
Sesampainya di rumah Jel, Alex memaksa untuk mampir sebentar, sekalian kenalan dengan papanya Jel. Ara menolak Alex untuk berkunjung dengan berbagai alasan, tetapi bukan Alex namanya jika dia menyerah. "Gak usah mampir ya!" menahan Alex untuk tidak masuk kedalam rumah.
Alex mengabaikan Jel, melangkah kan kakinya masuk kedalam rumah, sedangkan Jel diam terpaku memperhatikan kepergian Alex. "Yang punya rumah siapa?" menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa aneh melihat Alex yang duluan masuk ke dalam rumah nya.
Menyusul Alex masuk ke dalam rumah, Jel mengucapkan salam mengikuti Alex mencium punghung tangan mamanya, ketika melihat sang papa Jel memilih duduk disofa bersebelahan dengan tempat papanya berdiri.
"Hai om. Saya Alex, calon suami Jel," ucapnya setelah mencium punggung tangan papa Jel.
Papa Jel hanya tersenyum, lalu melihat ke arah putrinya seperti meminta penjelasan, dirinya tidak pernah mengetahui kalau putri kecilnya dekat dengan seorang pria bahkan sekarang ada seorang pria memperkenalkan dirinya sebagai calon menantunya.
Sadar dengan tatapan sang papa, Jel hanya bersikap biasa saja, beranjak dari duduknya menuju dapur mengambil minuman untuk Alex.
"Silahkan duduk, Nak!" lirih papa Jel mempersilahkan tamunya untuk duduk.
Mereka mengobrol santai, walaupun berwajah dingin Alex orang yang hangat jadi tidak sulit baginya untuk berbicara dengan orang yang baru dilihatnya, dia selalu berusaha untuk membuat suasana supaya tidak membosankan, Papa Jel dapat melihat bahwa calon menantunya orang yang baik terlihat dari kehangatan dan kesopannya.
Jel membawa minuman dan beberapa cemilan, menaruh di atas meja. "Minum kak." tersenyum ke arah Alex.
Alex tersenyum, mengambil minuman yang dibawa Jel. "Terimakasih."
Seperti biasa jika ada Papanya, Jel akan menjadi anak yang pendiam, selama berkunjung Jel akan mengabaikan sang Papa, beberapa kali Papanya mengajak berbicara Jel selalu menolak dengan alasan sibuk, setiap pesan atau telfon dari Papanya tidak pernah dibalasnya.
Papanya bersyukur dengan kedatangan Alex kerumahnya karena dengan itu dia bisa melihat wajah anaknya lebih dekat, dia tidak menyangka ternyata putri yang dimanja sedari kecil, sudah tumbuh menjadi dewasa, dia bisa melihat perbedaan putrinya sewaktu kecil dan sesudah tumbuh menjadi gadis cantik seperti saat ini, sudah bertahun-tahun putrinya menjaga jarak dengan dirinya, tidak ada lagi Jel yang manja, merengek jika mengingkan sesuatu, dan juga pelukan hangat.
Jel melirik ke arah Alex. "Kak, kamu gak pulang." mengambil beberapa cemilan yang ada dimeja lalu memasukkan kedalam mulutnya.
"Calon suami kamu baru datang, Nak! masa langsung disuruh pulang," lirih Mama Ara.
__ADS_1
Melihat ke arah Mama. "Pacar, Ma! bukan calon suami," ucapnya lembut sembari tersenyum.
Setelah lama tidak melihat senyuman anaknya, kali ini dia menyaksikan putrinya tersenyum. "Sejak kapan kalian pacaran?" tanya papa Jel dengan hati-hati.
Jel yang ditanya hanya diam saja, malas untuk menjawab. bukan keinginannya untuk tidak bersikap sopan kepada sang Papa, tetapi dirinya butuh waktu untuk berbicara seperti saat ini walaupun terkadang dia akan menjawab pertanyaan sang Papa dengan wajah yang dingin.
Alex yang melihat Jel hanya diam saja menggaruk dagunya yang tidak gatal. "Baru tadi om," jawabnya lembut.
Papa Jel memukul pundak Alex pelan. "Saya tahu kamu orang baik, om percaya suatu hari nanti kamu bisa menggantikan saya untuk menjaga putri om."
Alex tersenyum mengangguk kepala. "Terimakasih om, saya akan menjaga putri om." melirik Jel yang hanya menampilkan wajah datar.
"Kak udah malam, pulang gih." usir Jel dengan wajah datar.
"Bentar lagi ya! minuman kakak belum habis." mengambil minuman yang ada diatas meja memperlihatkan minumannya yang tinggal setengah lagi.
"Pulangnya setelah makan malam saja ya!" ujar mama Ara supaya keluarga nya bisa makan bersama, ketika ada Papanya Jel akan makan didalam kamar untuk menghindari sang Papa.
Alex menjadi gugup tidak tahu harus menjawab apa. "Iy-iya tante." buru-buru Alex menimun minuman nya sampai habis dirinya merasa tidak enak akan penolakan nya untuk makan bersama.
"Udah habis kan? kakak pulang aja." beranjak dari duduknya.
Alex yang melihat Jel berdiri langsung peka. dirinya langsung pamit untuk pulang. "Alex pamit pulang om, tante." ucapnya sopan menyalami tangan calon mertuanya.
Jel mengantar Alex sampai depan rumah, sepulangnya Alex dia masuk kedalam rumah, ketika mengambil gelas kosong Alex untuk di simpan, papanya menahan kepergian sang putri. "Nak, apa kabar?" tanyanya lembut.
Jel yang mendengar pertanyaan papanya ingin mengeluarkan air mata, apakah dia bisa menjawab kabarnya baik-baik saja setelah apa yang di perbuat papanya beberapa tahun yang lalu. "Baik." sekuat tenaga Jel selalu bersikap baik-baik saja tanpa kehadiran sang papa.
__ADS_1
Mama Jel prihatin dengan keadaan sang putri, dia mengetahui jika putrinya merindukan papanya, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, sering sekali dirinya menasehati putrinya, bahwa suaminya tidak seperti yang dipikirkannya, putrinya selalu menolak jika dirinya mengatakan bahwa papanya suami yang hebat.
Jel meletakkan kembali gelas kosong yang ada ditangannya "Ma, aku ke kamar ya!" tersenyum ke arah mamanya.
Mama Jel tersenyum mengangguk kepala.
Didalam kamar Jel hanya bisa menangis, sampai kapan dia menahan kerinduan nya dengan sang papa, sudah bertahun-tahun dirinya menjauh dari papanya bahkan enggan untuk menatap wajah sang papa.
***
Kediaman Tommy
Sepulang dari rumah Jel, Alex melajukan kendaraannya ke rumah adik iparnya, setelah mendapat kabar bahwa temannya kesepian karena Ara yang jaga malam, maka Alex dan Ryan berkunjung kerumah Tommy.
Jika ada waktu seperti ini, mereka bertiga akan bermain game sampai pagi, selalu ada topik pembicaraan sehingga mereka bertiga tidak akan pernah bosan kalau sudah berkumpul, minuman kaleng dan beberapa bungkus kacang sudah disiapkan terlebih dahulu di ruang tamu.
"Lo nikah sama gak nikah, sama aja ya Tom! tetap kesepian." celetuk Ryan menikmati cemilan yang ada di depannya.
Alex tertawa mendengar temannya yang polos "Setidaknya gelar dia sama gelar kita udah bedah man, dia udah nikah sedangkan kita belum."
"Gue setuju sama lo." menyenggol lengan Alex.
Semua bantal sofa sudah di atas karpet bulu yang ada di ruang tamu, beberapa minuman kaleng kosong sudah berserakan dimana-mana, begitu juga dengan kulit kacang dan bungkus plastik. Mereka begadang sampai pagi sehingga tidak sadar ruang tamu sudah kotor.
Jam sudah menunjukkan kan 03.30 pagi. Mengingat Ara pulang hampir siang, Tommy memilih tidur terlebih dahulu sebelum membersihkan ruang tamu yang tampak kotor.
Dengan wajah yang lesu dan tubuh yang kelelahan Ara memilih masuk kedalam rumah, tidak memperhatikan mobil yang terparkir dihalaman rumahnya, badannya sudah lengket jadi nya Ara mandi terlebih dahulu sebelum menyiapkan sarapan untuk mereka, Ara tidak jadi pulang hampir siang sehigga pukul 06.30 dirinya langsung pulang kerumah.
__ADS_1
Didalam kamar, Ara tidak memperhatikan keberadaan sang suami karena dia ingin mandi, selesai mandi Ara melihat ke arah tempat tidur. "Mungkin olahraga pagi." gumamnya mengingat suaminya yang rajin berolahraga.
Ketika menuju dapur, Ara menghentikan langkahnya karena matanya tidak sengaja menangkap beberapa laki-laki sedang tidur di atas karpet bulu, Ara melangkah kakinya sembari mengernyitkan keningnya ke ruang tamu.