Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 1 Come


__ADS_3

Bandara internasional Soekarno-Hatta, Tanggerang.


Seorang gadis dengan rambut coklat itu berjalan dengan langkah gontai, kemudian di ikuti oleh para bodyguard yang berbaju hitam di samping dan di belakang dirinya menjaga nona muda itu agar selamat sampai ke Mansion keluarganya.


Setelah sampai di depan pintu keluar bandara sebuah mobil SUV hitam menjemput gadis itu, salah satu bodyguard yang bekerja pun membuka kan pintu mobil mempersilahkan nona muda itu untuk masuk kedalam.


"Dimana Daddy?" Tanya gadis itu pada supir pribadi di depannya.


"Tuan besar sedang ada meeting dengan Arthur grup" ucapnya dengan nada sopan dan hormat.


"Mom?" Lanjutnya lagi.


"Nyonya besar sedang ada kunjungan catwalk di Jakarta Fashion week nona" lanjutnya lagi.


Mendengar penuturan supirnya gadis itu memejamkan matanya agar lebih cepat sampai ke Mansion keluarganya sebab penerbangan dari Amerika ke Indonesia memakan waktu yang cukup lama dan sangat melelahkan baginya.


Pintu gerbang berwarna hitam di buka oleh satpam kini terpampang jelas rumah berlantai 4 dengan pilar besar sebagai penyangga atap menuju ke pondasi. Rumah dengan gaya seperti gedung putih milik presiden AS kira-kira seperti itulah gambaran rumah ini. Ya rumah dengan corak dinding yang banyak berukir patung abad ke 14 Masehi dengan gaya Eropa barat membuat rumah ini sangat indah. Di depan rumah juga terdapat sebuah air mancur yang berbentuk patung seorang pria dan wanita seperti sejarah zaman Yunani kuno.


Pintu mobil di buka gadis itu berjalan menaiki satu persatu lantai marmer yang di hubungkan dengan tangga menuju ke lobby utama mansion itu.


Kreek


Pintu berwarna cokelat itu di buka, tampak di dalam lobby telah berdiri 18 maid dengan pakaian yang sama mempersilahkan sang nona muda untuk masuk. Mereka membungkukkan badan tanda penghormatan kepada putri pemilik rumah itu.


"Welcome Miss Alley, long time no see" ucap salah satu kepala maid yang berusia sekitar 40 tahun setelah ikut menundukkan kepalanya juga.

__ADS_1


"Yeah, aku lelah tolong antar aku ke kamar" lanjutnya.


Kepala maid itu menganguk kemudian mempersilahkan nona mudanya berjalan terlebih dahulu menuju lift di rumah itu lift yang mengantarkan dirinya ke lantai 3 rumah itu.


"Ini kamar nona silahkan" ucap kepala maid setelah membuka pintu berwarna putih itu.


"Besok jadwal ku apa?" Tanya gadis itu kepadanya.


"Sesuai pesan tuan besar nona mulai bersekolah di sekolah milik keluarga tuan muda Sean" lanjutnya.


Gadis itu menghembuskan nafas kasarnya.


"Apakah nona butuh sesuatu lagi?"


"Ah tidak kau boleh pergi, bangunkan saja aku jika makan malam tiba" lanjut gadis itu kemudian menutup pintu kamar itu.


"Alley bangun Sean udah ada di bawah" ucap suara wanita paruh baya memanggil gadis yang masih bergelung di dalam selimut.


"Akhhhhh" ucap gadis itu mengerjab-ngerjabkan matanya dan membukanya secara perlahan.


"Alley setelah bangun mandi turun ke bawah makan. Ingat ada Sean di bawah" lanjut wanita itu kemudian melangkah menjauh dari pintu putih itu.


Gadis itu lagi-lagi mendengus kesal karena tidurnya di ganggu. Ia tau siapa pemilik suara itu ya dia adalah Anindita Laura Smith ibu dari Alleysa Seira James Smith.


Setelah mendengar penuturan ibunya Alley dengan langkah malas menuju kamar mandi yang berada di dalam ruang kamarnya melakukan ritual mandi seperti kebanyakan wanita pada umumnya.

__ADS_1


Kemudian ia menuju walk in closed untuk mengganti pakaiannya. Setalah selesai ia memoleskan sedikit bedak dan liptint agar tidak terlihat pucat. Ia kemudian melihat ke arah cermin besar menatap dirinya dengan dress selutut bercorak bunga dan flatshoes serta rambut cokelat yang di biarkannya tergerai indah. Didepan cermin ia tersenyum kecut menatap dirinya kemudian melangkah keluar kamar.


Langkah kaki Alley terhenti saat ia melihat Daddy dan mommy nya sedang berbicara dengan seorang remaja yang memakai kaos polo hitam membelakanginya.


"Dad" ucap Alley pelan mengehentikan obrolan ketiga orang itu.


"Eh Alley, sini" ucap Sean semanis mungkin memerintahkan Alleysa untuk duduk bersebelahan dengan dirinya.


Alleysa menganguk kemudian duduk di sebelah Sean.


"Oh ia Alley besok kamu udah mulai sekolah nah perginya bareng sama Sean" ucap Anindita pada putrinya.


"Nak Sean tidak keberatan kan?" Anindita memastikan.


"Em enggak kok Tan, besok saya akan jemput Alley" lanjutnya. Mereka semua asik berbincang tetapi tidak bagi Alley ia hanya menyimak semua percakapan mereka bertiga sesekali di tanya ia hanya mengangguk dan tersenyum sampai suara maid mempersilahkan majikan nya untuk makan mengakhiri obrolan mereka lebih tepatnya bertiga.


"Yasudah yuk makan" ucap Alfian menginterupsi.


Di meja makan lagi-lagi hening tak ada suara yang hanya ada suara bunyi sendok garpu yang selaras bersahut-sahutan dengan piring keramik itu.


"Om Tante kalo begitu Sean pamit pulang dulu ya udah malem" ucap Sean santun ketika keluarga Alleysa mengantar Sean sampai kedepan pintu utama.


"Baiklah hatinya-hati Sean, jangan ngebut" ucap Anindita.


Sean menganguk dan tersenyum lebih tepatnya senyum itu di peruntukan untukĀ  Alley. Alleysa terkejut saat sebuah tangan menyengol lengan Alley, ia pun membalas senyuman dari Sean.

__ADS_1


"Kakak hati-hati di jalan" ucap Alleysa kikuk.


"Yaudah om Tan saya permisi dulu" lanjutnya kemudian keluar dari mansion besar milik keluarga Smith.


__ADS_2