
"Kalau Ara tidak bisa menjadi istri seperti, Mama. Bagaimana?" tanya Ara.
"Kamu pasti bisa sayang, semangat," ucap Mama Ara.
"Iya sayang kamu pasti bisa kalau kamu gak bisa! gak mungkin anak Mama jadikan kamu pendamping hidupnya," tutur mama Tommy memberikan kata semangat kepada menantunya.
"Setuju," ucap para lelaki serempak mereka mengangguk kepala pertanda setuju.
Ara terkekeh geli melihat ke kompakan para lelaki hebatnya.
"Oh, iya. Pa, Ma, Tommy kedapur dulu ya!"
"Kamu belum makan siang Tom?" tanya mama Tommy yang menyadari anaknya itu sedang kelaparan.
Tommy hanya tersenyum, memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kenapa sampai lupa makan? jangan bilang kamu sibuk?" tanya papa Tommy karena bosan mendengar jawaban Tommy, jika ditanya 'Kenapa lupa makan' pasti jawabannya 'Sibuk' Terkadang sang Papa tidak mengerti dengan anaknya yang tidak lelah untuk bekerja.
Tommy hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sejak kuliah Tommy sudah memiliki penyakit maag karena sering melupakan sarapan pagi atau pun makan siang, apalagi sekarang Tommy sudah menjadi pemimpin perusahaan hal itu membuat dirinya semakin sibuk terkadang lupa makan untuk makan siang, makanya sang Mama sering mengomel kalau maag anaknya sudah kumat.
Ara belum mengetahui kalau suaminya ada sakit maag, jadi dia terlihat biasa saja, memperhatikan percakapan anak dan ibu tersebut.
"Ngomelnya disambung nanti ya, Ma setelah Tommy selesai makan ya! Pa, Ma," ucap Tommy meninggalkan keluarganya di ruang tamu menuju dapur.
"Adek, temani suami mu makan," lirih Mama Ara.
"Tidak usah, Ara disini saja, kami masih merindukan putri kecil kami," seru mama Tommy memegang tangan menantunya.
"Tapi....." ucapnya terpotong.
"Biarkan saja, Ma," ujar papa Ara.
"Papa, Ara masih kangen, udah sebulan lebih gak ketemu." Ara berpindah tempat duduk kesamping papanya lalu memeluk sang papa dari samping dengan manja.
"Papa juga sayang, biasanya rumah ramai kayak di pasar. Tapi sekarang gak lagi," ujar papa Ara.
"Putri kita manja ya, Ma! sama Papanya, jadi pengen punya anak lagi," goda papa Tommy.
"Papa sudah expired juga, gak malu mau tambha anak?" tanya mama Tommy dengan wajah kesal.
"Hahaha," tawa mereka serempak.
Lama mereka mengobrol, Ara belum juga menyusul Tommy ke dapur, Mama Ara merasa tidak enak dengan besannya, melihat tingkah putri kecilnya yang tidak peka membuat dirinya gemas sendiri. "Sayang, kamu temani suami kamu ya!" lirih mama Ara.
"Aku masih kangen papa," rengek Ara masih bergelayut dilengan Papanya.
"Temani suami kamu dulu, nanti dilanjut lagi pelukan sama Papa yah!" tutur mama Ara.
Ara mengangguk kepala, ia menyusul suaminya ke dapur.
"Lapar bangat kayaknya!" celetuk Ara sembari duduk di kursi meja makan yang ada didepan suaminya.
Tommy hanya menampilkan senyuman tanpa menghiraukan istrinya.
Ara memperhatikan sang suami makan, ia merasa ngeri karena porsi suaminya tidak seperti biasanya. "Porsi kuli." gumamnya.
__ADS_1
"Kamu mau?" tanya Tommy.
Ara menggeleng kepala, melihatnya saja sudah membuat dia kenyang apalagi merasakan makanan suaminya.
"Kamu kenapa gak makan siang?" tanya Ara penuh selidik karena selama menikah baru kali ini dirinya mengetahui jika suaminya tidak makan siang.
Tommy memilih menghabiskan makanannya, ia tidak menghiraukan pertanyaan sang istri.
"Honey," panggil Ara.
"Aku habiskan makanan aku dulu ya! nanti aku jawab pertanyaan kamu. Lapar bangat," tutur Tommy.
Ara mengangguk kepala, menunggu suaminya menghabisi makanan nya.
Beberapa menit kemudian, Tommy selesai dengan makanannya, lalu menepuk perut yang sudah kekenyangan, ia bersendawa setelah meminum teh manis dingin yang ada didepannya.
"Udah kenyang?" tanya Ara.
Tommy mengangguk kepala sembari tersenyum.
"Kenapa kamu gak makan siang?" tanya Ara sedikit meninggikan suaranya.
Tommy tersenyum lalu menggaruk dagunya yang tidak gatal.
"Aku gak butuh senyum kamu," ketus Ara.
"Iya sayang iya!" lirih Tommy.
"Jawab," kesal Ara.
"Gimana aku mau makan siang! tiba-tiba aku mendapat kabar kalau istri aku pingsan," jelas Tommy.
"Aku gak mau makan sebelum melihat kamu sadar," tutur Tommy.
"Kamu kok jadi keras kepala begini sih!" kesal Ara.
"Virusnya tertular dari kamu," ujarnya santai.
"Kamu kira aku corona!"
"Sudah ah, deman bangat debat sama aku," ujar Tommy gemas.
"Kamu yang pancing aku duluan,"
"Kamu kan bukan ikan! untuk apa aku pancing," goda Tommy.
"Aku kesal sama kamu! aku marah sama kamu! selalu ajak aku debat, aku capek tahu,"
"Kamu lagi PMS ya?" tanya Tommy melihat amarah istrinya yang tidak biasa.
"Kamu tuh PMS," ketus Ara.
Tommy hanya melongo mendengar perkataan sang istri, bagaimana bisa dirinya mengalami PMS, sedangkan dirinya lelaki tulen.
Tommy mendekati istrinya lalu duduk disebelah kursi sang istri.
"Maaf, udah buat kamu marah! aku janji gak ulangi kesalahan aku lagi," mengusap kepala istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu jangan buat aku kayak istri gak berguna dong, aku malu sama kamu! bagaimana bisa, aku gak tahu kalau kamu gak makan siang! padahal kamu selalu mengingatkan aku untuk makan siang," kata Ara menunduk ia sudah meremas kedua tangannya.
"Honey, lihat aku!" lirih Tommy mengangkat dagu sang istri lalu memutar tubuh istrinya supaya berhadapan dengan dirinya.
Ara melihat wajah Tommy dengan mata yang berkaca-kaca, lalu memeluk sang suami dengan erat, Tommy memejamkan matanya mendengar isakan tangis sang istri, dia tidak tega melihat istrinya yang merasa bersalah. Hatinya sangat hancur mendegar tangisan istrinya, Tommy menenangkan sang istri dengan mengusap punggungnya naik turun berharap istrinya berhenti menangis.
Disela-sela tangisnya Ara selalu meminta maaf kepada sang suami, beberapa detik kemudian Ara melepaskan pelukannya lalu melihat wajah teduh sang suami.
"Kamu gak marah kan! karena selama ini aku gak bisa jadi istri yang baik buat kamu," lirih Ara merasa bersalah.
Tommy menghapus sisa air mata yang ada diwajah sang istri.
"Apa pernah aku marah sama kamu?" tanya Tommy lembut.
Ara menggeleng kepala, suaminya tidak pernah marah akan tingkah Ara, bagaimana bisa dirinya bertanya seperti itu kepada sang suami.
"Kamu selalu baik sama aku," ujar Ara sembari menarik tangan Tommy untuk mengelap cairan yang keluar dari dalam hidungnya
"Istri aku jorok," goda Tommy tanpa merasa jijik.
"Kamu jijik sama aku?" tanya Ara mengerucutkan bibirnya.
"Lucu bangat sih kamu!" Tommy mencubit hidung Ara sehingga isitrinya itu mengadu kesakitan.
"Sakit tahu,"
"Aduh, sakit bangat ya?" tanya Tommy menyentuh hidung sang istri lalu mengecup hidungnya sekilas.
Ara tersenyum malu melihat Tommy yang selalu hangat terhadap dirinya, walaupun suaminya sangat dingin, Tommy selalu bisa membuat Ara merasa nyaman.
"Kita kedepan yuk! aku kangen, Papa," kata Ara menarik tangan suaminya.
Sesampainya di ruang tamu, Ara langsung duduk di sebelah Papanya, memeluk sang papa dengan manja semua orang bingung melihat mata sembab Ara, Tommy merasa tidak enak karena semua mata tertuju kepadanyq seperti meminta penjelasan.
"Ara baik-baik saja, Pa, Ma," tutur Tommy.
"Anak, Papa kenapa?" tanya papa Ara membelai rambut putri kecil nya.
"Kangen," rengek Ara.
"Tommy, menantu Papa gak kamu marahi kan?" tanya papa Tommy.
"Tenang saja, Tommy tidak pernah marah sama menantu kesayangan kalian," jelas Tommy.
"Kalau sampai kamu marah-marah sama putri Mama! Mama coret kamu dari kartu keluarga." ancam mama Tommy.
"Asalkan jangan pisahkan Ara sama Tommy saja, Tommy oke-oke saja Ma," jawab Tommy.
"Berarti kamu ada niat buat marahin putri, Papa?" tanya Papa Ara.
"Personil kita lengkap untuk melindungi Ara," celetuk mama Ara.
"Tumben semuanya posesif sama Ara," ujar Ara.
Papa Ara mengeratkan pelukannya kepada sang putri kecilnya itu lalu mengecup pucuk kepala Ara.
"Kalian berdua selalu mesra, buat Mama selalu iri melihat tingkah kalian berdua," kesal mama Ara pura-pura cemburu.
__ADS_1
Semua orang tertawa mendengar perkataan mama Ara.
"Ara....."