Pangeran Untuk Alley

Pangeran Untuk Alley
Part 35 Black Door!


__ADS_3

Alleysa menghembuskan nafasnya dengan kasar ia tak menyangka ayahnya benar-benar membuat dirinya semakin gila dengan tinggal bersama keluarga Arthur. Saat ini gadis itu berdiri di depan rumah bewarna gold dengan aksen Amerika, rumah dengan beberapa pilar besar itu membuat gadis itu menggengam tali tas ranselnya dengan gusar.


Beberapa maid membuka pintu utama, menyambut gadis itu dengan tersenyum ramah. Alleysa membalas senyuman itu tak lama keluar seorang wanita paruh baya yang memakai dress selutut berwarna putih jangan lupakan topi yang berjaring-jaring melekat di kepalanya seolah-olah membuktikan status sosial nya dari pakaian yang di kenakan.


"Selamat datang di rumah mama sayang" ucapnya memeluk gadis itu menyalurkan rasa rindu yang di akibatkan telah lama tak berjumpa.


Alleysa menerima pelukan wanita itu dengan hangat sambil tersenyum, jujur di antara keluarga Sean gadis itu cukup menyayangi wanita di hadapannya ini, karena Laura adalah sosok wanita yang sungguh tulus menyayangi Alleysa dan memperlakukan gadis itu seperti anaknya sendiri karena hal itu Alleysa sungguh menyayangi Laura apalagi Gadis itu jauh dari kedua orang tuanya tak ada teman bercerita dan berbagi apalagi mendapatkan kasih sayang, sehingga hal itulah yang membuat Alleysa menyukai Laura dan menganggap wanita itu sebagai pengganti ibunya.


"Kamu pasti capek yaudah kita masuk dulu" ucapnya kemudian di angguki oleh gadis itu, mereka berjalan beriringan masuk ke dalam mansion mewah yang 2 kali lebih besar dari pada Mansion milik keluarganya.


"Kak Sean sama om ada di rumah tan?" Tanya gadis itu, Laura mengembuskan nafas kasar ia tahu gadis itu terlalu sulit memanggil dia dan suaminya dengan sebutan papa dan mama sama seperti Sean lakukan namun ia tak bisa memaksa selama gadis itu senang dan nyaman tak apalah mungkin nanti Alleysa akan menganti nama panggilan sesuai yang mereka harapkan karena Alleysa sudah di anggap seperti anak kandung mereka sendiri.


"Sean lagi ke sekolah sayang ngurus masalah OSIS soalnya dia mau serah terima jabatan, kalau om biasa sibuk ngantor" ucapnya lagi.


"Ini kamar kamu ya!" Ucap Laura ketika mereka sudah sampai di lantai dua rumah itu tepatnya didepan pintu putih.


Kreek


Laura membuka pintu itu "kamu suka kamar ini? Ini mama Lo yang desain sengaja biar kamu nyaman tinggal disini" ucapnya lagi.

__ADS_1


"Suka kok tan makasih Lo, tapi seharusnya Tante nggak usah repot-repot Alley jadi merasa merepotkan Tante jadinya" ucapnya lagi.


"Eh, nggak papa kok mama nggak merasa di repotkan sama sekali Lo sayang justru mama senang kamu tinggal disini jadinya mama punya temen cewek, kamu tau Sean dan sama ayah kamu jarang di rumah jam segini jadi mama merasa kesepian".


Gadis itu kembali hening, ia kemudian berjalan keluar kamar untuk menarik kopernya yang di letakan pelayan di depan pintu, matanya menyipit ketika melihat sebuah pintu berwarna hitam di depan pintu kamarnya, dari semua ruangan di rumah ini cuma ruangan itulah yang memiliki warna hitam. Alleysa tahu gaya Tante Laura wanita itu anti dengan warna mati termasuk warna Hitam soalnya Alleysa pernah mendengar wanita itu berbicara kepada ibunya bahwa warna hitam merupakan salah satu warna yang ia benci namun kenapa di antara semua perabotan dan warna chat cuma ruangan itu yang bewarna hitam.


"Kok belum masuk sih sayang?" Panggil Laura membuat gadis itu gelabakan.


"Ini baru mau masuk Tan" ucapnya lagi lembut.


"Ada apa?" Tanya Laura yang melihat gadis itu sedikit kebingungan sambil melihat pintu berwarna hitam didepan kamarnya.


Wanita paruh baya itu terdiam, Alleysa menyadari setelah bertanya Tante Laura sedikit terkejut dan terdiam, menyadari pertanyaannya salah "Tante Alley nggak maksud nanya itu kok, lupain aja Tan" lanjutnya merasa tak enak hati.


"Eh, ngga papa kok sayang, itu dulu kamar anak mama" ucapnya sambil tersenyum meskipun Alleysa tahu bahwa itu adalah topeng pelindung yang dipakai wanita itu agar terlihat tegar dan kuat meskipun dalamnya rapuh.


"Kak Sean?" Tanyanya hati-hati.


"Bukan!" Balas wanita itu pilu. Alleysa terkejut bukan main, selama ini ia hanya tahu om Angkasa dan Tante Laura hanya memiliki anak tunggal yaitu Sean Gelael Arthur namun kenapa kini wanita ini berbicara kamar itu bukan kamar putra semata wayangnya?.

__ADS_1


"Itu bukan kamar Sean, tapi anak mama yang satu lagi adik Sean" ucapnya dengan pandangan lurus.


"Dia pergi dari rumah waktu beberapa tahun lalu" lanjutnya meskipun ia tidak ingin menceritakan semua ini namun nantinya Alleysa lambat laun akan menjadi bagian keluarga dari Arthur grup oleh sebab itu sebaiknya ia ceritakan saja dari pada masalah kedepannya nanti bakal rumit.


Drettt


Ponsel Laura berbunyi wanita paruh baya itu pamit untuk mengangkat telepon sebentar, melihat kepergian Tante Laura mata Alleysa meneliti pintu itu karena rasa penasarannya gadis itu berjalan mendekat sesaat tangannya sudah berada di gagang pintu suara Laura memanggil dirinya mengehentikan aktifitas penasaran terhadap kamar berpintu hitam.


"Sayang Tante ada urusan ke butik jadi Tante tinggal dulu gapapa kan?".


"Em nggak papa kok Tan, Tante hati-hati ya di jalan" ucapnya lagi kemudian di anggukan wanita paruh baya itu. Alleysa berjalan menuju tangga memastikan apakah wanita itu telah pergi dari rumah setelah beres ia berjalan lagi menuju pintu kamar itu, Alleysa menghirup nafasnya dalam-dalam sesaat sebelum lancang membuka pintu kamar yang mengusik rasa penasarannya.


Kreekk


Gadis itu tercekat karena pintunya tidak di kunci, menghirup nafas dalam-dalam Alleysa mengumpulkan keberaniannya memasuki kamar itu. Agar tak ada yang curiga nantinya gadis itu kembali menutup pintu kamar itu tangannya terulur mencari sakelar lampu dan menekannya agar lampu di dalam ruangan itu hidup.


Tubuh Alleysa kaku melihat pemandangan didalam ruang kamar itu, kamar dengan warna cat dinding gray dengan banyak hiasan lampu Tumbler dan juga aneka pajangan dinding dari tokoh Marvel memenuhi lemari kaca ruangan itu. Alleysa tak henti-hentinya merasa kagum dengan kamar itu. Kamar itu sungguh bagus dan rapi meskipun ia tak yakin apakah setelah kepergian anak tante Laura kamar itu kembali dipakai atau tidak. Ia kemudian mengarahkan tubuhnya menuju sebuah meja belajar berwarna senada dengan dinding kamar itu, tangannya terulur mengambil salah satu figura foto yang mengusik dirinya dari tadi. Di dalam figura itu terdapat foto seorang anak SMP yang berbaris rapi menghadap ke depan kamera sambil tersenyum tangan anak laki-laki itu tampak mesra merangkul leher gadis berkuncir satu.


Alleysa memicingkan lagi matanya agar terpusat ke satu titik itu, ia merasa tak asing dengan dua orang yang ada didalam foto itu. Sekelebat memori masuk kedalam ingatannya ia berusaha mengingat wajah dua orang yang ia rasa sangat ia kenal.

__ADS_1


Setelah berpikir cukup panjang akhirnya ia tahu bahwa mereka adalah dua orang yang sangat dekat dengannya.


__ADS_2