itu penuh tanda tanya, Tommy bukan lah orang bodoh yang tidak mengerti tentang benda yang ada dihadapannya. Diraihnya benda itu lalu dilihat dua garis berwarna merah ada dibenda tersebut. Tommy yang tidak menyangka sudah diberi kepercayaan tidak lupa mengucap syukur, matanya sudah berkaca-kaca sehingga tidak sanggup lagi untuk tidak mengeluarkan air mata diwajahnya yang memiliki kulit kasar.
Tommy memeluk istrinya dengan erat, berulang kali dia mengucapkan kata terima kasih. "Terima kasih.... Terima kasih telah mengandung anakku," seru Tommy dengan suara yang bergetar. Ia tidak menyangka beberapa bulan lagi dirinya akan mendengarkan suara tangisan bayi di rumah nya.
Ara yang terhanyut dalam tangis bahagia suami juga menjadi ikut meneteskan air mata, Ara tidak menyangka jika reaksi Tommy seperti ini, karena selama ini suaminya tidak pernah bertanya tentang kehamilan Ara, jika Ara sedih belum juga mempunyai anak maka Tommy akan selalu memberi dirinya kata-kata semangat.
"Terima kasih, little girl," sambungnya dengan tulus memberi kecupan didahi istrinya.
Ara tersenyum mengangguk kepala dipelukan suaminya.
Tommy melepaskan pelukannya dengan sisa air mata diwajahnya ia menatap wajah istrinya sekilas kemudian Tommy menghujani kecupan diwajahnya sehingga membuat Ara merasa geli.
Beberapa detik kemudian mereka saling pandang kemudian tersenyum. "Aku masih ragu kalau aku sedang mengandung, untuk membuktikan kebenarannya aku akan melakukan tes darah ke rumah sakit," tutur Ara membuat wajah Tommy menjadi murung.
"Kita doakan saja semoga hasilnya benar," ucap Tommy membelai rambut istrinya. "Honey, Jangan dikasih tahu dulu sama yang lain, kita tunggu kepastiannya. Setelah hasilnya keluar baru kita memberi tahu mereka," sambungnya mengingat istrinya yang mudah keceplosan.
Ara mengangguk kepala setuju, dia juga tidak ingin membuat orang yang sangat dicintainya menjadi kecewa.
Berhubung hari libur Ara menghabiskan waktu di rumah saja, biasanya dihari minggu seperti ini Ara akan berolahraga mengingat dirinya hanya bisa berolahraga di hari libur tetapi Tommy melarang keras ketika istrinya bergerak ke sana ke kemari, semenjak mengetahui kehamilan Ara Tommy menjadi waspada mengingat jika istrinya sedang hamil muda.
***
Di Rumah Sakit
Setelah membuat janji dengan sahabatnya Ara langsung masuk ke ruangan Rio.
Sebenarnya Ara sudah terbiasa dengan pasien yang pertama kali untuk tes kehamilan, mengingat dirinya juga seorang dokter kandungan tetapi hal itu tidak bisa dilakukan untuk dirinya sendiri sebab ia juga membutuhkan seorang dokter untuk memeriksanya.
Ara menyerahkan hasil test pack kepada Rio sehingga saat ini Ara melakukan tes darah untuk mendapatkan hasil yang akurat. Ada dua jenis tes darah yang harus dijalani Ara. Pertama, tes darah kuantitatif yang mengukur jumlah tepat HCG dalam darah. dan yang Kedua, tes darah kualitatif yang memberikan jawaban ya atau tidak. Apakah dirinya sedang hamil atau tidak. Maka Ara akan menunggu hasil tes darah itu selama seminggu lebih untuk mendapatkan hasilnya.
Ara melakukan tes darah untuk memeriksa jumlah hormon kehamilan. Human chroid gonadotrohim (HCG) yang ada didalam darahnya, kadar hormon tersebut akan mengkonfirmasi seberapa jauh kehamilan Ara sehingga Rio yang memeriksa bisa memastikan jumlahnya dua kali lipat setiap dua hingga tiga hari, supaya dapat menunjukkan bahwa kehamilan Ara berjalan normal.
"Gak sabar gue menunggu hasilnya," seru Ara yang telah selesai mekukan tes darah dengan Rio.
__ADS_1
"Gue berdoa semoga ada Tommy junior diperut lo," kata Rio tulus.
"Gue juga berdoa, setelah hasil lab keluar lo udah nikah sama wanita yang lo cintai," ledek Ara karena sampai sekarang sahabatnya yang satu ini tidak pernah mengenalkan wanita pujaannya.
"Tenang aja lo. Bulan depan gue kirim undangan pernikahan gue ke rumah lo," ujarnya dengan santai.
"Serius, Ri?" tanya Ara yang mengetahui jika temannya saat ini sedang tidak bercanda.
"Gue dijodohkan, Ra." Rio mengalihkan tatapannya dari Ara supaya sahabatnya ini tidak mengetahui jika dirinya sedang bersedih.
"Ri, tatap gue," ucapnya dengan nada memerintah.
"Jangan, Ra. Gue takut kalau gue gak bisa melupakan cinta pada pandangan pertama gue saat di universitas," goda Rio.
"Gak berubah lo." Ara mencubit perut Rio sehingga mengadu kesakitan meminta ampun.
"Lo tuh yang gak berubah, udah mau jadi emak juga masih aja galak." menahan sakit diperutnya karena cubitan Ara sangat kuat.
"Hahaha, kesal gue. Doakan saja semoga gue benar-benar menjadi seorang ibu," tawa Ara melihat wajah Rio saat ini.
Rio menggeleng-geleng kepala. "Gue berdoa semoga istri gue kayak lo." Rio menatap wajah Ara dengan serius sehingga Ara menghentikan tawanya.
"Gak boleh ada yang sama dengan gue. Gue itu limited edition, kalau lo lupa," seru Ara berkacak pinggang.
Melihat tingkah Ara yang sangat menggemaskan membuat dirinya mengacak-acak rambut Ara.
"Kalau suami gue lihat lo pegang kepala gue, gue pastikan tangan lo gak berada di tempatnya," kata Ara pura-pura serius.
"Seram bangat suami lo." Rio pura-pura takut akan perkataan Ara sehingga membuat sahabatnya ini tertawa kecil.
"Gue balik ke ruangan gue ya!" pamit Ara untuk kembali ke ruangannya, ia mengingat jika pasiennya sudah membuat janji dengan dirinya.
"Hati-hati ya, little girl," ledek Rio mendapat tatapan tajam dari Ara karena menggunakan panggilan sayang suamianya kepada dirinya.
__ADS_1
Rio yang salah tingkah mengangkat kedua tangannya ke udara. "Iya,ya. Maaf."
Rio kembali melakukan aktivitasnya, ia berusaha melupakan tentang perjodohan yang telah dilakukan oleh kedua orang tuanya. Walaupun akhir-akhir ini dia tidak fokus bekerja karena memikirkan wanita yang akan dijodohkan dengan dirinya. Bagaimana bisa dia menikah dengan wanita yang tidak dicintainya. Tetapi sebagai anak yang berguna, Rio tidak mempunyai pilihan lain untuk menolak perjodohan tersebut.