
Ara menatap Tommy tidak enak hati. "Honey, maaf ya! aku ada pasien urgent, kamu aja yang beli ya!" memegang tangan suaminya lalu mengecup bibirnya sekilas. "Aku tinggal ya!" lirih Ara mencium punggung tangan suaminya yang masih diam membeku.
Tommy mengangguk kepala. Memperhatikan punggung istrinya, ia menghembuskan nafas kasar, lalu mengambil ponsel yang ada di balik jas yang dikenakan untuk menelfon seseorang. Ia tidak tahu harus membeli kado apa untuk Mamanya, sehingga Tommy meminta Tolong kepada mantan kekasihnya.
Setelah menerima telfon dari Tommy, Iren mengosongkan jadwalnya sampai malam hari, ia meminta ijin dengan alasan urusan keluarga. Ya, saat ini Iren sudah menjadi model terkenal di Indonesia, namanya juga sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Selain cantik dan mempunyai tubuh bak gitar spanyol, Iren juga dikenal dengan model yang dermawan karena tidak tanggung-tanggung menyumbangkan dana ke beberapa panti asuhan yang ada di jakarta.
***
Iren menemui Tommy di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota Jakarta. "Hai, lama tidak bertemu." sapa Iren kemudian ia mengulurkan tangan kepada Tommy.
Tommy dengan wajah yang sudah biasa diperlihatkan kepada Iren tidak membuat Iren terkejut. Menurutnya hal itu sudah biasa saja sehingga diabakan, ia menerima uluran tangan iren. "Lo udah makan?" tanya Tommy tanpa melihat orang yang ada dihadapannya.
Iren menggeleng kepala, memang benar dirinya belum makan karena tiba-tiba Tommy menyuruh dirinya untuk bertemu.
Memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menatap sekilas ke arah Iren lalu menatap kesembarangan arah. "Kita cari kado dulu! setelah itu lo makan sepuasnya di rumah lo."
Memukul pelan lengan Tommy dengan tas yang dipegangnya. "Dasar kulkas." berjalan meninggalkan Tommy.
Tommy terkekeh mengikuti langkah Iren kemudian mereka masuk ke salah satu toko tas. Memilih kado yang cocok untuk Mamanya, beberapa saat kemudian Tommy menghembuskan nafas pelan, melihat kehebohan iren. Bukan nya memilih kado untuk sang mama tetapi malah memilih tas untuk menambah koleksinya. "Gue ajak lo untuk pilih kado bukan untuk belanja pribadi," ketus Tommy.
Masih memegang tas yang sangat disukainya. "Ini juga lagi milih tahu." melihat tas yang ada didepannya.
"Malas gue debat sama lo." meninggalkan Iren lalu menyuruh pelayan toko untuk memilih kado yang pas untuk mamanya. Tommy menunggu Iren di sofa yang disediakan didalam ruangan itu, karena ia paling malas jika menemani wanita berbelanja tetapi tidak dengan istrinya. Tommy akan sabar menemani nya sampai barang yang diingkan sampai dapat.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Iren menghampiri Tommy membawa beberapa tas yang baru saja di bayar di bagian kasir. "Udah dapat kadonya?" tanyanya tanpa dosa.
Tommy menatap tajam ke arah Iren, dia mengahabiskan waktu sampai tidak makan siang hanya menunggu mantan kekasihnya berbelanja tas. "Lama bangat sih lo." beranjak dari duduknya mengambil paper bag yang di taruh diatas sofa.
"Tasnya keren-keren bangat." tersenyum ke arah Tommy. "Kamu gak undang aku ke acara ulang tahun tante?" tanyanya berharap diundang karena kehangatan keluarganya iren merasa nyaman jika bersama keluarga Tommy dan Ara.
"Datang aja," singkat Tommy.
"Dasar kulkas, gak ada manis-manisnya kamu jadi orang." kesal Iren.
"Lapar gue, mau makan gak? Gue traktir." berjalan duluan meninggalkan iren.
Mereka makan di salah satu restoran yang ada di mall tersebut, tidak ada obrolan serius hanya perbincangan singkat saja karena Tommy sering mengacuhkan Iren saat berbicara. Ya, begini lah Tommy sifat aslinya akan keluar terhadap orang lain tetapi akan hangat dan iseng terhadap keluarga dan para sahabatnya, tetapi lebih hangat lagi jika didepan Ara.
Tommy menelfon para sahabatnya dan mertuanya untuk memberi kejutan kepada, Nyonya Dirgantara, dan akan berkumpul di kediaman Diragantara pukul 7 malam, sekalian makan bersama. Hal itu juga sudah diberitahu kepada Papa dan para pelayan yang ada di rumahnya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang di perlukan.
Tiba malam hari Tommy belum juga mendapat kabar dari Ara, terakhir bertemu dengan istrinya tadi siang di rumah sakit. Tommy ingin menghampiri Ara ke rumah sakit tetapi di urungkan niatnya karena ia benar-benar kecewa melihat istrinya yang tidak bisa menyempatkan waktu untuk keluarganya hanya sebentar saja.
Tommy melajukan kendaraan nya ke rumah orang tuanya tanpa Ara, ternyata semua orang sudah berkumpul di halaman rumah. Tommy mencium punggung tangan mertuanya dan menyapa para sahabatnya begitu juga dengan mantan kekasih nya.
Mama Ara menatap bingung ke arah Tommy. "Nak, istri kamu dimana?" melihat ke mobil Tommy yang terparkir di halaman rumah.
"Bentar lagi datang kok Ma!" lirih Tommy menjawab pertanyaan mama mertuanya.
__ADS_1
Semua orang berjalan ke arah pintu, Tommy menekan bel yang ada di dekat pintu rumah, berharap Ibu yang melahirkannya itu yang membuka pintu karena sebelumnya juga Tommy sudah memberitahu kepada papanya dan para pelayan tidak membuka pintu.
Pintu rumah terbuka menampakkan wanita paruh bayah yang masih cantik walaupun sudah berumur.
Semua orang sudah bersiap-siap. "Selamat ulang tahun," ucap mereka serempak.
Mama Tommy yang terkejut menutup mulutnya dengan kedua tangannya menatap tidak percaya akan kedatangan semua orang, karena biasanya hanya anak dan menantu beserta besannya yang datang memberi kejutan tapi kali ini semua teman-teman anaknya juga datang.
Papa Tommy datang dari belakang punggung mamanya. "Dikasih masuk dong Ma!" goda papa Tommy.
Mama Tommy tersenyum kemudian mempersilahkan masuk semua orang yang ada di luar, mereka semua menuju ruang tamu. Para pelayan yang ada di rumah itu langsung membawa beberapa cemilan dan minuman untuk tamu majikannya.
Tommy menyalahkan lilin yang ada di atas kue ulang tahun yang di bawa oleh mertuanya lalu mereka semua bernyanyi lagu selamat ulang tahun. Tommy menyuruh Mamanya berdoa terlebih dahulu sebelum meniup lilin. suara tepuk dari semua orang membuat wanita yang tidak muda lagi tersenyum bahagia.
Tommy yang mengetahui Mamanya yang sangat mengingkan cucu merasa tidak enak karena dari tadi pandangannya ke baby El terus, memang tidak pernah mama nya menuntun pasangan suami istri itu untuk segera mempunyai anak tetapi hal itu sangat terlihat jika sedang bersama anak dari sahabat nya yaitu Ryan.
Tommy mengambil alih baby El dari gendongan Ryan, mendekati mama nya, membawa kado yang sudah di beli tadi siang. "Selamat ulang tahun oma cantik." meniru gaya bahasa anak-anak seolah-olah yang mengatakan itu adalah baby El. "Ini kado dari kami Ma." lirih Tommy.
Mama Tommy tersenyum. "Terimakasih cucu oma yang ganteng." mengecup kening baby El. Tiba-tiba ia menyadari jika menantu kesayangan nya tidak hadir, menatap Tommy dengan serius takut jika keduanya bertengkar hebat sehingga istrinya tidak mau menginjakkan kaki di rumah mertuanya. "Putri Mama dimana?" melihat ke semua orang seperti mencari sesuatu.
"Masih di jalan Ma, sebentar lagi datang." berusaha tenang memberi tahu kepada mamanya, saat ini Tommy benar-benar kesal apalagi melihat mamanya yang sangat sayang terhadap istrinya.
Mama Tommy mengangguk, semua orang memberi selamat beserta doa dan kado yang sudah disiapkan. "Terimakasih." ucap Mama Tommy tulus. "Aduh cucu oma." melihat anak dari Ryan lalu mengambil, baby El dari pangkuan Tommy.
__ADS_1