
"Mungkin aku juga harus mati Van, didunia ini nggak ada yang peduli sama aku. Aku nyesel kenapa bukan aku yang mati waktu itu, kenapa harus kamu"
"Mungkin sekarang kita bisa ketemu di surga" lanjutnya dengan tersenyum. Kemudian memejamkan kedua matanya membiarkan angin malam berhembus berserta hujan membasahi tubuhnya.
"Selamat tinggal dunia" ucap Alleysa kemudian menjatuhkan tubuhnya ke bawah jembatan.
Tap
Tap
Sebuah tangan menarik memeluk tubuh Alleysa dari belakang.
"Lepasin aku" ucap Alleysa berusaha melepaskan tubuhnya yang di lilit oleh kedua tangan kekar itu.
"Lepasin aku brengsek" ucapnya dengan air mata berlinang.
Buk
Tubuh Alleysa jatuh di atas tubuh pria itu.
Plakkkk.
Alleysa menampar pipi pria itu.
Antariksa merasa sakit di pipi kanannya akibat tamparan yang di berikan oleh gadis itu padanya.
"Seharusnya kamu biarin aku mati" ucapnya frustasi.
Hiks hiks
"Seharusnya aku mati"
"Aku benci hidup di dunia ini" lirihnya.
Antariksa kemudian memeluk tubuh gadis itu membiarkan gadis itu menyalurkan rasa sakitnya kepada Antariksa.
Hiks
Hikss
"Harusnya kami nggak usah nolongin aku, harusnya aku mati aja" ucap Alleysa memukul-mukul dada bidang Antariksa.
"Nangis sepuas Lo" ucap Antariksa mengeratkan pelukannya.
Hiks hiks
"Revan"
"Revan"
Antariksa tak peduli tubuhnya ikut basah karena air hujan ia tak peduli tubuhnya nanti akan terkena flu asal gadis ini tidak bunuh diri di jembatan ini.
15 menitan berlalu Antariksa merasa tubuh gadis yang ia dekap ini tidak bergerak sedikitpun. Ia kemudian merenggangkan pelukannya guna melihat keadaan gadis itu.
"Hey" ucapnya sambil menepuk pelan pipi Alleysa.
Ia kemudian memegang dahi gadis itu.
"Panas" ucapnya kemudian ia menggendong tubuh gadis itu ala bridal style menuju ke mobil mewahnya. Dan membawa gadis itu menuju apartemen miliknya.
Antariksa mendial nomor seseorang "panggilkan dokter Alina suruh ke apart sekarang" ucapnya kepada seseorang di sana. Setelah itu ia menutup telponnya sepihak.
__ADS_1
Antariksa meletakan tubuh gadis itu di atas ranjang kamar itu, kemudian menyibakkan rambut cokelat yang menutupi wajah gadis itu.
Deg
Deg
"Wajahnya, bukannya dia gadis bersuara bagus itu?" Batin Antariksa.
Antariksa memandang lekat wajah gadis itu, hidung mancung, bulu mata lentik, bibir pink pucat, dan alis yang lumayan tebal serta warna kulit putih meskipun sekarang mendominasi putih pucat.
"Cantik" ucapannya tanpa sadar memuji kecantikan gadis yang tertidur damai.
"Tapi kenapa dia pingin bunuh diri?" Ucapnya lagi bertanya dalam hati. Hingga sebuah bel menghentikan pemikirannya. Segera ia menuju depan untuk membukakan pintu
"Kamu bawa gadis ke rumah tar?" Tanya Alina pada Antariksa.
"Em tadi gue nggak sengaja ketemu sama dia di dekat jembatan. Nih cewek pingin bunuh diri trus pingsan" ucapnya seadanya pada Alina.
Alina ada dokter khusus keluarga Antariksa dokter yang menangani masalah kesehatan kakek dan neneknya. Alina Raharjo adalah seorang anak yatim piatu dia di sekolahkan serta di kuliahan oleh keluarga Antariksa sehingga hal itulah yang membuat Alina mengabdikan hidupnya untuk membantu keluarga Antariksa. Alina dan Antariksa hanya selisih 2 tahun. Sebab Alina bisa mnejadi dokter karena ia ikut kelas akselerasi.
Alina menganguk mendengar cerita singkat dari Antariksa ia kemudian memeriksa tubuh gadis itu. Setelah memeriksa ia kemudian memasangkan inpus karena tubuh gadis itu sangat lemah.
"Gimana?" Tanya Antariksa.
"Dia cuman kecapekan dan mungkin tekanan masa lalu buat dia sedikit depresi, btw Lo tau namanya?" Tanya Alina kepada Antariksa.
"Gue nggak tau, soalnya baru pertama kali ketemu. Udah Lo boleh pulang"
"Ngusir dasar nggak tau di untung" ucap Alina dengan nada kesal.
"Besok kalo ada waktu gue mampir ke RS nraktir Lo" teriak Antariksa ketika melihat tubuh Alina menjauhi pintu apartemen miliknya.
Antariksa duduk di hadapan gadis itu menatap gadis itu dengan tatapan iba.
Alleysa membuka matanya perlahan setelah matanya terbuka sempurna tubuhnya terdiam beberapa saat. Ia menatap binggung ke seluruh ruangan itu. Bagaimana ia tidak binggung kini ia tertidur pulas di sebuah kasur empuk didalam ruangan yang semuanya serba monokrom. Apalagi ia melihat tangan kanannya yang di inpus. Karena binggung dan panik ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya, takut ada orang yang melakukan hal yang macam-macam dengan dirinya, ditambah dirinya yang tertidur ditempat asing ini.
"Kok baju aku berubah" ucapnya kaget melihat pakaiannya yang berganti menjadi kemeja pria yang kebesaran.
Hiks
Hiks
"Aku kenapa?" Ucapnya kemudian mengacak rambutnya frustasi.
"AKU KENAPA!!!" Serunya.
Antariksa yang mendengar bunyi gaduh dari dalam kamarnya langsung membuka pintu kamar. Ia terkejut melihat gadis yang ia tolong kemarin menangis segugukan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Lo kenapa?" Tanya Antariksa kemudian berjalan mendekati Alleysa.
"JANGAN MENDEKAT" teriak Alleysa menggebu.
"Lo kenapa?" Tanya Antariksa melihat Alleysa menangis senggugukan dengan air mata bercucuran.
"A-apa yang u-udah kamu l-lakuin ke a-ku?" Tanyanya dengan suara terbata-bata dan tubuh bergetar.
"Maksud Lo?" Tanya Antariksa binggung dengan arah pembicaraan gadis di hadapannya itu.
"APA YANG UDAH KAMU LAKUIN KE AKU BRENGSEK" teriaknya.
"Gue nggak ngelakuin apapun ke Lo, malahan gue yang nolong Lo kemarin pas Lo mau mati" ucap Antariksa santai kemudian memilih duduk di sofa di depan ranjang kamar.
__ADS_1
"Lagian gue juga nggak ngerti maksud Lo apaan dari tadi?" Lanjutnya.
"Baju aku kenapa bisa berubah, kamu
pasti udah ngapa-ngapain aku kan?" Lirih Alleysa dengan air mata yang terus bercucuran.
"Gue?" Tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Gue nggak ngapa-ngapain Lo, jadi Lo tenang aja!, Lagian untuk apa gue ngelakuin itu meskipun gue pengen" ucapnya sambil terkekeh.
"Brengsek aku serius" ucapnya dengan nada memelas.
"Oke gini gue jelasin biar Lo nggak salah paham nantinya ke gue, dan setelah gue cerita pasti Lo ngucapin terima kasih ke gue. Jadi kemarin pas Lo nangis Lo meluk gue. Dan tiba-tiba Lo jatuh pingsan dan gak sadarkan diri, terus gue binggung mau Bawak Lo kemana, gue nggak tau nama Lo , alamat rumah lo, ataupun gue nggak lihat Lo Bawak ponsel atau tas yang berisi kartu identitas Lo. Karena binggung jadi gue putusin buat bawa Lo kemari trus gue manggil dokter keluarga gue buat meriksa keadaan Lo, tenang Dokter cewek, dan gue lihat baju Lo basah. Gue takut Lo kenapa-napa nantinya jadi gue suruh dia buat gantiin baju Lo dengan kemeja gue yang agak gede size nya" ucapnya santai yang asik bersedekap.
"Kamu nggak bohong kan, mungkin cuman akal-akalan kamu aja" selidik Alleysa yang tidak percaya dengan ucapan pria di depannya ini.
"Buat apa gue bohong nggak ada untungnya kali, gue ini anaknya jujur dan amanah" ucapnya kesal karena gadis itu tidak percaya dengan dirinya. Memang Antariksa pria brengsek tapi ia juga tidak akan pernah merusak cewek jika cewek itu sendiri tidak meminta di rusak olehnya. Kan kalo misalnya dirinya yang memaksa dikira kasus pemerkosaan bukan.
"Aku masih nggak percaya" ucap Alleysa menatap ragu ke arah pria di hadapannya ini.
"Serah Lo deh, tapi Lo harus berterima kasih ke gue karena udah gue selamatin dari kematian" ucapnya.
"Seharusnya kamu nggak selamatin aku, aku kuah nggak minta tolong kan sama kamu" ucapnya malas.
"CK dasar nggak tau terima kasih" ucap Antariksa memandang sinis ke arah gadis di hadapannya.
"Lagian siapa juga yang minta bantuan dasar pria nggak ikhlasss"
"Siapa juga yang bakal ikhlas kalo yang di tolong modelan kayak Lo nggak tau terima kasih"
"Kamu yang nolong aku bukan aku yang minta" ucap Alleysa menunjuk wajah pria itu yang mulai nyolot.
"Lo" bruggg
Brugg
Suara perut Antariksa berbunyi 'malu' itulah kalimat yang pantas mendefinisikan wajah Antariksa kini. Malu karena perutnya berbunyi di pada kondisi yang tidak seharusnya.
"Perut kamu bunyi kasih makan dulu kenapa, baru kita adu mulut lagi" ucap Alleysa enteng dan terkekeh.
Antariksa menatap gadis itu dengan tatapan menusuk bisa-bisanya orang ini mengata-ngatai dirinya, apakah ia tidak tahu siapa Antariksa sebenarnya.
"Banyak bacot Lo" umpat Antariksa kesal kemudian keluar dari kamar dengan membanting pintu.
Alleysa terpelonjak kaget namun ia berusaha menetralkan detak jantungya.
Setelah berdiam diri cukup lama Alleysa juga sedikit merasa bersalah dengan pria itu, karena kata-katanya yang mungkin menyinggung pria itu apalagi dirinya yang tak tahu terima kasih. Karena sedikit merasa bersalah Alleysa memutuskan untuk keluar dari kamar dengan meletakkan inpus di atas kepalanya menyusul pria itu dan meminta maaf sekaligus mengucapkan terima kasih.
Ia melihat pria itu tengah duduk didepan layar plasma kedua mata fokus melihat sebuah acara masak-masak.
"Eehm" ucap Alleysa. Membuat pria itu menoleh karena mendengar suara seseorang berdehem.
"Apa" ucapnya ketus kemudian memalingkan wajahnya lagi menghadap layar plasma itu.
"Dapur dimana?"
"Buat apa Lo nanya letak dapur gue?" Tanyanya sinis.
"Jangan-jangan Lo kelaparan?" Ucapnya lagi penuh selidik.
"Aku ngga laper lagi cuman tanya dapur kamu dimana?" Tanya dengan malas.
__ADS_1
"Itu disitu" ucapnya menunjuk ke arah lorong kecil.
Alleysa menoleh kearah belakang ia melihat ke arah lorong kecil itu kemudian ia berjalan sebelum berjalan ke sana alleysa melihat pria itu masih fokus menatap acara masak yang di tayang kan di televisi itu dan salah satu chef itu tengah memasak sup pangsit.