
Beberapa hari setelah penjelasan itu Alleysa lebih murung dari bisanya, seolah dirinya tertampar pada kenyataannya Antariksa pria yang mengisi hatinya dulunya memiliki hubungan khusus dengan Chalsea.
Setiap kali Alleysa menampik hal itu berusaha menyakinkan bahwa Antariksa tidak pernah berhubungan dengan gadis itu, logikanya menolak meskipun perasaan nya yakin bahwa itu merupakan kejadian masa lalu dan Alleysa harus bisa menerima resiko itu, namun penurutan Sean waktu itu juga membuat ia kepikiran sampai sekarang Alleysa di anggap sebagai pengganti Chalsea lantas kenapa Antariksa melakukan hal itu padanya? Apakah Antariksa memiliki maksud lain seperti yang di katakan Sean? Arghhh sungguh semuanya di luar ekspektasi Alleysa sekarang.
"Lley" suara panggilan membuyarkan lamunan gadis itu yang tengah memotong roti.
"Eh" ucapnya kaget.
"Roti kamu udah hancur kayak gitu!" Ucap Laura, membuat gadis itu melihat ke arah piring rotinya dimana sudah ada beberapa bagian roti yang berceceran di atas meja kayu itu.
"Maaf Tan" ucapnya sedikit bersalah karena telah merusak acara sarapan pagi ini.
"Sudah nggak papa, lain kali jangan melamun emang lagi mikirin apaan sih?" Tanya Laura lembut.
Hal itu membuat Angkasa dan Sean menatap penuh penjelasan kepada Alleysa seolah-olah meminta penjelasan.
"Eh nggak kok Tan" kilahnya.
"Yuk berangkat" ucap Sean bangun dari duduknya, Alleysa ikut berdiri dari duduknya melihat Sean.
"Ma, pa kami berangkat dulu" ucapnya, kemudian mendapat persetujuan mereka berdua, setelah mencium punggung tangan kedua orang dewasa itu, Sean dan Alleysa meninggalkan Mansion Artur untuk berangkat ke sekolah.
"Mereka berdua sangat serasi ya mas, rasanya kita kayak mempunyai keluarga baru meskipun rasanya sedikit sakit tanpa Atar" ucap wanita paruh baya itu menatap punggung kedua muda-mudi yang telah masuk kedalam mobil Lamborghini Aventador.
"Nanti saya akan mencoba membujuk Atar, anak itu sungguh keras kepala" ucapnya merangkul punggung istri tercinta memberikan ketenangan.
"Ingat jangan kasar sama Atar" peringat wanita itu. Kemudian di angguki oleh Angkasa.
Alleysa turun dari mobil Sean, semua tatapan kembali lagi kepadanya mereka yang menatap gadis itu terang-terangan mencibir dan menyingung Alleysa, mereka bilang bahwa gadis itu sangat murahan kemarin dengan Antariksa dan sekarang dengan Sean mereka mencibir Alleysa dekat dengan kedua most wanted tersebut dan mengatakan bahwa Alleysa adalah gadis murahan yang bisa dekat dengan siapa saja.
Alleysa tak ambil pusing dengan cibiran dan hinaan terhadap dirinya, ia tak peduli karena masalah hidupnya sudah terlalu rumit untuk mendengarkan semua omong kosong dan hinaan mereka.
"Bodoh" umpat seseorang membuat langkah dua orang berlawan jenis itu berhenti di tengah lapangan.
Alleysa dan Sean menoleh ke belakang di sana tampak Antariksa dengan pakaian berantakan seragam di keluarkan, rambut berantakan dan juga dasi yang tak rapi.
Antariksa berjalan dan menarik tangan Alleysa membuat gadis itu tersentak terkejut.
"Lo gadis terbodoh yang pernah gue kenal" ucapnya tajam.
"KALIAN SEMUA BUBAR SEBELUM GUE HABISIN" teriak Antariksa membuat semua orang yang berkerumun di pinggir lapangan upacara itu berlari masuk kedalam koridor sebelum sisi hitam pria itu keluar dan mengamuk.
"Lo ikut gue sekarang" ucapnya lagi saat Antariksa hendak menarik tangan gadis itu sebuah tangan menghentikan dirinya.
"Dia tunangan gue" ucap pria itu, melepaskan cekalan tangan Antariksa yang menarik lengan Alleysa.
"Dia tunangan sama Lo karena terpaksa, jadi jangan berharap lebih" desis Antariksa tajam dengan mata penuh kilatan.
"Mau dia terpaksa atau gimana pun dia tetap tunangan gue, dan Lo nggak punya hak sama sekali bawa dia tanpa seizin gue Lo tau kan adik" ucapnya dingin.
__ADS_1
Antariksa mencengkram kerah baju Sean tatapan ini adalah tatapan yang pernah Sean terima di hari dia dinyatakan koma.
"Gue udah peringatin sama Lo kalo gue nggak Sudi jadi adik Lo" ucapnya tajam.
Bugh
Antariksa membogem rahang Sean membuat pria itu tersungkur.
"Seannnn" teriak Alleysa, menghampiri Sean yang tersungkur di lantai dengan sudut bibir mengeluarkan darah.
"Lo apaapan Tar" ucap gadis itu meminta penjelasan kepada Antariksa.
"Gue ngga ngapa-ngapain" ucapnya tanpa dosa.
"Lo ngapain mukul Sean bren**ek" teriak Alleysa kesal dengan sikap bodoh amat yang di tunjukan Antariksa padanya.
"Oh ya gue bren**ek bukan kebalik Lo yang bren**ek? Hem" ucapnya santai.
"Lo udah keterlaluan Antariksa" ucap gadis itu tak habis pikir dengan pria yang ada di hadapannya kini.
"Gue keterlaluan?" Ucapnya berdecih sambil menunjuk dirinya sendiri.
Hendrik dan Yudhis yang baru sampai ke sekolah melihat ketiga orang yang sedang berdiri di tengah lapangan, ketika tahu itu Antariksa mereka berdua langsung berlari kecil menghampiri pria yang notabene sahabat mereka itu.
"Lo jelas keterlaluan, Lo punya masalah sama gue kan, jangan pukul Sean dia nggak ada hubungannya antara Lo dan gue".
"Kenapa Lo pikir ini ada hubungan antara Lo dan gue?" Timpalnya lagi kemudian memajukan tubuhnya mendekat ke arah gadis itu kini Alleysa tepat berdiri di depan Antariksa gadis itu dapat mencium bau alkohol dari dalam mulut pria itu karena jarak mereka sungguh dekat dengan kepala Alleysa di bawah dagu pria itu.
Antariksa terkejut kenapa gadis itu bisa tahu indentitasnya yang sebenarnya padahal pria itu sudah menyembunyikan semua itu dalam-dalam.
"Lo boleh marah sama gue kecewa karena gue nggak bisa suka sama Lo, tapi Lo jangan mukul Sean dia nggak ada sangkut pautnya dengan masalah Lo yang benci gue" teriak gadis itu.
"Segitunya Lo belain tu cowok di depan gue dan itu cukup udah ngebuktiin kalo Lo cewek murah yang mudah dekat dengan pria manapun"
Plak
Satu tamparan melekat di pipi pria itu. Semua orang yang berada disana terkejut gadis yang terkenal akan pendiam dan memiliki sopan santun serta tutur yang baik tak pernah berbicara kasar dan juga tidak pernah kasar kini berani menampar Antariksa.
"Lo keterlaluan Tar, ternyata Lo sama kayak mereka yang menilai gue dari satu sisi gue pikir Lo beda. Gue ngga nyangka nyatanya Lo sama bren**ek dengan semua orang di dunia ini" teriak gadis itu kemudian menyerka air matanya dengan kasar.
"Gue capek hidup kayak gini".
"Trus Lo pingin melakukan percobaan bunuh diri lagi?" Ucapnya tanpa rasa bersalah telah mengorek luka gadis itu.
Hening
Alleysa mendogakkan kepalanya berusaha menatap Antariksa dengan jarak dekat "Sekarang gue benci Lo" ucap gadis itu kemudian pergi dari hadapan mereka. Masa bodoh mau kemana lari juga pasti tidak akan ada yang mencari dan mau mati pun semua orang pasti bakal senang.
Antariksa terdiam mencerna kalimat terakhir dari Alleysa "sekarang gue benci Lo".
__ADS_1
Antariksa tertawa dan merasakan sedih bersamaan, ia menghancurkan semua benda di dalam apartemennya, tangannya terluka karena dia memukul kaca hingga pecahan kaca itu menusuk punggung tangannya.
Antariksa bersandar di pinggir dinding kamar mandi.
"Astaghfirullah Atar" teriak Hendrik begitu membuka pintu kamar mandi pria itu. Mendapati Antariksa dengan wajah kacau dan tangan penuh darah yang berceceran di lantai.
"Lo gila?" Bentak Yudhis pria dingin itu tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya satu ini.
"Ya gue gila, gue gila karena dia ban*sat, arghhh" ucapnya dengan nafas memburu. Memukul apapun yang ada di hadapannya saat ini.
"Stop Atar Lo mau mati bodoh Jing" umpat Hendrik.
"**** you Alleysa" teriaknya kacau.
"Lo udah ngobrak-abrik hati gue" ucapnya lagi.
Plak
"Sadar Jing, Lo nggak usah terlalu bucin kek gini" bentak Hendrik.
"Lo nggak pernah ngerasain ini bang*at" umpatnya kesal.
"Ya gak usah jadi BUCIN juga gara-gara Alleysa sadar Lo sekarang dalam masalah lebih rumit" ucap Hendrik.
"Maksud Lo apaan?" Ucap Antariksa bangun dari duduknya.
"Itu...." Belum sempat Hendrik menjawab pertanyaan Antariksa ponsel pria itu sudah berbunyi.
"Bokap Lo!" Ucap Yudhis memberikan ponsel yang ada di genggaman nya.
"Gak usah di angkat" ucapnya.
"Nelpon lagi tar".
Ting
Satu pesan masuk, Yudhis membuka aplikasi pesan masuk itu.
"Bokap Lo yang ngirim".
"Dia bilang Lo di tunggu ke rumah sekarang dan bawa pakaian Lo yang ada dirumah. Bentar lagi orang suruhan bokap Lo datang jemput" ucap Yudhis membaca pesan masuk itu.
"Gue nggak mau" ucapnya kemudian berjalan menuju dapur mengambil botol wine dan meneguk minuman keras itu langsung dari botol.
"Lo balik tar" kali ini Hendrik berbicara.
"Kenapa gue harus balik ke neraka itu, itu bukan rumah gue" desisnya.
"Karena Chalsea ada di rumah Lo sekarang".
__ADS_1
Damn!