
"Bagaimana tuan apakah rencana kita akan di mulai?" Ucap suara dari sebrang sana saat ini pria yang mengenakan kaos oblong putih itu tengah berdiri di balkon kamarnya menikmati angin malam yang menghembus kulit putihnya, sambil berbicara serius dengan penelpon dari tempat yah berbeda.
"Ya besok kamu sudah mulai bekerja, Daddy Alleysa sudah memberikan perintah ke kamu untuk menjaga gadis itu bukan?".
"Iya tadi kepala staf dapur bilang ke saya".
"Oke kalau begitu besok kita akan mulai melakukan itu, ingat kali ini kita harus membuat gadis itu mati hahaha" ucap berat suara penelpon itu.
Tok tok
Suara ketukan pintu membuat pria yang sedang berbicara serius itu gelabakkan dan langsung mematikan sambungan telponnya. Ia menoleh ke arah ranjang kamar betapa terkejutnya dia melihat gadis itu tengah duduk sambil bersedekap dada di hadapannya.
"Lo mau apa ke kamar gue? Kamar Lo bukan disini?" Desis pria itu tajam ia tak suka ruangan yang ia anggap privasi di masuki oleh orang yang asing baginya.
"Lo gak mau jelasin dulu yang Lo omongin di telpon?" Selidik gadis itu kemudian berjalan menghampiri pria yang tengah menyenderkan tubuhnya di pinggir pembatas balkon.
"Lo denger semuanya?" Selidik pria itu berusaha menahan keterkejutannya dan mengontrol mimik wajahnya agar nampak biasa saja padahal dalam hati pria itu sungguh khawatir gadis di depannya ini akan membocorkan hasil pembicaraan yang ia dengar barusan ke Antariksa.
Gadis itu menganguk memberi jawaban bahwa ia mendengar semuanya. Ia kemudian maju selangkah lebih dekat ke pria itu dan berbisik di telinga pria yang tubuhnya lebih tinggi daripada tubuh gadis itu.
"Gue denger semuanya, kalo Lo mau rencana Lo berhasil gue bisa bantu sekalian tujuan gue sama Lo sama mau membunuh Alleysa Seira James Smith" ucap gadis itu berbisik membuat pria itu memundurkan tubuhnya. Terkejut jelas pria itu sangat amat terkejut atas penuturan frontal dari gadis di hadapannya.
"Gue gak semudah itu percaya sama orang. Lo pikir dengan Lo bilang itu ke gue Lo pikir gue bakal yakin?" Ucap pria itu sarkasik. Ia tak yakin akan tujuan gadis itu, bukanya ia pulang hanya ingin memisahkan Antariksa dan Alleysa saja kenapa sekarang ia merubah rencananya yaitu membunuh Alleysa.
__ADS_1
"Memang tujuan utama gue memisahkan Alleysa dan Antariksa tapi Lo tau kan maksud gue memisahkan untuk selama-lamanya, gue yakin Atar masih ada rasa suka yang amat dalam buat Alleysa dari tatapan mereka barusan. Jadi jika gue ingin bisa selalu di dekat Atar dan membuat Atar mencintai gue lagi gue harus menyingkirkan nama perempuan yang terpahat di hati Antariksa yaitu Alleysa untuk selama-lamanya" lanjut gadis itu sambil tersenyum penuh makna.
"Baiklah kalau begitu kita mulai rencana itu besok" ucap pria itu yang sudah mengerti akan maksud ucapan gadis di hadapannya. Mereka berdua tersenyum penuh arti menikmati malam yang indah untuk rencana yang luar biasa esok.
Yaitu menjadi iblis neraka penjemput kematian Alleysa.
...........
Suasana pagi ini sungguh kaku, di depan Alleysa berdiri pria yang sangat amat ia rindukan keberadaannya orang yang sungguh masih memiliki tempat di hatinya. Ya pria itu adalah Antariksa Keano Peter Arthur pria itu kini telah menyandang nama Artur di belakang namanya, sebenarnya nama itu sudah ada lama sejak pria itu baru lahir namun pada dasarnya Alleysa adalah gadis bodoh yang tak tau apapun tentang seluk beluk indentitas diri Antariksa kini harus menelan pil pahit bahwa Antariksa adalah calon adik iparnya jika ia benar-benar akan menikah dengan Sean.
Pria tampan itu masih sama seperti beberapa hari lalu tidak ada perubahan yang signifikan terjadi semenjak kejadian yang membuat hati Antariksa sakit karena di tolak oleh kekasih hatinya. Pria itu masih sama selalu memakai pakaian yang berantakan dengan dua kancing di atas kera di biarkan terbuka menampakkan kaos hitam dan juga rantai emas putih membalut leher jenjang milik pria itu yang menjuntai sampai dadanya. Rambut jangan tanya rambut sedikit keriting dengan warna cokelat bercampur krim itu masih masa sedikit berantakan dan tak tertata rapi.
Antariksa menyadari bahwa Alleysa masih memandangnya yang baru saja keluar dari pintu kamarnya, pria itu memusatkan pandangan ke arah gadis itu hingga netra mereka saling bertemu seolah-olah ingin melepaskan kerinduan yang mendalam. Antariksa memandang wajah cantik Alleysa percayalah jika di mulut pria itu ia mengatakan bahwa membenci Alleysa namun hatinya tak bisa menampik bahwa ia sungguh masih mencintai gadis di hadapannya ini. Gadis yang telah mampu membawa Antariksa pada titik terendah dan sejatuh- jatuhnya sekarang.
"Udah liatin gue?" Ucap Antariksa membuat Alleysa mengerjap kaget karena ketahuan memandang pria yang sangat ia rindukan ini.
"Eh siapa yang liatin Lo" ucap gadis itu kikuk kemudian berjalan menjauh setelah menutup pintu namun suara bas Antariksa membuat tubuh gadis itu menegang seketika.
"Gue gak masalah Lo liatin gue kayak tadi malah gue makin seneng, Lo tau lley gue rindu banget sama Lo" ucap Antariksa sambil melingkarkan tangan kekarnya ke perut rata gadis itu memeluknya dari belakang, dan menenggelamkan kepalanya mencium harum tubuh gadis itu yang beraroma vanila wangi yang selalu berhasil memabukkan dirinya. Entah tersambar setan apa, Alleysa tidak melepas tangan Antariksa yang melingkar di perutnya dan membiarkan hembusan nafas Antariksa yang beraroma mint itu bermain di sekitaran leher jenjangnya.
Sungguh Alleysa tak menampik ia sangat merindukan moments seperti ini Antariksa yang sangat melindungi dan menyayanginya namun apakah rasa sayang itu akan selamanya sama saat cinta pertama pria itu hadir? Nyatanya itulah yang di takutkan oleh Alleysa mungkin saat ini namanya masih terukir indah di hati Antariksa namun siapa tahu kehadiran Chalsea cinta pertama Antariksa lah yang membuat pria itu menjadi seperti sekarang apalagi Alleysa harus lebih memantaskan diri dan sadar bahwa Antariksa nanti akan menjadi adik iparnya namun apakah Alleysa bisa untuk menerima itu semua? Jawabnya masih sama tidak! Sampai kapanpun gadis itu tidak bisa menerima takdir itu menjadikan Antariksa adik iparnya dan menikah dengan Sean nantinya boleh saja kalian katakan bahwa Alleysa egois ia ingin Antariksa menjadi miliknya seorang namun gadis itu terlalu takut untuk melawan kedua orang tuannya apalagi sampai membuat mereka murka karena malu mengetahui putri semata wayangnya mereka menyukai calon adik iparnya sendiri. Alleysa tidak bisa mengorbankan orang yang penting dalam hidupnya untuk mendapatkan orang yang ia cintai sejahat itu kah Alleysa.
"Lo gak jawab Lo Rindu gak sama gue Hem" ucap pria itu dengan suara berat kemajuan tanyanya menggeser kan anak rambut yang ada di depan telinga gadis itu kebelakang telinga.
__ADS_1
"Atar lepas, nanti ada yang liat" bukannya menjawab gadis itu berusaha melepaskan pelukan Antariksa ya kali ini kesadaran gadis itu telah kembali ia tak mungkin membuat kejadian pagi ini sebagai pil pahit karena ketahuan tengah berpelukan dengan adik tunanganya.
"Apa gue nggak punya tempat di hati Lo Lley?" Tanya pria itu dengan suara berat percayalah kali ini ia sungguh berusaha ingin memperbaiki semuanya dari awal namun ia harus menunggu keputusan gadis di depannya ini.
Hening
Alleysa terdiam beberapa saat memikirkan maksud ucapan Antariksa, tempat? Nyatanya sungguh tempat itu masih ada sampai detik ini dan tak pernah tergantikan namun kembali lagi ke pertanyaan awal apakah bisa? Apakah bisa tempat itu berada saat ini?.
"Gue butuh kepastian Lo biar gue nggak berharap lebih sama hubungan ini".
"Bukannya waktu itu udah jelas Tar? Kita nggak bisa bersama Lo dan gue memiliki masalah yang rumit untuk di selesaikan. Gue gak bisa sama Lo sampai kapanpun" lirihnya tak berani memandang wajah pria itu.
"Apa itu karena Sean? Yang menjadi tunangan Lo kalo gitu biar gue yang ngomong ke bokap kalo gue suka dan Lo cinta sama gue pasti mereka mengerti" bujuknya lagi.
"Lo pikir semudah itu Tar, nggak semua gak hal semudah pikiran Lo, gue aja nggak mampu nyelesaiin masalah gue rasanya gue pengen nyerah tapi di satu titik gue inget Lo bilang mati nggak nyelesaiin masalah kan. Itulah bukti betapa despresi nya gue sekarang" ucap Alleysa dengan air mata membasahi pipinya yang jatuh tanpa permisi ia tak sanggup untuk menahan beban yang kian menusuk hatinya, ia tak bisa memasang tameng pertahanan seolah-olah dia baik-baik saja nyatanya Alleysa begitu naif untuk terlihat baik-baik saja di depan mereka.
"Lley, percaya sama gue. Gue bisa bantu Lo nyelesaiin masalah Lo jangan beranggapan kalo Lo bisa nyelesaiin masalah Lo sendirian oke" ucapnya membalik tubuh bergetar gadis itu dan menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi putih gembul gadisnya.
"Lo urus aja urusan Lo Tar, kalo Lo sayang sama gue lupain gue kita jalani masing-masing sekuat apapun Lo berusaha untuk gue tetap aja Lo gak akan bisa milikin gue dan buang persepsi Lo kalo kita bisa bersama itu akan menyakitkan buat Lo dan gue nantinya" gadis itu menyerka air mata yang hendak jatuh lagi kemudian pergi meninggalkan Antariksa yang tercengang kaku.
Tanpa mereka sadari dari tadi ada yang menguping pembicaraan mereka sambil berseringai tajam mengisyaratkan ia memiliki maksud yang indah untuk membalas gadis itu ya Alleysa.
"Awalnya aja udah kayak gini hahah semoga nanti bisa berjalan mulus" doa orang itu kemudian pergi menjauhi Antariksa sebelum pria itu menyadari keberadaan nya.
__ADS_1