
Pagi ini seperti pagi biasanya, sayangnya cuaca kali ini tidak bersahabat mendung dan seperti akan turun hujan. Gadis itu termenung di sepanjang jalan memikirkan kenyataan pahit yang menamparnya, masih terlintas dalam pikirannya bahwa ia tidak percaya akan takdir tuhan yang memisahkan dirinya dengan sahabatnya. Sean yang sedang menyetir memperhatikan gerak gerik gadis itu yang selalu diam dengan pandangan kosong menghadap ke arah kaca mobil melihat awan yang kini di turunin rintik-rintik hujan.
Alleysa berjalan di koridor diikuti oleh Sean di belakangnya mengantar gadis itu masuk kedalam kelasnya.
Gadis itu langsung masuk kedalam kelasnya tanpa mengucap terima kasih atas tumpangan payung yang di berikan Sean padanya tadi. Ia duduk dan lagi-lagi air matanya berjatuhan teringat saat bersama dengan Revan kenangan indah yang ini berubah menjadi kenyataan pahit baginya.
Merasa bersalah jelas!
Siapa yang tidak akan merasa bersalah seperti Alleysa jika orang kita anggap sahabat meskipun akhirnya menusuk kita dari belakang namun ketika ia meninggal kita juga akan merasa kehilangan bukan? Sejahat apapun Revan pada dirinya Alleysa masih menganggap dirinya sahabat dimana ketika tak ada seorang pun yang mau berteman dengan keluarga konglomerat seperti dirinya laki-laki itu bersedia meskipun niatnya berteman dengan Alleysa hanya untuk melancarkan rencana balas dendam yang ia telah susun untuk keluarga gadis itu dan pada akhirnya semesta berkata bahwa Revan orang yang paling dia anggap mampu melindungi dirinya hendak menghancurkan dirinya dan berakhir tragis di bunuh oleh suruhan Daddynya.
"Kenapa begitu sakit!" Lirihnya membatin menepuk-nepuk dadanya yang begitu sakit.
Pria itu diam-diam memperhatikan Alleysa yang menagis menghadap ke jendela. "Rencana gue berhasil" ucapnya berseringai kemudian pergi meninggalkan gadis itu yang sedang di rundung rasa amat bersalah.
*****
"Saya tidak menyalahkan pendapat ojip bahwa kita tidak perlu belajar sejarah karena sejarah tidak semuanya berkisah tentang kebahagian namun kebanyakan tentang penderitaan, seperti sejarah bangsa Indonesia yang berusaha merebut kemerdekaan mereka dari Jepang para pemimpin di negeri ini seperti Soekarno Hatta berjuang sekuat tenaga agar bangsa kita merdeka. Para pahlawan pejuang yang telah gugur di Medan pertempuran seperti pangeran Diponegoro yang telah berjuang demi menjaga NKRI dari jajahan Belanda, nah yang itulah wajib kita ingat sesakit dan seperih apapun kenangan masa lalu kita harus menerima itu jangan di lupakan karena kenangan itulah yang membuat kita menjadi manusia yang tegar dan kuat menerima cobaan yang lebih dari masa lalu itu sendiri. Masa lalu mengajarkan kita untuk melakukan perubahan dalam hidup kita di masa depan, dan perlu kalian ketahui masa lalu buruk dan menyakitkan tidak menutup kemungkinan bahwa kita tidak bisa bahagia di masa depan" ucap Pak Anwar menutup kelas pada siang hari ini.
Kringggg
Bel pulang sudah berbunyi 5 menit yang lalu namun gadis itu tidak beranjak dari kursinya. Ia masih duduk dengan pandangan kosong menatap kedepan tepatnya di depan papan tulis yang bertuliskan materi sejarah Indonesia.
"Gue duluan Yud" ucap Antariksa berlari meninggalkan Yudhis di basecamp mereka.
__ADS_1
"Mau kemana Lo!!" Teriak Yudhis kepada Antariksa yang mengambil motornya dari warung Mak jok di belakang sekolah.
"Ke Alleysa" ucapnya kemudian menyalakan mesin motornya.
Antariksa melepas helmnya berlari menuju lantai 2 gedung timur SMA Arthur dengan kencang menuju kelas 11 MIPA 1 tepat dimana kelapa gadis itu berada.
Nihil
Itulah yang dapat di katakan untuk Antariksa ketika tidak menemukan gadis itu didalam kelasnya. Alasan kenapa Antariksa kenapa kembali lagi ke SMA Arthur karena ia merasakan sesuatu hal buruk menimpa gadis itu. Feelingnya berkata bahwa gadis itu saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Antariksa melihat seorang gadis berdiri di atas rooftop gedung selatan SMA Arthur gadis itu berdiri sangat dekat dengan dinding pembatas atap. Antariksa menyipitkan matanya untuk memastikan gadis itu, matanya terbelalak lebar ketika melihat wajah tak asing tengah berdiri di tempat yang sangat berbahaya itu.
Alleysa
Gadis yang ia cari dari tadi ada di gedung selatan berdiri di atas gedung rooftop.
Ia membuka pintu rooftop, melihat gadis itu yang hendak menjatuhkan dirinya dari atas rooftop.
"Alleysa" teriaknya.
Hap
Bugg
__ADS_1
Alleysa ambruk di atas tubuh Antariksa, pria itu berhasil menyelamatkan gadis itu untuk kedua kalinya dari tindakan bodoh yang akan membahayakan hidup gadis itu.
"LO BODOH" bentaknya.
"LO BODOH ALLEYSA" teriaknya frustasi.
"LO NGAPAIN DI SANA, MAU MATI HAH" Bentaknya murka ia tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis ini sekarang kenapa ia ingin mengakhiri hidupnya?
"JAWAB GUE ALLEY LO MAU MATI HAH, LO NGGAK SAYANG SAMA NYAWA LO. LO NGGAK SAYANG SAMA HIDUP LO" teriaknya sambil menguncangkan tubuh gadis itu yang gemetar.
"IYA GUE MAU MATI, PUAS LO" Ucapnya ikut berteriak marah. Marah bukan karena Antariksa membentaknya namun karena ia kecewa ia tak bisa mengakhiri hidupnya lagi.
"Gue mau mati Tar, kenapa Lo selamatin gue lagi biarin gue mati. Gue capek Tar, hati gue sakit. Gue nggak bisa Nerima ini semua" ucapnya menepuk dadanya yang terasa tertikam.
"Harusnya Lo biarin gue mati. Gue pantes mati Tar" ucapnya lagi.
Antariksa memeluk tubuh gadis itu, yang bergetar mencoba memberikan ketenangan agar ia merasa baik-baik saja.
"Gue nggak akan biarin Lo mati".
"Hikss hikss seharusnya Lo biarin gue mati, gue capek hidup kayak gini. Gue capek hidup dalam rasa bersalah Revan sahabat gue mati di bunuh oleh bokap gue sendiri karena bokap gue berpikir ia harus melindungi gue tapi kenyataannya tujuannya bukan buat ngelindungi gue tapi demi perusahaannya. Gue capek Tar hidup sebagai boneka orang tua gue, tunangan dengan Sean, belajar rajin ikut bimbel ikut les ikut latihan berkuda, les vokal alat musik, latihan golf. Agar keluarga gue nantinya dapat pujian karena punya pewaris yang handal dalam segala bidang. Kakek gue yang selalu ngerti gue meninggalkan gue selamanya, dia ngasih wasiat kali gue harus menikah dengan Sean sebagai wujud kerjasama sekaligus persahabatan dia dengan kakek Sean pemilik Arthur grup, gue capek hidup jadi Boneka mereka, boneka yang di per alat mereka" ucap gadis lagi.
"Harusnya Lo biarin gue mati, biarin gue hilang bersama rasa sakit ini gue capek Tar hidup kayak gini. Gue nggak butuh jadi anak konglomerat kalo akhirnya bakal kayak gini jika gue bisa milih gue nggak mau lahir di keluarga Smith gue capek gue nggak kuat" lanjutnya dengan air mata berlinang.
__ADS_1
Brukkk
Tubuh Alleysa ambruk bersama air mata yang bercucuran. "Lley, Alleysa" panggil Antariksa, tak mendapatkan sautan dari gadis itu ia mengendong gadis itu turun dari rooftop sekolah membawa gadis itu ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan insentif.