Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 17 Kebencian Antariksa


__ADS_3

"Thanks ya Tar berkat Lo gue jadi tau kultur budaya Indonesia lebih dalam" ucapnya ketika Antariksa sudah mengantarnya di depan halte bus dekat rumahnya.


"Makasih aja masih kurang lley" ucap Antariksa pada gadis itu.


"Ohh jadi ceritanya nggak ikhlasss nih" timpal Alleysa sambil berdecak pinggang.


"Tu tau, kapan-kapan Lo yang gantian traktir gue lah, lama-lama bisa abis isi duit di dompet gue kalo Lo palak trus".


"Iya gue traktir dasar orang nggak ikhlasss" ucapnya jutek.


"Gue ikhlas Alleysa, setidaknya simbiosis mutualisme kita" ucapnya sambil terkekeh.


"Ya serah Lo dah, gue pulang dulu sekali lagi thanks Atar" ucapnya kemudian berjalan menjauhi Antariksa.


*****


Antariksa berjalan menuju warung di depan komplek rumah Alleysa dimana dirinya menitipkan mobilnya disana. Setelah itu ia menancapkan gas mobil membelah ibu kota Jakarta untuk mandi dan pergi ke tempat kumpul biasa dengan sahabatnya.


Ting


Bel apartemen Antariksa berbunyi ia berjalan membuka pintu apartemen. Sesaat ia sedang membuka pintu apartemen beberapa pria berbaju hitam telah berdiri didepan pintu apartemen nya.


"Siapa kalian?" Tanya Antariksa kepada 5 orang berseragam hitam itu.


"Maaf tuan muda, tuan besar memerintahkan anda untuk datang ke Mansion" ujar salah satu bodyguard itu pada Antariksa. Antariksa menyingit binggung beberapa saat ia berseringai tajam mengingat pesan masuk kemarin malam di ponselnya.


"Lebih baik kalian pulang, gue ngga akan pernah menginjakkan kaki ke neraka itu" lanjutnya tanpa berekspresi sama sekali.


"Kami di perintahkan oleh tuan Angkasa untuk membawa tuan muda Antariksa apapun yang terjadi" ucapnya lagi.

__ADS_1


"Udah gue bilang gue nggak mau" ucapnya tegas.


"Maafkan kami tuan muda".


Bugh


Antariksa pingsan seketika ketika salah seorang bodyguard menusukan sebuah jarum suntik yang sudah di beri obat bius ke punggung pria itu. Sesaat obat telah bereaksi Antariksa mulai merasakan kantuk dan pengelihatannya yang kunang-kunang. Antariksa yang tidak bisa menahan rasa kantuknya mendadak tubuhnya hilang kendali dan jatuh bertepatan saat itu ia jatuh pingsan.


30 menit berlalu, Antariksa bangun matanya perlahan terbuka ia memijat kepalanya yang sakit karena tidur dipaksakan itu. Matanya berputar-putar melihat ke arah sebuah ruangan yang tidak asing baginya ruangan bernuansakan abu-abu dan kasur kingsize yang ia tiduri serta banyak miniatur Thor yang di pajang di almari kaca ruangan itu, ingatannya kembali ia ingat sekarang ini adalah kamarnya. Kamarnya yang berada di rumah orang tuannya.


Antariksa yang menyadari itu bangun dari tidurnya berjalan keluar meninggalkan ruangan yang penuh akan cerita masa kecilnya, ruangan yang menjadi tempat dia memiliki tempat teraman selama tinggal di rumah itu.


Ia berjalan dengan cepat turun tangga membuka pintu cokelat ruangan di lantai bawah dengan kasar.


Brakk


"Udah lama kamu nggak ke rumah, maaf kalo papa maksa kamu buat datang dengan cara seperti itu" ucap Angkasa kepada putranya yang sudah 3 tahun tidak pernah ia lihat keberadaannya.


Antariksa berdecih melihat orang itu, orang yang mengkalim dirinya sebagai anaknya namun tega meninggalkan putranya seorang diri sendirian.


"To the point aja, kalo nggak penting gue pergi" ucapnya dengan nada yang berubah dingin.


"Kamu masih sama seperti dulu Antariksa Keano Peter Arthur. Sikap kamu yang keras kepala memang menurun dari papa ya?" Tanyanya lagi.


"Anda bukan papa saya, jadi jangan berharap lebih. Orang tua saya sudah mati sejak saja masih kecil" desisnya tajam.


Angkasa mengepalkan tangannya kuat-kuat ia sungguh kesal dengan kalimat ucapan yang keluar dari mulut putranya. Namun ia berusaha menahan amarahnya agar tak mencuat dan berakhir menyakiti putranya sama seperti 3 tahun lalu.


"Maafkan papa Tar" ucapnya dengan nada yang berubah sedih.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu di maafkan. Anggap saja kita tidak pernah kenal dan jangan harap anda bisa menjadi orang terpenting bagian dalam hidup saya. Bagi saya anda sudah lama mati sama seperti rasa kecewa saya yang mendalam tentang anda dan keluarga yang menjijikan ini".


"Dan jika anda ingin bertanya kenapa saya memukuli anak kesayangan anda, itu karena kesalahan anak anda sendiri lah. Saya hanya membalaskan dendam orang yang di sakiti oleh anak anda" ucapnya lagi kemudian keluar dari ruangan itu.


Ia menutup pintu ruangan itu meninggal pria paruh baya yang dirundung rasa penyesalan amat mendalam terhadap putranya dulu. Ia selalu berharap keluarga nya utuh kembali sepeti dulu, andai saja ia tidak melakukan hal itu terhadap putra nya Antariksa pasti ia tidak akan membenci sedalam itu terhadap dirinya! Andai saja.


Antariksa memejamkan matanya, ia harus berusaha tegar apapun yang terjadi ia sudah bertekad bahwa ia tidak akan menunjukan sisi lemahnya kepada orang yang ia sayangi. Kejadian 3 tahun lalu sungguh membekas di ingatan dan merobek hatinya teramat dalam. Ia benci keadaan ini namun apa daya mereka lah yang memulai itu kepada dirinya, Antariksa kecil hanya bisa menerima tanpa tahu akhirnya akan semenyakitkan ini.


"Atar" ucap seorang wanita paruh baya memangilnya. Wanita yang tak lagi muda itu berlari kecil mengahampiri Antariksa sesaat wanita itu hendak memeluk putranya yang sudah 3 tahun tak berjumpa, Antariksa remaja pria itu memundurkan tubuhnya berharap agar wanita itu mengerti bahwa ia tak ingin di peluk.


"Maafkan mama sayang" lirihnya menatap putranya yang sudah bertumbuh dewasa menjadi remaja pria yang tampan. Ia menyesal tidak bisa melihat pertumbuhan putra yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri.


"Saya permisi" ucap Antariksa kemudian hendak berjalan melewati wanita itu namun perkataan wanita itu mengehentikan langkahnya.


"Apa tiga tahun tidak cukup buat kamu menghukum kami nak? Maafkan kami sungguh kami sangat menyesal atas apa yang terjadi 3 tahun lalu, sungguh jika kami bisa memilih kami tidak akan ingin kamu ada di posisi itu Atar" lirih wanita paruh baya itu lagi.


"Tiga tahun itu tak berarti apapun bagi saya, karena kejadian itu membuat saya sulit memaafkan kalian. Seandainya kalian tidak memilih saya berada di posisi itu namun semuanya berbeda itu cuma kata seandainya realita nya kalian memilih itu dan meninggalkan saya sendirian" ucapnya kemudian pergi meninggalkan wanita paruh baya yang menagis sedih dan terdiam dengan karena ucapan putranya sendiri.


*****


Disinilah Antariksa berada menikmati semilir angin malam, yang masuk kedalam pori-pori wajahnya. Duduk termenung memikirkan semua hal yang terjadi dalam hidupnya kenapa ia harus mengalami hidup yang sulit di umurnya yang terbilang muda? 17 tahun bahkan ia baru saja akan menginjak masa remaja kenapa hidupnya sungguh di persulit tuhan? Apakah ia memiliki dosa di masa lalu sehingga ia harus mengalami rentetan kejadian yang menyebabkan rasa sakit di hatinya?.


Antariksa menyalakan rokok dengan pematiknya. Sebenarnya ia bukan pecandu rokok namun karena pikirannya sedang suntuk maka untuk menghilangkan itu ia menghisap benda nikotin yang menurutnya mampu mengatasi rasa sedihnya sedikit.


Remaja pria itu mendogakkan kepalanya ke atas, melihat langit malam yang hitam di taburi oleh bintang dan bulan sabit. Bulan dan bintang itu saling berdekatan seolah sedang menunjukan kepada dirinya bahwa mereka saling melengkapi dan bersama menerangi langit di malam ini. Memberikan tanda kepada manusia bahwa mereka ada untuk kita yang kesepian? Atau justru ingin pamer ke Antariksa bahwa kini dia sendirian disini tidak ada yang menemani dirinya disini.


"Kalian mau ngejekin gue sendirian disini!" Ucapnya sinis mendogakkan kepalanya ke atas memandang bulan dan bintang di malam ini.


"Atar" panggil seseorang membuat Antariksa menoleh kebelakang untuk melihat seseorang yang memanggil dirinya yang sedang bermonolog sendirian dengan bulan dan bintang.

__ADS_1


__ADS_2