Pacaran Setelah Menikah (HALAL)

Pacaran Setelah Menikah (HALAL)
Kepala Batu


__ADS_3

"Apa?" kaget Tommy belum sempat menyapa orang yang menelfon tetapi dirinya sudah dibuat terkejut. "Kerumah sakit sekarang!" ujar Tommy tiba-tiba. Ryan bingung memilih ke rumah sakit atau ke lapangan. "Cepat." bentak Tommy melihat Ryan yang masih melajukan kendaraannya menuju tempat proyek. Dengan perasan takut Ryan melaju kendaraan menuju rumah sakit, Ryan ingin bertanya tetapi ditahan karena melihat wajah Tommy takut bercampur khawatir.


Di rumah sakit, Tommy langsung menghampiri istrinya di kamar pasien yang sudah terlihat di dalam ruangan, ada juga seorang dokter perempuan dan perawat sedang memeriksa keadaan istrinya yang masih memejamkan mata. Dokter dan perawat yang berada diruangan itu menoleh kearah Tommy yang baru saja datang.


"Maaf dok, saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya!" lirih Tommy dengan sopan.


"Iya pak, boleh kita berbicara sebentar?" tanya dokter.


"Silahkan," ucap Tommy.


"Tidak ada hal yang serius! hanya saja istri bapak kelelahan, saya juga mendapat kabar dari yang lain, kalau istri bapak waktu jam istirahat terkadang lupa makan siang karena memeriksa pasien," tutur dokter itu sopan.


Tommy hanya tersenyum dan mengangguk kepala mengerti.


"Setelah istri bapak bangun tidur, sudah bisa makan siang ya pak!"


"Baik, dok."


"Kalau begitu kami permisi dulu."


"Terimakasih."


Tommy menghampiri brankar pasien tempat Ara tidur, lalu duduk disisi brangkar yang sudah disiapkan pihak rumah sakit, ia mengambil tangan Ara dan mengecup punggung tangan istrinya berulang-ulang.


"Honey, cepat pulih," lirih Tommy menatap wajah pucat istrinya.


Sudah waktunya makan siang, tetapi istrinya belum juga bangun dari tidurnya, sebenarnya Tommy sudah lapar tetapi dia tidak berselera makan karena melihat keadaan istrinya yang sedang lemah di brankar rumah sakit.


Kelamaan menunggu Ara yang sedang tertidur, akhirnya Tommy menjadi ikutan untuk tertidur, ia masih memegang tangan istrinya.


Beberapa jam kemudian, Ara sudah bangun dari tidurnya, merasa tangannya berat, ia melihat kearah samping, ternyata suami yang dicintainya sedang memegang tangannya sambil tidur, Ara mengusap kepala sang suami berulang-ulang.


Tommy merasa ada yang mengusap kepalanya, akhirnya dia bangun dari tidurnya dan melihat ke arah orang yang mengusap kepalanya.


"Honey..." Tommy langsung memeluk Ara. "Kamu udah bangun?" melepaskan pelukannya ditatap wajah sang istri.


"Belum," jawab Ara memejamkan matanya kembali.


"Kamu masih tidur?" tanya Tommy melihat tingkah istrinya.


"Ini buktinya," kesal Ara membuka matanya.


Tommy terkekeh melihat tingkah istrinya, mengacak rambut Ara sampai berantakan. Ara melotot, karena suaminya hampir sama dengan abangnya yang suka mengacak rambutnya.


"Kayak bang Alex deh! rusakkan rambut aku," kesal Ara ia mengerucutkan bibirnya.


"Itu tandanya kami sayang sama kamu!" lirih Tommy sembari merapikan rambut Ara yang berantakan.


"Honey," panggil Ara pelan.


"Hm." masih fokus dengan rambut Ara.


"Honey," panggil Ara sekali lagi.


"Hm."


"Kulkas, aku lapar," kesal Ara.


Tommy terkekeh melihat istrinya. Tommy mengambil makanan yang ada diatas meja samping brankar Ara, lalu menyuapkan makanan ke mulut istrinya, dia ingin mencicipi makanan sang istri, karena dia juga sangat lapar, tetapi di urungkan niatnya, melihat istrinya yang lahap makan membuat rasa laparnya menjadi hilang.


"Kata dokter kamu kelelahan, Ra! terkadang kamu juga lupa makan siang karena periksa pasien," lirih Tommy, sebebarnya Tommy ingin marah setelah mengetahui alasan istrinya yang kelelahan tetapi dia tidak ingin membuat istrinya takut karena kemarahannya.


"Enggak kok," jawab Ara.

__ADS_1


"Berarti dokter nya bohong?"


Ara hanya cengengesan, merasa tidak berdosa ia masih santai memakan makanannya.


"Kamu gak ada penyakit maag kan, Ra? sebelumnya juga kamu rajin makan kata mama mertua, kamu pengen ya! punya penyakit maag?"


"Kamu doakan aku penyakitan?" tanya Ara tidak terima bagaimana bisa suaminya menjadi durhaka menginginkan istrinya menjadi penyakitan.


Tommy yang gemas dengan istrinya menyentil kening istrinya.


"Suami mu ini sedang bertanya istriku bukan mendoakan!"


"Bilang dong." Ara mengambil minuman yang ada diatas nakas dekat brankarnya.


"Kamu suka bangat buat aku khawatir, Ra!"


"Maaf. Lain kali aku gak buat kamu khawatir lagi, tapi aku gak janji ya!" santai Ara.


"Janji dong, Ra. Supaya aku gak khawatir sama keadaan kamu!"


"Iya, janji hari ini aja," kata Ara dengan santai.


"Kepala batu," gumam Tommy.


Ara menyentuh kepalanya sendiri lalu mengetok kepalanya berkakali-kali untuk memastikan perkataan suaminya.


"Oh, iya, pantas saja kamu bilang aku kepala batu! Kepala aku keras begini, udah kayak batu saja," ucap Ara tanpa dosa.


"Polos bangat istri aku!" menyentil dahi Ara karena gemas melihat tingkah Ara yang selalu membuat Tommy tertawa.


"Sakit... " rengek Ara mengusap keningnya dengan menatap kesal ke arah Tommy.


Tommy terkekeh melihat istrinya yang mengadu kesakitan.


"Kamu pulang duluan ya! aku periksa pasien dulu."


Tommy menghela nafas pelan menghadapi istri kecilnya, ia harus mempunyai stok kesabaran yang tinggi.


"Honey, kita pulang ya! kamu harus istirahat. Aku udah ijin supaya kamu pulang duluan, pulang ya! besok dilanjut lagi periksa pasien ya! lirih Tommy.


Ara hanya mengangguk kepala.


***


Sesampainya dirumah, Ara kaget melihat kedatangan mertua dan kedua orang tuanya, Ara menatap Tommy meminta penjelasan, Tommy yang peka akan tatapan Ara langsung menjadi gugup.


"Hai, Ma, Pa," ucap Tommy menyalami kedua orang tua dan mertuanya diikuti oleh Ara.


"Kenapa gak ada yang kasih tahu Ara! Papa sama Mama berkunjung kemari?" tanya Ara.


"Honey, dipersilahkan masuk dulu!" seru Tommy.


Ara menatap tajam kepada suaminya, bagaimana bisa suaminya itu tidak memberitahu dirinya kalau semua sedang berkumpul di rumah nya.


Ruang tamu


"Gimana keadaan kamu, Nak?" tanya mama Ara.


"Maksudnya?" tanya Ara bingung.


"Tadi kami mendapat kabar dari suami kamu, katanya kamu pingsan!" sambung mama Ara.


"Adek sehat kok, Ma"

__ADS_1


"Bohong, Ma. Kata dokter nya, Ara tadi pingsan karena kelelahan, terkadang Ara juga melupakan makan siang karena periksa pasien saat jam istirahat." Tommy mengadu kepada mertuanya berharap mertuanya itu menasehati Ara supaya tidak keras kepala lagi sampai jatuh pingsan seperti kejadian tadi.


"Aku kan udah bilang sama kamu! jangan suka beli ember," kesal Ara menatap tajah ke arah Tommy.


"Ember? kamu mau usaha ember Tom?" tanya papa Tommy menanggapi perkataan menantunya.


"Bukan, Pa." Tommy bingung menjelaskan maksud dari menantu Papanya.


Ara menatap tajam kearah Tommy, bisa-bisanya sang suami mengadu tanpa sepengetahuan dirinya, Ara tidak ingin keluarganya itu khawatir akan dengan keadaannya, setiap dia sakit atau kelelahan pasti di sembunyikan dari keluarganya.


"Putri, Mama jangan sampai sakit ya!" lirih mama Tommy menatap wajah pucat menantunya.


Mertua Ara memang sudah menganggap Ara sebagai putrinya, karena sejak dulu papa Tommy menginginkan seorang putri, tetapi istrinya tidak bisa hamil lagi, karena ada insiden dimasa lalu mengakibatkan rahim nya diangkat.


"Ara sehat kok ma!" kata Ara tersenyum.


"Ara gak sehat, Ma! dokter aja bilang dia kelelahan," celetuk Tommy.


"Enggak," bantah Ara.


"Iya."


"Enggak."


"Iya."


"Ih..... Papa, suami adek nyebelin." Ara mengadu kepada papanya lalu bergelayut manja di lengan sang papa.


Semua orang tertawa melihat tingkah Ara yang tidak berubah sama sekali.


"Lucu bangat putriku," ujar mama Tommy.


"Putri, papa juga dong," sambung papa Tommy.


Mama Ara sangat terharu melihat putri kecilnya yang sudah dianggap seperti anak kandung oleh besannya sendiri.


"Terimakasih besan, kalian sudah menyayangi putri kami seperti putri kalian sendiri! kami kira kalian tidak tahan dengan sikap putri kami yang sangat manja ini," ungkap Mama Ara tulus.


"Ara, anak yang ramah. Semua orang yang ada didekat dia selalu menyukai setiap sikapnya yang lucu," tutur mama Tommy.


"Aduh.... putri Papa, beruntung bangat dikelilingi orang-orang baik," ucap papa Tommy membelai rambut putrinya.


"Terimakasih, Mama Ara yang cantik," seru Ara berpindah tempat duduk disebelah mertuanya lalu memeluk mama Tommy.


Tommy yang melihat itu merasa bangga dengan istrinya, baru beberapa bulan menjadi seoarang istri, sudah membuat kedua orang tuanya nyaman akan kehadirannya.


"Kok aku jadi merasa tersaingi ya, sama anak kedua


nya!" ucap Tommy pura-pura cemberut.


"Malu Tom sama mertua," ujar Papa Tommy.


"Hahaha, aku kira cuma putri ku yang bertingkah kekanakan ternyata menantu ku juga sama," kata Papa Ara.


"Kalian saling menjaga rumah tangga kalian ya, Nak! jika ada masalah sekecil apa pun tolong diselesaikan dengan baik-baik ya!" ujar mama Tommy.


"Benar, kalian juga tidak boleh seperti anak kecil. Jika berantam harus ada yang mengalah, jangan bawa egois masing-masing ya!" sambung mama Tommy.


"Iya ma, doakan kita ya supaya tetap harmonis," kata Ara.


"Tidak ada orang tua yang tidak mendoakan anak-anaknya," tutur mama Tommy membelai rambut Ara yang bergelayut manja di lengan mertuanya.


"Kalau....."

__ADS_1


__ADS_2