Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 3 New day and Meet Him


__ADS_3

Brakk


"Woy ******* ganggu aja Lo" umpat Antariksa dengan sarkas karena tidur ya di ganggu oleh Hendrik.


"Ada berita baru bos Atar" ucap Hendrik mengatur napasnya yang ngosh-ngosan karena berlari dari koridor 11 menuju ke rooftop atas tempat geng Antariksa berkumpul.


"Ada apa?" Kini Yudhis ikut menimpali ucapan dari Hendrik.


"Lo tau nggak putri dari JS grup itu satu sekolahan sama kita coyy" ucap Hendrik kegirangan karena idolanya bersekolah di SMA Arthur.


"Siapa Alleysa?" Tanya Yudhis yang ikut nimbrung.


"Iya dong siapa lagi kalo bukan si Dewi Fortuna Alleysa Seira James Smith tunangan musuh bebuyutan si bos" lanjut Hendrik sambil meminum soda yang mereka beli di kantin. Sebenarnya mereka tidak membeli lebih tepatnya memalak adek kelas dan memerintahkan mereka untuk membelikannya.


Antariksa menghisap rokoknya dalam-dalam ia tau jika Sean itu sudah bertunangan namun ia sama sekali tidak tahu wajah tunangan dari Sean karena apapun yang berkaitan dengan Sean Antariksa sungguh membencinya.


"Lo jangan asal gosip Hen, soalnya setau gue si Alleysa itu sekolah di luar negeri" ucap Yudhis menghidupkan pematik dan mengarahkannya kearah rokoknya.


"Sumpah tadi gue denger dari koridor MIPA si Alleysa itu masuk kelas MIPA 1" ucap Hendrik lagi.


Brakk


Antariksa membanting meja dengan keras membuat kedua temannya terpelonjak kaget.


"Lo kenapa bos?" Tanya Hendrik mencoba menetralkan detak jantungnya yang kaget itu.


"Bisa nggak ngaku usah ngomongin si sampah itu jijik gue" kata Antariksa dengan nada dingin.


"Hehe gue lupa bos Atar lagian kita kan jarang bahas tu bocah" lanjut Hendrik.


"Hati-hati kalo ngomong Hen udah tau si Atar sensitif orangnya" lanjut Yudhis. Mereka pun berbincang masalah yang lain dan tidak akan masuk ke kelas.


Kringggg


Bel istirahat berbunyi semua murid SMA Arthur berhamburan keluar kelas ada yang menuju ke kantin untuk menyalurkan rasa lapar ada yang ke perpustakaan untuk membaca ataupun sekedar duduk di taman di dekat lapangan upacara. Namun tidak untuk Alleysa ia memilih duduk dan berdiam diri di kelasnya karena sudah ada 2 orang bodyguard yang mengawasi dirinya dari KBM berlangsung tadi. Jangan di tanya mereka adalah suruhan dari kedua orang tua Alleysa pastinya.


"Nona silahkan makan" ucap salah satu orang bodyguard membuka tempat makan yang di bawa oleh supir Alleysa tadi. Alleysa memang tidak pernah merasakan makan di kantin sekolah apalagi makan di pinggiran jalan. Dari kecil Alleysa bersekolah home schooling jadi baru tahun ini Alleysa dapat merasakan sekolah umum meskipun sekolah ini juga bertaraf internasional, dan setelah bisa menikmati sekolah umum Alleysa masih juga di awasi oleh para bodyguard karena kedua orang tuanya takut jika ada hal berbahaya nantinya yang terjadi kepada putrinya jika putri mereka lepas dari pengawasan.


Alleysa mendengus kasar kemudian mulai mengambil selembar roti gandum dan mengunyahnya.


Para bodyguard itu masih menatap ke arah Alleysa dan satu lagi menjaga pintu masuk karena saat ini mereka tak ingin nona muda mereka di ganggu oleh para murid yang sudah seperti paparazi itu.

__ADS_1


"Pulang sekolah les apa?" Tanya Alleysa kepada salah satu bodyguard yang berdiri di depannya.


"Pulang sekolah ini nona ada les vokal, alat musik gitar sama piano" ucap bodyguard itu sopan.


"Malamnya nona kursus bahasa asing sama mapel wajib" lanjutnya lagi.


Alleysa menganguk mengerti kemudian bernafas kasar lagi. Ia tahu pasti orang tuanya tidak hanya mengkursuskan dia satu dalam sehari tetapi bisa 2 dan 3.


Kringggg


Bel pulang sekolah pun berbunyi semua murid berhamburan keluar begitupun dengan Alleysa ia berjalan di ikuti oleh para bodyguard suruhan kedua orang tuanya.


Kali ini ia berjalan di koridor kelas yang sangat sepi sebab ia menunggu 15 menitan waktu pulang sekolah berakhir agar ia tidak jadi tontonan para murid.


Di dalam mobil lagi-lagi Alleysa terdiam, ia kemudian mengambil ponsel di dalam saku almamaternya ponsel canggih keluaran brand ternama di Amerika apalagi kalo bukan iPhone X. Ia membuka aplikasi Instagram, di Instagram miliknya banyak sekali anak murid SMA Arthur yang menandai akunnya di cerita. Ia tak peduli ia pun hanya menscroll ulang Explorer tanpa semangat, apalagi membuka DM di Instagram yang banyak sekali meminta Alleysa untuk menerima endorse produk mereka .


"Kita sudah sampai nona" ucap bodyguard yang menyupir di depannya.


Ia menatap gedung disebelahnya itu "Endless Vokal" ucapnya membatin.


Seorang bodyguard yang duduk di kursi penumpang depan pun membukakan pintu untuk Alleysa, ia pun keluar mengikuti bodyguard itu dari belakang.


"Selamat datang nona Alleysa Smith" ucap seorang pria yang berdiri di hadapan Alleysa.


"Saya Alvaro Fernandez, pemilik les vokal ini. Senang bisa bertemu dengan anda" ucapnya mengulurkan tangannya.


"Saya Alleysa, terima kasih" ucap Alleysa kemudian menjabat tangan pria itu. Pria itu tidak bisa di bilang terlalu tua sebab wajahnya masih seperti anak kuliahan.


"Silahkan masuk nona, kita akan membahas sesuatu hal di dalam" ujarnya. Alleysa pun mengikuti langkah kaki pria itu masuk kedalam gedung.


"Lo yakin anak SMA pelita mau nyerang sekolah kita?" Tanya Antariksa sambil menghisap benda nikotin itu pada Hendrik.


"Yakin bos tadi di Aldi bilang ke gua, Aventador di tantang tarung di lapangan belakang SMA Pelita" ucapnya.


"Jadi gimana tar?" Tanya Yudhis.


"Ya kita terima lah, palingan mereka nanti bakal kalah apalagi di kandang sendiri" lanjutnya dengan enteng.


"Yud, jangan lupa bilang ke Aventador untuk bersiap buat besok jangan biarin anak pelita bersorak gembira besok" ujarnya kemudian mengambil kunci motor yang berada di depannya.


"Mau kemana bos?" Teriak Hendrik saat melihat Atar hendak keluar dari apartemen miliknya sendiri itu.

__ADS_1


"Gue ada urusan sama si Vero bentar"


"Jangan lupa malam nanti ada balapan di tempat biasa" teriak Hendrik ketika melihat tubuh Antariksa makin menjauh dari penglihatannya.


Antariksa mengendarai motor sport nya dengan kecepatan di atas rata-rata karena ia tidak ingin membuang waktunya di jalanan meskipun banyak umpatan dan teriakan dari para pengguna jalan ia tak peduli ia terus mengegas motornya hingga sampai di tempat tujuan.


Setelah sampai ia pun turun dari motor sport nya dan masuk kedalam gedung itu.


"Ngapain Lo cari gue?" Tanya Antariksa kepada seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya.


"Long time no see Atar" ucap pria itu kemudian merangkul Antariksa memerintahkannya untuk duduk.


"Gue nggak ada waktu, kalo Lo mau bahas si iblis itu" lanjutnya dengan nada dingin.


"Gue nggak niatan bahas bokap Lo, tapi yang gue bahas nyokap Lo" lanjut Varo.


"Gue nggak peduli" ucap Antariksa kemudian berjalan hendak membuka handle pintu ruangan itu.


"Nyokap Lo masuk rumah sakit kemarin sore" ucapnya mampu menghentikan langkah Antariksa.


Tubuh Antariksa menegang kaku mendengar berita mamanya masuk rumah sakit, sebab wanita itu adalah orang yang sangat disayangi oleh Antariksa melebihi dirinya sendiri.


"Gue nggak peduli, bukannya di rumah ada dua iblis itu ngapain masih ngehubungi gue" ucapnya sarkas kemudian meninggalkan Varo.


Antariksa berjalan menyelusuri tempat les vokal milik Varo mencari ruangan kosong untuk dia melampiaskan emosinya yang memuncak.


Ia pergi menuju ruangan musik yang biasa ia pakai, ruangan musik VVIP yang hanya sering di pakai oleh Antariksa dan sepupunya si pemilik siapa lagi jika bukan Alvaro Fernandez.


Saat ia hendak membuka seluruh pintu ia mendengar suara mengehentikan kegiatannya untuk membuka pintu itu. Suara milik orang itu sangat merdu dan indah, hingga Antariksa terhipnotis di buatnya. Antariksa memberanikan diri mengintip siapa yang berani memakai ruangan VVIP miliknya itu. Ternyata seorang gadis berambut brown panjang sedang bernyanyi membelakangi dirinya.


"I just a sad song" ucap gadis itu mengakhiri lagunya kemudian meletakan gitar di lantai.


"Suara Lo bagus" ucap Antariksa memuji suara gadis itu.


"Kak Sean?" Ucap Alleysa menoleh kebelakang, ternyata bukan Sean tetapi seorang pria dengan baju acak-acakan berdiri didepan pintu ruang musik itu.


"Siapa kamu?" Tanya Alleysa dengan gugup.


"Ngapain disini? Ngintip ya?" Tanyanya bertubi-tubi kepada orang itu.


Antariksa menarik senyumnya senyum yang hampir 6 tahun ini ia simpan dalam-dalam, dan sekarang ia tujukan kepada gadis dengan bola mata cokelat itu.

__ADS_1


"Gue ......"


__ADS_2