Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 9 Di ajak jalan


__ADS_3

Alleysa masuk kedalam ruang balet, saat ini ia akan berlatih balet dan bermain biola. Ia berjalan masuk kedalam lift kemudian membuka pintu di kaca yang berada di lantai 18 itu.


"Selamat datang nona Smith" ucap wanita paruh baya tersenyum lembar menyambutnya. Alleysa hanya tersenyum kemudian berjalan masuk kedalam.


"Saya Jihana Aulia panggil saja pelatih Hana pelatih balet anda" ucapnya kemudian mengulurkan tangannya.


"Saya Alleysa, jadi berapa jam saya harus berlatih disini?" Tanya to the point setelah berjabat tangan dengan wanita yang bernama Jihana itu.


"Anda hanya perlu berlatih balet selama 2 jam per 2 hari dalam seminggu" ucapnya lembut.


"Baiklah, dimana saya bisa berganti pakaian?"


"Silahkan ikuti dia nona" ucap Hana menyuruh salah satu asisten pribadi nya untuk mengajak Alleysa menuju ruang ganti.


Alleysa mengganti seragam sekolahnya dengan baju balet yang di berada didalam tas gendongnya kemudian memakai flatshoes balet yang bertali itu.


Ruangan yang di setiap bagian dinding di lapisi oleh kaca itu kini di tempati oleh 3 orang yang terdiri dari pelatih Hana dan seorang asistennya juga Alleysa. Ruangan ini merupakan ruangan private untuk Alleysa sendiri, dan didalam ruangan ini lah nantinya Alleysa akan berlatih balet selama 1 tahun.


Pelatih Hana mulai mengajari basic dalam tarian balet seperti mengangkat kaki dengan bertumpu pada jempol dan mulai menggerakkan nya. Sebenarnya beberapa gerakan basic itu sudah di pelajari oleh Alleysa selama ia tinggal di London. Jadi baginya basic dalam berlatih balet sudah ia kuasai.


Alleysa mengikuti irama musik yang mengalun kali ini pelatih Hana memutar lagu a thousand year, musik berputar dari dalam soundsystem, pelatih Hana mulai menggerakkan tubuhnya sesuai irama musik tangan dan kakinya terus bergerak lincah dan lentur. Alleysa melihat itu pun langsung mengikuti gerakan pelatih Hana. Alleysa mengerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik menaikan turunkan tubuh sesuai irama yang mengalun. Pelatih Hana yang melihat itu pun menghentikan gerakan tubuhnya. Ia terhanyut dalam gerakan nan indah yang di ciptakan oleh Alleysa, ia berpikir Alleysa selama ini tidak bisa balet sebab dalam CV yang di berikan asisten ibunya di jelaskan bahwa Alleysa tidak pernah mengikuti les balet apapun. Jadi ia berasumsi bahwa ini adalah kali pertama Alleysa ikut latihan balet, Namun ia salah ternyata Alleysa sudah pintar dalam berlatih terbukti dengan kelenturan dan kelincahan dia dalam menggerakkan tubuhnya.


Musik pun berhenti pelatih Hana memberikan tepukan tangan yang riuh untuk Alleysa karena bakat baletnya yang hampir sama dengan dirinya.


"Perfect" ucapnya bangga kemudian memberikan handuk kecil untuk Alleysa.


"Saya pikir kamu tidak bisa balet ternyata kamu hebat dalam bidang ini" ucapnya kagum pada Alleysa.


"Saya memang tidak bisa balet namun saya pernah belajar dari tv sewaktu saja kecil jadi ya begini hasilnya" ucapnya kemudian mengelap tubuhnya yang berkeringat dengan handuk putih itu.


"Saya sungguh tidak percaya nona Alleysa anda sungguh luar biasa" ucapnya.


Alleysa hanya tersenyum menanggapi ucapan pelatih Hana.


"Apa saya boleh istirahat sejenak rasanya badan saya pegal" .


"Baiklah kamu boleh istirahat kali begitu".


Alleysa duduk di sofa yang disediakan untuk orang yang berkunjung ke ruangan ini melihat mereka berlatih.


Ting


Alleysa mengambil ponselnya melihat notifikasi masuk dari Antariksa. Sebenarnya mereka sudah bertukar nomor telepon saat berada di rooftop.


Antariksa


P


Jalan yuk keliling Jakarta mau nggak?


Alleysa tersenyum melihat pesan masuk dari Antariksa kemudian tangannya mulai menari mengetik pesan balasan untuk Antariksa.


Alleysa

__ADS_1


Mau, tapi Lo jemput gue


Send


Tak berselang lama notifikasi ponselnya kembali berbunyi.


Antariksa


Kita gue jemput dimana, di hati gue apa?


Alleysa


Di tempat latihan balet gue.


Antariksa


Lo ikut latihan balet, bukannya Lo juga ikut kursus vokal?


Alleysa


Panjang ceritanya udah jemput gue dulu nanti gue share lock tempatnya!.


Antariksa


Siap bos


Setelah men-share lock tempat Alleysa pun menutup ponselnya namun ponselnya kembali bergetar ia membuka aplikasi chat WhatsApp.


Besok gue balik, jadi kata ortu Lo gue yang bakal anter jemput lo ke sekolah


Read


Alleysa hanya membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya, baginya apapun yang Sean bicarakan itu tidak penting sebab ia sungguh membenci pria yang bernama Sean Gelael Arthur pria yang sudah menghancurkan masa mudanya.


"Apa saya boleh pulang lebih awal pelatih Hana sebab ada yang harus saya lakukan" ucap Alleysa meminta izin kepada pelatih Hana untuk pergi sebab waktu latihan masih satu setengah jam lagi.


"Emangnya urusan penting nona Alleysa?".


"Em bisa di bilang penting apakah boleh?" Tanyanya lagi.


"Baiklah saya rasa latihan kali ini sudah cukup apalagi anda mahir dalam berlatih balet" ucapnya.


"Terima kasih" Alleysa pun pergi keruang ganti untuk mengganti baju latihannya dengan pakaian yang ia bawa.


✓✓✓✓


"Lo udah lama disini?" Tanya nya ketika melihat Antariksa bersandar di di sebelah motor sport merah dengan pandangan menatap ke layar ponselnya.


Antariksa menoleh ke arah pemilik suara kemudian tersenyum.


"Nggak lama baru nyampe" ucapnya.


"Yaudah Ayuk" ucapnya kemudian menarik jaket kulit milik Antariksa.

__ADS_1


"Emangnya kita mau kemana?" Goda Antariksa.


"Lo bilang keliling Jakarta jadikan soalnya gue nggak pernah keliling Jakarta"


"Emangnya gue mau ngajakin Lo?" Tanya Antariksa tersenyum menggoda.


"Udah deh Tar nggak usah pura-pura pikun, jadi ngapain Lo kesini ogeb" ucapnya memutar kedua bola matanya malas.


"Ya gue kesini mah cari angin doang" kilahnya.


"Udah deh Atar nggak usah ngeles cepetan" sentak Alleysa.


"Oke captain" ucap Antariksa kemudian naik ke atas motor dan membantu Alleysa untuk naik ke jok motor belakangnya dengan tangan kirinya sebagai tumpuan.


Setelah Alleysa duduk di jok belakang motornya Antariksa langsung mengegas motornya membelah jalanan ibukota.


"Lley kita beli helm dulu, gue nggak mau motor gue yang bagus ini di tilang polisi" teriak Antariksa di balik helm full face ya.


"Oke, buat gue kan" ucap Alleysa.


"Iyalah ogeb"


Mereka pun berhenti di sebuah toko perlengkapan dan aksesoris motor, Alleysa turun bersama dengan Antariksa berjalan masuk kedalam.


Di setiap rak kaca Alleysa tak henti-hentinya melirik berbagai macam bentuk helm yang di jajakan. Matanya terhenti ketika ia sudah mendapatkan helm yang ia inginkan.


"Mas yang itu" ucap Alleysa meminta pelayan itu mengambil helm yang ia tunjuk.


"Gimana bagus nggak Tar?" Tanya Alleysa melirik ke Antariksa dengan kedua tangan memegang helm Bogo bergambar motor Vespa berwarna cokelat hitam itu.


"Bagus kok!"


"Jadi berapa bang?" Tanya Antariksa kepada pelayan sekaligus penjual helm itu.


"200k bang, soalnya itu merk GM" ucapnya.


Antariksa mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan memberikannya kepada penjual.


"Gue ganti duit Lo ya?" Ucap Alleysa kepada Antariksa saat mereka sudah berada di luar toko itu.


"Nggak usah ngapain di ganti, lagi an gue beli ini buat Lo kok tenang aja. Biar Lo bisa naik motor gue kapan pun" ucap Antariksa sambil tersenyum.


"Oke thanks ya Tar" ucapnya.


Alleysa memasang helm itu ke kepalanya namun ia kesulitan mengaitkan pengait yang berada di bawah dagunya. Antariksa memajukan tubuhnya selangkah mendekati Alleysa kemudian tangannya mengaitkan pengait helm itu.


"Gini cara nya Lo teken yang merah kemudian masukin yang lepek ini" ucapnya mempraktekan kepada Alleysa.


Tubuh Alleysa menegang melihat Antariksa dengan jarak yang sedekat ini padanya. Hidung mancung, rahang tegas, bola mata kebiru-biruan, tebal serta bibir yang pink kemerah-merahan. Ia baru tahu jika Antariksa memiliki pahatan wajah yang sangat sempurna.


"Yaudah yuk lley kita jalan" ucap Antariksa menarik tangan Alleysa menuju motornya.


Tanpa sadar Alleysa dari tadi menahan degub jantungnya karena perlakuan tiba-tiba Antariksa untuknya barusan.

__ADS_1


__ADS_2