
Alleysa membuka pintu kulkas yang berada di dapur, ia terkejut melihat isi dalam kulkas pria itu semua bahan masakan dan makanan ringan banyak di dalam kulkas tetapi kenapa pria itu seperti orang yanh kelaparan. Alleysa kemudian mengambil beberapa bahan masakan seperti daun bawang, rempah-rempah, telur, tepung, ayam, dan beberapa bumbu lainnya. Selanjutnya Alleysa meyibakkan gordeng di dapur agar ia bisa melihat cuaca kota pagi ini. Rintik-rintik membasahi tanah di kota Jakarta ternyata Jakarta sedang turun hujan. Teringat ia melihat pria tadi menatap fokus ke arah acara masak yang menampilkan seorang chef memasak sup pangsit, ia pun berinisiatif memasak sup pangsit untuk pria itu.
Alleysa mencincang daging ayam menjadi bentuk yang lebih kecil seperti dadu, kemudian mulai mengiris bawang putih dan menggiling beberapa rempah-rempah. Selanjutnya nya ia mulai membuat adonan mie pangsit dengan mencampur tepung dan telur mengaduknya.
Antariksa merasa gadis itu tidak kunjung keluar dari dapurnya pun menghampiri gadis itu, ia terkejut melihat gadis itu berkutat di dapurnya sedang memasak makanan. Antariksa mengukirkan senyuman melihat gadis itu karena di sekitar wajahnya terkena belepotan tepung.
"Lagi ngapain sih?" Tanya Antariksa pura-pura tidak tahu apa yang di lakukan oleh gadis itu.
"Aku lagi masak, kamu pasti kelaparan kan?" Tanyanya dengan tangan sibuk mengaduk-aduk kuah kaldu.
"Emangnya Lo mau masak apa?" .
"Liat aja nanti" .
"Udah sana duduk disitu jangan ganggu" perintah Alleysa sambil menunjuk sebuah kursi di depan meja pantry.
Antariksa memerhatikan gadis itu dengan seksama, tampak raut bahagia terpancar dari wajah gadis itu saat sedang memasak. Antariksa lagi-lagi menggulingkan senyumannya senyuman yang sangat jarang terlihat selama beberapa tahun ini. Ia kagum dengan kelihayan gadis itu dalam memasak.
"Nah" kata Alleysa menaruh dua mangkuk sup pangsit di atas meja pantry.
"Lo buat sup pangsit?" Tanya Antariksa kepada gadis itu.
"Em aku tadi liat kamu mandangi masakan chef di tv jadi insiatif doang, tapi tenang rasanya enak kok" ucap Alleysa dengan percaya dirinya.
"Kok Lo jadi baik? Jangan-jangan?" Selidik Antariksa.
"Kamu pikir aku punya maksud lain gitu? Yaudah kalo nggak mau aku makan sendiri" ucap Alleysa kesal kemudian tangannya hendaknya menarik sup pangsit itu namun tangannya di tahan oleh Antariksa.
"Eh jangan dong, makanan gratis kenapa mesti gue tolak" ucapnya kemudian terkekeh.
Antariksa menyendok kuah pangsit itu. Ia terdiam sejenak tak mampu berkata-kata, makanan ini adalah makanan terenak yang pernah Antariksa makan. Alleysa melihat gelagat Antariksa yang terdiam usai mencicipi masakannya lantas bertanya.
"Nggak enak ya?".
"E-eh enak kok" ucap Antariksa gelagapan.
__ADS_1
"Serius aku rasa nggak enak, kelihatan dari wajah kamu" ucap Alleysa merasa bersalah.
"Siapa bilang, ini makanan terenak yang pernah gue makan. Jujur Lo pinter banget masak rasanya kayak makan di restoran berbintang" ucap Antariksa jujur karena masakan yang gadis ini masak rasanya sangat luar biasa.
"Sukur deh"
Mereka makan dalam diam baik diantara mereka berdua tidak ada yang ingin memulai bertanya sampai sesi sarapan itu telah selesai.
Alleysa kemudian mengambil kedua mangkuk itu dan meletakan ya ke washbasin untuk di cuci.
"Eh nggak usah di cuci!" Seru Antariksa.
"Kenapa? Lagian kotor ya aku cuci aja" ucapnya kemudian mengambil spon dan sabun cuci piring.
Antariksa melihat gadis itu mencuci dengan lihai "nama Lo siapa dari kemarin kita belum kenalan?".
"Nama ku Alleysa Seira" ucapnya ia sengaja tidak menyebutkan marganya karena nanti di tahu jika Alleysa bukan berasal keluarga sembarang.
"Nama kamu?" Tanya nya balik.
"Lo murid pindahan ya, soalnya gue nggak pernah liat Lo sebelumnya?"
"Em iya gue murid pindahan beberapa hari yang lalu" ucapnya singkat.
"Rumah Lo dimana biar gue anterin" tawarnya.
"Eh nggak usah aku balik sendiri aja" tolaknya. Karena ia takut Antariksa nantinya akan berurusan dengan kedua orang tuanya. Apalagi pasti kedua orang tuanya pasti kini telah menyuruh bodyguard untuk mencari keberadaan dirinya yang tidak pulang ke rumah.
"Kenapa Lo nggak mau gue anterin?" Tanyanya.
"Aku nggak mau ngerepotin kamu lagi kayak nya udah cukup kemarin deh" lanjutnya.
"Yaudah kalo gitu" ucap Antariksa meninggalkan Alleysa sendirian di dapur.
Setelah berpamitan dengan Antariksa Alleysa menaiki taksi yang ia stop di depan apartemen pria itu. Di sepanjang jalan Alleysa meremas rok kotak-kotak nya dan menahan gugup setengah mati. Ia takut perlakuan apa lagi yang akan dia terima nantinya di rumah itu.
__ADS_1
Alleysa berjalan menuju gerbang hitam rumah itu tampak dua orang bodyguard kaget dengan kepulangan nona nya kemudian mereka mengikuti Alleysa masuk kedalam mansion mewah itu.
"Alleysa" ucap mereka bersamaan melihat kedatangan orang yang telah mereka cari selama semalaman ini.
Di dalam ruang tamu itu terdapat Kedua orang tuanya dan tunggangannya siapa lagi kalo bukan Sean Gelael Arthur.
"Aku cariin kamu dari kemarin sayang, kamu kemana sih? Maafin aku" ucap Sean mengelus pipi putih Alleysa. Alleysa menepis kasar kedua tangan Sean yang berada di pipinya. Kemudian
Plakkkk
Tangan Alleysa mendarat di pipi Sean, gadis itu menampar Sean sangat keras.
"Jangan dusta deh kamu" sentak Alleysa. Membuat kedua orang tuannya kaget dengan perlakuan kasar yang di perlihatkan putrinya.
"Kamu kenapa Al?" Tanya Sean pura-pura tidak tahu sambil memegang pipinya yang meringis akibat tamparan kuat yang di berikan Alleysa.
"Kenapa?" Tanya Alleysa meremehkan.
"Alleysa kamu apa-apaan?" Sentak Anindita kepada putrinya.
"Kamu dari mana baru pulang udah main nampar Sean aja" lanjut Anindita dengan murka.
"Dari kemarin malam Sean sibuk nyari kamu, sedangkan kamu baru pulang udah bersikap kasar" ucap Alfandi.
"Dari mana, baru pulang tanya aja sama calon menantu kalian itu" ucap Alleysa kemudian berjalan menaiki tangga menjauhi ketiga orang yang memuakkan.
"Alleysa Seira James Smith, turun ke bawah jangan berlaku tidak sopan kamu dengan orang tua" ucap Alfandi lagi, Alleysa tak menghiraukan perkataan daddy nya ia terus melangkah menaiki tangga.
"ALLEYSA SEIRA JAMESĀ SMITH" teriak Alfandi.
"Om udah om biarin aja Alleysa mungkin butuh waktu sendiri" ucap Sean memenangkan Alfandi.
"Saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Alleysa, maafkan dia nak Sean" .
"Tenang aja Tante dan om Sean nggak papa" ucapnya santai.
__ADS_1
Alleysa yang mendengar penuturan dari Sean berdecih meludah ia sungguh jijik dengan pria itu.