
Air mata jatuh membasahi pipinya, sekarang ia menangis sungguh ia tidak ingin di posisi sekarang menyakiti wanita yang paling ia sayang namun apa daya ia tidak boleh menjadi Antariksa yang lemah seperti dulu menerima mereka dengan mudah dan berakhir dengan di campakkan dan di tinggal sendirian.
Antariksa mengelap air matanya kasar, sekarang kalian bisa menyebut Antariksa sebagai lelaki cengeng namun apakah kalian bisa memahami perasaan Antariksa setelah hampir 3 tahun lebih tidak melepas rindu dengan orang yang ia sayangi, 3 tahun mencoba menerima semua hal yang sesungguhnya tidak baik untuknya menjauhi orang yang sangat ia sayangi berusaha mengobati luka yang telah mendalam dihatinya kini benteng yang ia berusaha ia perkokoh selama 3 tahun harus hancur hari ini? Ia tidak bisa!.
Setelah memastikan tidak ada air mata yang tumpah lagi, ia membuka pintu bangsal dimana gadis itu dirawat karena mungkin gadis itu telah lama menunggu dirinya.
Cekrek
Ia menatap gadis yang tertidur itu dengan senyuman. Gadis itu tertidur mungkin karena kelelahan telah menunggu Antariksa yang tak kunjung datang membawakan apa yang ia pesan.
Antariksa meletakan makanan di dalam kantong kresek itu di atas nakas sebelah brankar gadis itu. Tangannya terulur menggoyangkan tubuh gadis yang tengah terlelap itu agar bangun, karena sedari tadi semenjak masuk rumah sakit gadis manis yang membuat ia berjanji untuk melindungi gadis itu belum perutnya belum di isi apapun saat ini.
"Lley bangun"
"Lley bangun makan, gue udah bawa pesanan Lo"
"Lley bangun Lo belom makan dari tadi"
Arghhh
Gadis itu mengerjapkan matanya berusaha membuka matanya yang nampak berat karena sebuah suara yang cukup berisik menggema di telinganya.
"Atar berisik banget sih" ucap gadis itu menguap melihat keberadaan pria yang sudah ia tunggu selama satu jam akhirnya muncul juga.
"Lo belum makan dari tadi, makan dulu gih! Ntar sakit" ucapnya kemudian mengambil bungkusan sterofoam makanan yang ia beli.
"Laper gue hilang, gara-gara nungguin Lo sejam" ucapnya kesal dengan bibir di maju-maju kan. Berusaha membuat laki-laki itu agar merasa bersalah namun nihil Antariksa malah tertawa melihat ekspresi gadis itu yang sungguh menggemaskan.
"Gue lagi marah sama Lo Atar jadi jangan ketawa" ucapnya kesal kemudian mengambil makanan dari tangan Antariksa.
"Iya gue tau Lo lagi marah sama gue" lanjutnya.
"Trus".
"Trus apa?" Tanya Antariksa binggung akan pertanyaan gadis itu padanya.
"Trus Lo harus minta maaf ke gue, kayak gini Alley maafin gue ya tadi gue ada urusan jadi buat Lo lama nungguin gue" cerocosnya panjang lebar.
Antariksa terperangah mendengar Omelan gadis itu, ia menerbitkan senyumannya melihat tingkah gadisnya sangat menggemaskan, tangannya terulur untuk mengacak rambut gadis itu sangking gemasnya.
__ADS_1
"Atar berantakan rambut gue" dumelnya kesal.
"Lagian, ada-ada aja sih Lo kan gue jadi gemas liatnya" lanjut Antariksa.
"Lo mah argh" belum sempat Alleysa melanjutkan ucapannya Antariksa menyodorkan sendok yang berisi lontong yang dibumbui oleh kuah kacang.
"Makan" ucapnya lagi.
Alleysa menerima suapan dan memakan makan yang itu dengan gembira.
"Lo pasti belum makan kan!, Sini sendoknya" ucap gadis itu mengambil alih sendok yang di pegang Antariksa menyodorkan nasi itu ke arah Antariksa.
"Gue nggak laper lley" tolaknya.
"Makan Atar, Lo sengaja kan beli ini 2 porsi dan gue nggak bisa ngabisin sendirian jadi Lo harus makan" titahnya.
"Gue nggak laper Alley" ucapnya halus.
"Antariksa Keano Peter, Lo harus makan kalo nggak badan Lo yang berotot itu bakal gember dan loyo".
"Aaaaa, pesawat datang" ucap gadis itu mengarahkan sendok ke mulut Antariksa.
"Makan lagi gih".
********
"Tuan, muda anda di tunggu oleh tuan besar di ruang kerja" ucap salah seorang wanita berpakaian seperti pelayan, membuka pintu ruang belajar di mansion Angkasa.
"Baiklah" ucap Sean kemudian berjalan keluar dari ruang belajar di lantai 2 ke lantai dasar menemui Angkasa- papa Sean yang sedang menunggu dirinya.
"Ada apa pa?" Tanya sopan memposisikan dirinya duduk di sebuah sofa khusus menerima tamu kerja di ruangan itu. Ruangan bernuansakan kayu brown dengan model classical masa lalu serta perabotannya yang banyak dari ukuran kayu menambah kesan vintage di dalam ruangan itu.
"Calon istri kamu kabur lagi dari rumah, tadi Alfandi menelpon papa jadi tolong cari gadis itu dan tari Alfandi berpesan jika telah ketemu tolong bawa Alleysa ke rumah ajak dia tinggal disini selama orang tuanya belum pulang ke indo" ucap Angkasa tegas.
"Jadi Alleysa akan tinggal dengan kita pa?" Ucapnya mengulang kalimat Angkasa- papanya.
"Ya seperti itulah, tidak ada pilihan lain Sean dia juga sendirian di rumah itu jadi cari dia dan ajak dia buat tinggal di rumah ini. Lagian juga ada mama dirumah jadi dia tidak akan kesepian".
"Baik pa" lanjut Sean.
__ADS_1
"Kalo begitu Sean pamit cari Alleysa dulu" lanjutnya kemudian pergi keluar dari ruangan papanya.
Sean mengendarai mobilnya yang membelah ibu kota Jakarta di mal hari, kali ini sudah kali kedua ia mencari Alleysa tunanganya jujur dalam hati ia sudah muak menjadi suruhan papanya menjaga gadis yang sungguh merepotkan baginya. Deringan telepon masuk menggema di dalam mobil Mercedez yang sedang ia kendarai. Ia mengambil hendshet bluetooth memakainya dan mengangkat telepon masuk itu.
"Hallo" ucapnya memulai percakapan.
"Sean aku udah nungguin kamu, kamu jadi nggak ke club' aku udah nungguin kamu dari tadi tau" omel suara gadis dengan nada manjah dan terkesan genit. Sean tau siapa pemilik suara itu siapa lagi jika bukan pacarnya yang terpaksa ia jadikan kekasih Hanin Megaria.
"Gue nggak bisa malam ini Lo sendirian aja" lanjutnya menghela nafas.
"Gak bisa? Gimana sih padahal aku udah booking kamar kamu malah nggak bisa" ucapnya merajuk.
"Lo pakek aja sama orang lain" tutt telepon di matikan sepihak oleh Sean tanpa mendengar ucapan gadis itu lagi.
Dreet drett
Ponsel Sean lagi-lagi bunyi dengan kesal ia mengangkat telepon masuk itu lagi.
"Udah gue bilang Lo pergi sendiri ******" umpatnya murka.
"Tuan" Sean terdiam beberapa saat mendengar penelpon itu. Ia melihat nama yang tertera di panggilan masuk ternyata itu bukan Hanin yang menelponnya.
"Siapa?" Ucapnya dengan nada di ubah menjadi dingin.
"Saya pengawal nona Alleysa".
"Ada apa?" Ucapnya to the points.
"Kami telah menemukan nona Alleysa, dia sekarang berada di rumah sakit Arthur milik keluarga anda".
"Rumah sakit bokap? Ngapain dia disana?" Tanyanya heran kenapa gadis itu ada di rumah sakit keluarganya.
"Sekarang nona Alleysa di rawat disana, di bangsal suit presiden recident".
"Baiklah, kalian arahkan para suruhan tunggu saya datang dan kita bawa Alleysa pulang" perintahnya.
"Baik tuan".
Tutttt
__ADS_1
Telepon di matikan sepihak. Sean memijit pelipisnya, ia binggung dengan gadis itu sekarang kenapa Alleysa bisa di rawat di rumah sakit? Apakah ia sakit? Ternyata di dalam lubuk hati Sean terselip sedikit ras khawatir mengenai keberadaan tunangannya. Rasa bersalah telah menyakiti gadisnya juga terasa ketika mendengar kabar bahwa tunanganya itu di rawat di rumah sakit. Sejahat itu kah ia sehingga rasa bersalah itu tumbuh dengan sendirinya?.